OH MY BOSS

OH MY BOSS
JADIKAN AKU ASISTENMU, BOS!



Gilang merapikan jasnya dan segera melangkah dengan cepat keluar dari dalam gedung perkantoran begitu melihat sebuah sedan hitam mewah yang berhenti tepat di depan pintu masuk gedung Andreas Group.


Seorang petugas berpakaian serba hitam yang berjaga di pintu masuk gedung segera menghampiri Gilang, mengekor langkah Gilang dan dengan sigap membuka pintu mobil untuk Gilang.


"Terima kasih," ujar Gilang, pada petugas itu, lalu segera masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi bagian belakang mobil.


"Ayo, cepat Toni, kenapa lama sekali datangnya? Kita bisa terlambat," ucap Gilang, tanpa memandang Toni dan juga seseorang yang duduk di sebelah Toni yang tak lain adalah Pelangi.


"Oke, kita meluncur sekarang." Toni berucap, lalu segera menginjak pedal gas. Mobil bergerak perlahan meninggalkan halaman Andreas Group.


Pelangi menoleh sedikit untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Gilang. Setelah memandang Gilang yang tengah sibuk dengan ponselnya, ia kembali memandang Toni yang wajahnya terlihat tidak kalah khawatir dari wajah Pelangi sendiri.


"Kalau dia marah, kita berdua bisa mampus," Pelangi berdesis pada Toni.


Toni tidak menanggapi ucapan Pelangi. Ia sudah cukup gugup saat ini. Memikirkan ucapan Pelangi hanya akan membuatnya semakin gugup dan bisa-bisa ia terkena serangan jantung.


Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit, akhirnya mereka tiba di sebuah coffe shop sederhana yang letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota.


"Coffe Shop? Tumben ada klien yang meminta untuk bertemu di tempat sesederhana ini." Pelangi berkomentar dengan suara sepelan mungkin, hingga hanya Toni yang bisa mendengar ucapannya.


Wajar saja jika ia merasa bingung, karena selama ini klien yang Gilang temui selalu memilih tempat yang berkelas dan super duper mewah untuk melakukan transaksi bisnis dengan Gilang Andreas.


"Mungkin klien yang akan kita temui kali ini adalah orang yang sederhana juga, atau tidak punya uang," ujar Toni dengan suara yang juga ia usahakan sepelan mungkin.


Gilang mendelik, menatap kursi di depannya yang kedua penghuninya sedang asyik berbisik. "Ada apa?" tanya Gilang.


Toni menggeleng. "Tidak ada apa."


"Ya, sudah, ayo cepat." Gilang kemudian membuka pintu mobil, diikuti oleh Toni dan Pelangi yang juga segera membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil dengan tergesa-gesa, Pelangi bahkan sampai tersandung dan hampir saja terjatuh. Untunglah Gilang yang kebetulan ada di dekat Pelangi segera meraih lengan wanita itu dan menahannya agar tidak terjatuh.


Pelangi menundukkan kepala serendah mungkin dan membiarkan rambutnya menutupi wajah agar Gilang tidak melihat wajahnya, setidaknya sampai mereka tiba di dalam coffe shop. Namun, Gilang sangat hafal dengan aroma parfum yang selalu Pelangi kenakan, dan sekarang aroma parfum itu memenuhi rongga hidungnya. Saat di dalam mobil tadi Gilang memang tidak terlalu memperhatikan karena terlalu sibuk dengan ponselnya, tapi sekarang ia dapat membaui aroma parfum bayi kesukaan Pelangi dari tubuh asisiten barunya.


"Angkat kepalamu," perintah Gilang, pada Pelangi yang masih sibuk menutupi wajahnya dengan rambut.


Pelangi diam saja.


"Aku bilang angkat kepalamu. Aku tidak ingin memiliki asisten yang bergaya seperti kuntilanak yang sedang sakit leher. Setidaknya angkat kepalamu dan rapikan rambutmu, kita akan bertemu dengan klien, bukannya dengan tukang salon potong rambut."


Toni menjadi gugup melihat kecurigaan yang Gilang tunjukan. Ia pun segera menghampiri Gilang dan Pelangi. "Em, begini, Gil, kamu masuklah duluan. Aku akan menyusul dengan Pel ... em, maksudku Sarah nanti. Ya, kan, Sarah?"


Pelangi mengangguk. Ia tidak keberatan jika untuk sementara namanya berubah menjadi Sarah.


"Dia memang agak pemalu dan--"


Pelangi mendongak dan memasang senyum manis seolah tidak melakukan kesalahan apa pun. "Hai, Sayang." Pelangi melambaikan tangan, memberi salam pada Gilang yang terlihat gusar.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Gilang melotot, menuntut penjelasan dari sang istri yang sekarang terlihat tidak nyaman.


"Aku hanya ingin dekat denganmu. Itu saja," jawab Pelangi, menunjukan wajah polosnya yang tentu saja dapat meredamkan amarah yang sempat membara di dada Gilang.


"Pelangi, Pelangi, Pelangi, bukan seperti ini caranya. Aku sedang bekerja sekarang, dan lihatlah pakaianmu, dengan pakaian ini aku tahu kalau ada hal lain dibalik alasan yang tadi kamu sebutkan. Untuk apa kamu memakai setelah kantor seperti ini jika hanya ingin dekat denganku. Lihatlah, rokmu bahkan terlalu ketat, Pelangi."


Pelangi nyengir, lalu menarik dasi Gilang agar pria itu mendekat ke arahnya. "Aku akan melamar kerja hari ini."


"Hah!" Gilang terlihat bingung.


"Ya, jadikan aku asistenmu, Bos. Pliiis."


Gilang tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya ke Toni yang seketika ikut tersenyum saat Gilang menatapnya.


"Ini pasti ulahmu!" Gilang menghampiri Toni.


Toni yang sudah hafal dengan tindakan Gilang yang kemungkinan akan melayangkan tinju di wajahnya, dengan cepat menghindar. Ia berlari dan berlindung di belakang Pelangi.


"Tolong aku. Gilang itu jahat sekali. jika sedang marah," cicit Toni dengan suara manja, seperti seorang anak yang berlindung di belakang ibunya.


Pelangi merentangkan tangan di hadapan Gilang, agar pria itu tidak dapat menjangkau Toni dan melampiaskan amarahnya pada Toni.


"Minggir, Sayang, biar aku beri pelajaran dia. Kurang ajar sekali dia. Aku memintanya mencarikanku asisten, bukannya memintamu untuk kembali menjadi asistenku. Sini kamu, Toni."


Pelangi berdecak kesal. "Sudahlah, jangan apa-apakan dia. Amara bisa marah padaku nanti," ujar Pelangi


"Pak Gilang, Pak Toni. Hai!"


Sebuah teriakan mengejutkan Gilang, Toni, dan Pelangi yang masih meributkan hal sepele di area parkir. Ternyata yang berteriak adalah seorang pria bertubuh pendek yang merupakan asisten dari klien yang akan mereka temui. Pria itu bernama Maulana.


Maulana berlari menghampiri rombongan Gilang sembari tersenyum ramah, membuat matanya yang memang sudah sipit semakin menghilang karena senyuman di wajahnya.


"Hai, Pak, senang bisa bertenu dengan Anda." Maulana mengulurkan tangan pada Gilang, yang disanbut Gilang dengan ramah. "Pak Arya sudah menunggu di dalam. Mari saya tunjukan jalannya."


"Sebentar, Pak Maulana, silakan Anda duluan saja, saya masih ada urusan sedikit--"


"Aah, ayo, mari-mari, Pak. Kebetulan kami juga sudah kepanasan sejak tadi berdiri di sini. Sepertinya menyantap cappuccino dingin sangat menyegarkan." Toni memotong ucapan Gilang, lalu segera melangkah mendahului Gilang menuju coffe shop bersama Maulana dan Pelangi.


Gilang mengepalkan tangannya melihat kepergian Toni dan Pelangi. "Awas saja kalian berdua," gumamnya, lalu melangkah menyusul Toni dan Pelangi yang sudah memasuki bangunan coffe shop.