
Tidak ada kabar yang lebih mengejutkan bagi Gilang dan Pelangi selain kabar yang baru saja Toni bawa ke kamar mereka. Walaupun sebelumnya Gilang dan Pelangi telah mendengar dari Anneth tentang kemunculan Alex di komplek perumahan, tetapi mendengar Alex tertangkap jelas lebih mengejutkan berkali lipat dibanding kabar 'Alex yang terlihat'.
"Pelangi. Bantu aku." Gilang berujar dari pembaringan.
Pelangi segera membantu Gilang untuk duduk dan menyusun beberapa buah bantal di belakang tubuh Gilang agar pria itu bisa bersandar dengan nyaman.
"Kamu tidak sedang bercanda, 'kan?" tanya Gilang, setelah ia sudah duduk dengan nyaman di ranjangnya.
Toni mengangguk. "Apa aku terlihat sedang bercanda? Tidak, 'kan?"
"Kalau begitu di mana mereka sekarang? Apa kalian membawa mereka ke kantor polisi?" tanya Gilang lagi.
Toni menggeleng. "Tidak. Aku belum menghubungi Polisi, karena Andrew melarang."
Dahi Pelangi mengernyit mendengar perkataan Toni. "Kenapa Andrew melarang? Bukannya lebih cepat kita memanggil polisi akan lebih baik. Mereka harus segera ditahan sebelum mereka kembali melarikan diri." Pelangi terlihat sangat panik. Ia tahu bahwa Alex dan Surya adalah penjahat yang sangat berbahaya, jika tidak segera ditahan, Pelangi takut keduanya akan kembali mencoba untuk menghabisi nyawanya dan juga nyawa Gilang seperti beberapa tahun lalu.
"Andrew sedang bersenang-senang di gudang. Dia menjadikan Surya dan Alex sebagai samsak tinjunya. Dia juga sedang bermain polisi-polisin. Andrew sangat penasaran bagaimana bisa Alex yang dinyatakan telah meninggal dunia,
malah masih hidup dan terlihat sehat, walaupun penampilannya tidak bisa dikatakan baik. Sekarang, selain sibuk menghajar Surya dan Alex, Andrew juga sibuk menggali informasi itu dari Alex, informasi bagaimana caranya Alex bisa selamat dari kematian."
Suasana hening untuk sesaat, kemudian suara Gilang memecah keheningan. "Mereka di gudang?" tanya Gilang.
Toni mengangguk. "Ya, mereka di gudang."
"Bawa aku ke sana," pinta Gilang.
"Tidak! Kamu tidak boleh turun ke sana, Gil, bagaimana kalau mereka berhasil melepaskan diri, lalu mereka menyerangmu. Kamu tidak akan bisa melakukan apa pun, kamu akan terluka. Aku tidak mengizinkanmu. Pokoknya tidak boleh!" Pelangi dengan tegas melarang Gilang untuk menemui Alex dan Surya
"Ayolah, Pelangi, aku harus menemui mereka. Ada hal yang ingin kutanyakan. Kamu jangan khawatir, ada Toni dan Andrew bersamaku."
"Tapi, Gil--"
"Toni, bantu aku." Gilang memotong ucapan Pelangi dengan meminta Toni membantunya naik ke atas kursi roda.
Pelangi tidak dapat berbuat banyak selain membantu Gilang untuk duduk dengan nyaman di atas kursi roda. Suaminya itu memang sangat keras kepala. Percuma saja melarang Gilang. Gilang akan tetap pergi jika ia ingin pergi, titik!
***
Keesokan harinya.
Pelangi tidak banyak bicara ketika membantu Gilang untuk bersiap ke kantor. Ia diam saja saat membantu Gilang mengenakan kemeja, dasi, hingga jas. Saat Pelangi bersiap memasangkan kaus kaki dan sepatu di kedua kaki Gilang, Gilang melarang. "Biar pelayan saja."
Pelangi yang sejak tadi berlutut di hadapan Gilang segera bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu, masih tanpa mengatakan apa pun, berniat untuk memanggil Pelayan.
Melihat istrinya yang diam bagai patung sejak semalam, Gilang lantas menggerakkan tuas kursi rodanya untuk mengejar Pelangi. Kursi roda maju perlahan dan berhenti setelah menabrak kedua kaki Pelangi dengan pelan.
Pelangi menoleh karena terkejut, lalu ia menaikan sebelah alisnya saat dilihatnya Gilang berada tepat di belakangnya.
"Apa?" tanya Pelangi, ketus.
"Kenapa kamu diam saja sejak tadi? Apa aku melakukan sebuah kesalahan? Jika iya, katakanlah, jangan diam saja, Pelangi," ujar Gilang.
Pelangi mendengkus kesal. ia kemudian melipat tangan di depan dada sambil menatap Gilang dengan tajam. Persis seperti seorang ibu yang sedang menatap anaknya yang ketahuan mendapat nilai nol di sekolah.
"Tuan maha benar memang tidak pernah merasa bersalah, ya?" Pelangi berucap dengan sinis.
Dahi Gilang mengernyit. "Tuan maha benar?" tanyanya bingung.
"Ya, kamu adalah tuan maha benar. Tidak pernah salah dan tidak pernah peduli pada perasaan orang lain."
"Aku tidak mengerti," ujar Gilang. Ia memang tidak paham pada ucapan Pelangi. Yang ia tahu saat ini hanyalah bahwa istrinya itu sedang marah. Marah tingkat tinggi dan ia tidak tahu marahnya Pelangi disebabkan oleh apa.
Pelangi kembali mendengkus, kali ini ia memiringkan bibirnya sedikit agar Gilang melihat berapa kesal dirinya.
"Jangan marah begini, Sayangku. Aku jadi merasa tidak nyaman. Kamu tahu kalau aku tidak bisa melakukan apa pun tanpamu. Jika kamu marah seperti ini mana mungkin aku memintamu untuk melakukan ini dan itu untukku. Aku kan tidak enak. Jika sudah begitu maka apalah artinya diriku. Lebih baik aku mati saja." Gilang menggerakkan tuas kursi rodanya, membuat kursi roda itu mundur sedikit menjauhi Pelangi.
Pelangi segera menghampiri Gilang dan menahan kursi roda pria itu agar tidak pergi semakin jauh. Ia kemudian berlutut di hadapan Gilang, dan menatap kedua mata Gilang.
"Jangan berkata seperti itu. Jika kamu mati apalah arti hidupku," ujar Pelangi.
"Bukankah lebih baik. Apa untungnya memilikiku yang cacat ini."
"Shut!" Pelangi meletakan jarinya di bibir Gilang, kemudian tanpa mengatakan apa pun lagi, Pelangi mendekatkan wajahnya ke wajah Gilang, lalu ia mengecup bibir Gilang dengan lembut.
Gilang menutup mata, membiarkan Pelangi bermain dengan lidahnya.
Lembut.
Sangat lembut.
Pelangi menjelajahi setiap lekuk bibir Gilang dengan indra pengecapnya. Membuka bibir Gilang, dan menemukan lidah Gilang di sana. Selanjutnya mereke berdua saling beradu indra pengecap hingga bibir mereka terasa kebas.
"Cukup." Pelangi mundur, menjauh dari wajah Gilang secepat yang ia bisa. "Jika tidak kita sudahi sekarang, aku takut aku akan membalik kursi rodamu, membuatmu berbaring telentang di lantai dan dengan kasar aku akan merobek jasmu, Gil."
Gilang dapat membayangkan apa yang Pelangi katakan. Sungguh ia ingin merasakan sensasi itu. Sensasi di mana Pelangi berada di atasnya dan bergerak dengan liar hingga terdengar suara lembut Pelangi yang mendapatkan kepuasan.
"Lakukanlah," ujar Gilang, suaranya begitu parau, terdengar menggoda di telinga Pelangi yang saat ini mulai terang_sang.
Pelangi menggeleng. "Tidak. Kita bisa terlambat ke kantor nanti. Sekarang saja kita sudah hampir terlambat," ujar Pelangi, sembari menggelengkan kepala agar bayangan tentang Gilang yang tanpa busana berbaring di hadapannya menghilang dari dalam kepalanya.
Gilang menghela napas, dan membiarkan Pelangi kembali merapikan jas, dasi, dan rambutnya yang berantakan. Pelangi memang meremas rambutnya tadi saat mereka sedang berciuman.
"Kalau begitu katakan kenapa kamu marah padaku?" tanya Gilang.
Gilang tersenyum mendengar alasan kemarahan Pelangi. "Oh, jadi karena itu. Kamu mengkhawatirkan diriku. Kamu begitu menyayangiku, Pelangi." Gilang nyengir.
Pelangi mencubit kedua pipi Gilang dengan gemas. "Ya, aku mengkhawatirkanmu, dan asal kamu tahu saja, tidak ada yang lebih kusayangi di dunia ini selain dirimu. Jadi, berhentilah membuatku cemas. Jika aku sudah melarangmu, maka jangan lakukan. Apa susahnya, sih, menurut pada istri?"
"Baiklah, baiklah, Merah kuning hijau di langit yang biru. Aku tidak akan mengulangi kesalahan seperti itu lagi."
Pelangi tersenyum. "Baiklah, aku pegang janjimu, ayo kita ke kantor sekarang."
***
Suasana Gedung Andreas Group tidak banyak berubah bagi Gilang. Setelah hampir tiga bulan tidak datang ke kantor, Gilang merasa seakan kembali ke dunianya, dunia yang telah ia tekuni selama bertahun-tahun dan kemudian harus ia tinggalkan dengan terpaksa karena keadaan yang tidak memungkinkan.
Air mata Gilang menetes begitu ia tiba di lobi. Dengan cepat Gilang mengulurkan tangannya ke wajah dan menyeka air mata yang mulai mengalir di kedua pipinya.
Pelangi yang melihat hal itu segera meremas pundak Gilang. Berusaha untuk memberi semangat pada sang suami. Ia tahu apa yang sekarang tengah Gilang pikirkan. Gilang pasti teringat akan masa yang telah pria itu lewati saat kondisinya masih sehat. Bagaimana pun juga, Gilang banyak menghabiskan waktu di kantor dibanding tempat lainnya yang bisa pria itu kunjungi.
Seketika Pelangi merasa bodoh, karena tidak memperhitungkan hal itu saat meminta Gilang kembali ke kantor. Baru sekarang ia sadar, kembali ke kantor sama saja halnya dengan membiarkan Gilang bergelut dengan kenangannya. Bergelut dengan sesuatu yang dulunya adalah keahliannya, tetapi sekarang tidak ada satu pun dari hal itu yang bisa Gilang lakukan
Pelangi membungkuk dan berbisik di telinga Gilang. "Jika kamu mau agar kita kembali, aku sama sekali tidak keberatan, Gil."
"Tidak. Kita sudah di sini. Untuk apa kita kembali," ujar Gilang. "Ayo kita ke ruanganku saja."
Pelangi mengangguk. Sebelum ia melangkah dan mendorong kursi roda Gilang menuju elevator, Toni, Andrew dan Amara tahu-tahu sudah bergabung dengannya dan Gilang. Andrew dan Toni berdiri di samping kanan Pelangi, sedangkan Amara berdiri di samping kiri Pelangi.
Pelangi menoleh ke kanan dan kirinya sembari tersenyum. "Wah, kalian seperti jatuh dari langit."
"Ya, kami muncul dari plafon," ujar Amara, sambil terkikik.
Pelangi tertawa, kemudian mereka semua berjalan berbarengan menuju elevator
Dalam perjalanan menyeberangi lobi, semua karyawan yang berpapasan dengan mereka tidak henti-hentinya membungkuk hormat di hadapan Gilang. Bahkan ada beberapa yang menghampiri Gilang dan mengucapkan rasa bahagianya karena Gilang kembali ke kantor.
"Pak, Pak Gilang. Selamat datang kembali. Dan Anda juga, Nyonya Pelangi. Senang melihat Anda."
"Pak Gilang, selamat datang."
"Selamat datang, Pak, kami merindukan Anda."
"Kami turut bersedih atas musibah yang menimpa Anda, Pak. Semoga Anda selalu baik-baik saja. Selamat datang kembali, Pak."
Kalimat demi kalimat penyemangat terus berdatangan menghampiri Gilang, membuat Gilang merasa bahwa kekhawatirannya selama ini tidak beralasan. Ia selama ini berpikir bahwa karyawannya tidak akan senang memiliki bos yang cacat. Ia juga mengira akan mendapat tatapan mengejek dari seluruh karyawan jika dirinya kembali ke kantor, tapi ternyata tidak. Semua menyambutnya dengan baik, hingga untuk sampai ke elevator aja dirinya membutuhkan waktu setengah jam, karena Pelangi dengan sopan selalu menghentikan kursi roda setiap ada yang datang untuk berbicara dengan Gilang.
Setengah jam kemudian akhirnya mereka semua tiba di ruangan Gilang.
"Ah, lelahnya." Pelangi menghempas tubuhnya di sofa dan segera melepas high heels yang ia kenakan. "Inilah resikonya jika berjalan dengan pria tampan dan baik hati. Semua orang memberi salam padanya, tidak peduli pada kakiku yang kram."
Gilang tertawa. "Maaf merepotkanmu. Haruskan aku mencari asisten baru?" tanya Gilang.
Pelangi mendelik ke arah suaminya. "Jangan berani-berani lakukan itu jika tidak ingin aku mengamuk dan mengambil posisimu sebagai CEO."
Gilang tertawa, begitu juga dengan Toni dan Andrew.
"Apa ingin kubuatkan sesuatu? Teh, kopi, susu, atau apalah," tanya Amara.
Pelangi menggeleng. "Tidak usah, Amara, aku bisa meminta pelayanan nanti--"
"Ck, jangan begitu, Pelangi, aku harus membuat diriku sibuk agar tidak terus-terusan memakan gajih buta," ujar Amara.
Pelangi tersenyum. "Baiklah, kopi dingin saja kalau begitu untukku, dan Milo dingin untuk Gilang, lalu kedua orang itu kamu tanya saja sendiri." Pelangi menunjuk Andrew dan Toni yang sedang asyik berbisik satu sama lain.
"Pak Toni, Pak Andrew," ujar Amara, berusaha menarik perhatian Toni dan Andrew.
"Apa?" tanya keduanya begitu mendengar nama mereka disebut.
"Anda berdua ingin minum apa? Biar aku belikan di kantin," tanya Amara.
"Kami berdua samakan saja dengan pesanan Pelangi," ujar Andrew.
"Baiklah. Aku akan segera kembali." Amara kemudian berbalik, bersiap keluar dari ruangan. Namun, Andrew menghentikan langkah wanita itu.
"Hem, tunggu, Amara. Apa tidak masalah jika kamu membelikan kami minuman? Maksudku, kamu kan calon istri Toni, tidak seharusnya kamu melakukan hal ini untuk kami," ucap Andrew.
Pipi Toni seketika merona mendengar apa yang Andrew ucapkan. Pria yang terlalu serius itu terlihat malu sekarang. Berbanding terbalik dengan Amara yang terlihat biasa saja dan tidak terpengaruh sama sekali oleh ucapan Andrew.
"Aku masih tetap pelayan hingga saat ini, Pak. Apalagi sepertinya tidak ada tanda-tanda seseorang akan melamarku hingga detik ini. Aku harus tetap bekerja untuk menafkahi perutku. Permisi." Amara kemudian keluar dari ruangan, disusul oleh gelak tawa Andrew yang sekarang tengah sibuk melayangkan tunjuk di dada Toni.
"Apa kamu tidak dengar apa yang Amara katakan tadi? Dia memberimu lampu hijau, tapi kamu tidak melakukan apa pun sampai detik ini. Dasar payah." Andrew mengejek Toni.
"Aku masih banyak pekerjaan. Mana bisa memikirkan pernikahan." Toni berkomentar
"Ckckc, kenapa tidak bisa. Cinta dan pekerjaan harus seimbang. Tidak boleh berat sebelah. Kamu harus bergerak cepat sebelum Amara memutuskan untuk menikah dengan pria lain." Pelangi berujar sembari membantu Gilang untuk memosisikan kursi rodanya di depan meja kerja.
"Benar apa kata Pelangi, Ton. Jangan terlalu serius melakukan pekerjaan. Kamu butuh waktu untuk dirimu sendiri juga. Menikah, membangun keluarga kecil yang bahagia, itu adalah hakmu. Jadi lakukanlah sebelum usiamu semakin bertambah tua dan wajahmu tidak menarik lagi bahkan setelah kamu di pakaian tuxedo termahal sekali pun," ujar Gilang sembari terkekeh.
Tawa Andrew terdengar semakin nyaring sekarang, hingga pintu mendadak terbuka dan seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu menghentikan gelak tawa putra kedua keluarga Andreas itu.
"Pelangi, aku ingin bicara."
Bersambung.