OH MY BOSS

OH MY BOSS
KERIBUTAN DI PAGI HARI



Anneth terjatuh tepat di atas pangkuan Gilang. Hal itu tentu saja membuat Gilang begitu terkejut.


"Astaga, bagaimana kalau kursi rodanya terguling." Gilang memekik, bukannya ia tidak khawatir pada keadaan Anneth hingga ia tidak menanyakan keadaan wanita itu terlebih dahulu, tetapi keadaannya pun jauh tidak menguntungkan sehingga ia tidak ada waktu baginya untuk mengkhawatirkan orang lain. Apalagi kalau sampai ada yang melihat. Mungkin orang lain akan salah paham, karena posisi mereka yang begitu dekat, seolah Gilang sedang memangku Anneth.


Anneth segera bangkit berdiri dan merapikan bagian bawah dress-nya yang tersingkap saat ia terjatuh tadi.


"Maafkan aku, Pak, aku sungguh tidak sengaja." Anneth membungkuk berkali-kali, ia merasa sangat tidak enak pada Gilang dan ia juga khawatir jika Gilang mengira bahwa kejadian tidak menyenangkan barusan adalah sebuah kesengajaan, mengingat dulu dirinya sempat menyukai dan menggoda Gilang secara terang-terangan.


"Tidak masalah, Sus, tidak apa-apa. Hanya saja kurasa lebih baik kemu beristirahat di dalam, karena wanita hamil sebaiknya tidak banyak bergerak." Gilang memberi saran, yang sebenarnya dimaksudkan untuk mengusir Anneth dari hadapannya juga. Ia merasa tidak nyaman berduaan saja dengan anneth di taman tanpa adanya Pelangi atau siapa pun.


Anneth mengangguk, kemudian berkata, "Bersantai di halaman dengan cuaca yang sepanas ini kurasa memang bukan gayaku. Sebaiknya aku di dalam saja. Kalau begitu aku permisi, Pak." Setelah mengatakan itu, Anneth segera berlari masuk ke dalam rumah.


Gilang menghela napas lega begitu Anneth tidak lagi ada di sekitarnya. Namun, Gilang tidak tahu bahwa sejak tadi ada seseorang yang mengintip dari salah satu jendela ruang utama, seseorang itu adalah Pelangi. Pelangi melihat bagaimana Anneth tersandung dan akhirnya jatuh di pangkuan Gilang. Ia juga tahu bahwa semua itu adalah kejadian yang tidak disengaja, tetapi tetap saja Pelangi merasa sangat cemburu.


***


Pelangi masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaian. Setelah melihat kejadian di taman tadi, moodnya tiba-tiba saja semakin rusak. Ia bahkan memilih untuk kembali ke kamar seorang diri alih-alih menghampiri Gilang dan mengajak suaminya itu untuk masuk ke dalam rumah.


"Kenapa, sih, bersantai di luar saat cuaca sepanas ini. Berdua dengan Anneth pula. Apa dia tidak tahu kalau aku menghadapi hari yang berat di kantor," gumam Pelangi, sembari melempar pakaiannya ke dalam keranjang kotor.


Tidak lama kemudian pintu kamar terbuka, dan Gilang muncul sembari tersenyum ke arah Pelangi. Pintu kamar memang di desain sedemikian rupa agar dapat terbuka dua arah dan dapat terbuka dengan mudah hanya dengan dorongan kecil, termasuk saat Gilang menabrakkan kursi rodanya ke pintu, sehingga Gilang tidak kesulitan untuk membuka pintu jika tidak ada siapa pun di dalam kamarnya.


"Sudah pulang?" tanya Gilang.


Pelangi mengatur napas agar rasa kesalnya tidak terlalu terlihat. Ia memang sedang marah, tetapi ia tidak ingin membebani Gilang dengan permasalahan yang tidak penting, termasuk kecemburuan yang ia rasakan saat ini.


Setelah emosinya kembali stabil, Pelangi segera menyunggingkan senyuman dan berbalik agar dapat menatap wajah sang suami tercinta. "Ya, aku langsung pulang begitu jam istirahat selesai."


Gilang menggerakkan tuas kursi rodanya untuk mendekat ke Pelangi. Setelah posisi Gilang berada dekat dengan Pelangi, Pelangi langsung duduk di pangkuan pria itu dan tanpa mengatakan apa pun ia mencium Gilang dengan rakus. Pelangi ******* bibir Gilang, lalu turun ke leher dan meninggalkan jejak merah di sana.


Gilang menyambut baik apa yang Pelangi lakukan, ia balas ******* bibir Pelangi dan sesekali menggigit bibir sang istri hingga terdengar suara rintihan Pelangi yang begitu menggoda.


Setelah beberapa saat saling beradu kecupan, akhirnya Pelangi menjauhkan bibirnya dari bibir Gilang.


"Wow, ada apa denganmu?" tanya Gilang.


Pelangi yang napasnya masih terengah-engah tidak langsung menjawab. Ia diam sejenak dan menyandarkan keningnya di kening Gilang, hingga hidung mereka bersentuhan.


"Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Gilang.


Pelangi menggeleng. "Tidak."


"Jangan bohong."


"Aku bilang tidak, ya, tidak. Aku hanya merindukanmu dan aku mencintaimu," ujar Pelangi.


Gilang tersenyum. "Aku pun."


"Jangan bohong," ucap Pelangi. "Kalau kamu sudah tidak menyukaiku, katakan saja. Maka aku akan berusaha setengah mati agar kamu kembali menyukaiku."


Gilang tergelak. "Tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyukaimu, Pelangi. Apa, sih yang kamu bicarakan di siang bolong seperti ini?"


Pelangi menghela napas, lalu meremas rambut Gilang dan kembali mendaratkan bibirnya di bibir Gilang. Apa yang Pelangi perbuat sungguh membuat Gilang hampir gila. Gilang ingin memperlakukan Pelangi sebaik yang ia bisa, apalagi saat Pelangi menggebu-gebu seperti sekarang. Namun, apalah daya, Gilang tidak bisa melakukan banyak hal, termasuk melayani kebutuhan batin Pelangi.


"Maafkan aku, Pelangi, tidak banyak yang bisa kulakukan untukmu," ujar Gilang, saat Pelangi tidak lagi menciumnya.


"Tidak, Sayang, jangan minta maaf. Apa kamu ingin kubantu untuk berbaring di tempat tidur?" tanya Pelangi.


Gilang tersenyum. "Tentu," ujar Gilang.


"Ah, senangnya. Aku sungguh tidak sabar ingin menggerayangimu."


Gilang tertawa mendengar apa yang Pelangi ucapkan, ia pun sudah tidak sabar ingin melihat Pelangi menggerayanginya dan duduk di atas tubuhnya seperti biasanya.


***


Arya Adiguna duduk di ruang kerjanya sembari menggerakkan kakinya dengan tidak sabar. Waktu sudah menunjukan pukul 21.00, seharusnya ia kembali ke rumah, tetapi Arya tidak melakukan hal itu. Ia masih menanti kabar dari Maulana tentang keberadaan Anneth yang hingga sekarang masih belum diketahui.


Arya bangkit berdiri dan meraih ponsel yang ada di atas meja kerjanya, lalu melakukan panggilan dengan beberapa orang yang ia kirim untuk memata-matai kediaman Gilang, karena ia tahu dulu Anneth pernah bekerja di rumah pria itu. Barangkali saja Anneth bersembunyi di sana. Siapa yang tahu, 'kan?


"Halo, Tuan, baru saja aku ingin menghubungi Anda." Suara dari seberang telepon terdengar pada dering pertama.


"Bagaimana? Apa ada petunjuk atau sesuatu yang mencurigakan?" tanya Arya.


"Ya, Tuan, aku berhasil mengambil beberapa gambar dari seorang wanita yang memiliki wajah seperti Nona Anneth. Aku akan ke kantor Anda untuk--"


"Kirimkan sekarang. Kirimkan sekarang dan segeralah kemari. Aku ingin mendengar detailnya," perintah Arya dengan tidak sabaran. Ia tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Penjelasan mungkin bisa menyusul nanti, tetapi hasil potret yang dikatakan oleh orang suruhannya harus segera dikirimkan padanya, ia ingin memastikan apakah wanita yang dimaksud benar-benar Anneth.


Ting!


"Ini memang dia," gumam Arya.


Tanpa menunggu lagi, Arya segera bangkit dari duduknya dan bersiap untuk keluar dari ruangan dan langsung bertandang ke kediaman keluarga Andreas. Namun, Maulana yang baru saja masuk ke dalam ruangan menghentikan langkah Arya.


"Mau ke mana?" tanya Maulan, yang sengaja menghalangi tubuh Arya agar tidak keluar dari ruangan.


"Aku harus pergi. Minggirlah, Lana." Arya mendorong Maulana agar pria itu tidak terus menghalanginya.


Maulana tidak mau mengalah. Ia menahan lengan Arya agar pria itu tidak keluar dari ruangannya.


"Kenapa kamu menghalangiku, hah? Kamu tidak berhak menghalangi apa yang ingin aku lakukan." Arya berteriak, ia kesal sekali dengan Maulana yang terlalu ikut campur pada kehidupannya.


"Ini sudah malam, dan ayahmu melarangmu pergi keluar seorang diri di jam segini. Bukankah seharusnya kamu berada di rumah sekarang, bukannya masih di kantor," ujar Maulana dengan tegas.


Arya menghela napas dengan berat. Ia tahu tentang peraturan yang baru saja Maulana katakan. Sang ayah memang melarang Arya bepergian seorang diri di malam hati, apalagi sejak beberapa bulan lalu saat Arya menghilangkan nyawa sekretarisnya di sebuah kamar hotel.


"Aku menemukan Anneth, itulah sebabnya aku ingin menemuinya langsung malam ini. Aku tidak mau mengambil resiko kehilangan wanita itu lagi." Arya menyerahkan ponselnya pada Maulana untuk memperlihatkan potret Anneth yang baru saja dikirim padanya.


Maulana meraih ponsel Arya dan memperhatikan layar ponsel itu dengan saksama.


"Bukankah yang di sebelahnya itu Gilang Andreas?" tanya Maulana.


Arya mengangguk. "Ya, itu Gilang. Anneth sekarang sedang berada di kediaman keluarga Andreas."


"Kalau begitu dia aman di sana. Wanita itu tidak akan pergi ke mana-mana. Kita akan datang ke kediaman keluarga Andreas besok siang, sekarang sudah larut dan sangat tidak sopan mengunjungi kediaman orang lain di malam hari." Maulana kemudian mengembalikan ponsel Arya. "Ayo kita kembali ke rumah. Ayahmu sudah menunggumu sejak tadi."


Arya mengangguk. Mau tidak mau ia harus menuruti apa yang Maulana katakan, apalagi Maulana adalah orang kepercayaan ayahnya.Walaupun saar ini ia ingin sekali menemui Anneth. Memang sulit untuk dipercaya, tetapi ia sangat merindukan wanita itu.


***


Pagi hari suasana di kediaman keluarga Andreas terlihat sibuk seperti biasanya. Andrew dan Toni bersiap untuk berangkat ke kantor, sementara Farhan baru saja menyelesaikan olahraga ringan yang selalu ia lakukan untuk menjaga kesehatannya.


Sedangkan para wanita terlihat sibuk di dapur, membantu para pelayan untuk menata meja yang akan digunakan untuk menghidangkan sarapan.


Akan tetapi, pagi ini Pelangi sengaja tidak beranjak dari tempat tidur bahkan saat alarm di ponselnya berdering berkali-kali. Ia masih bergelung di dalam selimut sembari memeluk Gilang. Rasanya ia tidak siap untuk menghadapi hari ini, apalagi hari ini pun ia diwajibkan untuk datang ke kantor, mengerjakan ini dan itu, pertemuan, dan lain sebagainya. Beban yang Pelangi pikul sebagai calon prmimpin perusahaan tentu saja memengaruhi tindakan yang Pelangi ambil. Itulah sebabnya ia memutuskan untuk berpura-pura tidur atau jika memang diperlukan ia akan berpura-pura sakit.


"Tidak bangun?" tanya Gilang, yang telah menyadari bahwa sang istri sebenarya sudah bangun sejak tadi.


Pelangi mendongak agar dapat menatap wajah Gilang. "Aku sedang tidak enak badan. Seperti aku sakit, Gil."


"Benarkah? Kalau begitu cepat ambil ponselmu dan hubungi dokter agar dokter datang kemari untuk memeriksamu." Suara Gilang terdengar begitu panik, dan kepanikan yang Gilang rasakan membuat Pelangi merasa bersalah.


Pelangi lantas bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk sambil membelai rambut Gilang. "Aku baik-baik saja. Aku tidak butuh dokter saat ada kamu di sampingku. Lihatlah, aku sehat kan?" ujar Pelangi, sembari tersenyum.


Gilang membalas senyum wanita itu. "Tetap saja kamu harus memeriksakan diri jika memang kamu merasa tidak enak badan. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu."


Pelangi mengangguk. "Aku akan periksa nanti," ujarnya, lalu kembali berbaring si samping Gilang.


"Bangun dan sarapanlah kakau begitu,l ujar Gilang.


"Tidak, ah, biarkan aku memelukmu sebentar lagi. Rasanya nyaman sekali."


"Baiklah, mari kita kembali tidur jika memang kamu belum ingin bangun," ujar Gilang.


Pelangi mengangguk. Ia baru saja hendak memejamkan mata kembali ketika ia mendengar keributan yang berasal dari luar kamarnya.


Pelangi segera bangkit dan melompat dari atas ranjang untuk mengintip dari lubang intip yang ada di pintu kamarnya, tetapi ia tidak melihat apa pun dari kamarnya.


"Suara apa itu?" Gilang terlihat panik.


Pelangi menggeleng. "Aku juga tidak tahu. Biar aku cari tahu dulu."


"Jangan, Pelangi, jangan ke mana-mana. Di luar sudah ada Toni dan Andrew, jika terjadi sesuatu mereka pasti dapat menanganinya dengan baik." Gilang melarang Pelangi yang ingin keluar dari dalam kamar.


Pelangi menghampiri Gilang dan membantu pria itu untuk duduk di kursi rodanya. Setelah Gilang duduk dengan nyaman di atas kursi roda, Pelangi meraih tangan Gilang dan meremasnya. "Aku harus tetap keluar, Gil, aku harus melihat apa yang terjadi dan aku harus memastikan apakah ayah baik-baik saja. Tunggu di sini dan jangan keluar dari kamar. Aku akan segera kembali."


"Tapi, Pelangi, bagaimana kalau di luar sana sedang terjadi sesuatu yang membahayakan? Aku tidak ingin kamu kenapa-kanapa!"


Buk!


Terdengar suara gaduh yang begitu nyaring dari luar kamar.


"Tunggu sebentar." Pelangi melesat keluar dari kamar dan mengunci pintu dari luar agar Gilang tidak menyusulnya.


"Kenapa dia keras kepala sekali. Apa dia pikir dia itu wonder women," keluh Gilang.


Bersambung.