
"Hai, hai kalian semua! Tunggu aku."
Pelangi yang masih menatap punggung Andrew bergerak menjauh tiba-tiba dikejutkan oleh suara teriakan seorang pria di kejauhan. Bukan hanya Pelangi yang terkejut akan suara teriakan itu, tetapi Alia, Farhan dan Toni juga.
keempatnya menoleh ke asal suara dan mendapati Gilang tengah berlari menghampiri mereka semua. Pria itu terlihat rupawan dengan mengenakan setelan olahraga berwarna putih, dengan garis hitam di tepi celana training dan juga T-shirt putih polosnya.
Gilang berhenti tepat di hadapan Pelangi dengan napas yang terengah-engah karena kelelahan.
Farhan menaikan sebelah alisnya, kemudian bertanya pada Gilang, "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya.
Gilang yang sejak tiba langsung membungkuk sambil menopang tubuh pada tangan yang ia letakan di kedua lutut segera bangkit berdiri untuk menatap sang ayah. "Apa ayah tidak lihat kalau aku sedang joging juga."
Toni yang sejak tadi hanya diam mendadak tertawa terbahak-bahak. "Joging? Sejak kapan kamu joging? Seorang Gilang paling anti berjoging!"
Farhan terkekeh. "Ya, Gilang, bukankah kamu selalu menolak jika ayahmu yang tua ini mengajakmu joging bersama. Sekarang kenapa tiba-tiba mau joging? Apa kamu sedang mengigau?"
"Ck, sekarang dan biasanya jelas berbeda, Ayah. Di sini suasananya lebih alami dan lebih sejuk. Sehingga aku tertarik untuk melakukan joging juga. Berbeda sekali dengan suasana di kota yang saat pagi hari saja polusi udara sudah terlihat di mana-mana," ujar Gilang, lalu mengedipkan sebelah matanya ke Pelangi. "Ayo, Asistenku, kita sehatkan tubuh kita berdua." Gilang kemudian menarik lengan Pelangi dan mulai berlari-lari kecil meninggalkan rombongan.
Pelangi mau tidak mau mengikuti langkah Gilang, karena pria itu terus saja menarik tangannya.
Setelah berlari lumayan jauh, Pelangi dan Gilang melambatkan langkah dan melanjutkan agenda joging mereka dengan berjalan santai. Pelangi mendongak agar dapat menatap wajah Gilang yang mulai berkeringat dan terlihat kelelahan. Pria itu bahkan terlihat kesulitan mengatur napas.
"Anda tidak apa-apa, Pak? Kelihatannya Anda lelah sekali dan hendak pingsan," tanya Pelangi.
Gilang menunduk dan tersenyum ke arah Pelangi. "Aku tidak apa-apa. Lari pagi begini, sih, tidak ada apa-apanya buatku. Oh, ya, Raina, bukankah sudah kukatakan padamu, jangan panggil aku dengan sebutan yang formal saat kita sedang berdua saja. Panggil saja aku Gilang." Gilang kemudian menghentikan langkahnya dan menatap Pelangi dengan tajam. "Coba katakan, G I L A N G, Gilang." Gilang memberi contoh.
Pelangi mengerjap dan ia merasakan panas yang luar biasa di kedua pipinya. Ia mendorong Gilang menjauh, lalu berkata, "Tidak, ah," ujar Pelangi, kemudian berlalu dari hadapan Gilang dengan kedua pipi yang merona merah.
Gilang tersenyum, kemudian menyusul Pelangi. "Hai, ayo coba katakan. Jangan malu."
"Tidak, pokoknya tidak."
Gilang terus menggoda Pelangi, sementara Pelangi terus menghindar sembari tertawa terbahak-bahak. Baik Gilang atau pun Pelangi tidak ada yang menyadari bahwa jalan yang mereka ambil adalah jalan berbahaya yang akan membuat mereka merasa sesak karena ingatan masa lalu yang perlahan muncul.
Keduanya terus melanjutkan langkah tanpa memperhatikan daerah sekitar, hingga mereka tiba di ujung jalan yang ternyata adalah jalan buntu. Hanya terdapat semak belukar dan pohon kapuk yang tumbuh rapat dan rindang di sekitar mereka. Sementara di sisi kiri terdapat jurang yang curam.
"Wah, kita salah jalan," ujar Pelangi, mundur menjauhi jurang selangkah demi selangkah. Tubuhnya gemetar karrna ketakutan. Ia memang masih trauma dan ngeri saat melihat jurang, walaupun ia tidak memiliki ingatan apa pun tentang jurang, tetapi ada firasat buruk yang muncul di dalam hati dan pikirannya saat ia melihat jurang.
Meski merasa takut dan panik, Pelangi tetap berusaha untuk tenang. Ia mengatur napas untuk menghilangkan kegugupannya.
"Pak, sebaiknya kita pergi dari sini. Aku rasa yang lain sudah menunggu kita dan ... Pak, Pak Gilang, ada apa?" Pelangi menghampiri Gilang yang sekarang tengah bersandar pada batang sebuah pohon tumbang.
"Pak, Anda sakit?" Pelangi menyentuh dahi Gilang yang terasa dingin, begitu juga dengan telapak tangan pria itu yang sedingin es.
Detik berikutnya, Gilang meremas kepalanya sendiri dan mulai jatuh berlutut di atas tanah yang berbatu.
"Argh! Argh!" Gilang meraung dan terisak di saat yang bersamaan. Kilasan-kilasan kejadian yang telah lalu perlahan memasuki kepalanya. Seperti debu yang beterbangan dari puncak gunung dan memasuki retakan-retakan tanah yang kering, mulai mengisi retakan-retakan itu dan menutupi ruang kosong yang ada.
Gilang merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya saat kenangan-kenangan lamanya memaksa masuk satu per satu dan memosisikan setiap kenangan pada tempatnya.
Dirinya dihajar dengan menggunakan kayu balok oleh sekumpulan pria berbadan besar.
Seorang wanita melindunginya dan ikut terjatuh ke jurang.
Dirinya menangis dan hampir mati, tetapi Gisel datang dan menyelamatkannya.
Lebih jauh lagi, sebuah kenangan muncul di kepala Gilang.
Seorang wanita yang perutnya buncit sedang duduk di pangkuannya.
Wanita itu tersenyum dan memberikan selembar kertas bertuliskan "Hanya Gilang" padanya.
Gilang mendongak, menatap wanita yang sekarang sedang berdiri ketakutan di hadapannya. Wanita di dalam ingatanya sangat mirip dengan wanita yang sekarang ada di hadapannya.
"Pak, sadarlah. Ayo, aku bantu berdiri. Kita kembali ke hotel sekarang."
Gilang menggeleng. "Pa-panggil bantuan. Panggil siapa saja," titah Gilang, dengan suara yang terbata-bata. Ia tahu jika ia tidak mampu kembali ke hotel seorang diri saat ini, apalagi hanya ditemani oleh Pelangi.
Pelangi mulai menangis sekarang, ia tidak tahu apa yang membuatnya menangis, tetapi ia merasa bahwa meninggalkan Gilang saat ini adalah tindakan yang kurang tepat. Bagaimana kalau Gilang sampai jatuh ke jurang? Atau bisa saja ada binatang buas yang muncul dari balik semak lalu menerkam Gilang.
"Bagaimana bisa aku meninggalkan Anda di sini. Aku tidak bisa, Pak. Ya, Tuhan bagaimana ini?"
Gilang mendorong Pelangi agar wanita itu menuruti perintahnya. Namun, di saat yang bersamaan rasa sakit kembali menyerang kepala Gilang, membuatnya kembali meraung dan meremas rambutnya.
Pelangi yang melihat Gilang kesakitan sontak menjadi semakin panik. Ia merangkul tubuh Gilang, berusaha untuk menenangkan pria itu, walaupun ia tahu percuma saja usahanya.
"Baiklah, Pak, aku akan meninggalkan Anda di sini sebentar. Berjanhilah agar anda tidak akan ke mana-mana. Aku akan segera kembali. Aku janji." Pelangi mengusap keringat yang membasahi wajah Gilang, sebelum akhirnya ia melepas jaketnya dan membaringkan Gilang di atas jaket itu.
Setelah merasa bahwa Gilang sudah aman, Pelangi dengan cepat berlari ke arah hotel untuk mencari bantuan.
Bersambung ....