OH MY BOSS

OH MY BOSS
RAINA DAN PELANGI ADALAH DUA ORANG YANG BERBEDA



Pelangi mengekor langkah Gilang memasuki gedung pencakar langit yang pada ujung bangunannya bertuliskan ANDREAS GROUP berwarna gold, terkesan mewah dan elegan. Sesekali ia hampir terjatuh kerena belum terbiasa menggunakan sepatu berhak tinggi yang sekarang terpasang di kedua kakinya. Namun, Pelangi selalu bisa menyeimbangkan tubuhnya agar tetap berdiri tegak dan tidak terjatuh. Karena dirinya 0asti akan malu sekali lagi jika sampai ke terjatuh di tempat umum.


Sesampainya di lobi tidak sedikit pekerja yang memperhatikan Pelangi. Ya, jika Gilang banyak memecat pegawai dengan kedudukan tinggi begitu ia kembali menguasai Andreas Group, tetapi tidak dengan pegawai bagian kebersihan yang memang tidak terlibat sama sekali oleh kejahatan yang dulu Surya lakukan. Sehingga tidak mengherankan jika sekarang, seorang sekuriti dan beberapa orang office boy yang sedang membersihkan lobi menatap Pelangi dengan mata melotot dna mulut terbuka lebar.


"Tidak usah tersenyum, tidak usah," gumam Gilang, yang melirik ke arah pelangi tepat saat wanita itu menarik sudut bibirnya ke atas.


Mendapat peringatan dari Gilang, Pelangi langsung memasang tampang cemberut yang malah membuat Gilang gemas.


"Jadi, selain harus berjalan secepat kilat di belakangmu, aku juga harus memasang wajah cemberut sepanjang hari di kantor." Pelangi bertanya begitu ia dan Gilang masuk ke dalam elevator.


"Siapa yang bilang kamu harus memasang wajah cemberut? Senyumu itu cantik, tebarkan saja jika ingin."


"Baru saja kamu melarangku untuk tersenyum. Padahal tersenyum ke sesama pekerja itu adalah hal yang wajib dilakukan, sehingga akan tercipta hubungan yang baik antar sesama karyawan. Jika hubungan sesama karyawan baik, maka akan tercipta lingkungan kerja yang baik juga."


"Ya, ya, Nyonya, tersenyumlah pada sesama wanita, tetapi jika pada lelaki, aku dengan tegas melarangmu melakukannya. Kalau mereka jadi terpana dan jatuh cinta padamu karena senyumanmu bagaimana?"


Pelangi mengangkat kedua bahunya, kemudian menjawab, "Tidak masalah. Toh ada bagusnya jika aku mendapatkan kekasih di sini."


Gilang berbalik dan menatap tajam ke Pelangi yang berdiri di belakangnya. "Katakan lagi, maka aku akan memecatmu saat ini juga."


Tubuh Pelangi menegang, mendapatkan ancaman pemecatan di hari pertama ia bekerja merupakan pertanda yang tidak baik. Jika hari pertama saja Gilang sudah ingin memecatnya, bagaimana dengan hari-hari selanjutnya.


Ting.


Elevator berhenti tepat di lantai 13, di mana ruangan Gilang berada. Gilang keluar dari elevator dengan langkah cepat, membuat Pelangi kesulitan mengekor langkah pria itu.


"Siapkan ruang rapat. Aku akan segera tiba di sana sepuluh menit lagi." Gilang berbicara pada seseorang melalui headset bluetooth yang terpasang di telinganya.


"Dia keren sekali," gumam Pelangi.


"Masuklah, ini ruanganku, dan dia adalah Claudia, sekretarisku." Gilang memperkenalkan seorang wanita cantik berpakaian super ketat dan berleher rendah pada Pelangi. Pelangi mengangguk kecil sembari mengulurkan tangan pada wanita itu dan memperkenalkan diri.


"Raina," ujar Pelangi singkat, kemudian segera masuk ke dalam ruangan Gilang, meninggalkan Gilang di belakanganya begitu saja dengan wajah cemberut.


Gilang menyusul langkah Pelangi dengan kebingungan. "Bukannya tadi kita membahas tentang senyuman antar sesama pekerja yang dapat menciptakan hubungan yang baik dan lingkungan kerja yang baik juga, tapi kenapa kamu bersikap jutek sekali pada Claudia barusan?"


"Entahlah, mungkin karena aku tidak terlalu suka padanya. Mana ada sekretaris yang mengumbar belahan dada begitu."


Gilang tertawa terbahak-bahak mendengar alasan Pelangi. "Jadi itu masalahnya. Qh, Raina,Raina, kamu memang lebih cocok menjadi kekasihku daripada asistenku. Sikap pencemburumu itu manis sekali. Sering-seringlah bertingkah demikian, maka aku akan menaikan gajihmu." Gilang berkomentar sembari berjalan menuju meja kerjanya dan mulai memberi Instruksi pada Pelangi tentang apa saja yang perlu mereka bawa ke ruang rapat.


Akan tetapi, bukannya memperhatikan ucapan Gilang, Pelangi malah sibuk menatap kaktus-kaktus mini yang berjejer di rak di sepanjang jendela.


Pelangi menghampiri rak kaktus-kaktus itu, meraih semprotan yang tersedia di sisi lain rak dan mulai menyemprot setiap pot kaktus dengan air.


Kilasan kembali muncul di dalam benak Gilang dan hal yang sama juga muncul di dalam kepala Pelangi.


Pelangi menyemprot kaktus-kaktus itu dengan cairan pembasmi serangga.


Gilang memarahi Pelangi.


Pelangi tersenyum mendapatkan kilasan singkat itu, dan ia pun baru tahu kalau dulu dirinya adalah seorang pekerja di kantor Gilang. Tidak mengherankan jika sekuriti dan office boy di bawah tadi menatapnya dengan mulut terbuka. Mungkin saja pria-pria tadi adalah rekan kerjanya dulu, sebelum ia dinikahi oleh Gilang, mendadak menjadi Cinderella dan kemudian dikabarkan meninggal dunia.


"Kamu suka kaktus?" tanya Gilang.


Pelangi menoleh ke samping, dan mendapati Gilang telah berdiri di sebelahnya. "Ya, aku suka kaktus, karena aku menyukai seseorang yang juga menyukai kaktus," jawab Pelangi.


Gilang menautkan alis mendengar jawaban wanita itu. "Kamu menyukai seseorang yang juga menyukai kaktus, siapa? Apakah seorang pria?"


"Apa segala urusanku harus kukatakan padamu juga. Tidak, 'kan?" gerutu Pelangi, lalu berbalik menuju meja kerja Gilang dan meraih berkas-berkas yang telah Gilang susun di atas meja.


Gilang mengembuskan napas dengan kesal, moodnya seketika hancur saat ia mengetahui bahwa Pelangi menyukai pria lain yang juga menyukai kaktus.


"Pria sialan," gumam Gilang.


***


Gisel duduk dengan gelisah di sebuah coffe shop, menunggu kedatangan seorang detektif yang ia sewa beberapa waktu lalu untuk menyelidiki latar belakang wanita bernama Raina yang sebenarnya adalah Pelangi.


Tidak lama kemudian, seorang pria berpakaian santai dengan topi bermodel kupluk menutupi kepalanya dan kacamata hitam menghampiri Gisel.


"Nona Gisela?" tanya pria itu, begitu telah tiba di hadapan Gisela.


Gisel mengangguk. "Ya, aku Gisela."


Pria di hadapan Gisel tersenyum, lalu menarik kursi dan duduk dengan nyaman di atasnya. "Aku Aldo, detektif yang Anda tugaskan untuk menyelidiki latar belakang saudari Raina."


Gisel kembali mengangguk. "Jadi, informasi apa saja yang telah kamu dapatkan?"


Aldo menyerahkan amplop cokelat ditangannya kepada Gisel, sembari mengoceh. "Namanya Fatimah Raina, lahir dan besar di sebuah desa terpencil sebelum akhirnya dia diboyong oleh orang tuanya yang merupakan seorang janda ke Desa Tanpa Nama. Raina menghabiskan banyak waktu di desa, mulaj darj sekolah hingga bergaul. Pendidikan terakhirnya hanyalah sekolah dasar, dan bekerja di Hotel Mentari adalah satu-satunya pekerjaan yang pernah dia lakukan selain berkebun di tanah milik ibunya sendiri."


Gisel mendengarkan dengan saksama setiap ucapan yang keluar dari bibir Aldo, ia pun membaca lembar demi lembar rangkuman hasil penyelidikan kilat Aldo yang sekarang tangah berada di tangannya.


"Jadi, dia memang Rain, bukan Pelangi?" tanya Gisel.


"Ya, mereka bukan orang yang sama. Walaupun sebenarnya aku agak heran juga. Apa mungkin dua orang yeng berbeda bisa memiliki kemiripan yang begitu telak."


"Mungkin mereka memiliki hubungan darah. Saudara kembar barangkali."


Aldo terkekeh. "Tidak sama sekali, Nona. Baik Pelangi ataupun Raina tidak memiliki keterikatan darah satu sama lain."


"Tapi, apa kamu yakin dengan semua data-data yang kamu dapatkan ini?" tanya Gisela.


"Yakin seratus persen. Semua data yang kudapatkan adalah data yang paling akurat."


Gisele menghela napas dengan lega. Walaupun ia masih tidak percaya bahwa ada orang lain yang tanpa ikatan darah terlihat begitu mirip di dunia ini, tetapi terlepas dari itu ia tidak perlu merasa khawatir dan ketakutan jika wanita yang sekarang tengah menjadi asisten Gilang itu akan merebut Gilang darinya.


Bersambung ....