OH MY BOSS

OH MY BOSS
PAKET DAN PESAN MISTERIUS



Arya diam mematung. Ia terkejut begitu mendengar informasi yang baru saja Maulana katakan padanya. Ia tidak menyangka jika Pelangi adalah istri Gilang. Tidak mengherankan jika Gilang bersikap sangat overprotektif pada Pelangi ketika mereka bertemu siang tadi di coffe shop.


"Mereka suami dan istri. Bagaimana bisa kita tidak tahu hal itu," gumam Arya.


Maulana mengangkat kedua bahunya. "Kita tidak begitu mengenal keluarga Andreas, itulah sebabnya kita tidak tahu. Dan menariknya lagi, Pelangi itu adalah karyawan bagian kebersihan sebelum menjadi istri Pak Gilang."


"Benarkah?" Alis Arya berkerut. "Putra tunggal keluarga Andreas menikahi seorang office girl?"


"Pak Farhan tidak terlalu cerewet dalam memilah-milah status sosial. Tidak mengherankan jika dia menyetujui pernikahan putranya dengan wanita dari kalangan bawah. Pak Farham itu rendah hati, itulah yang pernah kudengar tentangnya." Maulana menjelaskan.


"Sayang sekali. Padahal aku sangat menyukai wanita itu." Arya bergumam.


Maulana terlihat bingung, ia lalu berkata, "Menyukainya dengan sepenuh hati? Apakah itu artinya keadaan hatimu sudah membaik?


Arya menggeleng. "Tentu tidak. Hanya saja kupikir dia sempurna sekali untuk menjadi ibu dari anak-anakku."


Maulana menghela napas. Pria bertubuh gempal itu nenepuk pundak Arya sembari berkata. "Banyak wanita di dunia ini. Satu gugur, masih ada yang lain--"


"Aku tidak ingin yang lain. Aku ingin wanita itu. Aku akan nenanyakan hal ini padanya besok."


"Kamu sudah gila? Dia itu sudah bersuami." Maulana berucap dengan kedua mata yang melotot. Ia tidak setuju dengan rencana Arya yang ingin menyewa rahim Pelangi. Apa kata keluarga Andreas jika sampai Arya benar-benar mengatakan hal itu pada menantu satu-satunya dari keluarga kaya tersebut.


"Aku tidak gila. Aku sudah memikirkannya sejak tadi, dan keputusanku sudah bulat. Keluarlah, aku ingin sendiri, Lana." Arya mengakhiri perdebatan dan meminta Maulana untuk keluar dari ruang baca. Ia butuh suasana yang tenang untuk mengatur strategi dan memikirkan alasan yang tepat agar Pelangi tidak menolaknya.


***


Sementara itu di kediaman keluarga Andreas kesibukan tengah terjadi. Farhan tidak main-main dalam menyambut pesta pernikahan Andrew. Bahkan bisa dikatakan bahwa persiapan pernikahan Andrew lebih meriah dibandingkan pernikahan Gilang beberapa tahun lalu.


Di halaman terlihat beberapa orang tengah sibuk merancang ini dan itu, mempersiapkan panggung kecil dan pohon-pohon sakura mini buatan, serta menata lampu-lampu gantung yang dibuat sedemikian rupa hingga menyerupai tanaman rambat yang indah, karena acara pernikahan Andrew berkonsep out dor.


Sedangkan di dalam rumah, tepatnya di ruang tamu, Amara membolak-balik sebuah album super tebal yang berisi ratusan contoh undangan. Menanyakan pada Delia undangan seperti apa yang wanita itu inginkan. Sudah lebih dari dua jam Amara dan Delia berdiskusi, tetapi tetap saja tidak ditemukan undangan yang cocok di hati Delia.


"Yang ini bagus, bagaimana menurutmu?" tanya Amara pada Delia.


Delia memperhatikan undangan berwarna merah maroon dan gold dengan gambar hati 3D di permukaannya. "Terlalu mewah tidak, sih?" tanya Delia.


"Tidak, kok," ujar Amara, yang sudah bosan mendengarkan alasan yang itu-itu saja dari bibir Delia. "Undangan ini sama sekali tidak mewah. Yang ini saja, ya." Amara berharap Delia mengangguk agar urusan mereka dengan album berisi contoh undangan itu selesai, karena jujur saja Amara sangat penasaran untuk membuka album lainnya seperti album berisi contoh gaun, contoh tiara, hingga contoh sepatu. Ya, Delia yang akan menikah tetapi dirinya yang sangat bersemangat. Lagi pula, undangan itu harus segera dicetak dan disebar. Jika Delia terlalu pemilih, bisa-bisa mereka terlambat menyetak undangan.


Delia menggeleng, membuat Amara mengeluh dan menyingkirkan album itu dari hadapannya. "Aku sungguh tidak tahu undangan seperti apa yang kamu inginkan. Tadi itu sudah halaman 199, yang artinya hanya satu halaman tersisa. Jika kamu tidak setuju juga, maka kita harus mencari desain lain dari toko lain. Panggil saja Andrew. Aku tidak mau membantumu memilih undangan lagi."


Delia hanya tersenyum melihat Amara yang mengomelinya panjang lebar, ia merasa seperti sedang diomeli oleh seorang kakak perempuan.


"Nah, bagaimana kalau kita tanya pada Pelangi saja." Amara menjentikan jari begitu melihat Pelangi menuruni tangga dari lantai dua.


Delia mengangguk. "Semakin banyak pendapat, semakin bagus," ujarnya dengan riang.


"Bagus apanya. Kalau aku menikah nanti, aku akan pilih semuanya sendiri. Tidak akan berembuk dengan orang lain. Bikin pusing saja." Amara menggerutu. "Pelangi!" Amara berteriak dan melambai agar Pelangi datang menghampinya.


Pelangi tersenyum, membalas lambaian tangan Amara dan segera berlari-lari kecil menghampiri wanita itu.


"Hai," ujar Pelangi begitu tiba di hadapan Delia dan Amara. "Sepertinya seru sekali."


"Bagaimana tidak seru kalau si Delia ini membuatku sakit kepala sejak tadi. Hanya perkara memilih undangan saja tidak selesai sampai dua jam."


Pelangi meringis begitu mendengar keluhan Amara. "Dua jam? Yang benar saja, apa sesulit itu memilih undangan?"


"Ya Pelangi, dua jam. Sebenarnya tidak sulit, hanya saja si Delia ini terlalu cerewet dan pemilih. Dan apa yang kamu lakukan sejak tadi di atas. Aku melihatmu pulang sejak tadi, aku pikir kami akan membantu kami, tapi kamu malah tidak muncul."


Pelangi tersenyum kikuk sembari menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Sebenarnya aku hendak turun daritadi. Hanya saja Gilang menahanku di kamar, mana bisa aku ke bawah sini."


"Ah, benar kalian pasti bersenang-senang di atas sana. Desahannya terdengar sampai ke bawah sini. Aku sungguh iri," ujar Amara.


Pelangi mengangguk lalu meraih album yang tadi disingkirkan oleh Amara. "Kami sibuk membuat anak," ujarnya, sembari tertawa.


"Apa rasanya enak?" Kali ini Delia yang bertanya sembari tersenyum nakal.


Pelangi tertawa. "Enak sekali. Aku bahkan enggan untuk berhenti jika Gilang sudah menguasai tubuhku. Sebentar lagi kamu akan merasakannya bersama dengan Andrew."


"Aku sudah tidak sabar." Delia tertawa, lalu menyenggol Amara yang sejak tadi diam saja. "Kuharap kamu dan Toni segera menyusul."


"Ah, entahlah, dia terlalu serius bekerja. Aku tidak tahu apakah ada keinginan untuk menikah di dalam kepalanya. Lihat saja, sejak pulang dari kantor dia langsung ke ruang kerja dan sampai sekarang belum juga keluar.Dia itu terlalu perfeksionis jika sudah menyangkut urusan pekerjaan."


"Tentu saja dia memiliki niat untuk menikah, kenapa tidak ada? Jika dia tidak peka, maka harus kamu yang sedikit lebih agresif. Tidak salah kok jika wanita yang mendesak." Pelangi menasihati, lalu ia menunjuk sebuah undangan berwarna krem dengan hiasan mutiara-mutiara putih di setiap sisinya. "Ini bagus, elegan dan berkelas. Tidak terlalu mewah, tapi ini yang paling kusuka. Bagaimana menurut kalian?" tanya Pelangi.


Amara dan Delia mendekat. Keduanya lalu mengangguk setuju.


"Ya, ini memang bagus. Yang ini saja kalau begitu," ujar Delia.


Amara mencubit pinggang Delia, merasa Gemas sekaligus kesal pada wanita itu. "Tadi aku juga aku menyarankan undangan yang ini, kan. Tapi kamu menolaknya!" Amara cemberut.


"Benarkah? Aku tidak ingat."


Amara semakim cemberut, membuat Delia dan Pelangi tertawa terbahak-bahak. Saat sedang asyik bercanda bersama itulah seorang pelayan datang menghampiri ketiganya.


"Nyonya Pelangi, ada paket untuk Anda," ujar Pelayan itu.


"Tapi di sini tertulis untuk Pelangi Aulia Andreas, Nyonya."


Pelangi bangkit berdiri dan menerima paket berukuran sedang yang dibungkus dengan kertas pembungkus warna cokelat.


"Baiklah, terima kasih," ujar Pelangi pada si Pelanyan.


"Dari siapa itu?" tanya Amara.


"Tidak ada nama pengirim." Pelangi membolak-balik paket yang ada di tangannya, dan memang tidak ada nama pengirim yang tertera di paket tersebut.


"Mungkin paket ini adalah kejutan dari Gilang. Dia kan suka sekali memberimu kejutan. Bukalah." Amara menebak, yang disambut oleh anggukan kepala Delia.


"Pasti isinya sesuatu yang istimewa," Delia bergumam. "Mungkin berlian, atau tiket nonton konser."


Pelangi menatap kedua wanita di sampingnya secara bergantian. "Baiklah, ayo kita jawab rasa penasaran kita, kira-kira apa isi paket ini," ujarnya sembari tersenyum dan mulai merobek kertas pembungkus.


Sebuah kotak polos yang penuh dengan selotip berada di balik kertas pembungkus yang baru saja Pelangi sobek. Pelangi menghela napas saat melihat begitu banyak selotip yang menempel pada kotak itu. Ia lalu dengan cepat membuka kotak menggunakan gunting dan wajah Pelangi seketika memucat, sepucat mayat saat ia melihat apa yang ada di dalam kotak itu. Refleks Pelangi melempar kotak menjauh darinya, sementara Amara segera merangkul tubuh Pelangi dan mengusap punggung wanita itu.


"Siapa yang berani mengirim ini?" Delia yang sekarang tengah menatap isi paket yang tergeletak di lantai seketika menjadi murka. Seekor burung merpati yang telah mati dan berlumuran darah, selembar potret buram saat Pelangi berada di tepi jurang, dan sebuah kertas bertuliskan nama Pelangi, juga selembar surat adalah isi dari paket yang baru saja Pelangi terima. Darah yang menyelubugi burung merpati itu pun darah asli, karena aroma anyirnya memenuhi ruagan sekarang, membuat siapa pun yang melihatnya dan menghidunya pasti ingin muntah.


"Biar aku panggil Gilang," ujar Delia, tetapi belum lagi Delia melangkah menuju lantai atas, Gilang terlihat menuruni tangga bersama dengan Toni dan Andrew, ketiganya memang sejak tadi sedang menyelesaikan pekerjaan kantor di ruang kerja Gilang di lantai atas.


Melihat Pelangi yang berpelukan dengan Amara, dan Delia yang menatap Gilang dengan wajah khawatir membuat Gilang mempercepat langkahnya.


"Ada apa?" tanya Gilang, begitu tiba di anak tangga paling bawah.


Delia tidak menjawab, ia hanya menunjuk paket yang baru Pelangi terima, yang sekarang isi paket itu berserakan di lantai.


Toni dan Andrew mendekat, berjongkok untuk memunguti benda-benda aneh yang berserakan di lantai.


Pelangi akan mati seperti burung ini. Mungkin kembali jatuh dari jurang dan berdarah-darah.


Itulah kaimat yang tertulis pada selembar kertas yang sekarang tengah Andrew pegang.


"Ini teror," ujar Toni, bangkit berdiri dan menyerahkan potret buram yang menunjukan tubuh Pelangi di tepi jurang, siap mendorong seorang pria yang berniat memukul Gilang.


Melihat semua itu, Gilang segera menghampiri Pelangi dan menarik tubuh sang istri dari pelukan Amara.


"Hai, tenangkan dirimu. Tidak akan ada yang bisa mencelakaimu sekarang. Tenanglah, Sayangku," ujar Gilang, berusaha menenangkan Pelangi yang tubuhnya gemetar karena ketakutan.


Pelangi diam saja. Ia semakin gemetar karena berusaha menahan tangis saat berada di dalam pelukan Gilang.


"Siapa yang mengantarkan paket itu?" tanya Gilang pada Amara.


Amara menggeleng. "Tidak tahu. Tadi pelayan yang datang ke sini dan memberikan paket itu pada Pelangi. Kami pikir paket itu adalah kejutan darimu untuk Pelangi."


"Toni, minta sekuriti ruang monitor untuk mengecek semua CCTV, aku ingin lihat siapa pengantar paket itu."


Toni mengangguk, lalu segera berlari menuju ruang monitor, di mana pusat kendali semua kamera di rumah itu berada.


"Amara, jika aku boleh minta tolong, bisakah kamu jaga Pelangi di kamarnya. Aku akan menyusul Toni," ujar Gilang.


"Tentu, aku akan menjaga Pelangi."


"Aku juga akan menjaganya," Delia menimpali.


"Tidak usah, Del. Aku harap kamu dan andrew tidak terpengaruh pada kekacauan ini. Kalian akan segera menikah. Persiapkan saja segalanya seolah tidak pernah terjadi hal buruk. Jangan terpengaruh. Aku yakin siapa pun yang mengirim paket itit, bermaksud untuk mengacaukan kita semua, bukan hanya Pelangi saja."


"Mana bisa aku tidak terpengaruh. Sudah jelas ini teror. Ini berbahaya, Gil." Andrew cemas, ia menatap punggung Pelangi yang gemetar dengan perasaan gelisah.


"Sudahlah. Tidak akan terjadi hal buruk kali ini. Pengalaman lalu adalah pelajaran bagi kita. Kita tidak akan terpuruk untuk kedua kalinya. Akan kutemukan pelakunya secepatnya dan akan kubuat dia menjadi sate begitu dia telah berada di dalam genggamanku." Gilang berkata dengan tajam.


***


Alex memperhatikan di kejauhan kediaman Gilang Andreas yang super mewah. Tadinya ia berniat hanya ingin mengantar paket untuk menakut-nakuti Pelangi, istri kesayangan Gilang. Akan tetapi, melihat keramaian yang tengah terjadi di halaman rumah itu ia merasa beruntung. Sebuah ide kembali terlintas di benaknya saat ia mengetahui akan terjadi sebuah pesta pernikahan di rumah itu beberapa hari lagi. Ia memang tidak terlalu mengenal Andrew, apalagi calon istri Andrew, rasanya keterlaluan sekali jika ia mengacaukan pernikahan mereka. Namun, tidak ada salahnya menebar kepanikan. Toh baginya sekarang semua anggota keluarga Andreas adalah musuhnya dan musuh harus ditakut-takuti.


"Ah, baiklah, mari kita mainkan part selanjutnya," gumam Alex, bersandar pada sandaran kursi mobil milik Surya, lalu mengeluarkan ponsel dan mulai mengirim pesan untuk Gilang.


Beri aku tiga ratus juta jika kamu ingin pernikahan Andrew berjalan dengan lancar. Jika tidak, aku akan mengirim banyak merpati berdarah di hari pernikhan Andrew.


"Klik, klik, klik," gumam Alex, menekan tombol send sembari terkekeh-kekeh seperti orang tidak waras.


Ia meletakkan ponselnya di atas dasbor, menunggu balasan pesan dari Gilang.


Sementara itu di dalam ruang monitor Gilang memberikan ponselnya pada Toni. "Baca ini. Baru masuk dua menit lalu."


Toni meraih ponsel Gilang dan membaca pesan yang tertera di layar benda pipih itu.


"Akan aku minta seseorang untuk melacak nomornya," ujar Toni, begitu ia selesai membaca pesan misterius itu.


"Ya, bergegaslah."


Bersambung.