OH MY BOSS

OH MY BOSS
KEGILAAN ARYA SAPUTRA



Matahari merangkak turun, menyisakan sinar kemerahan di langit senja yang terlihat indah dan memanjakan mata.


Gilang mengemudi seorang diri seperti biasa begitu pertemuan terakhirnya dengan beberapa rekan bisnis akhirnya usai. Ia suka mengemudi seorang diri, mengendalikan mobilnya dengan kecepatan lambat sembari melihat-lihat jejeran pertokoan di bahu jalan, menimbang kira-kira oleh-oleh apa yang harus ia bawakan untuk Pelangi hari ini.


Ya, setiap pulang bekerja Gilang memang senantiasa membawakan oleh-oleh untuk sang istri. Terkadang hanya beberapa potong croissant kesukaan Pelangi, terkadang puding buah, cake, atau donat. Namun, tidak jarang juga Gilang membawakan barang-barang mewah untuk Pelangi, meskipun Pelangi tidak akan seantusias saat Gilang membawakannya makanan.


"Lebih baik makanan yang bisa dimakan, daripada ini. Tidak bisa dimakan." Begitulah selalu ucapan Pelangi saat Gilang membawakan Pelangi tas, cincin, kalung, sepatu, atau hiasan rambut. Jika sudah begitu Gilang hanya bisa tertawa sembari memesan makanan berat atau camilan melalui online lewat ponselnya.


Gilang menghentikan mobilnya di sebuah toko salad buah. Ia ingat beberapa waktu lalu Pelangi sangat ingin makan salad buah, tetapi ia tidak sempat membelikan karena sesuatu hal.


Setelah mobil berhenti dengan sempurna, Gilang segera turun dan melangkah menuju toko dengan hati-hati, karena sedang ada perbaikan jalan di depan toko tersebut yang menyisakan lubang-lubang menganga yang belum ditimbun kembali.


Akan tetapi, percuma saja kehati-hatian Gilang, karena seorang pria bersepeda yang mengenakan jaket hitam, topi hitam dan kacamata hitam melaju dengan cepat dan ugalan-ugalan di atas trotoar. Orang itu hampir saja menabrak Gilang. Beruntung Gilang berhasil menghindari tabrakan, tetapi keberuntungan Gilang hanya sampai di situ. Lubang galian yang masih menganga lolos dari perhatian Gilang, sehingga tubuh Gilang terjatuh ke dalam lubang yang tidak seberapa dalam itu.


Buk!


"Ah, sial!" keluh Gilang, berusaha untuk bangkit berdiri dengan susah payah. Namun, gagal.


"Kakiku terkilir sepertinya," ujar Gilang lagi, lalu melambaikan tangan dan berteriak agar ada orang yang melihat keberadaannya. Jika tidak berteriak, pasti tidak akan ada yang melihatnya, terlebih lagi hari sudah semakin gelap.


Setelah suaranya hampir habis dan serak, seorang pekerjaan konstruksi tiba dengan tergopoh-gopoh dengan sekop di tangan.


"Hai, tolong aku," pinta Gilang, begitu si pekerja konstruksi memandang ke dalam lubang.


"Astaga, sejak kapan Anda di sini, Pak. Apa Anda kesulitan memanjat lubang yang tidak terlalu dalam ini?" ujar si pekerja.


"Sekitar setengah jam aku di dalam sini. Bukannya aku tidak bisa memanjat seorang diri, hanya saja kurasa kakiku terkilir." Gilang menjawab pertanyaan dari si pekerja konstruksi yang terlihat menahan tawa.


Ya, kondisi Gilang memang lebih terlihat lucu daripada memperihatinkan, maka tidak heran jika si pekerja malah ingin tertawa alih-alih merasa kasihan pada Gilang.


Setelah berhasil keluar dari lubang, Gilang segera duduk di salah satu kursi yang tersedia di depan toko dibantu oleh si pekerja konstruksi.


"Trims karena sudah membantuku," ujar Gilang, sembari mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya dan mengusap wajahnya yang berkeringat. Pergelangan kakinya terasa begitu sakit, hingga tubuhnya berkeringat dingin.


"Tidak masalah, Pak, lain kali berhati-hatilah dalam melangkah. Banyak lubang yang tali pembatasnya telah hilang, karena anak-anak yang lewat terkadang suka menarik tali-tali pengaman yang kami pasang di setiap lubang.


"Oke, terima kasih. Akan aku ingat saranmu." Gilang mengangguk ke arah si pekerja konstruksi, kemudian pekerja itu pamit undur diri dan meninggalkan Gilang seorang diri."


Gilang mengeluarkan ponsel dari saku bagian dalam jasnya, lalu segera menghubungi Toni agar pria itu datang menjemputnya. Tidak mungkin ia menyetir dalam keadaan kaki terkilir dan lengan yang terasa sedikit sakit.


"Ya, halo, Gil, di mana kamu? Aku sudah sampai sejak tadi, tapi kamu tidak ada. Padahal sudah jelas kalau kamu pulang lebih dulu dibandingkan diriku. Pelangi khawatir, Gil. Sejak tadi dia menunggumu," ujar Toni panjang lebar dari seberang panggilan.


Gilang melihat jam yang tertera di ujung layar ponselnya, ternyata sudah hampir setengah delapan malam. "Kenapa waktu berjalan cepat sekali, ya?" gumam Gilang.


"Mana kutahu. Sekarang katakan, kamu ada di mana?" Suara Toni kembali terdengar di seberang panggilan.


"Aku ada di depan toko Sweet Salad. Jemput aku, Ton, aku rasa aku tidak bisa menyetir sekarang."


"Kenapa tidak bisa. Ada apa memangnya?"


"Sudahlah, jangan banyak tanya. Cepat jemput aku sebelum aku berpikiran untuk memecatmu." Gilang memutuskan panggilan sambil cemberut. "Kenapa dia makin hari makin cerewet, sih!" Gilang menggerutu, sembari berusaha menggerakkan kakinya yang masih terasa sakit.


Tidak sampai setengah jam menanti, sebuah mobil berhenti tepat di depan Sweet Salad. Pintu belakang mobil langsung terbuka dan seorang wanita cantik yang mengenakan dress selutut berwarna peach keluar dari dalam mobil dengan wajah khawatir.


"Gil, apa yang terjadi?" Pelangi menghampiri Gilang dan segera duduk di samping pria itu. "Kenapa dengan bajumu?" tanyanya lagi, begitu melihat noda tanah kering yang menempel di jas Gilang.


"Sayangku, kenapa ikut menjemputku?" tanya Gilang, sembari menyingkirkan rambut panjang Pelangi yang menutupi wajah ke belakang telinganya wanita itu.


"Dia keras kepala. Dia ingin ikut, mana mungkin aku menolak. Karena dia pun mengancam akan memecatku. Kasihan sekali menjadi aku."


"Tidak, Sayang."


"Orang mencurigakan?" desak Pelangi.


Gilang tertawa. "Ada apa denganmu?"


"Oh, Gilang, aku sangat khawatir. Aku takut sesuatu yang buruk kembali menimpamu." Pelangi memeluk Gilang dan menyesap


aroma tubuh pria itu dalam-dalam. Sejak Arya mengatakan akan membuat Gilang tidak punya pilihan, sejak saat itu Pelangi selalu merasa khawatir. Saat ia sadar dari pingsan pun, hal yang lebih dulu ia cari tahu adalah keadaan Gilang dan keberadaan pria itu.


"Aku tidak apa-apa, Sayangku. Sekarang ayo kita pulang," ucap Gilang, sembari mengecup kening Pelangi dengan mesra.


Pelangi mengangguk. "Sesampainya di rumah, aku akan menelepon dokter untuk datang memeriksa keadaanmu."


"Tentu, Sayang. Walaupun sebenarnya aku tidak terlalu membutuhkan dokter jika kamu ada di sampingku."


Pelangi tersipu mendengar ucapan Gilang. Bahkan dalam keadaan sedang sakit pun suaminya itu tetap saja menggodanya. Membuatnya malu dan rasanya ingin mendaratkan kecupan di bibir Gilang yang suka menggodanya.


Toni menghampiri Gilang dan Pelangi, lalu membantu Gilang berjalan menuju mobil.


"Argh, sakit sekali." Gilang meringis saat kakinya mulai bergerak perlahan.


"Apa jatuhmu begitu parah, sampai-sampai kamu tidak bisa melangkah sama sekali?" tanya Toni.


"Ya, lumayan juga. Bahkan aku pun merasakan nyeri pada pinggangku," ujar Gilang.


"Ck, lain kali berhati-hatilah, Sayang, aku tidak mau kalau sampai sesuatu yang buruk menimpamu." Pelangi berucap, sembari menuntun Gilang menuju mobil.


"Aku pasti akan sembuh begitu kita tiba di rumah. Tapi untuk sementara aku tidak bisa banyak bergerak, Sayang, jadi kamu harus mengambil posisi di atasku agar kita bisa ... aw, aw, aw, aku hanya bercanda."


Pelangi mencubit pinggang Gilang karena suaminya itu sembarang bicara, padahal sedang ada Toni berdiri di samping mereka.


Di kejauhan, sepasang mata menatap dengan tatapan tidak suka pada senyum yang tersungging di bibir Gilang dan Pelangi. Sepasang mata itu adalah mata milik Arya Saputra yang mobilnya terparkir tidak jauh dari Sweet Salad.


Tangan Arya mengepal. Ia mengigit bibir hingga berdarah saat dilihatnya Pelangi dan Gilang begitu mesra.


"Jangan lakukan apa pun. Kamu harus bisa mengendalikan emosimu, Arya. Bagaimana pun Pelangi bukanlah wanita yang pantas menjadi ibu dari anak-anakmu. Dia sudah menikah. Pikirkan lagi niatmu." Maulana berujar, saat dilihatnya sebelah tangan Arya sudah berada di pintu mobil, bersiap untuk membuka pintu mobil dan menghampiri Gilang juga Pelangi."


Arya bergeming. Ia lupa jika ada Maulana di sebelahnya. Pria yang satu itu sudah seperti pengawas yang ditugaskan oleh ayahnya untuk mengikutinya ke mana pun dan menjaga agar dirinya tidak lepas kendali. Jika dirinya berhasil keluar dari rumah seorang diri tanpa pengawasan Maulana, itu berarti ia sedang beruntung. Sama seperti beberapa bulan lalu saat ia hilang kesabaran dan menyingkirkan seorang wanita yang menolaknya secara terang-terangan.


"Ayo, kita harus kembali ke rumah sebelum ayahmu mencarimu." Maulana memberi perintah pada Arya. Sebenarnya Maulana lebih tegas dari yang terlihat. Dan saat mereka hanya berdua, Maulana akan menanggalkan keformalan di antara mereka, karena memang sebenarnya Maulana adalah tangan kanan dari ayah Arya, yang kemudian pria bertubuh gempal itu ditugaskan untuk mengawasi Arya.


"Kembalilah sendiri dan katakan pada ayah bahwa aku sedang berada di hotelnya. Dia pasti akan diam dan tidak banyak bertanya saat dia kira aku benar-benar ada di hotelnya. Aku masih ada urusan yang harus kuselesaikan."


Maulana kembali menggeleng. "Aku tidak akan kembali tanpa dirimu. Ayahmu pasti akan marah padaku. Lagi pula, doktermu juga akan datang hari ini untuk memeriksa keadaanmu, Arya."


Arya memutar bola matanya dengan malas. "Aku tidak sakit dan ...." ia menghela napas dengan kesal, lalu melanjutkan, "tidak gila juga. Aku kan sudah mengatakan hal itu berulang kali, kalau otakku baik-baik saja. Aku tidak gila!"


"Memang tidak. Siapa yang mengatakan kalau dirimu gila. Kamu hanya perlu sedikit menjawab pertanyaan dari dokter itu seperti biasanya, lalu menerima obat darinya, dan setelahnya semuanya akan kembali seperti semula." Maulana berkata sesantai mungkin, berusaha agar tidak membuat Arya tersinggung atas ucapan yang keluar dari bibirnya.


Tangan Arya gemetar, kesabarannya sudah habis dan ia mulai kesal sekarang. Ia muak pada Maulana yang selalu memberinya banyak peraturan yang membuatnya lelah dan merasa tertekan. Maulana yang sudah tahu apa yang selanjutnya akan terjadi segera mengeluarkan sebuah suntikan berisi obat penenang dari dalam saku jasnya dan menancapkan jarum suntik itu ke leher Arya.


"Sudah kubilang kita harus kembali, Tuan Arya."


Bersambung.