
Berselang beberapa minggu dari kecelakaan itu, dan sang ayah pun sudah diperbolehkan pulang, Justin mendapati pria paruh baya yang tampak mulai membaik itu tengah melamun, memandangi jendela kamarnya.
"Pa." Panggil Justin saat membawa nampan berisi makanan masuk ke dalam kamar.
Mr Juan menoleh, tersenyum kemudian berjalan dengan bantuan kruk di tangannya, menghampiri sofa yang terletak di ruangan itu.
"Kamu tidak pergi ke kantor?" Tanyanya sembari mendudukkan diri di hadapan sang anak.
Yang ditanya malah tersenyum, "ini hari Minggu, Pa." Jawabnya yang membuat sang papa mengerutkan dahi, sepertinya beberapa minggu berdiam di rumah membuatnya lupa hari. Dan diapun tertawa, tanganya terulur meraih sarapan yang dibawakan putranya. Dan hal itu tidak lepas dari perhatian Justin yang menatap sang papa begitu hangat untuk pertama kalinya.
"Kenapa papa melakukan itu?" Tanya Justin yang membuat pria paruh baya yang tampak asik dengan sarapannya itu menoleh.
Justin teringat dengan peristiwa naas yang nyaris merenggut nyawa papanya, kala itu saat dia panik karena nyaris menabrak truck besar di hadapannya, sang papa melepas sabuk pengaman dan mengambil alih kemudi dengan uluran tangannya, membuka pintu Justin dan mendorong pria itu keluar yang membuat Justin berguling ke pinggir jalan yang berumput, kejadiannya begitu cepat saat kemudian pria itu berhasil menguasai diri, ia melihat mobilnya itu menabrak pohon besar dan terbalik, tentu saja membuatnya panik setengah mati, mengingat kejadian itu selalu membuatnya ngeri.
Mr Juan yang tampak mengerti dengan pertanyaan sang anak, hanya tersenyum. "Tentu saja karena kamu anak papa," ungkapnya, kemudian melanjutkan sarapannya yang tertunda.
"Tapi tidak harus mengorbankan keselamatan papa, jika terjadi sesuatu pada papa aku—"
"Jika terjadi sesuatu pada kamu, papa tidak bisa memaafkan diri papa sendiri," tutur Mr Juan memotong ucapan Justin. "Papa merasa bertanggung jawab dengan keselamatan kamu, demi seseorang," ungkapnya kemudian, namun saat Justin bertanya siapa, sang papa hanya tersenyum dan Justin menyimpulkan kemungkinan orang yang dimaksud papanya adalah mendiang sang ibu.
Justin tengah mengunyah jatah sarapannya saat Mr Juan mengutarakan ingin bertemu dengan seseorang yang telah rela mendonorkan darah untuknya.
"Papa pasti kenal kok, dia masih salah satu karyawan lama papa." ucap Justin, entah mengapa bibirnya tersenyum mengingat orang yang dimaksud, dan hal itu membuat mata ayahnya memicing curiga.
"Pacar kamu," tebak sang papa yang berhasil membuat tenggorokan Justin kerontang, dan roti senwich yang nyaris tertelan mendadak seret membuatnya terbatuk-batuk. Mr Juan tersenyum geli dan menepuk-nepuk bahu anaknya.
"Kamu sudah mengungkapkan perasaan kamu?" Tanyanya, dan Justin mengangguk. Entah mengapa setelah kecelakaan itu dia lebih terbuka pada sang papa, dan dia juga merasa lebih dekat sekarang. "Sudah resmi?" tanyanya lagi, untuk kali ini dia menggeleng.
"Justin digantung kayak jemuran." Jujurnya yang berhasil membuat sang papa tergelak, baru kali ini pria itu sedekat ini dengan papanya.
"Jika sebuah ungkapan kata cinta tidak bisa membuat seorang wanita mengiyakan permintaan kamu, lakukan dengan tindakan." Petuah sang papa yang membuat Justin terlongo, pria pertengahan tiga puluh yang belum juga punya pasangan itu menggelengkan kepalanya takjub, baru sadar ternyata papanya sepuitis itu.
"Papa kata-katanya seperti abg saja, pantas tante Carla ngejar-ngejar terus."
"Kayak maling, dikejar," sanggah Mr Juan, dan saat kemudian Justin menanyakan kenapa Carla tidak pernah berkunjung saat papahnya sakit, mendadak pria paruh baya itu bungkam, dan memilih melanjutkan sarapannya dalam diam.
***
Ibu Nena tengah menyapu teras rumah saat dia kedatangan tamu, Justin melangkah lebih dulu dan mengulurkan tangan pada wanita yang masih cantik di usianya yang mulai senja itu.
"Bu, ada yang mau bertemu Serena." Justin mengutarakan maksud kedatangannya kerumah mereka setelah mencium punggung tangan Marlina.
Perlahan Mr Juan mendekat disambut tatapan Marlina yang seperti mengenali. Justin jadi bingung sendiri.
"Marlina?" Juan berucap lebih dulu.
"Martin? Kamu Martin Juandika?" Tanya Marlina, dengan kedua bola mata yang mulai berkaca-kaca, kemudian meraih kedua lengan pria yang dia panggil Martin itu dan mengguncangkannya sampai kruk lengan di genggamannya itu terlepas, namun pria itu masih bisa menguasai diri. "Mana anak saya? Katakan dimana anak saya!" Paksa Marlina, air matanya mulai luruh.
Untuk beberapa saat Juan tertegun, kemudian menoleh dengan perlahan ke arah Justin yang diikuti oleh Marlina.
Yang dipandangi tampak kebingungan, terlebih saat tangis Marlina pecah menghambur pada pria itu.
Justin yang masih mematung tidak kuasa membalas pelukan Marlina dengan derai air matanya yang semakin tumpah ruah.
"Ada apa, Bu?" Nena keluar rumah, gadis itu mengerutkan dahinya bingung melihat sang ibu menangis tersedu-sedu memeluk bosnya itu, dan lagi ada Mr Juan juga, Nena semakin berpikir keras ada apa sebenarnya.
"Nena!" Marlina melepaskan pelukannya dari Justin, tapi tangannya masih menggenggam erat lengan pria itu seolah tidak ingin jauh darinya. "Dia anak ibu, Na. Saudara kembar kamu." Lanjutnya yang membuat gadis itu mundur satu langkah, sama terkejutnya dengan Justin yang memilih diam seribu bahasa. Keduanya saling pandang, dengan pikiran yang berkecamuk di kepala masing-masing.
Kenyataan itu membuat keduanya pucat pasi, lemas seketika. Namun yang tumbang malah papa Justin, berlutut di lantai dengan tangan meremas dadanya, membuat Justin panik luar biasa.
Juan tampak menahan sesak di dada, raut wajahnya begitu penuh penyesalan. Melihat Nena lah yang ternyata mendonorkan darah untuknya, juga mengetahui kenyataan bahwa Rahadi sudah tidak ada, membuatnya begitu terpukul. Bayangan kenangan tidak menyenangkan terus berkelebat di kepalanya.
"Sakit apa orang tuamu? Sampai kamu berani meminjam uang sebanyak itu pada perusahaan saya?" tanya Mr Juan saat kala itu Nena mengutarakan meminjam uang di tempatnya bekerja beberapa tahun yang lalu.
"Gagal ginjal, Pak. Dan dia harus dioperasi." Jawab Nena takut-takut.
"Jaminan apa yang kamu berikan untuk hutang sebanyak itu?"
"Saya akan bekerja sebaik-baiknya di perusahaan bapak sampai hutang saya terlunasi, dan saya akan mencicil dari separuh gajih saya." Tawar Nena, dan Mr Juan tampak mengangguk-angguk.
"Baiklah, tapi jangan menyesal jika ayah kamu akhirnya masih tidak tertolong juga, hutang kamu tetap berlaku, dan kamu tidak boleh mangkir dari tanggung jawab sebagai karyawan saya, gaji kamu saya potong 40 persen setiap bulannya, bagaimana? Kamu masih mau?"
"Tidak masalah, Pak. Demi ayah saya, tidak apa-apa."
Mr Juan semakin kuat meremas dadanya, dengan pertanyaan panik dari Justin yang tidak juga ia tanggapi. Pria paruh baya itu tampak larut dengan penyesalan terhadap gadis itu dan ayahnya.
"Rahadi, maafkan saya," sesalnya sebelum akhirnya sang papa tidak sadarkan diri di pelukan Justin.
***