OH MY BOSS

OH MY BOSS
BOSKU, SUAMIKU!



Gilang beranjak dari tempat duduknya, lalu menghampiri Toni yang masih tercengang menatap laptopnya.


"Ada apa?" tanya Gilang.


Toni tidak menjawab, pria itu hanya menoleh dan melempar tatapan cemas ke Gilang yang membuat Gilang semakin penasaran.


Ketika tiba di samping Toni, Gilang segera membungkuk dan menatap layar laptopnya. Seketika ia terkejut akan sebuah pesan yang terpampang di layar laptop itu.


HALO, GILANG ANDREAS. MASIH INGAT TEMPAT INI?


Begitulah bunyi pesan yang sekarang sedang Gilang pandangi bersama dengan Toni, dan terdapat sebuah potret buram yang memperlihatkan tubuh Gilang tergeletak penuh darah dan tak berdaya di atas tanah.


Gilang memegangi dadanya begitu melihat potret tersebut. Dadanya terasa sesak, tubuhnya berkeringat, dan wajahnya menjadi sepucat mayat, seolah ada beban berat yang menindihnya dan membuatnya kesulitan bernapas.


Melihat kondisi Gilang, Toni segera bangkit berdiri dan menahan tubuh Gilang agar tidak terjatuh. Ia lalu mendudukan Gilang di kursi yang tadi ia duduki dan berlari menuju lemari pendingin yang ada di sudut ruangan.


"Minumlah," ujar Toni, menyerahkan sebotol air mineral kepada Gilang.


Gilang menolak, ia menyingkirkan air prmberian Toni dari hadapannya, dan sibuk memeriksa email lainnya yang baru saja masuk secara beruntun. Kebanyakan hanya berupa potret kejadian satu tahun lalu saat Gilang hampir kehilangan nyawa di tepi jurang.


"Siapa yang berani mengirimkan ini?" tanya Gilang, dengan suara bergetar.


Toni menggeleng. "Aku tidak tahu. Kita bisa nemeriksa alamat emailnya nanti untuk mencaritahu siapa dalang di balik semua pesan ini. Tapi aku menebak kemungkinan besar yang mengirim pesan ini adalah Surya."


"Surya?"


"Ya, hanya dia yang tersisa di antara semua penjahat kurang ajar itu. Alex tewas satu tahun lalu, Gisel tergangkap, Atika juga, Exel meniggal dunia baru-baru ini. Tidak ada orang lain yang bisa kita curigai selain Surya yang hingga saat ini keberadaannya memang masih belum diketahui. Aku akan memberitahu Andrew nanti."


Gilang menggeleng. "Jangan, Ton, jangan katakan hal ini pada siapa pun, apalagi pada Andrew. Dia akan segera menikah. Aku tidak ingin jika masalah ini akan menganggu rencana pernikahannya. Kita rahasiakan hal ini sampai acara pernikahan Andrew selesai digelar."


Toni diam sejenak, kemudian mengangguk. "Baiklah kalau itu maumu. Sementara aku akan mencaritahu seorang diri."


"Tetap waspada, Ton, keselamatanmu lebih penting bagiku dibanding segalanya."


Toni tertawa mendengar perkataan Gilang. "Tumben sekali kamu terlihat peduli padaku. Aku pikir kamu tidak peduli bahkan saat nyawaku terancam."


"Aku sudah pernah merasakan bagaimana rasanya saat nyawaku seolah akan terlepas dari tubuhku, dan aku sudah pernah merasakan bagaimana hancurnya jiwaku saat aku melihat tubuh Pelangi meluncur ke jurang tepat di hadapanku. Aku tidak ingin merasakan kehancuran seperti itu lagi." Gilang terlihat serius akan ucapannya.


Toni menepuk pundak Gilang. "Tenang saja. Aku akan baik-baik saja dan akan terus menjadi asistenmu sampai kamu tua seperti Pak Farhan."


Gilang mengangguk, lalu meraih sebotol air mineral yang tadi Toni berikan dan meminumnya hingga tandas. Hatinya merasa cemas dan gelisah. Ia tahu sejahat apa Surya dan sejauh apa Surya mampu melakukan sebuah kejahatan. Jika sekarang Surya mulai berulah, ia yakin sesuatu yang buruk akan kembali terjadi.


"Aku memang harus menghabisinya dengan tanganku sendiri jika memang diperlukan. Jika tidak, tidak akan ada ketenangan di kehidupanku. Sial!" Gilang menggebrak meja yang ada di hadapannya dengan berang. Ia frustrasi sekali. Baru saja ia dan Pelangi merasakan ketenangan, gangguan kembali muncul tanpa diundang.


***


Alex tersenyum puas ketika ia selesai melakukan tugasnya, yaitu mengirimi Gilang potret-potret kejadian satu tahun lalu yang ia temukan di dalam mobil Gilang.


Setelah menutup laptopnya, pria itu beranjak bangkit dari kursi dan berjalan dengan terpincang-pincang menuju lemari pendingin, mengambil sebungkus mi instan dan mulai menyeduhnya dengan air panas yang terdapat di dispenser.


"Tidak kamu rebus?" tanya Surya, yang baru saja keluar dari dalam kamar sembari menguap.


"Tidak usah. Saat aku hidup di jalan, mi seperti ini bahkan hanya kurendam air dingin." Alex terkekeh, memperlihatkan giginya yang kuning. "Tidak ada orang yang berbaik hati memberikanku air panas saat aku memintanya."


"Ya, siapa yang mau memberikanmu air panas jika tampangmu menakutkan seperti itu. Setidaknya sikat gigimu. Dasar gembel." Surya berkomentar, kemudian duduk di hadapan meja makan dan mulai mengoles selai pada roti yang memang selalu tersedia di atas meja makan.


Alex menyusul sembari membawa mangkuk mi-nya dan ikut duduk di hadapan Surya. "Aku baru saja mengirim email pada Gilang."


"Kenapa tidak? Aku hanya bercanda. Barangkali candaanku bisa menghasilkan uang. Aku butuh dana untuk hidup." Alex terlihat santai dan melahap mi-nya dengan rakus, tidak memedulikan tatapan kesal Surya yang sekarang tertuju padanya. "Memangnya kenapa, sih? Toh Gilang tidak tahu siapa yang mengiriminya email."


"Ya, memang dia tidak tahu, tapi dia pasti mengira kalau akulah yang mengiriminya email, karena hanya aku yang tersisa di antara kalian semua. Setahu Gilang, kamu itu sudah mati. Jadi hanya akulah yang paling mungkin mereka curigai."


"Ah, benar juga."


"Nah, itulah sebabnya, setiap tindakan yang kamu akan lakukan, pikirkanlah baik-baik. Aku tidak mau keselamatanku terancam hanya karena ulahmu." Surya berkata dengan tegas, kemudian melanjutkan makannya yang sempat terhenti.


"Akan kuingat pesanmu," ujar Alex, dan kembali menyantap mi-nya yang sudah mengembang.


Surya menatap Alex dan memperhatikan pria itu dengan saksama. Ada pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Alex sejak semalam,tetapi belum juga ia tanyakan karena Alex terlihat kelelahan kemarin.


"Lex, katakan padaku bagaimana caranya kamu bisa selamat? Aku memang tidak melihat mayatmu secara langsung, tetapi aku ingat salah satu tenaga medis mengatakan bahwa kamu meninggal di lokasi kejadian dengan beberapa luka tembak."


Alex tertawa melihat ekspresi kebingungan di wajah Surya. "Aku tidak mati, aku hanya sekarat. Asal kamu tahu saja, tenaga medis yang menemukanku adalah temanku sendiri. Kebetulan saja dia yang menanganiku, jadi aku bisa menintanya untuk mengatakan bahwa aku meninggal dunia. Awalnya dia memang menolak, tetapi bukan Alex namanya jika tidak mendapatkan apa yang kuinginkan. Lagi pula, saat itu kasus yang menimpa Gilang tidak diusut tuntas, karena Farhan menolak dan meminta agar kasus itu dirahasiakan. Maka tidak sulit bagiku untuk bersembunyi dan berpura-pura mati, toh polisi tidak menyentuh kasus itu sama sekali."


Surya terlihat takjub begitu mendengar apa yang Alex ucapkan. "Beruntung sekali dirimu."


"Ya, bisa dikatakan demikian. Tapi aku tidak seberuntung yang terlihat, karena aku harus menjalani hidup yang mengerikan setelahnya. Semua karena Gisel. Sayang sekali polisi telah menangkapnya, andai saja tidak, aku ingin membalas dendam pada wanita ****** itu."


Surya mengangguk. "Ya, aku juga tidak menyangka jika Gisel mengkhianati kita. Semua rencanaku menjadi kacau karena ulah wanita sialan itu, dan lihatlah kehidupanku sekarang, aku harus hidup di rumah kontrakan sekecil ini dan bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari."


Alex memutar bola matanya. "Ini lebih baik daripada kehidupanku. Aku hidup di jalan selama ini." Ia kemudian tertawa, tawa yang terdengar mengerikan, bukan tawa bahagia seperti yang biasa keluar dari mulutnya.


Surya merasa kasihan pada Alex, pria itu pasti telah banyak melewati hari-hari yang keras dan menyedihkan sebelum akhirnya mereka bertemu. "Jadi apa rencanamu sekarang?" tanya Surya.


"Tidak banyak dan tidak muluk-muluk. Aku hanya ingin memeras Gilang, itu saja. Aku ingin hidup dengan nyaman seperti sebelumnya dan mencari cara untuk membalas dendam dengan Gisel."


"Ya, lakukanlah perlahan. Jika satu pintu tertutup, pintu lain pasti akan terbuka."


***


Pelangi menatap Toni yang berdiri di hadapannya sembari memohon. Baru beberapa waktu yang lalu pria itu datang dan mengetuk pintu kamarnya dengan keras. Kemudian tanpa berbasa-basi, Toni meminta agar Pelangi berganti pakaian dan bersedia menjadi asisten Gilang untuk sementara.


"Ayolah, Pelangi, tidak ada waktu lagi. Jadwal Gilang sangat padat hari ini dan dia tidak memiliki asisten yang akan membantunya. Tidak mungkin sekretarisnya merangkap dua pekerjaan sekaligus, sedangkan Tito sudah pasti tidak akan bisa, pak tua itu sedang sibuk juga sekarang ini," ujar Toni.


"Bukannya aku tidak mau, tapi mana bisa aku datang ke sana sebagai asistennya, Gilang pasti akan marah dan orang-orang akan berpikiran yang tidak-tidak."


Toni berdecak. "Setelah makan siang hanya ada pertemuan di luar kantor. Gilang hanya akan pergi dengan dua orang staf, jadi tidak akan banyak orang yang melihatmu."


"Kalau Gilang marah bagaimana?"


"Aku yang akan menanggung kemarahannya. Aku janji." Toni mengacungkan kelingkingnya ke Pelangi dengan penuh harap.


"Baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar, aku akan berganti pakaian."


Toni mengelus dadanya karena lega. "Oke aku tunggu di bawah."


Toni kemudian berlari menuju tangga, sementara Pelangi melihat kepergian Toni sambil menggelengkan kepala.


"Baiklah, judulnya berubah. Bosku, suamiku," gumam Pelangi sembari menghela napas, lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, bersiap untuk berganti pakaian dan menjalani hari sebagai asisten Gilang, suaminya sendiri.


Bersambung.