OH MY BOSS

OH MY BOSS
LAMARAN LAGI



Gilang yang baru saja memasuki ruang keluarga tidak sengaja mendengar apa yang Arya katakan. Ia terus menggerakkan tuas kursi rodanya hingga ia tiba di sofa di mana istrinya, Anneth, dan Arya tengah duduk sembari membahas masalah pernikahan dengan serius.


"Pak Gilang." Arya segera bangkit berdiri dan sedikit membungkukkan badan saat Gilang tiba di hadapannya.


"Hai, Pak Arya, senang bertemu denganmu," ujar Gilang.


Pelangi yang melihat Gilang segera menghampiri Gilang dan mendorong kursi roda sang suami agar mendekat ke tempatnya duduk. "Bagaimana kamu bisa keluar dari kamar?" tanya Pelangi dengan suara pelan. Ia bingung, karena sebelum keluar kamar ia mengunci pintu kamar tadi.


"Kamu sengaja ingin mengurungku di kamar seharian? Tega sekali," desis Gilang


Pelangi tertawa dan mencubit hidung Gilang. "Tentu tidak. Maafkan aku."


"Tidak kumaafkan," ujar Gilang dengan wajah cemberut yang membuat Pelangi semakin gemas.


Melihat kebersamaan antara Gilang dan Pelangi membuat Anneth merasa iri. Ia juga ingin memiliki kehidupan pernikahan yang bahagia dan menyenangkan seperti pernikahan Gilang dan Pelangi, tetapi jika ia menikah dengan Arya, akankah ia mendapatkan semua yang ia inginkan itu?


Arya berdeham, mencoba untuk menarik perhatian Anneth yang sejak tadi sibuk memandangi Gilang dan Pelangi.


Anneth kemudian menatap Arya, tetapi ia tidak mengatakan satu kata pun. Hatinya sedang galau sekarang. Haruskah ia menerima lamaran Arya atau tidak. Ia memang tidak menyukai Arya, apalagi mencintai pria itu, tetapi tidak dapat dipungkuri jika Arya adalah pria yang ideal untuk dijadikan suami andai saja pria itu tidak mengalami gangguan kejiwaan.


"Jika kamu tidak ingin menjawab sekarang, aku bisa menunggu. Aku akan menunggu." Arya berucap, saat Anneth tidak kunjung memberikan jawaban.


Anneth menghela napas, kemudian berkata, "Tidak. Jawabanku adalah tidak," ujar Anneth dengan tegas.


Arya bergeming, ia memang tidak berharap banyak saat dirinya berniat untuk melamar Anneth, tetapi mendapat penolakan secara langsung dari wanita itu membuatnya kecewa dan sedih. Padahal ia tidak pernah merasa setulus ini pada seorang wanita, kecuali pada Clara, calon istrinya yang telah meninggal dunia.


"Aku mohon pikirkan lagi. Aku akan menunggu." Arya masih berusaha meyakinkan Anneth. Ia tidak ingin menyerah begitu saja, apalagi dirinya merupakan tipe pria yang sulit jatuh cinta, hingga saat ia menemukan seseorang yang dapat membuat dadanya berdebar, ia tidak ingin melepas wanita itu begitu saja.


Anneth bangkit berdiri. "Pergilah dari sini dan jangan pernah kembali. Aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu, bahkan saat pria di dunia ini habis, aku tetap tidak akan menikah denganmu, jadi jangan menunggu apa pun dariku. Jawabanku akan tetap sama sampai kapan pun."


Gilang yang sejak tadi memperhatikan perdebatan antara Arya dan Anneth pun berkata, "Bukannya aku bermaksud untuk ikut campur urusan kaliaan berdua, tapi jika boleh kusarankan padamu Suster An, tidak ada salahnya jika kamu memikirkan kembali apa yang Arya katakan sebelum kamu benar-benar menolak."


Pelangi menatap sang suami dengan bingung, ia tidak percaya jika Gilang meminta Anneth untuk mempertimbangkan keputusan yang telah Anneth ambil. Apalagi Arya bukan pria baik-baik. Meski begitu, Pelangi tidak berusaha untuk menyela ucapan Gilang, ia tahu bahwa Gilang adalah pria yang bijaksana, apa pun yang Gilang katakan pasti telah dipertimbangkan matang-matang oleh pria itu. Pelangi hanya tinggal bertanya saat mereka telah kembali ke kamar nanti.


Arya berbinar, senyum tulus tersungging di wajahnya, bukan seringai seperti yang biasa muncul di bibir pria itu. "Terima kasih, Pak Gilang, karena memberiku kesempatan. Aku harap Anneth juga akan melakukan seperti yang Anda lakukan."


Gilang mengangguk. "Semua akan berjalan sesuai takdir Tuhan. Jangan berterima kasih padaku, semuanya tetap tergantung pada keputusan Anneth. Baik aku atau kamu tidak boleh memaksakan apa yang dia tidak inginkan."


Arya mengangguk, ia lalu menatap Anneth dengan tatapan yang begitu teduh. "Ya, aku tidak akan memaksa jika dia tidak ingin, tapi aku sangat berharap semoga dia mau menerimaku."


***


Suasana ruang makan begitu senyap, tidak ada celoteh riang seperti yang biasa terdengar. Pelangi yang biasanya selalu mengoceh bersama dengan Amara pun kali ini memilih untuk diam. Namun, bukan kedatangan Arya yang membuatnya tiba-tiba menjadi pendiam seperti Anneth, melainkan masalah kantor yang sejak kemarin membuatnya gugup setengah mati.


Pelangi mendongak dan menatap Farhan dengan gugup. "Tidak, Yah, tidak ada yang baik-baik saja," jawab Pelangi.


Gilang dan Farhan menatap Pelangi dengan penuh perhatian, begitu juga dengan Toni dan Andrew.


"Apa ada masalah serius?" tanya Gilang.


Pelangi mengangguk. "Tentu ada. Apa menurutmu keputusan yang kamu dan Ayah buat tanpa persetujuanku tidak termasuk ke dalam masalah yang serius? Kalian berdua bahkan tidak berdiskusi denganku." Pelangi balas bertanya, ia tidak tahan lagi jika harus menyimpan segala kekhawatirannya seorang diri.


Farhan menghentikan kegiatan makannya, lalu ia mengusap dagunya perlahan. "Apa kamu keberatan dengan keputusan itu?"


"Tentu, Ayah, tentu. Apa Ayah tidak memperkirakan bagaimana tanggapan orang-orang saat mereka tahu bahwa aku akan menggantikan posisi Gilang sebagai CEO?"


Amara, Delia, dan Anneth yang sejak tadi sibuk dengan makanan mereka tiba-tiba saja serentak meletakkan sendok dan menatap Pelangi dengan mata melotot.


"Siapa yang menjadi apa?" tanya Amara, ia terlihat sangat terkejut, tetapi senyum semringah perlahan menghiasi bibirnya.


"Wah, luar biasa, Pelangi, kamu akan menjadi bos besar!" Delia bertepuk tangan, senyum di wajahnya bahkan terlihat begitu tulus. Delia memang seperti itu, ia selalu bersikap tulus pada orang lain.


"Keren sekali, seorang wanita menjadi CEO adalah pencapaian yang sangat luar biasa. Selamat, Pelangi, sekali lagi selamat," ujar Anneth, yang terlihat terkejut dan juga bahagia.


Mendengar tanggapan mereka bertiga, Farhan Andreas tersenyum. "See, mereka saja dapat menerima, kenapa kamu berpikir kalau yang lain jika akan menerima."


Pelangi mengantupkan kepalanya di atas meja makan sembari merengek. "Ayah, kenapa Ayah menyamakan tanggapan mereka dengan tanggapan orang-orang di kantor. Mereka bahagia karena mereka sudah seperti saudaraku, sedangkan orang-orang di kantor dan para pemegang saham bukan siapa-siapa bagiku. Lebih tepatnya aku ini bukan siapa-siapa bagi mereka. Mereka pasti akan memusuhiku dan menentang keputusan ini habis-habisan. Tolonglah, Ayah, cabut keputusan itu. Bagaimana kalau suatu saat aku melakukan kesalahan?"


Gilang merasa kasihan melihat Pelangi, tetapi ia tidak boleh gentar, ia tidak boleh menyerah. "Ada aku yang akan mendukungmu seratus persen. Setiap keputusan dan tindakan yang akan kamu ambil di kantor, akan melewati pemeriksaan olehku. Semuanya akan baik-baik saja, Pelangi. Tenang saja, lagi pula aku hanya bisa mengandalkanmu saat ini, karena Andrew sebentar lagi akan sibuk dengan bayinya, dan Toni juga akan sibuk dengan acaranya."


Pelangi mengalihkan pandangan ke Toni yang sekarang pipinya terlihat bersemu merah. "Acara? Acara apa?" tanya Pelangi.


Toni menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, ia lalu menyapu meja makan dengan pandangannya, dan tatapannya berhenti di Amara yang sudah asyik kembali dengan roti panggang dan jus jeruk yang tersaji di atas meja.


"Hem, aku akan melamar Amara." Toni berujar dengan suara yang begitu lantang.


Amara terkejut, ia lalu membalas tatapan Toni dengan mata yang berkaca-kaca. "Serius kamu melamarku saat ini?" tanya Amara.


Toni mengangguk. "Ya, maaf, kamu sampai terharu begini."


Amara menangis. "Aku bukannya terharu karena kamu melamarku, aku hanya tidak terima, kenapa kamu melamarku dengan cara seperti ini. Kenapa tidak romantis sama sekali, Toni?!"


Seisi ruangan tergelak mendengar protes yang Amara layangkan ke Toni. Sementara Toni terlihat semakin malu dan wajahnya berubah semerah tomat.


Bersambung.