
Monmaap ini sebenernya emang blom tamat, mau ngetes silent riders aja biar pada nongol, biar pada sewot 🤣🤣🤣
Beberapa jam sebelum Ijab Kabul...
"Ayolah, Just. Tidak usah pasang muka nelangsa." William melemparkan paper bag ke arah Justin yang terduduk lesu di sofa ruang tamu, sejak pria itu membukakan pintu untuknya, William tahu, wajah Justin yang tampak kuyu menandakan kalau dia baru bangun tidur, atau malah tidak tidur sama sekali, ditambah menangis semalaman kalau perlu.
"Aku tidak akan datang," ungkapnya lesu, paper bag di tangannya dilemparkan ke atas meja, terguling hingga isi di dalamnya yang ternyata berupa baju resmi, sedikit menyembul. William memungutnya dan duduk di samping Justin.
"Kalau begitu, Serena tidak bisa menikah." William menoleh setelah mengucapkan kalimat itu, Justin tampak bergeming. "Kau kemarin begitu semangat mengantarnya fiting baju kebaya, sampai cincin untuk nikahnya saja kau yang pilih."
"Biar saja dia tidak jadi menikah, biar aku yang menikahinya sekalian, aduh—" ucapan Justin terpotong, seiring dengan telapak tangan William yang mendarat di belakang kepalanya.
"Dia adikmu." William berucap geram, nadanya naik satu oktaf, namun pria di sampingnya hanya berdecak malas.
"Sini, biar kubantu kau ganti baju," tawar William yang membuat Justin seketika menoleh, lengkap dengan pelototan tajam andalan yang selama ini mampu mengintimidasi siapa saja, siapa saja dan tidak termasuk seorang William, karena tidak berhenti dengan penawarannya, pria bule sinting itu sigap melepaskan kaus yang Justin kenakan, keduanya berdebat sengit dengan Justin yang tetap mempertahankan kausnya dan William yang semakin bersemangat menarik ujung kaus sahabatnya itu.
"Ayo, Bang, kita udah tel—" Karin masuk dengan tiba-tiba, membuat keduanya berhenti bergerak dan tetap pada posisinya. "Astaga naga, ya ampun, mata gue, mata gue..." Karin berlari menghampiri keduanya dengan kehebohan yang ia ciptakan sendiri, "kalian ngapain?" Tanyanya ngeri, dengan masih berusaha menutupi matanya.
Justin menyentak tangan William yang masih bertengger di kausnya, kemudian beranjak pergi seraya menenteng paper bag, yang sempat ia lemparkan tadi.
"Nah, gitu dong," ucap William dengan di sertai kecup jauh dari bibir sensualnya yang membuat gadis belasan tahun itu semakin bergidig ngeri.
Karin beringsut mendekati William dan menangkup wajah pria itu, "Bang Bule, jangan belok dong, nanti jodoh Karin siapa?" Rengeknya yang membuat bolamata pria itu membulat seketika.
***
"Aku tidak bisa." Justin yang nyaris masuk kembali ke dalam mobil, langsung ditarik oleh Willian.
"Ayolah, Just, kau hanya bagian mengucap Ijab terus sah, setelah itu kita pulang," ucap William enteng, membuat Justin sangat bernafsu sekali untuk menelannya bulat-bulat. Nyatanya memang tidak semudah itu.
"Tapi, Will—"
"Mas Justin." Itu suara Ardi, "udah ditungguin Ibu dari tadi," tambahnya, dan Justin tidak bisa mengelak kali ini.
Pelaminan. Hal yang pertama Justin lihat adalah sofa putih dengan beragam hiasan bunga-bunga di belakangnya. Hatinya amat sakit, remuk redam rasanya. Hal yang bisa ia lakukan hanyalah menghela napas.
"Eh tunggu!" Karin yang berjalan di sebelah Justin menarik lengan pria itu, William ikut memberi perhatian.
"Bang Bimo cakepan di poto ya, badannya bagus banget gila." Komentarnya pada fas foto besar yang terpajang di depan pintu.
Justin melengos, rasanya ia ingin menjungkir balikkan papan penyangga potret tubuhnya yang berwajahkan orang lain dengan editan yang benar sempurna itu.
William yang menyadarinya sontak menahan tawa. Bersamaan dengan itu, Marlina yang tergopoh-gopoh keluar dari dalam langsung menyambut mereka.
Marlina menyapa William dan Karin, menyuruh mereka duduk, kemudian beralih pada Justin.
"Ganteng banget, sulung ibu." Rosita meraih lengan Justin yang membuatnya menoleh.
Selain membalas dengan ucapan terimakasih, pria itu tidak tau harus bagaimana menanggapi pujian setiap orang dengan penampilannya yang menyaingi pengantin pria yang bahkan belum datang.
"Mau kemana, Bu." Justin bertanya saat sang ibu menariknya ke suatu tempat, entah mengapa perasaannya jadi tidak enak. Karena memang semua hal yang terjadi saat ini, tidak akan pernah terasa enak untuk dirinya.
"Kamu temani dulu adik kamu yah, ibu mau cari sesuatu, lupa naronya." Marlina meninggalkan putranya di sebuah kamar. Hanya ada Nena di sana. Duduk di kursi. Menatapnya dalam diam.
"Cantik," adalah hal pertama yang keluar dari mulut Justin, sebelum tenggorokannya tercekat dan sulit untuk sekedar menelan air ludahnya sendiri.
Justin menghampiri Nena yang masih diam, penampilannya tampak berbeda, namun sorot mata itu tetap sama. Tetap cinta. Pria itu berlutut dan menenggelamkan wajahnya di pangkuan sang adik.
"Tolong, jangan menangis, Justin," pintanya dalam hati pada diri sendiri. Nyatanya menangis semalaman tidak membuat stok air matanya habis.
Justin merasakan usapan lembut di kepalanya, diapun mendongak, menatap gadis dihadapannya yang bercucuran air mata tanpa suara, tatapan itu masih sama, entah mengapa Justin yakin itu adalah cinta.
***
"Ibu cari apa?" Tanya William pada Marlina yang tampak kebingungan.
"Gini loh Nak Willi," Marlina mencengkram lengan jas pria yang entah mengapa dia lebih senang dipanggil Liam, bukan Willi. "Cincin Nena ibu lupa naronya."
William tampak tidak mengerti, "terus?" tanyanya.
"Maksudnya, cincin pengantin Nena," ucap Marlina, dahinya tampak berkerut, menandakan bahwa wanita paruh baya itu tengah keras berpikir. "Apa Nak Willi beliin aja yang baru yah?" Tanyanya dengan penuh harap.
"Memangnya keburu, rombongan mempelai pria sudah datang loh, Bu."
"Ya Allah, gimana ini," pekik ibu Nena panik, kemudian menyuruh Siska yang kebetulan lewat, untuk mengabari Justin agar bersiap-siap.
"Coba Ibu minum dulu, jangan panik, ingat-ingat lagi." William memberi saran, pria itu mendudukan Marlina di sofa, dan memberikan segelas air putih. Para kerabat yang berlalu lalang untuk menyambut rombongan yang datang malah membuat wanita itu semakin lupa.
"Ada apa?" Suara Justin membuat Marlina menoleh, putra sulungnya itu mendudukan dirinya disebelah sang ibu. Wiliam menjelaskan apa yang terjadi. Justin tampak mengangguk-angguk mengerti.
"Mungkin bisa pake cincin Nena yang lain, Bu," usul Justin yang mendapatkan gelengan dari Marlina.
"Nggak ada cincin atau perhiasan yang lain."
Justin tampak berpikir, diliriknya cincin yang melingkar di jari kelingkingnya sendiri. Sebuah cincin yang tampak sederhana namun elegan. Meskipun didesain khusus untuk pria, tapi ini lebih baik dari pada tidak sama sekali. "Ibu punya kotaknya," tanya Justin.
Justin mengangguk saat sang ibu tampak tidak percaya. "Pakai ini saja," ucapnya. "Mungkin akan sedikit kebesaran, tapi tidak masalah."
Marlina dengan senyum terharu membelai pipi putranya. "Nanti kalo cincin Nena ketemu, ibu balikin," ucapnya yang membuat Justin menggeleng.
"Anggap saja hadiah dari saya, Bu," ucapnya lirih. "Untuk Serena."
Marlina memeluk putranya, dan saat terlepas, wanita itu tampak ingat sesuatu. "Oh iya, ini harganya berapa?" Tanyanya yang membuat Justin dan William saling melempar pandangan.
"Sepuluh juta, Bu," jawab Justin.
"Oh." Marlina tersenyum, lebih mahal cincin Nena sedikit tapi tak apalah, pikirnya.
"Sepuluh juta dolar maksudnya, Bu," ralat William, yang mendapat sikutan dari pria di sebelahnya.
"Hah?"
***
Saat acara utama akan segera dimulai, pandangan William tidak pernah lepas dari sosok sahabatnya yang duduk berhadapan dengan mempelai pria dan Nena di sampingnya. Takut kalau-kalau pria itu kabur dan membuat berantakan jalannya acara.
William tidak bisa membayangkan jadi Justin, tetap bertahan tidak membuat meja di hadapannya itu terbalik saja dia sudah amat luar biasa. Dalam keadaan seperti itu, William sangat tahu, Justin benar-benar merasa tidak bisa apa-apa selain merelakan wanita yang dicintainya. Bahkan mungkin lebih sulit dari perasaannya yang dulu bertepuk sebelah tangan. Bagaimana tidak, mereka saling mencintai. Dan malah harus berakhir seperti ini.
Wiliam menoleh saat Karin dengan sengaja menyikut lengannya. "Kenapa sih?" Tanyanya pada gadis belasan tahun yang duduk di sampingnya itu.
"Mbak Nena cocokan sama Bang Justin deh," komentarnya yang membuat William berdecak malas.
"Mereka kan kembar."
Karin terkekeh pelan, William yang merasa bingung memfokuskan pandangannya pada gadis itu.
"Kembar dari mana sih, Bang. Diliat dari segi mana juga mereka tuh nggak ada mirip-miripnya." Karin berucap dengan yakin. William tertawa mendengus.
"Banyak kok kembar yang nggak mirip." William mencoba menyangkal omongan Karin yang tampak ada benarnya. Pria itu menoleh, Karin tampak berdiri dengan tiba-tiba.
"Om Juan."
***
Fakta itu membuat William amat terkejut. Kedatangan ayah Justin yang tiba-tiba dan mengungkap semuanya, sempat membuat kacau jalannya acara, hingga dengan pertimbangan yang disepakati bersama, pernikahan ini akan tetap dilanjutkan dengan Mr Juan sebagai Wali, dan Justin harus puas dengan hanya menjadi saksi.
Pria itu pasti nyaris gila sekarang.
William memalingkan wajahnya, tidak sanggup melihat sahabatnya yang tampak hancur. Harusnya biarkan saja tadi saat Justin menolak menjadi Wali, salahnya kenapa memaksa pria itu untuk ke sini. Dan seharusnya jalan ceritanya tidak serumit ini.
Willam terkejut saat Karin menarik lengannya. "Duduk, Bang. Ngalangin orang tau," omelnya tidak tepat. Ternyata dia masih berdiri. Namun alih-alih marah, pria bule itu malah menuruti perintah Karin dengan patuh.
William memang duduk agak jauh dari mimbar tempat dilaksanakannya ijab kabul. Namun pria itu bisa dengan jelas melihat betapa kacaunya Justin di atas sana.
"Karin, kamu bener, mereka ternyata tidak—" ucapan William terhenti, saat menoleh melihat gadis di sampingnya itu memejamkan mata dengan kedua tangan ditangkupkan didepan dada. Gadis itu sedang ... berdoa.
Entah mengapa William ingin melakukan hal yang sama, memejamkan mata dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Ya Tuhan, jika memang Kau ingin mengambil sesuatu dariku. Apapun Tuhan, asal jangan kebahagiaan sahabatku."
Doa Wiiliam masih berlanjut, entah apa yang pria bule itu sepakati dengan Tuhannya, dan doa seorang Karina Larasati adalah.
"Semoga panggungnya roboh Ya Allah, terus calon suaminya Mbak Nena diculik wewegombel."
"Amin." Karin membuka matanya, bersamaan dengan kehebohan di depan sana. Gadis itu berdiri, dilihatnya seorang pemuda yang ia tahu adalah adik Nena tampak membabi buta memukuli calon kakak iparnya.
Para tamu undangan tampak panik, beberapa yang lain memisahkan keduanya. Karin tidak mengerti, atas sebab apa kekacauan ini bisa terjadi, dan saat ia melihat pengantin wanita yang pingsan di gendongan calon abang tirinya, gadis itu tahu. Telah terjadi sesuatu yang tidak beres.
"Bang, Bule." Karin mengguncang pria di sebelahnya yang masih tampak khusuk memejamkan mata. "Bang, Bule, abang doa apaan sih, Mbak Nena sampe pingsan."
"Hah?"
***
Saat suasana mulai dapat dikendalikan, William ikut duduk bersila di belakang Justin, mereka meminta penjelasan dari Bimo tentang seorang wanita muda yang mengaku istrinya dari Jogja.
"Saya memang berniat akan menceritakan semuanya pada Nena,
saat kami sudah menikah."
"Brengsek!!" Ardi kembali ingin menyerang Bimo, dan digagalkan oleh saudaranya yang dengan sigap menenangkan pemuda itu.
Rombongan mempelai pria yang dipimpin oleh sang paman dari Jakarta tampak malu, "maafkan keponakan saya," ucapnya. "Sayapun telah dibohongi, Bimo berkata bahwa hal ini sudah mendapat persetujuan dari istri siri dikampung, dan Serena sebagai calon istrinya." Paman Bimo tampak menyesal. "Sekali lagi, saya beserta rombongan, mohon maaf yang sebesar-besarnya, terutama pada Serena dan keluarga."
Justin tampak diam saja, William tahu, sahabatnya itu pasti tengah memikirkan sesuatu.
"Tolong izinkan saya untuk menikahi Serena."
Semua pasang mata mengarah pada sumber suara. Justin dengan yakin, mengulang kembali kalimatnya.
NB. Jangan lupa ajak temen temennya buat baca OMB yaa... 🤣