OH MY BOSS

OH MY BOSS
NGIDAM



Siang ini, William memutuskan untuk kembali ke apartemen, beralasan ada barang yang tertinggal saat Lily menanyakan kepulangannya, wanita itu tampak sedang berkemas, membuat seorang William tiba-tiba merasa lemas.


"Kau benar akan pergi?" Tanya William, melarikan pandangannya pada koper yang tertata di sebelah sofa.


Lily yang tampak sibuk dengan ponselnya menoleh, "Memangnya kenapa? Cepat atau lambat, aku memang harus pergi," ucapnya.


"Pesawatnya, jam berapa, biar ku antar."


"Tidak perlu, Will, aku tidak jadi pulang. Sebuah perusahaan menawarkan kontrak iklan padaku, mungkin akan beberapa bulan lebih lama aku bertahan di Negara ini."


Ntah kenapa William merasa lega, kemudian duduk di sofa, "lalu untuk apa kau berkemas?" Tanyanya.


"Aku tidak mungkin menumpang terus padamu, dan tidur di sofa selama itu."


"Tunggu, kalimat itu membuatku merasa bersalah. Kau sendiri yang tidak mau tidur di kamarku, aku bisa menggantikanmu tidur di sofa."


Lili mendengus, "dan digrayangi olehmu setiap malam, tidak. Terimakasih."


William berdecak, "Ayolah, jangan bersikap seolah-olah aku itu seorang maniak, aku bisa menyerangmu kapanpun jika aku mau, bahkan sekarangpun bisa," ucap William yang membuat Lily menatapnya ngeri, kemudian beringsrut menjauh membuat pria di hadapannya itu tertawa pelan.


"Aku tidak takut padamu," ucap Lily yang berlawanan dengan gerak tubuhnya yang bersikap siaga.


"Dengarkan aku, Lilyana. Aku mungkin brengsek, tapi aku tidak pernah berniat untuk menyakitimu." William menjelaskan dengan sungguh-sungguh. Membuat Lily berpikir tentang kebenaran pada ucapannya itu, benar yang pria itu bilang, jika William mau, dia bisa menyerangnya kapan saja. Tapi selama beberapa hari yang ia lalui, Lily merasa aman, kecuali kejadian tempo lalu, dan itu adalah kesalahannya.


Lily mengerjap terkejut saat William meraih tangannya dan meletakan kunci di sana, "ini apa?" Tanyanya.


"Kunci kamar Justin, dia memberikannya padamu, kau bisa menggunakannya untuk beberapa bulan kedepan."


"Lebih baik aku menyewa apartemen sendiri." Lily menolaknya halus.


William tersenyum, "kau tidak usah takut, aku tidak akan mengganggumu," ucapnya, menyadari kekhawatiran wanita di hadapannya itu. "Kecuali jika kau mau," tambahnya lagi yang mendapatkan decakan sinis dari bibir tipis seorang Lily.


"Dia memberikan kamarnya? Apa istrinya itu tidak akan marah?" Tanya Lily, terakhir dia bertemu dengan wanita itu, dia pulang dengan perasaan jengkel setengah mati.


William tersenyum, "Serena itu wanita yang baik, dia lucu. Kau bisa menjalin hubungan baik jika kau mau," ucap William.


Lily melengos, "sepertinya tidak akan mudah," ucapnya, kemudian teringat sesuatu. "Oh iya, Will. Gadis yang dulu sering kau ceritakan itu di mana?"


"Yang mana?"


"Yang kau sebut sebagai penyemangat, cinta pertamamu." Lily bertanya antusias, dia amat penasaran dulu, dan kini ia mungkin bisa dikenalkannya.


William tertawa pelan, "orang yang sama, dengan yang kau sebut sulit untuk didekati tadi," jawabnya yang membuat Lily sedikit terkejut. "Serena," tambahnya.


"Kau merelakannya untuk Justin?"


"Aku tidak bisa membahagiakannya sendiri, kami punya keyakinan yang berbeda, sama seperti Justin denganmu."


Lily terdiam, merasa malu dengan yang ia lakukan beberapa hari yang lalu, bahkan pria brengsek sekelas William saja tahu cara membahagiakan wanita yang ia sayangi, meski bukan dengan tanganya sendiri.


***


Menjelang malam, Lily yang tahu akan kedatangan tamu langsung beranjak ke arah pintu saat bel apartemen William mulai terdengar mengganggu.


"Malam, saya kesini hanya ingin mengemas barang-barang suami saya, apa boleh masuk." Nena berdiri di depan pintu, tampak tenang dengan senyum lebih hangat dari terakhir mereka bertemu.


Lily mengangguk, tersenyum kecil, jelas sekali dirinya tampak canggung, namun Nena tidak ambil pusing, wanita itu menarik koper yang ia  bawa kemudian masuk ke kamar suaminya, mulai membuka lemari dan mengemas baju-baju yang sebenarnya tidak terlalu banyak. Lily mengikutinya, memperhatikan dalam diam.


"Eu, apa kau mau minum?" Tanya Lily yang membuat Nena sejenak menghentikan gerakannya, kemudian menoleh.


Nena tersenyum, "tidak usah, saya tidak akan lama," ucapnya, kembali melanjutkan aktifitas nya.


Lily mendekat, "mau kubantu?" Tawarnya yang kembali mendapat gelengan kepala dari Nena. Kemudian wanita itu berterimakasih. "A, aku minta maaf dengan kejadian tempo hari, dan menelponmu dalam keadaan mabuk, aku minta maaf."


Nena yang sepertinya sudah selesai dengan urusannya itu mendekat, mengulurkan tangan. "Kita bahkan belum berkenalan secara resmi."


Lily tertegun, menatap uluran tangan Nena kemudian beralih ke wajah cantik wanita di hadapannya itu, "Lilyana." Lily menyambut uluran tangannya.


Nena kembali melempar senyum. "kamu terlalu sempurna jika hanya menjadi orang ketiga, kamu tidak pantas untuk itu, bahkan kamu bisa mendapatkan yang jauh lebih baik," ucap Nena setelah menyebutkan namanya dan melepaskan jabatan tangan mereka.


Lily menunduk sekilas, kemudian mendongak lagi dengan senyum yang tampak jelas. "Aku mengerti," jawabnya.


Obrolan mereka mengalir lebih akrab setelahnya, hingga Justin merasa terkejut saat datang untuk menjemput Nena sepulang kerja.


"Mau makan sesuatu?" Tanya Justin saat mereka di dalam mobil menuju arah pulang.


Nena menggeleng, "nggak ada," jawabnya.


"Beneran?" Tanya Justin kembali, merasa bingung dengan cerita rekannya yang mengatakan bahwa menghadapi istri yang sedang ngidam itu tidak mudah. Buktinya istrinya tidak begitu. Justin kembali tersenyum kala Nena menjawab tidak untuk kedua kalinya.


Hingga saat keduanya masuk ke dalam apartemen, Nena yang tampak memikirkan sesuatu membuat Justin bertanya. "Ada apa?


"Aku pengen makan martabak, Mas."


"Hah?" Justin melongo, mengerjap kemudian. "Kan tadi di jalan aku udah nanya."


"Iya, tapi tadi belom pengen." Nena tersenyum manis, meluluh lantahkan kedongkolan di hati sang suami. "Pengennya sekarang," tambahnya lagi.


Justin menghela napas, "yaudah, kamu tunggu sini aja ya," pasrahnya kemudian membuka jas dan meraih kunci mobil kembali.


"Naik ojek online aja ya, Mas, biar cepet," pinta Nena.


"Kok naik ojol, nanti akunya masuk angin dong."


"Nggak apa-apa nanti aku kerokin," jawab Nena yang membuat Justin mengerjap tidak percaya, seumur-umur, belum pernah dirinya mendapatkan garis-garis merah dipunggung bekas kerokan.


"Pake mobil aja, Ya." Justin membujuk.


Nena malah beranjak membuka lemari dan mengambil jaket tebal, kemudian menyuruh suaminya itu untuk mengenakannya. "Ayo dong, Mas. Aku pengen liat kamu pake helm ijo-ijo," rengek Nena, dan Justin kembali melongo.


Setelah beberapa saat menunggu ojol menghampiri mereka, Nena terus tersenyum, mengantarkan suaminya hingga ke depan, tidak lupa juga memberi semangat pada lelaki tercintanya itu, karena ini pertama kalinya seorang Justin dibonceng jaket ijo-ijo, Nena begitu antusias.


"Kamu masuk sana," usir Justin saat dia sudah mengenakan helm ijo yang istrinya pinta.


"Tunggu dulu, Mas. Foto dulu."


"Ya Allah, Tuhan." Justin tersenyum pasrah, membiarkan wajah tampannya diabadikan dengan helm di kepala. Nena terus melambaikan tangan saat sepeda motor yang ia tumpangi mulai jalan.


"Ngidam ya Pak, istrinya?" Tanya bapak ojol yang membonceng Justin.


"Iya."


"Sabar, Pak. Masih mending ini mah belum seberapa, saya dulu waktu istri saya ngidam disuruh bikin rujak mangga, mana maunya metik sendiri dari pohon, pohon tetangga, nggak boleh ngomong minta pula, bayangkan seberapa uji nyalinya saya." Bapak ojol malah curhat dan membuat Justin bertambah ngeri saja.


"Jangan sampe deh, Pak. Saya masih pengen hidup." Jawab Justin yang sepanjang usianya ini belum pernah nyolong mangga milik tetangga.


Justin tidak pernah menyangka ternyata orang ngidam bisa seberbahaya itu. Dan dia bersumpah untuk meminta jatah preman tambahan atas segala  pengorbanan nya malam ini.


**kayanya sih iklan**


Author : Sumpah aku seneng banget setiap buka mangatoon yang biasanya baca komenan cuman dua ini bisa sampe sepuluh, sepuluh. Makasih ya Netizenku. Aku udah begadang loh ini buat bikin dua episode ini, tolong senengin aku lagi dengan komentar receh kalian.


Netizen; udah thor gantian, gue mau ngomong, buat para Netizen sebangsa setanah air. jangan mau, nggak usah pada komen. Keenakan dia.


Author; Ya Allah berikan diriku kekuatan ibu malin kundang untuk mengutuk netizen yang satu ini jadi batu batako.


Netizen ; ampun thor 😅


Author; Bodo amat.