OH MY BOSS

OH MY BOSS
PERSAINGAN



Justin melangkahkan kakinya dengan mantap menuju Restoran terbaik di kantornya, dengan Inggrit yang terseok-seok mengikuti langkah lebar si bos di belakangnya, namun sepertinya wanita cantik yang sudah kepala tiga itu nampaknya telah terbiasa.


Pria yang mengenakan setelan jas single breasted yang terlihat begitu menawan, mengedarkan pandangannya dan terpaku ketika menangkap sosok Serena di deretan bangku paling belakang dekat tirai pemisah antara resto bagian timur dan barat. Entah mengapa gadis itu begitu mencolok dibandingkan dengan yang lain, mungkin karena Justin yang cukup mengenalnya atau malah hatinya sudah tersangkut di sana.


Di sisi lain, Nena yang tengah menyimak obrolan Bimo tampak tegang dengan bibir yang terkatup rapat.


"Aku tahu, usia kita ini udah nggak cocok jika aku minta kamu buat jadi pacar, tapi apapun istilahnya selain itu, yang jelas aku sayang sama kamu, Serena," ungkap Bimo dengan meraih jemari Nena, gadis itu tampak mengerjapkan matanya beberapa kali, sebenarnya Nena sudah tahu gelagat cowok di sampingnya itu, namun mendengar secara langsung seperti ini, membuat otaknya lamban berpikir.


Dan tanpa mereka sadari, Justin sudah berada di balik tirai pemisah, tepat di belakang mereka, bahkan jika pria itu menajamkan pendengarannya, obrolan dua sejoli itu akan mampu ditangkap dengan sempurna.


Dengan perlahan, Nena menarik jemarinya dari genggaman tangan Bimo. "Kita kan temenan, Bim," ucapnya, bingung harus memberi tanggapan apa, sebenarnya dia ingin langsung menolak, tapi perasaannya tidak enak, terlebih baru saja dia mendapatkan traktiran, sebuah sogokan yang membuatnya tidak bisa bersikap objektif.


Kalo perlu gue bayar nggak papa dah. Gue ganti.


"Aku tahu, Na. Selama ini aku di matamu bagaikan nun sukun bertemu dengan idgham bilaghunah, terlihat. Tapi tidak dianggap."


Nena menoleh. Yang Nena tahu, Bimo ini memang terkenal alim, sering mengajak rekannya salat, jebolan pesantren di kotanya, tapi mendapatkan rangkaian kalimat berupa ilmu tazwid seperti itu, dia benar-benar tidak menduga. Bukannya Nena tidak pernah mengaji, dia paham kok bacaan ayat suci.


Pengen ketawa tapi gimana ya, takut dosa. Pikir Nena.


"Jahat banget berati gue ya?" Nena mencoba bersikap biasa saja.


Bimo terkekeh pelan. "Iya, jahat banget tahu, Na. Aku tahu kamu pasti tahu perasaanku, dan aku juga tahu kamu nggak ada rasa kan sama aku?"


Nena menggaruk tengkuknya, tidak gatal hanya sedikit merasa salah tingkah.


"Iyain nggak yah? tega banget kayaknya gue," gumam Nena dalam hati.


"Terus gue mesti gimana ya? emang kenyataannya gue nggak ada rasa sih sama lo. Sory banget, Bim," jawab Nena dengan menyesal.


Di sisi lain, Justin duduk dengan tidak nyaman di kursinya, kopi pesanannya yang baru datang langsung dia seruput dengan begitu bernafsu.


"Astagfirulloh!" Pekik Justin. Memuntahkan kembali cairan kopi yang baru sempat menempel di ujung lidahnya, dan menutupi mulutnya dengan tangan.


"Panas, Pak?" Inggrit yang memperhatikan tingkah bosnya itu setengah mati menahan tawa.


"Bagaimana, Pak Presedir. Di lanjutkan lagi pembacaan kontraknya?" Tanya suara dari seberang sana, yang berasal dari salah satu kliennya. Justin mengangguk, tapi pikirannya tidak terfokus pada pembacaan kontrak yang dimaksud. Kembali suara di belakangnya menguasai indra pendengaran pria tampan itu.


_


"Apa sih, Na. Yang bisa bikin kamu ada rasa sama aku?" Tanya Bimo dengan nada pasrah.


"Jadi aku nggak bisa bikin jantung kamu berdebar-debar?" Tanya Bimo memastikan, kemudian dia mencondongkan wajahnya mendekat pada Nena yang reflek memundurkan kepalanya. "Kalo kaya gini? Masih nggak bisa juga?"


Nena menggeleng dengan wajah tanpa ekspresi, Bimo memundurkan kepalanya, menghembuskan napasnya berat.


"Kasih kesempatan aku buat bisa bikin jantung kamu berdebar-debar, Na," pintanya penuh harap.


"Tapi gue nggak bisa janji, gue nggak mau ngasih lo harapan palsu."


"Nggak apa-apa, yang penting kita jalanin dulu, kasih aku waktu sebulan buat bisa deket sama kamu," pinta Bimo. Tanpa dia sadari seseorang di belakangnya tengah menyusun rencana pemecatan atas kelancangan pria yang entah sejak kapan ia nobatkan sebagai saingannya itu.


___


"Bagaimana, Pak. Apa Bapak setuju, dengan isi surat kontrak itu?" tanya Inggrit pada atasannya.


"Jangan mau!" Tukas Justin, namun sebenarnya kalimatnya itu bukan ia tujukan pada sekretarisnya yang kini mengerjapkan matanya bingung, sedikit merasa tidak enak pada kliennya yang raut wajahnya mulai berubah masam.


"Eh, maaf, sampai mana tadi?" Tanyanya.


"Bapak, mau saya pesenin Aquo?" tawar Inggrit menyebutkan salah satu merek air mineral yang konon disebut-sebut bisa mengembalikan fokus si peminum.


"Tidak usah." Justin berusaha bersikap propesional, meraih surat perjanjian kontrak, membacanya dalam diam kemudian menandatangininya.


Ucapan terimakasih terlontar dari kliennya di seberang sana, sedikit berbasa-basi yang tentunya tidak lagi tertangkap dengan jelas oleh Justin, pria itu kembali menangkap suara Serena di belakangnya.


_


"Yaudah, gue coba. Tapi dua minggu aja ya," ucapan Nena yang terdengar oleh telinga Justin bak petir di siang bolong. Tidak mendung juga hujan, tapi cukup membuat suasana hati pria itu berubah kelam.


Justin merasa dunianya terbalik, belum pernah dia merasa sekacau ini sebelumnya. Hanya seorang perempuan, dan dahsyatnya mampu membuat seorang Justin kalang kabut.


"Saya permisi," pamitnya kemudian melangkah pergi, Inggrit kembali terseok-seok mengejar atasannya itu.


"Ada pertemuan lagi setelah ini, Pak! Dan satu jam setelahnya-"


"Batalkan semuanya, saya ada urusan," potong Justin tanpa menoleh, setelah sempat berkata tidak usah mengikutinya. Justin meninggalkan Inggrit yang menggeleng keheranan.


***