OH MY BOSS

OH MY BOSS
NGOBROL



Semua hari-hari yang Nena lewati terasa begitu cepat, seperti dejavu wanita itu kembali melakukan serangkaian prosesi menjelang pesta yang melelahkan.


 


 


Acara pesta pernikahannya dengan ceo ternama itu mereka lakukan dengan tertutup dari media, hanya kerabat dan beberapa teman pejabat yang turut serta meramaikan acara bahagia itu.


 


 


Dan setelah seminggu yang lalu ia dan sang suami tercinta pulang dari bulan madu ke luar Negri. Hari ini seorang Serena Ayu Kinanti resmi menjadi pengangguran. Baginya untuk apalah dia kerja keras sepanjang siang mengurus jadwal dan kegiatan suaminya jika malam haripun ia masih harus memuaskan bos nya itu lahir dan batin.


 


 


Nena tentu lebih memilih duduk manis uncang-uncang kaki dan memikirkan bagaimana uang suami kayanya itu sedikit berkurang setiap harinya. Kadang hidup sebagai orang kaya memang se-tidakberguna itu.


 


 


Nyatanya tidak begitu juga bagi Nena, suami manjanya itu selalu mengajaknya bertemu rekan bisnis meski sekedar untuk dipamerkan. Katanya demi untuk memberikan penolakan secara tidak langsung pada rekannya atas sodoran anak gadis yang berusaha ia tawarkan pada suami gantengnya itu.


 


 


Dan siang ini, Nena yang merasa bosan menunggu sang suami mengobrol tentang bisnisnya itu memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian di pusat perbelanjaan terkemuka di kotanya. Kebetulan Restoran yang suaminya itu sambangi sebagai janji temu berada di dalamnya.


 


 


Nena memasuki toko baju ternama yang sering kali ia temui di majalah-majalah edisi terbaru. Penasaran dia mengambil satu baju berukuran mini dan terkejut dengan harganya.


 


 


"Buset dah, ni baju mahal amat," gumamnya kemudian meletakan kembali dan melihat-lihat yang lainnya.


 


 


"Cari apa, Nyonya." Penjaga toko yang tersenyum begitu ramah membuat Nena sedikit terkejut.


 


 


"Eh, saya lihat-lihat dulu, lagi nunggu juga. Iseng. Tapi kok, mahal-mahal banget ya, Mbak." Nena menjawab dengan senyum tak kalah ramah.


 


 


Sang penjaga toko melipat lengannya di depan dada, memperhatikan penampilan Nena dari ujung kaki hingga kepala, sepatu bermerk, baju impor, tas limited edition, rambut lebat terawat, tapi berkomentar dagangannya terlalu mahal. Gadis yang kini berubah judes dengan sanggul rapi di kepalanya itu menyimpulkan, bahwa wanita bertampang sosialita di hadapannya itu, mungkin hanya simpanan bos botak, dengan perut buncit dan dompet tebal di saku celananya.


 


 


"Kalo nggak niat beli, nggak usah pegang-pegang, Mbak!" Omel si penjaga toko yang membuat Nena menoleh terkejut.


 


 


Nena menggantungkan kembali baju di tangannya. "Maaf," ujarnya.


 


 


Jawaban Nena membuat si penjaga toko semakin yakin dengan dugaannya. "Kalo nggak punya duit jangan mampir ke sini," omelnya lagi.


 


 


Nena melirik tidak suka, mungkin dulu memang benar, jangankan untuk membeli, mampir saja dia merasa tidak pantas. Tapi sekarang kan berbeda, dia kini sudah menjadi Serena Kaya raya Ayu Kinanti. Harga dirinya sedikit terluka, namun wanita itu memilih diam saja.


 


 


"Ada apa?" Justin menghampiri keduanya, membuat sang penjaga toko menunduk hormat sekilas pada pria berpenampilan rapi yang ia tahu betul adalah pemilik Mall ini.


 


 


"Ini, Pak, Mbaknya dari tadi pegang-pegang dagangan saya, tapi nggak niat beli. Saya takut barang-barang saya rusak dan dimarahi bos saya." Sang penjaga toko menjelaskan.


 


 


"Kenapa?" Justin menoleh pada Nena yang balik menatapnya dengan acuh.


 


 


"Katanya baju-bajunya kemahalan." Dan sang penjaga toko yang menjawab dengan angkuh. Menyudutkan wanita muda di hadapannya itu.


 


 


Justin menoleh pada si penjaga toko, kemudian kembali ke istrinya, "walaupun kamu tidak berniat beli, jangan pernah mengatakan kalau barang-barang ini mahal." Justin menunjuk deretan baju baru yang tergantung rapi di sekitarnya. "Bilang saja kalau barang-barang ini memang jelek, Sayang," tambahnya lagi.


 


 


Dan seketika si penjaga toko merasa kehilangan detak jantungnya sendiri. Terkejut setengah mati. Bukan, bukan karena barang dagangannya dikatai jelek oleh Justin, tapi karena pria itu memanggil wanita di sebelahnya sayang, Ya Tuhan. SAYANG sengaja di capslock biar dramatis.


 


 


Justin memberikan tatapan dingin pada si penjaga toko yang reflek menunduk ketakutan, "semua barang-barang yang sempat istri saya pegang, saya bayar," ucapnya yang membuat si penjaga toko mendongak tidak percaya, namun langsung menunduk kemudian. "Atau Mbaknya juga sempat dipegang sama istri saya?"


 


 


***


 


 


Di dalam mobil, Nena melirik belanjaannya, ralat belanjaan suaminya yang bertumpuk di jok belakang, kemudian menghela napas. "Kenapa dibeli sih, Mas. Aku kan nggak butuh-butuh banget," komentarnya.


 


 


"Habis aku kesel sama penjaga toko itu, siapa sih dia," jawab Justin.


 


 


"Nggak boleh gitu, Mas. Namanya juga dia nggak tahu."


 


 


Justin menoleh setelah menghentikan laju kendaraannya karena lampu merah. " Kamu itu istri aku Serena, apapun yang kamu mau, tinggal ambil saja. Jangan pernah menundukan kepala, tunjukan pada dunia kalo kamu yang berkuasa."


 


 


Nena mengerjap beberapa kali, "Astagfirulloh, ada Allah, Mas. Nggak boleh ngomong gitu," omelnya, namun Justin malah tersenyum, tidak menyangka, wanita cantik yang ia nikahi adalah titisan Mamah Dedeh. Justin mengangguk, "oh, ok-ok." Kemudian melajukan kendaraannya lagi.


 


 


"Cukup Firaun aja Mas, yang sombong, kita jangan. Inget, di atas nasi masih ada rendang." Nena terus mengomel.


 


 


Mendengar itu sontak Justin tertawa. "Di atas langit masih ada langit, Sayang," ralatnya. "Kenapa jadi nasi padang si?" Tanyanya kemudian.


 


 


"Aku laper." Nena menjawab dengan kesal, "kamu ngobrolnya lama banget."


 


 


 


 


***


Malam ini, Justin duduk di atas kasur, memangku bantal dengan laptop yang menyala di atasnya, tangannya sibuk mengetikkan sesuatu.


 


 


Nena yang entah datang dari mana tiba-tiba menarik kacamata yang ia kenakan dan membuatnya menoleh. "Kenapa?" Tanyanya.


 


 


"Mas, aku cantik nggak si?"


 


 


Mendengar pertanyaan tidak terduga dari istrinya, Justin mengerjap dua kali, kode pikirnya. Dia pun tersenyum, "luar biasa," jawabnya kemudian.


 


 


Namun yang Nena lakukan berikutnya malah menyapukan telapak tangannya ke wajah Justin. "Nggak usah pasang muka pengen gitu, aku cuma nanya," omelnya kemudian.


 


 


Justin berdecak, tidak menanggapi. Kembali fokus pada pekerjaannya yang tinggal sebentar lagi. Namun kembali mendapatkan gangguan dari sang istri tercinta, kali ini dengan mengibaskan rambut ke wajahnya, "apalagi, si?"


 


 


"Rambut aku wangi kan, Mas?" Ucap Nena lagi.


 


 


Justin menghela napas, "katanya tadi nggak mau dimupengin, tapi godain aku terus kamu," omelnya.


 


 


"Kenapa ya Mas, aku ditolak jadi duta shampo lain, eh maksudnya, ditolak jadi model iklan shampo."


 


 


Mendengar itu reflek Justin menoleh, namun kemudian berusaha acuh.


 


 


"Kamu inget kan pas aku bilang mau ikut casting jadi bintang iklan, masa temenku pada diterima, aku doang yang enggak, salah aku dimana coba." Nena mengguncang lengan suaminya.


 


 


"Salah kamu mungkin karena terlalu cantik, mereka takut produknya kurang laku, masyarakat akan lebih fokus ke  skin care apa yang kamu pake, bukan shampo nya." Justin menjawab asal tanpa menoleh pada sang istri, dan berhasil mendapat cubitan di perutnya.


 


 


"Kamu bisa serius sedikit nggak si, Mas." Nena melipat lengannya di depan dada, namun saat tidak mendapatkan tanggapan dari sang suami, wanita itu kesal dan memencet  asal keyboard laptop di hadapan Justin, hingga ketikan pria itu menjadi acak-acakan. "Pacaran aja terus sama laptop, elus-elus dah tuh, endus sekalian."


 


 


Justin menghela napas, kesal pada awalnya, hingga saat ia menoleh pada sang istri, yang melotot galak dengan kacamata bertengger di hidungnya itu membuat Justin malah  tertawa.


 


 


Setelah menyimpan catatannya dan menutup benda di pangkuannya dengan cepat, pria itu segera mengunci leher sang istri di ketiaknya. "Ampun nggak!" Ancamnya.


 


 


Nena yang meronta kemudian tertawa, "enggak!" Tantangnya.


 


 


Justin semakin bersemangat mengacak rambut sang istri hingga wanita itu menyerah dan minta ampun.


 


 


"Aku kan mau jadi duta shampo, kenapa diacak-acak si rambutnya, ih kesel." Nena merajuk.


 


 


Justin yang merasa bersalah ikut merapikan rambut sang istri, perlahan namun pasti pria itu mendekat dan mencium pipi Nena yang kini berubah merah.


 


 


Pria itu bingung kenapa masih saja istrinya itu bersemu di mana-mana padahal sudah sering kali ia sentuh. Hal itu membuatnya semakin gencar  menggoda dengan menyapukan ciumannya ke seluruh penjuru wajah Nena.


 


 


"Mas, aku masih pengen ngobrol." Nena mendorong wajah Justin.


 


 


"Tapi aku pengen yang lain," ucap Justin, kembali melancarkan aksinya, merasakan debaran yang selalu sama seperti saat pertama dia menyentuhnya.


 


 


Dan ketika lenguhan terdengar seiring dengan jambakkan lembut di rambut kepalanya, pria itu semakin menggila, mengejar apa yang tidak boleh ditinggalkan, meraih apa yang harus ia lepaskan. Jeritan tertahan sebuah pelepasan membuat Justin dimabuk kepayang.


 


 


Begitu sempurna kebahagiaan itu terlahir, saat aku 'menyentuhmu' untuk kali yang pertama.


 


 


Ke dua,


 


 


Ke tiga,


 


 


Seterusnya dan tak akan ada habisnya.


 


Netizen ; Awas thor ada truk molen.


Author; lo nyumpahin gue kena azab, ketabrak truk molen terus jenazahnya ketimbun corcoran ya.


Netizen; Kaga thor, yaelah.


Author; kalo part ini yang like ama komen nggak banyak, nggak mau dah bikin part kaya begini lagi. Rugi.


Netizen; Dih, ngancem.


Author; Bodo amat.