OH MY BOSS

OH MY BOSS
PERMINTAAN CERAI



Cinta, memang serumit itu. Tidak ada yang sederhana dalam sebuah kisah cinta. Cinta, tidak melulu memiliki kisah yang berawal bahagia dan berakhir bahagia. Cinta yang seperti itu hanya ada di negeri dongeng. Cinta yang sempurna milik raja dan ratu dalam kisah yang tidak nyata.


Cinta yang sebenarnya bagai pegunungan, di satu sisi akan terlihat keindahannya, sejuk dan membuatmu nyaman. Akan tetapi, di sisi lain akan terlihat bahwa ada bagian yang mengerikan, jurang, bahkan hutan belantara. Tidak ada yang pernah tahu akhir sebuah perjalanan sang pendaki, sama halnya dengan kisah cinta. Tidak ada yang tahu akan ke mana sebuah kisah cinta berlabuh.


***


Malam menegangkan yang dingin telah berlalu, Pelangi mendapatkan kesadarannya tepat setelah lewat tengah malam. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena Pelangi telah berhasil melewati masa kritisnya. Hal itulah yang dikatakan oleh Dokter Arnold yang menangani Pelangi.


Farhan, Toni, dan Amara yang dengan setia menanti kesadaran Pelangi mengucap syukur, karena bukan hanya Pelangi yang selamat, tetapi bayi di dalam kandungannya pun ikut selamat.


Pelangi sendiri merasa sangat bahagia dan bersyukur karena Tuhan masih mengizinkannya untuk bangun dan kembali menjalani kehidupannya yang indah. Pelangi senang, karena ia masih memiliki waktu untuk bertemu dengan Gilang. Ya, Gilang, hanya pria itu yang terpikir olehnya sejak pertama kali matanya terbuka. Namun, Pelangi tidak melihat keberadaan pria itu di manapun. Bahkan setelah hampir tiga jam ia sadarkan diri.


Amara menenangkan Pelangi dan mengatakan bahwa Gilang sedang pulang untuk membersihkan pakaian, karena pakaian Gilang penuh degan noda darah milik Pelangi.


Amara berbohong, tentu saja. Jika tidak begitu, Pelangi akan terus menanyakan keberadaan Gilang. Sedangkan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu di mana Gilang berada. Farhan Andreas bahkan telah meminta beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan Gilang. Namun, hingga sang surya mulai merangkak naik, belum ada kabar dari satu pun anak buahnya tentang keberadaan Gilang.


Pelangi membuka matanya saat secercah sinar matahari menyelusup masuk dan menimpa wajahnya melalui tirai yang sedikit terbuka. Ia segera menjelajahi ruangan dengan sudut matanya, mencari keberadaan Gilang, tetapi ia lagi-lagi tidak melihat Gilang. Hanya ada Amara yang tertidur sambil terduduk di sebelahnya.


Perlahan Pelangi mengangkat tangannya yang sedikit nyeri saat digerakkan, lalu ia mengguncang tubuh Amara dengan susah payah. "Ra, Amara," gumam Pelangi.


Amara bergerak sedikit, tetapi ia kembali jatuh tertidur. Pelangi tidak menyerah. Ia kembali mengguncang tubuh Amara hingga sahabatnya itu benar-benar duduk tegak dan membuka kedua matanya.


"Oh, hai, Pelangi, kamu sudah bangun?” tanya Amara sambil menguap, lalu mengucek kedua matanya yang masih ingin kembali terpejam.


Pelangi mengangguk sedikit agar kepalanya tidak terasa sakit. "Oh, ya, Ra, di mana Gilang?" tanya Pelangi.


Amara terlihat bingung, rasa kantuknya tiba-tiba saja hilang begitu mendengar pertanyaan Pelangi.


"Ra, di mana Gilang." Pelangi mengulang pertanyaannya, karena Amara tidak kunjung memberikan jawaban.


"Oh, anu, dia ke kantor bersama dengan Toni." Amara menjawab sebisanya.


Dahi Pelangi mengernyit. "Sepagi ini? Baru juga jam setengah tujuh." Pelangi menunjuk jam yang menempel di dinding.


Amara diam sejenak, lalu menjawab, "Kemarin banyak pekerjaan yang terbengkalai karena dia seharian menjagamu. Rapat direksi bahkan harus dibatalkan. Itulah sebabnya, sepagi ini Gilang berangkat dengan Toni, karena memang banyak yang harus diurusnya hari ini."


"Oh, begitu," ujar Pelangi.


"Ya, begitulah. Oh, ya, ngomong-ngomong, bagaimana perasaanmu? Apa masih sangat sakit? Dan apa ada sesuatu yang ingin kamu makan." Amara berusaha mengganti topik pembicaraan agar Pelangi tidak terus-terusan menanyakan ke keberadaan Gilang, karena sejak kemarin hingga pagi ini Gilang belum memberikan kabar di mana ia dan sedang apa.


"Aku tidak ingin makan," ujar Pelangi, yang tiba-tiba saja semangatnya menghilang saat mengetahui bahwa Gilang tidak ada di sampingnya.


"Aku bukan bertanya padamu. Aku bertanya pada si bayi yang ada di dalam perutmu. Peduli amat tentang dirimu, ih."


Pelangi cemberut mendengar ucapan Amara. Ia tahu jika sahabatnya itu hanya bercanda dan menggodanya.


"Bubur saja kalau begitu," ujar Pelangi sambil mengelus perutnya. "Si bayi rindu sekali pada ayahnya."


Amara mencubit pipi Pelangi dengan gemas. "Sembuh dulu, setelah itu kalian bisa saling melepas rindu di atas ranjang selama seminggu lebih."


Pelangi tertawa. "Dasar mesum. Kenapa pikiranmu hanya fokus ke sana. Aku hanya ingin melihat wajahnya dan menggenggam tangannya. Itu saja sudah cukup."


Pelangi memusatkan perhatiannya kepada Amara sekarang, karena Amara terlihat sangat serius, tidak seperti biasanya. "Ada apa?” taya Pelangi.


Amara menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Nyawamu sedang dalam bahaya. Ada seseorang yang berusaha untuk membunuhmu, Pelangi. Dan aku yakin sekali, ketika mengetahui bahwa kamu telah sadar, orang itu pasti akan datang kemari dan berusaha untuk menghabisi nyawamu untuk yang ketiga kalinya."


"Jangan bercanda, Ra."


Amara berdecak. "Aku serius, Pelangi. Sekarang dengarkan aku dan jangan memotong ucapanku. Jadi, saat mengetahui bahwa kamu mengalami kecelakaan, aku merasa sangat bersalah karena tidak memperingatkanmu akan bahaya yang mungkin saja mengincarmu. Kemarin dengan mata kepalaku sendiri aku melihat Bu Atika berusaha untuk mencelakaimu. Aku juga dengar dengan telingaku sendiri, kalau ada orang lain yang ditugaskan untuk menghilangkan nyawamu."


Pelangi terlihat serius. Namun, sejurus kemudian ia tertawa dan memukul pundak Amara. "Berhentilah menonton sinetron. Dasar!"


Amara gemas sekali karena Pelangi tidak menganggap serius ucapannya. Gadis itu bangkit berdiri dan mengambil ponselnya. "Apa perlu aku telepon Bu Atika sekarang dan bertanya langsung padanya."


"Lalu, dia akan mengaku kalau dia memang ingin menghabisi nyawaku? Semudah itu?"


Amara menggeleng. "Dia pasti tidak akan mengaku, tapi dia tidak akan berhasil menyembunyikan rasa bersalahnya. Kemarin saja saat bertemu denganku di lantai satu kantor, dia terlihat gugup. Dia bahkan menolak saat Pak Toni mengajaknya ikut serta ke rumah sakit."


"CK, dia pasti sibuk, Ra, itulah sebabnya dia menolak untuk ikut." Pelangi masih berusaha berpikir masuk akal. Mana mungkin Bu Atika ingin membunuhnya.


"Kamu tahu di bawah perintah siapa Bu Atika melakukan semua itu? Gisel. Kekasih Pak Gilang, La." Amara tidak memedulikan penilaian Pelangi, ia tetap menjelaskan apa yang dilihatnya dan didengarnya secara langsung, berharap Pelangi tidak terlalu bodoh dan menyangkal semua kenyataan itu.


Mendengar nama Gisel disebut, keraguan Pelangi lantas menghilang. Ia tahu betul bagaimana perangai Gisel. Menghabisi nyawa orang lain bukanlah perkara yang sulit bagi Gisel, mengingat Gisel sangat egois dan kejam.


***


Farhan Andreas terlihat gelisah begitu mendapat kabar dari beberapa anak buahnya bahwa mereka belum menemukan Gilang. Toni yang telah berusaha melacak keberadaan Gilang pun tidak dapat menemukan di mana pria itu sekarang, karena Gilang mematikan pelacak pada ponselnya.


Farhan mondar-mandir di ruang kerjanya. Menghubungi Andrew yang juga tidak jelas di mana keberadaannya. Biasanya Andrew sangat bisa diandalkan. Selama ini Andrew memang diberinya tugas untuk mengurusi hal-hal penting dan rahasia. Tidak pernah sekali pun Andrew gagal menjalankan tugasnya, termasuk menyelamatkan Pelangi dari kejaran rentenir dulu sekali, hingga rencana menjebak Gilang yang juga sukses Andrew lakukan.


Baru belakangan inilah Andrew mulai kehilangan kredibilitasnya, sebab pria itu melibatkan perasaannya yang terjatuh pada sosok Pelangi.


Farhan membanting ponselnya ke seberang ruang tamu dengan keras, membuat ponselnya pecah. "Untuk apa punya ponsel, jika dua putraku tidak ada yang bisa dihubungi. Ke mana mereka berdua?! Sial sekali aku ini!" teriak Farhan dengan suara gemetar.


Toni segera menghampiri Farhan dan menuntun pria tua itu untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu. "Tenangkan diri Anda, Pak. Tidak ada gunanya menghabiskan tenaga untuk memaki mereka berdua, toh mereka berdua tidak ada di sini sekarang."


Farhan mengatur napas, kemudian meminta segelas air pada Toni yang dengan cepat meraih sebotol air mineral dan sebuah gelas kaca yang memang selalu tersaji di atas perapian elektrik.


"Terima kasih," gumam Farhan.


Toni mengangguk, kemudian berkata. "Aku akan turun tangan langsung untuk mencari Gilang. Semoga aku dapat menemukannya, setelah aku bertemu dengannya, aku akan langsung mengabari Anda, Pak."


"Tidak usah repot-repot. Aku sudah datang." Pintu mendadak terbuka dan sosok Gilang yang terlihat berantakan muncul dari balik pintu tersebut.


"Gilang, dari mana saja kamu? Kami semua sangat mengkhawatirkanmu." Toni egera menghampiri Gilang.


"Aku ingin bercerai dari Pelangi. Aku sudah tahu semuanya."


Bersambung ....