OH MY BOSS

OH MY BOSS
KETAKUTAN PELANGI



Toni keluar dari ruang rapat begitu mendapat telepon dari Amara yang mengabarinya bahwa Pelangi hampir saja tertembak. Siang ini Toni memang memimpin rapat untuk menggantikan Gilang yang sedang meninjau lokasi pembangunan hotel baru bersama dengan Surya.


Saat rapat sedang berlangsung, Amara meneleponnya dan mengabari dengan singkat bahwa Pelangi baru saja diserang. Jelas saja Toni langsung berlari keluar ruangan bahkan tanpa mengatakan apa pun pada peserta rapat.


Toni berlari menuju elevator yang terletak di ujung lorong secepat yang ia bisa. Ketika pintu elevator terbuka, ia segera masuk ke dalam elevator dan menekan tombol yang akan membawanya menuju lobi di lantai satu. Di dalam elevator, tak henti-hentinya Toni menghubungi Andrew. Seharusnya Andrew bertugas untuk menjaga Pelangi secara diam-diam seperti biasanya. Jika Pelangi sampai diserang, kemungkinan besar Andrew sedang tidak ada di tempat. Jika Andrew lagi-lagi kedapatan tidak ada di tempat untuk menjaga Pelangi, maka habislah Andrew kali ini. Farhan Andreas pasti akan mengamuk habis-habisan.


Pintu elevator terbuka, tanpa menunggu lebih lama Toni kembali berlari menyeberangi lobi. Sesampainya di pintu keluar Toni berpapasan dengan Amara yang berjalan dengan cepat sembari menangis.


"Hai, Ra," sapa Toni. "Kamu akan pulang?"


Amara mengangguk. "Tentu, Pak, memangnya mau ke mana lagi." Amara menjawab sambil sesenggukan. Amara telah menangis sejak pertama kali mengetahui bahwa Pelangi diserang di tempat umum. Awalnya Amara pikir, Suster An yang sedikit judes itu hanya sedang mengerjainya saat mengatakan bahwa Pelangi baru saja diserang dan tidak bisa menerima telepon untuk sementara ketika ia menelepon ke rumah dan ingin bicara pada Pelangi. Namun, suara bising yang terdengar di rumah sedikit banyak tertangkap oleh telinga Amara yang saat itu sedang menelepon.


"Hubungi Dokter Virza sekalian, Pelangi pasti syok. Sialan, siapa orang yang berani mengarahkan pistolnya pada menantuku!"


Amara tidak mungkin salah dengar, ia tahu betul kalau suara itu adalah suara Farhan, dan jika Farhan sepanik itu, itu berarti apa yang dikatakan oleh Suster An benar adanya. Maka, tanpa pikir panjang lagi, Amara segera menghubungi Toni dan memutuskan utuk pulang dan tiba di rumah secepatnya.


"Ayo, ikut saja denganku kalau begitu." Toni meraih pergelangan tangan Amara dan segera menarik gadis itu menuju mobilnya yang terparkir di halaman parkir.


Tidak banyak yang bisa dilakukan Amara selain menuruti ajakan Toni, toh hanya dengan begitu ia dapat tiba secepat mungkin di kediaman Farhan Andreas ketimbang ia menggunakan angkot.


perjalanan menuju kediaman Farhan Andreas terasa begitu lama. Padahal sebelumnya Amara tidak pernah merasa demikian. Dalam keheningan yang tercipta di sekitarnya dan Toni, Amara merasa bahwa jantungnya berdetak seratus kali lebih cepat dari biasanya. Ia panik, tentu saja. Bagaimana bisa sahabatnya diserang dengan senjata api di siang hari, terlebih lagi penyerangan itu terjadi di keramaian, di sebuah pusat perbelanjaan.


"Siapa yang begitu ingin menghabisi nyawa Pelangi?" gumam Amara.


"Jangan terlalu khawatir. Pelangi pasti baik-baik saja. Dia itu wanita yang super duper kuat," ujar Toni, mencoba untuk menghibur Amara yang masih menangis sesenggukan di sebelahnya.


"Ya, Pelangi memang sangat kuat. Tidak ada yang bisa menghancurkan dirinya, bahkan penderitaan paling sulit sekali pun, tetapi jika bertubi-tubi seperti ini, aku rasa siapa pun akhirnya akan tumbang juga. Apalagi sekarang dia tengah mengandung. Menghadapi kenyataan bahwa ada seseorang yang menginginkan nyawanya, bukan hanya sekali, tapi berkali-kali pasti rasanya tidak mudah."


Toni diam saja. Ia tahu apa yang dikatakan Amara sama sekali tidak salah. Pelangi pasti terguncang. Di saat Pelangi sedang menanggung sebuah kehidupan di dalam rahimnya, di saat itu juga Pelangi hampir mati, bukan hanya sekali, dua kali, tapi berkali-kali.


"Aku sebagai sahabat Pelangi yang telah hidup bersamanya sejak kami masih sama-sama kecil, ingin agar kasus ini diusut sampai tuntas. Pelakunya harus ditemukan, bagaimanapun caranya. Jangan sampai permasalahan seperti ini terbengkalai seperti kasus sebelumnya, saat Pelangi ditabrak mobil dan hampir mati."


Toni mengangguk. "Jangan khawatir. Untuk masalah yang satu ini, aku yang akan kawal. Akan aku cari tahu pelakunya dan menghukumnya setimpal."


***


Terlihat kesibukan di kediaman Farhan Andreas. Beberapa orang pelayan menangis di teras sambil berpelukan. Mereka adalah rekan kerja Aminah yang tewas saat sedang berusaha melindungi Pelangi di pusat perbelanjaan beberapa waktu lalu. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka jika gadis polos yang rajin itu akan meregang nyawa siang ini.


Sementara itu di kamar Pelangi, Pelangi masih terus menangis sembari memeluk kedua lututnya. Ia meringkuk ketakutan di sudut ruangan, menenggelamkan wajah di antara kedua lutut. Pelangi bahkan akan berteriak histeris saat ada orang yang berusaha untuk mendekat.


Hal itu membuat dokter kesulitan untuk memeriksa keadaan kandungan Pelangi, jangankan disentuh, dihampiri saja Pelangi akan langsung berteriak histeris.


"Kita tidak bisa memaksanya, Pak, dia begitu ketakutan melihat orang lain," ujar Dokter Virzha, menatap Pelangi dengan khawatir.


Suster An yang sedang berdiri di belakang Farhan Andreas pun mengambil inisiatif untuk menghampiri Pelangi dan membujuk wanita itu agar bersedia untuk di periksa.


"Hai, Pelangi, bangunlah sebentar dan berbaringlah di ranjang. Dokter harus memeriksa kandunganmu, memastikan apakah si bayi baik-baik saja. Jika kamu tidak bersedia, mana bisa kita memeriksa keadaan si bayi," bujuk Suster An.


Pelangi yang sejak tadi menunduk menatap lantai, perlahan mendongak dan menatap Suster An yang berjongkok di hadapannya. "Mereka bukan dokter. Mereka itu penjahat yang akan menembakku. Mereka ingin menembakku dan membunuhku. Aku tahu itu, mereka semua ingin aku mati. Mereka ingin aku mati!" desis Pelangi dengan kedua mata yang semakin merah dan terlihat sorot ketakutan dengan jelas di mata bulatnya.


Suster An menyentuh pundak Pelangi dan meremasnya dengan lembut. "Tenanglah, tidak mungkin ada orang yang ingin menembak Anda di sini. Kami semua yang ad adi sini adalah pelindung Anda, percayalah padaku dan mari kita periksa bagaimana keadaan bayimu."


Pelangi menepis tangan Suster An, lalu kembali memeluk lututnya dengan kuat dan menenggelamkan wajah di antara kedua lutut seperti yang sejak tadi dilakukannya. "Aku tidak percaya pada siapa pun. Mereka semua orang jahat. Aku hanya ingin Gilang."


Melihat tanggapan Pelangi, Suster An pun menyerah. Ia bangkit berdiri dan kembali menghampiri Dokter Virzha dan juga Farhan yang berdiri tidak jauh di belakangnya. "Dia syok berat. Aku rasa jiwanya sangat terguncang. Kita butuh Gilang atau Andrew sekarang, atau Amara, hanya mereka bertiga yang bisa menenangkan Pelangi, karena hanya mereka bertiga yang Pelangi percaya."


Farhan menghela napas, wajahnya menyiratkan kesedihan dan kemarahan yang menjadi satu. Tubuh Farhan mulai limbung, untunglah Suster An bergerak dengan gesit, ia menahan tubuh Farhan agar tidak terjatuh.


"Mari kuantar Anda ke kamar Anda, Pak. Anda butuh istirahat," ujar Suster An.


"Tidak, Pak, Anda harus tetap istirahat, karena jika tidak, kesehatan Anda akan kembali drop. Kita harus beri Pelangi waktu, kehadiran kita di sini tidak akan berdampak apa-apa." Suster An masih mencoba untuk memberi penjelasan kepada Farhan.


Farhan diam sejenak, menatap Pelangi yang masih meringkuk di sudut kamar dengan bahu terguncang. "Kasihan sekali dia. Apa salahnya sehingga dia terus mendapat perlakuan kejam dari orang-orang yang kurang ajar?" gumam Farhan. Kemudian ia berteriak memanggil Tito. "Tito, hubungi kantor detektif swasta. Minta mereka untuk datang kemari sekarang juga. Aku harus tahu siapa dalang di balik semua kekacauan ini."


Tito mengangguk, sebelum akhirnya ia berlalu dari hadapan Farhan.


***


Gisel meradang, beberapa peralatan makan yang tadinya tertata rapi di atas meja sekarang telah berserakan di lantai, pecah menjadi bentuk tak beraturan. Beberapa bahkan ada yang melukai tangannya, tetapi ia tidak peduli.


"Sial, sial, sial! Kenapa mereka menembak? Apa aku memerintahkan mereka untuk menembak? Kan sudah jelas perintahku, awasi Pelangi hingga pesta nanti malam!" Gisel meremas rambutnya dengan gemas. Ia kesal sekali, karena tindakan bodoh anak buah Alex, bisa-bisa rencananya menjadi gagal.


Alex mendengkus kesal melihat kemarahan Gisel yang menurutnya sudah kelewatan. Bukannya bersikap baik karena telah ditolong dari keterpurukan dan diberi tumpangan tempat tinggal, Gisel malah selalu marah-marah.


"Sudah kukatakan padamu kan bahwa salah satu dari anak buahku menembak Ringgo tepat di depan Pelangi karena pria gembel sialan itu ingin membocorkan rahasia kita pada Pelangi. Jadi, tidak salah jika akhirnya anak buahku menembak Ringgo, karena jika tidak, semuanya akan semakin kacau. Seharusnya kamu bersyukur karena salah satu dari mereka melepaskan pelurunya ke Ringgo. Jika tidak, mungkin wajahnya sudah terpampang di selebaran dengan tulisan DICARI." ujar Alex.


Gisel melirik Alex yang sejak tadi masih duduk dengan santai di kursi berlengannya tepat di depan sebuah jendela besar yang mengarah ke halaman depan, Sehingga Alex dapat dengan mudah mengawasi siapa saja dari atas sana dengan teropong yang ada di samping tubuhnya.


Gisel melunak, ia sadar bahwa apa yang dikatakan oleh Alex ada benarnya juga. Ia hanya kesal saja karena dengan kejadian siang ini, Pelangi pasti akan lebih sulit dijangkau. Wanita itu pasti akan semakin ketat diawasi, malahan bisa jadi Pelangi dilarang untuk keluar rumah dalam beberapa minggu ke depan. Jika sudah begitu, maka semua rencana Gisel akan kembali berantakan untuk kedua kalinya.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Gisel.


"Menunggu."


Gisel memutar bola matanya dengan kesal. Setelah menunggu selama berbulan-bulan untuk menyusun rencana balas dendamnya pada Pelangi, sekarang di hari H, mana bisa ia menunggu lagi. Ia sudah sangat tidak sabar ingin melihat Pelangi menderita.


Alex tertawa melihat ekspresi kesal di wajah Gisel. "Kamu belum berubah rupanya. Masih pemarah dan tidak sabaran. Bagaimana kalau kita habiskan waktu menunggu inj dengan cara yang menyenangkan." Alex bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Gisel.


Gisel menaikan sebelah alisnya, sembari membuka satu per satu kancing blues-nya, ia tahu apa yang diinginkan Alex sekarang ini darinya. Setelah sekian lama tak berjumpa, hubungan mereka pun meregang. Jangankan bercinta, melakukan sentuhan-sentuhan kecil saja mereka hampir tidak pernah.


"Aku tidak akan menolak," ujar Gisel, melempar blues-nya ke sudut ruangan dan berbaring di atas sofa, membiarkan Alex melakukan apa pun yang pria itu suka dengan tubuhnya, toh ia sudah lama sekali tidak merasakan nikmatnya bercinta.


***


Exel mengetuk pintu kamar tempatnya menginap dengan tidak sabaran. Ia bahkan ingin menendang pintu itu jika dalam beberapa detik kedepan pintu tidak juga kunjung terbuka. Namun, ia tidak perlu merusak pintu di hadapannya karena pintu perlahan terbuka sesaat setelah ia mengetuk.


"Kamu sedang dikejar zombie?" Pertanyaan itu langsung terlontar dari bibir Delia begitu melihat Exel yang berdiri di depan pintu dengan wajah yang berkeringat dan napas terengah-engah


Exel tidak menjawab. Ia langsung masuk ke dalam ruangan dan mencari keberadaan Andrew. "Di mana Andrew? Bukankah dia mengantarkan makanan kemari tadi."


"Dia ada di balkon, sedang menelepon pihak pemasaran salah satu perumahan. Dia bilang kita akan pindah ke sebuah rumah yang tidak terlalu jauh dari rumah Pelangi. Aku yang memintanya, karena aku sangat menyukai Pelangi dan juga Amara." Delia terus mengoceh sambil mengikuti langkah Exel menuju balkon.


Setibanya di balkon, Exel segera meninta Andrew untuk mematikan teleponnya dengan bahasa isyarat.


Andrew tadinya enggan menuruti apa keinginan Exel, memangnya pria itu siapa sehingga dapat dengan mudah memerintah dirinya. Namun, melihat ekspresi kesal dan khawatir di wajah Exel, membuat Andrew akhirnya memutuskan panggilan.


"Ada apa, hah?Jika aku sedang menelepon, jangan sekali pun kamu menggangguku!" Andrew mengomel.


Exel mengibaskan tangan di hadapan wajah Andrew, meminta pria itu untuk diam, setelah keadaan menjadi hening barulah Exel mulai bicara. "Pelangi hampir saja tertembak. Dia baru saja diserang oleh orang tak dikenal di Big Market. Salah satu pelayan yang menemaninya bahkan meninggal di tempat karena tertembak tepat di kepala."


Wajah Andrew memucat. "Dari mana kamu dapat berita ini?"


"Amara mengirimkan pesan padaku. Toni meneleponmu sejak tadi, tapi tidak bisa tersambung. Mereka sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah Pak Farhan, dan Toni memintamu untuk datang ke sana juga."


"Sial!" gumam Andrew, lalu tanpa mengatakan apa pun lagi, ia segera berlari keluar dari kamar hotel dengan rasa bersalah dan khawatir yang menghantam dadanya.


Bersambung ....