OH MY BOSS

OH MY BOSS
SEPATU KACA CINDERELLA



Gilang terus menjauhkan tubuh Andrew yang terus-terusan berusaha untuk mendekati Pelangi. Sebenarnya ia tidak setuju saat Andrew tiba-tiba muncul dan mengajukan diri untuk ikut serta dalam agenda yang spontan ia buat, yaitu menonton bersama di bioskop.


Bukan tanpa alasan Gilang tidak menyetujui keikutsertaan Andrew. Menurut ingatan yang muncul di dalam kepalanya, Andrew merupakan salah satu rivalnya dalam merebut perhatian dan cinta Pelangi, walaupun statusnya lebih kuat karena dirinya merupakan suami sah Pelangi, tetapi Andrew dan Pelangi memang memiliki hubungan yang dekat juga.


"Jika bukan karena Amara yang terus-terusan membujukku agar Andrew diizinkan untuk ikut, Andrew yang genit itu tidak akan ada di sini sekarang," gumam Gilang pada Toni saat mereka telah memasuki gedung theater. "Sejak tadi dia berusaha untuk menempel terus pada Raina."


Toni menghela napas. "Maafkan kelancangan Amara, dan mari kita nikmati saja filmnya."


Gilang mengembuskan napas dengan sebal. "Aku bingung, siapa yang sebenarnya disukai wanita itu. Kamu atau Andrew? Bisa-bisanya dia girang saat melihat Andrew tadi. Dan dia juga membela Andrew mati-matian saat aku menolak keinginan Andrew untuk ikut."


Toni paham akan kebingungan yang tengah Gilang rasakan. Saat Andrew muncul di ambang pintu ruang tengah tadi, Amara memang terlihat sangat gembira. Wanita itu bahkan bertepuk tangan dan berlari menghampiri Andrew, lalu membawakan barang-barang Andrew menuju kamar Andrew yang berada di lantai dua. Siapa yang melihat tingkah Amara tadi pastilah akan salah paham dan mengira jika Amara menyukai Andrew. Namun, Toni tahu bahwa semua yang Amara lakukan tidak lain dan tidak bukan karena wanita itu merasa bersyukur dan berterima kasih atas usaha yang akan Andrew lakukan untuk menggagalkan pernikahan Gilang dan Gisel. Tidak lebih dari itu.


"Dia tentu saja menyukaiku, hanya saja dia juga menyukai Andrew dengan cara yang berbeda dan alasan yang berbeda pula." Toni menjawab pertanyaan Gilang.


Gilang menggelengkan kepala mendengar penjelasan Toni. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa Toni terlihat setenang itu, padahal Amara terlihat begitu menggebu-gebu saat melihat Andrew. "Berhati-hatilah. Si Andrew itu terlihat gatal sekali menurutku."


Toni menepuk pundak Gilang, "Tenang saja."


"Nah, ayo, cepat, cepat. Sekarang film apa yang mau kamu tonton, Pel ... hem maksudku, Raina." Suara Amara yang melengking membuat Gilang mengalihkan perhatiannya. Ia yang sejak tadi sibuk berbincang dengan Toni, kini sibuk menatap Pelangi yang telah duduk di kursi bersama dengan Amara.


"Dia cantik sekali." Gilang bergumam tanpa sadar.


"Siapa? Raina?" tanya Toni.


"Tentu, memangnya siapa lagi. Tidak mungkin aku mengatakan jika wanitamu yang banyak bicara itu cantik." Gilang berujar dengan kesal, lalu meninggalkan Toni, dan menghampiri Pelangi. "Aku duduk di sebelah Raina. Pokoknya aku di sebelah Raina. Dia asistenku. Siapa nanti yang mengambilkan popcorn untukku kalau kami duduk berjauhan." Gilang berteriak, memberi peringatan pada Andrew yang terlihat ingin duduk di sebelah Pelangi.


Toni yang melihat tingkah Gilang hanya bisa geleng-geleng kepala. "Dasar, dia kekanakan sekali!"


***


Farhan Andreas ditemani Tito menyusuri jalan setapak berbatu yang samping kanan dan kirinya ditumbuhi ilalang. Ia tidak langsung kembali ke kota bersama dengan rombongan, karena ia merasa harus menyelidiki sesuatu yang sangat penting daripada urusan kantor yang membosankan.


Setelah melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, karena daerah yang ia kunjungi sekarang tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda empat, mereka pun tiba di sebuah kediaman sederhana yang terlihat sejuk dan nyaman dipandang, yaitu kediaman Bu Siti, ibu dari Raina.


"Permisi," Tito berteriak di depan pintu, memanggil si empunya rumah.


"Ya, tunggu sebentar." Terdengar teriakan seorang wanita dari dalam, disusul dengan munculnya seorang wanita tua dari dalam rumah. "Ya, ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Bu Siti.


Farhan Andreas mengulurkan tangan untuk menyalami Bu Siti. "Perkenalkan, saya Farhan Andreas, kedatangan saya kemari ingin bertanya mengenai putri Anda yang bernama Raina."


Bu Siti terlihat terkejut untuk sesaat, lalu kemudian ia meminta Farhan dan Tito masuk ke dalam rumah saat keterkejutannya telah sirna.


Farhan mengangguk, begitu juga dengan Tito, kemudian keduanya memasuki kediaman Bu Siti dengan harapan dapat mengetahui siapa Raina sebenar.


***


Pelangi mengomel di dalam hati, karena dirinya tidak bisa bangun lebih pagi. Andai saja semalam ia tidak menuruti kemauan Gilang yang mengajaknya berkeliling kota hingga larut malam, ia pasti tidak akan kelelahan dan tidur kemalaman


Ya, kemarin malam setelah menghabiskan waktu di bioskop bersama dengan Toni, Amara, dan Andrew, Gilang menarik lengannya menuju mobil lebih dulu, meninggalkan rombongan yang menurut Gilang sangat menganggu dan berisik.


Setelah mereka berdua tiba di dalam mobil, Gilang menawarkannya untuk melihat-lihat kota. Awalnya Pelangi menolak, tetapi karena Gilang terus memaksa akhirnya Pelangi tak lagi berusaha untuk menolak. Apalagi Gilang bersikap begitu memaksa.


"Raina, kamu sudah bangun atau belum?" suara gedoran di pintu dan teriakan Gilang semakin membuat Pelangi kalang kabut.


"Sudah, aku sedang bersiap-siap sekarang." Pelangi balas berteriak dari dalam kamar, kemudian ia berlari menuju pintu dengan menjinjing high heels di sebelah tangannya, sementara sebelah tangannya lagi terlihat memegang tas tangan yang Gilang berikan kemarin sore.


Gilang menaikan sebelah alisnya begitu melihat Pelangi yang muncul dari dalam kamar. "Siapa bosnya di sini? Seharusnya kamu yang menungguku, bukannya sebaliknya." Gilang berkomentar.


Pelangi terkekeh. "Maafkan aku. Lain kali tidak akan kuulang," ujar Pelangi dengan gugup. Penampilan Gilang yang sekarang tengah berdiri di hadapannya sangatlah luar biasa hingga membuat Pelangi sesak napas. Tidak pernah terbayang olehnya jika di dunia ini ada pria yang serupawan Gilang.


"Baiklah, ayo kita berangkat. Hari ini ada banyak rapat yang harus kuhadiri, jadi pekerjaanmu pasti akan banyak juga. Biasanya Toni yang membantuku, tetapi hari ini aku ingin kamu melakukannya untukku, sekalian latihan," ujar Gilang, sembari berjalan menjauhi kamar menuju tangga yang akan membawanya ke lantai satu.


Pelangi mengekor langkah Gilang dengan cepat hingga mereka tiba di lantai satu. Sesampainya di lantai satu seorang pelayan menghampiri Gilang dan menyerahkan tas kerja Gilang serta beberapa berkas yang langsung Gilang terima dan serahkan ke Pelangi. "Kamu harus terbiasa dengan aktivitas seperti ini setiap pagi. Awalnya pasti akan melelahkan dan membuat bingung, tapi jika sudah terbiasa, aku yakin kamu akan mencintai pekerjaan ini."


Pelangi mengangguk. Sekarang kedua tangannya penuh dengan barang, mulai dari berkas milik Gilang, sepatu yang belum dipakainya dan juga tas tangan sehingga membuatnya kualahan.


Buk!


Berkas milik Gilang yang tersusun rapi di dalam map-map warna-warni dan amplop cokelat meluncur bebas dari tangan Pelangi dan mendarat di lantai keramik.


Pelangi meringis, menyesali keteledoran yang ia lakukan. "Maaf," ujarnya, begitu Gilang berbalik untuk melihat keributan yang telah Pelangi buat.


Gilang berlutut, membantu Pelangi merapikan berkas yang berhamburan di lantai.


"Biar aku saja," ujar Pelangi. "Ini kan pekerjaanku." Suara Pelangi begitu lirih, karena wanita itu sedang berusaha agar tidak menangis sekarang.


Gilang menyadari ada yang aneh pada suara Pelangi lantas menyentuh kedua pipi wanita itu dan menatap mata bulatnya lekat-lekat. "Kenapa cengeng sekali? Jangan menangis hanya karena kekacauan ini," ujar Gilang, lalu meraih sepatu Pelangi dan memasangkan sepasang sepatu berhak tinggi itu pada kaki Pelangi setelah ia membereskan semua berkas yang berantakan.


"Tidak usah--"


"Sudahlah, jangan membantah. Seharusnya kamu bersyukur karena ada seorang pangeran baik hati yang memasangkan sepatu kaca untukmu. Anggap saja hari ini sebagai hari keberuntunganmu." Gilang menyingkirkan tangan Pelangi yang berusaha merebut sepatu dari tangannya sembari mengedipkan mata ke Pelangi, membuat hati Pelangi seperti jungkir balik.


"Ya, aku memang seperti tokoh dalam dongeng sekarang ini. Cinderella," gumam Pelangi.


Bersambung ....