
Farhan terkesiap, begitu mendengar Pelangi memanggilnya. Beberapa saat yang lalu pikiran pria tua itu memang sedang melayang ke masa yang telah silam, sehingga tidak terlalu mengejutkan ketika bibirnya berucap tanpa mempertimbangkan ucapannya terlebih dahulu.
"Ya, Nak," ujar Farhan, wajahnya terlihat bingung.
"Apa maksud ucapan ayah barusan?" tanya Pelangi, ia sungguh penasaran dengan maksud dari perkataan Farhan yang menurutnya terdengar tidak wajar. Seolah Farhan mengenalnya sejak dulu.
"Memangnya barusan apa yang kukatakan?" Farhan menjawab tanpa beban, sambil meminum segelas air putih yang ada di depannya.
Pelangi menatap Gilang, sebelum kembali melempar tatapan bingung ke arah Farhan. "Ayah lupa pada apa yang barusan ayah katakan?"
Belum lagi Farhan menjawab pertanyaan Pelangi, suara langkah kaki beralas sepatu yang terdengar nyaring dan tergesa mengalihkan perhatian mereka semua, dan beberapa saat kemudian Toni muncul di ruang makan dengan wajah berkeringat dan napas terengah.
"Oh, hai," ujar Toni, melambai ke semua orang yang ada di ruang makan, lalu ia segera menghampiri Farhan dan membungkuk di depan pria tua itu.
"Apa lagi sekarang? Tender kita dibatalkan lagi?" tanya Farhan.
Toni menggeleng. "Jika hanya soal tender, mungkin aku tidak akan datang kemari. Rasanya aku sudah terlalu bosan melaporkan hal itu, terlebih lagi orang yang bertanggungjawab pada tender-tender besar yang tidak berhasil itu tidak terlihat terbebani sama sekali." Toni mendelik ke arah Gilang dengan kesal.
Sementara itu Gilang membuang muka, ia ingin tertawa melihat ekspresi kesal di wajah Toni, tetapi ditahannya dengan susah payah. Sebenarnya ia ingin berbaikan dengan Toni, tetapi ia urungkan niat itu. Biarlah Toni marah sedikit lagi padanya, dengan begitu Toni tidak akan mendesaknya untuk menghadiri rapat ini dan itu. Ya, sejak Gilang marah pada Toni, Toni pun jadi menjaga jarak dari Gilang.
"Duduklah dulu kalau begitu, mari kita makan siang bersama. Jika kamu bukan datang untuk melaporkan masalah tender, itu berarti kamu masih memiliki banyak waktu untuk bersantai kan. Karena tidak ada masalah yang lebih mendesak selain masalah perusahaan." Farhan Andreas melambaikan tangan ke seorang pelayan, meminta pelayan itu menyediakan peralatan makan untuk Gilang.
Gilang menurut, ia berjalan menuju kursi kosong yang ada di sebelah Suster An. "Permisi, boleh aku duduk di samping Anda?" tanya Toni.
Suster An mengangguk. "Tentu, Pak, silakan."
Setelah memosisikan tubuhnya dengan nyaman di atas kursi dan pelayan mulai menghidangkan makanan untuknya, Toni kembali berujar, "Sebenarnya ada yang lebih penting daripada urusan perusahaan untuk saat ini, Pak."
Farhan mengernyitkan dahi. "Apa memangnya?"
"Andrew."
Farhan mendengkus kesal. Ada apa lagi dengannya? Setelah menghilang selama hampir dua minggu saat Pelangi dan aku sakit, sekarang dia kembali menghilang. Aku bahkan tidak tahu di mana dia. Seharusnya sebagai seorang anak, dia itu peduli pada keadaan ayahnya. Aku sedang sakit saja dia tidak pernah datang menjengukku--”
"Tapi dia selalu datang untuk menjenguk Pelangi. Apa dia dan Pelangi memiliki hubungan istimewa sebelumnya, Pak?" Suster An memotong ucapan Farhan, seolah ia berhak melakukannya
"Kami hanya akrab, dia ipar yang baik." Pelangi menanggapi perkataan Suster An dengan sinis.
"Ipar, ya? Ipar juga bisa berbahaya, loh, Pak Gilang. Apalagi ipar yang tampan seperti Pak Andrew."
"Cukup, Sus, aku rasa Suster An sudah melampaui batas. Tidak ada yang meminta Anda untuk berkomentar di sini, jadi diamlah dan jaga sikapmu, tolong."
Kedua pipi Suster An memerah karena malu. Ia tidak menyangka jika Farhan akan menegurnya di depan semua orang.
Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara denting sendok yang beradu dengan piring memenuhi ruangan. Gilanglah yang lebih dulu membuka suara. "Jadi, ada kabar apa dari Andrew," tanyanya penasaran.
Toni menyipitkan matanya. "Kenapa kamu bicara padaku. Bukankah kita berdua sedang bermusuhan?"
Gilang berdecak. "Katakan sajalah. Tidak usah cerewet, kamu itu laki-laki. "
"Masalah apa yang sedang dia hadapi. Jika dia ingin aku menyelesaikan masalahnya, suruh dia untuk pulang dan bersikap menjadi anak yang baik mulai sekarang," omel Farhan.
"Anda memblokir kartu kredit dan atm-nya?" tanya Toni.
Farhan mengangguk. "Ya, aku memang meminta pihak bank untuk memblokir semua kartu Andrew."
Toni menjentikkan jari dan berkata dengan dramatis, "Itulah masalahnya, Pak. Dia sedang butuh uang sekarang dan dia memintaku mengatakan pada Anda untuk membatalkan blokirnya. Dia membutuhkan uang untuk menyelamatkan nyawa seseorang."
"Nyawa seseorang?" pekik Pelangi. "Memangnya ada apa? Apa dia menabrak seseorang atau ada apa?" Pelangi terlihat panik sekali. Selama beberapa hari ini ia memang tidak pernah bertemu dengan Andrew. Kedatangan Toni yang tiba-tiba dan membawa kabar tidak baik dari Andrew, tentu saja membuat Pelangi khawatir.
"Tenangkan dirimu, Pelangi. Kita belum tahu apa yang sedang Andrew alami, kamu tidak boleh membuat spekulasi yang akhirnya dapat membuat dirimu sendiri panik." Gilang berusaha untuk menenangkan Pelangi. "Tarik napasmu dan embuskan perlahan. Bayi kita mungkin saja terkejut jika kamu panik seperti ini."
Pelangi mengangguk dan mengikuti saran Gilang untuk mengatur napas agar emosinya kembali stabil.
"Di mana dia sekarang?" tanya Farhan lagi.
"Entahlah, Pak, dia tidak mengatakan di mana dia. Tapi yang jelas, dia butuh uang secepat mungkin."
"Baiklah, temui saja Tito dan minta dia untuk melakukan pembatalan pemblokiran. Setelah masalah Andrew sudah selesai, minta dia untuk pulang. Katakan padanya kalau aku ingin bicara serius dengannya.
***
Exel duduk seorang diri di selasar rumah sakit, tepat si depan ruang ICU tempat Delia sekarang dirawat. Pikirannya sedang kalut sekali saat ini, ia sibuk memikirkan alasan apa yang akan dikatakan pada Delia saat Delia nanti menanyakan kembali pertanyaan yang belum Exel jawab saat mereka masih berada di rumah tadi.
Tidak mungkin ia mengatakan bahwa semua tuduhan Andrew adalah sebuah kebenaran. Ia tidak ingin Delia menjadi sedih dan membenci dirinya.
"Jangan pikirkan masalah biaya, aku yang akan membayar semua tagihan rumah sakit nanti." Andrew muncul dan segera duduk di samping Exel.
"Terima kasih kalau begitu. Suatu saat nanti, pasti akan kuganti," ujar Exel.
Andrew mengangguk. "Sebenarnya aku tidak mengharapkan sejumlah nominal darimu. Aku hanya ingin tahu siapa yang telah memerintahkanmu."
Exel menghela napas. "Kamu belum menyerah soal itu, ya? Jika kukatakan bahwa aku sendiri yang menabraknya karena tidak sengaja, apa kamu akan percaya?"
Andrew menggeleng. "Aku tidak akan percaya, karena aku memiliki bukti bahwa kamu berada di bawah perintah seseorang. Aku hanya perlu memastikannya sebelum aku mengambil tindakan."
"Benarkah? Kalau begitu kamu sudah tahu di bawah perintah siapa aku melukai Pelangi, benar?"
Andrew mengangguk.
"Gisel yang membayarku untuk mencelakai Pelangi. Dan kuberitahu saja padamu, bahwa dia mengirim orang lain untuk merusak hubungan Gilang dan Pelangi sebelum dia melarikan diri."
"Siapa?" tanya Andrew, penasaran.
"Petunjuk kedua akan kuberikan setelah kamu berjanji akan menjelaskan pada Delia bahwa kamu hanya salah paham dan mengira aku adalah seorang pembunuh bayaran."
Bersambung ....