
Justin kembali menarik lengan Nena, gadis yang tidak lagi berdebar-debar karena sentuhan si bos untuk ke dua kalinya, lebih merasa dongkol karena ditarik-tarik seperti seekor sapi, beruntung pria yang tingginya nyaris menyaingi tihang lampu jalanan itu lebih meminimaliskan jarak langkahnya, sehingga Nena tidak harus terseok-seok seperti biasa.
Nena mendudukkan dirinya di sebuah sofa tunggal tanpa sandaran, di hadapannya tersusun rapi segala model dan merk sepatu yang Nena yakini, pria kaya yang tidak berpotensi jadi pacarnya itu pasti akan memaksanya memilih salah satu benda yang pernah ditinggalkan Cinderela itu.
"Saya ingin sepatu yang tidak membuat kaki gadis ini melepuh." Justin menunjuk kaki Nena, yang reflek ikut mengarahkan pandangannya pada kakinya sendiri, begitupun karyawan penjaga toko.
"Ada, sebentar." Wanita penjaga toko kemudian bergegas pergi, tidak lama dia kembali dengan menenteng beberapa sepatu di tangannya.
Melihat penampilan Justin yang dari cara berkedipnya saja ketahuan bahwa dia adalah holang kaya, penjaga toko itu membawakan sepatu-sepatu termahal dengan merk ternama.
"Ini keluaran terbaru, masih anget!" ujarnya, sepertinya sang penjaga toko cukup humoris.
'Lo kata kue cucur. Anget'. Nena hanya menanggapi dalam hati, kemudian mencoba sepatu model pump shoes dengan hak setinggi 15 cm. Nena tersenyum 'Ya Allah cantik banget ini sepatu, pengen bawa pulang'.
"Tidak ada yang lebih tinggi dari itu?" Ucapan Justin membuyarkan kekaguman dua orang wanita itu pada sebuah sepatu. Keduanya pun menoleh. "Kakinya bisa patah kalau sampai dia terjatuh, carikan yang lebih pendek lagi." Titahnya kemudian.
"Ooh, ada." Sang penjaga toko kembali merapikan sepatu yang ia bawa, kemudian bergegas mencari yang sesuai permintaan Justin. Nena menatapnya dengan tidak rela.
"Ini juga keluaran terbaru, limited edition," ujarnya sembari memberikan sepatu model yang sama dengan hak yang lebih pendek, sekitar 5 sampai 7 cm.
Mendengar kata limited edition disebutkan, Nena tahu pasti harga sepatu itu tidaklah murah, dia pun mencoba dengan hati-hati, sepatu berwarna putih tulang dengan sol berwarna merah itu terlihat cantik di kaki gadis itu. Diam-diam, Justin tersenyum.
Justin sudah begitu terpesona saat Eci, pemilik salon langganan mantan-mantannya itu sedikit merubah penampilan Nena, gadis itu begitu cantik dengan rambut curly bawah, dan poni yang nyaris menyentuh mata bulatnya, saat gadis itu menyibakkan poninya dengan asal, jantug Justin berasa lepas, ditambah lagi senyuman di bibirnya itu, walau bukan karenanya, melainkan karena sebuah sepatu, membuat Justin memilih mendudukkan dirinya pada sofa tunggu di ujung ruangan. Lututnya mendadak lemas.
Sudah tujuh sepatu yang Nena coba, dengan warna dan jenis yang berbeda. Meskipun dengan merk yang sama, dan saat akan mencoba sepatu yang ke delapan, Nena sedikit ragu, dipandanginya sepatu berwarna silver dengan sol berwarna merah itu dengan seksama, ada tulisan Louboutin di sana, Nena ingat, merk sepatu ini yang digadang-gadang Siska sebagai target tabungannya. Dan hal itu membuatnya penasaran akan harga sepatu cantik di tangannya.
"Kenapa, Mbak? Nggak suka yah?" tanya penjaga toko, Nena menggeleng.
"Sepatunya cantik banget, kok. Harganya berapa yah?"
"MasyaAllah!" Pekik Nena, reflek menarik sepatu di tangannya kedalam pelukan. Takut kalau-kalau sedikit ada pergerakan yang membuat sepatu itu jatuh dan rusak, "ini sepatu apa emas dua puluh empat karat? mahal amat." Tambahnya.
"Memang mahal, Mbak. Louboutin punya, perancangnya dari luar Negri."
"Simpen lagi, Mbak." Nena memberikan sepatu seharga motor second adiknya itu pada penjaga toko, "Saya juga nggak mampu beli itu." Tambahnya kemudian, sang penjaga toko tersenyum.
"Apapun yang Mbaknya pilih, udah dibayarin kok sama pacarnya," ujarnya kemudian melirikan matanya pada Justin, Nena mengikuti arah pandang wanita itu, dilihatnya pria yang dituding sebagai pacarnya itu tengah menelpon seseorang.
"Dia bos saya, bukan pacar."
Sang penjaga toko terkejut, "baik banget ya, Mbak. Mungkin dia suka kali sama Mbaknya, wong Mbaknya cantik gitu," pujinya yang tidak membuat Nena tersanjung, baru kali ini dia malah takut dibilang cantik. Gadis itu kemudian bertanya.
"Memangnya saya cantik, Mbak?" tanyanya yang membuat penjaga toko seumuran dirinya itu mengerutkan dahi.
"Mbaknya nggak punya kaca di rumah? mirip boneka barbie gini gimana nggak cantik," pujinya tampak lebih tulus dari sebelumnya, Nena hanya tersenyum canggung. Berterimakasih kemudian menghampiri Justin di sudut ruangan sana.
Justin menoleh, dilihatnya Nena berdiri tanpa berkata apa-apa. "Sudah?" tanyanya, memasukan ponsel kedalam saku kemejanya. Nena mengangguk canggung.
"Kenapa tidak kamu pakai?"
"Nggak apa-apa, Pak. Saya lebih nyaman pakai sendal ini." Telunjuknya diarahkan pada sendal jepit yang ia kenakan. Sebenarnya bukan nyaman, hanya saja mendengar harga sepatu barusan, dia jadi merasa ngeri.
Justin menarik lembut tangan Nena menuju sofa yang gadis itu duduki saat mencoba sepatu. Pria itu berlutut dihadapan Nena, memasang plester pada bagian kakinya yang luka, kemudian mengambil satu buah sepatu Louboutin berwarna hitam, dan mengenakannya di kaki gadis yang memilih diam saja diperlakukan semanis itu, menutupi kenyataan bahwa jantungnya nyaris lepas.
"Ini sebagai ganti sepatu kamu yang saya buang, maaf ya." Justin tersenyum tulus, Nena membeku.
"Jadi ini wanita yang kamu maksud?" ucap seseorang yang membuat keduanya menoleh, seorang wanita cantik berpenampilan formal melipat tangannya di depan dada.