OH MY BOSS

OH MY BOSS
EXEL BERKORBAN



Gisel terus menginjak pedal gas pada mobil yang sedang ia kendarai, tidak peduli pada lampu lalu lintas yang berubah menjadi merah dan mengharuskannya untuk berhenti, ia tetap saja melaju dengan cepat dan menerobos lampu lalu lintas tersebut.


Gisel juga menekan klakson berkali-kali agar kendaraan lain yang ada di depannya segera menepi. Ia tidak ingin memelankan laju kendaraannya. Bukan karena ia takut tertangkap, tetapi ia terlalu terkejut dan tidak menyangka bahwa rencananya gagal, dan yang lebih mengejutkannya lagi, bukannya Pelangi yang ia tabrak dan meregang nyawa di hadapannya, tetapi justru Exel. Teman masa kecilnya saat ia masih tinggal di panti asuhan. Lalu, wanita bermasker yang ditemuinya di dalam elevator Hotel Savari beberapa waktu lalu, wanita itu ternyata adalah Delia.


Teriakan histeris Delia dan wajah terkejutnya beberapa saat yang lalu terus melintas di dalam ingatan Gisela. Membuat Gisel merasa bersalah dan berdosa di waktu yang sama.


Setelah mengendarai mobilnya cukup jauh, akhirnya Gisel menghentikan mobilnya di tepi jalan, di bawah pohon akasia yang tumbuh rindang di pinggiran kota.


"Argh, sial, sial, sial!" Gisel berteriak dan memukuli kemudi yang ada di hadapannya. Ia bahkan mengantupkan kepalanya di kemudi itu. "Bagaimana bisa Exel? Bagaimana bisa Exel melakukan ini padaku?! Bagaimana bisa?" Gisel menangis sejadi-jadinya. Dadanya sesak, seolah ada batu besar yang menimpa dadanya. Perasaan bersalah seketika memenuhi dadanya, membuatnya kesulitan bernapas.


"Dia tidak boleh mati. Exel tidak boleh mati. Kumohon, kuatlah Exel, bertahanlah." Gisel berucap dengan bibir gemetar, suaranya serak dan penuh dengan penyesalan. Bagaimana pun juga ia dan Exel tumbuh besar bersama. Exel sudah seperti kakak baginya, yang selalu melindunginya dan melindungi Delia setiap saat. Jika sampai Exel kehilangan nyawa karena perbuatannya, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri sampai kapan pun.


***


Pelangi gemetar, kepalanya terasa begitu sakit karena menghantam pembatas jalan saat seorang pria mendorong tubuhnya secara tiba-tiba hingga ia terjatuh beberapa waktu lalu. Dan sekarang pria yang tadi mendorongnya tergeletak tidak sadarkan diri di tengah jalan. Tubuhnya bersimbah darah dalam posisi tengkurap.


Pelangi memcoba untuk bangkit berdiri dengan perlahan, karena ia juga merasakan nyeri pada kaki dan lengannya.


Setelah tubuhnya berhasil berdiri dan rasa nyeri di kepalanya sedikit berkurang barulah ia menyadari bahwa udara di sekitarnya dipenuhi dengan suara teriakan dan tangisan Delia yang histeris.


Delia berdiri tidak terlalu jauh dari tubuh Exel yang tergeletak di aspal. Wanita itu terlihat syok sekali. Perlahan Pelangi menghampiri Delia dan menyentuh pundak wanita itu.


"Kamu mengenalnya?" tanya Pelangi.


Delia menatap Pelangi dan mengangguk. "Kamu juga mengenalnya, dan baru saja dia menyelamatkanmu."


Pelangi berjongkok dan memberanikan diri untuk menyentuh tubuh Exel, tepat ketika orang-orang mulai berdatangan untuk menolong Exel.


"Tabrak lari. Dia korban tabrak lari!" teriak seseorang yang merupakan pedagang es krim di dekat tempat kejadian.


Seorang pria yang menghampiri Exel segera membalik tubuh Exel ke posisi telentang, dan di saat itulah ingatan Pelangi kembali. Serbuah kilasan tentang Exel perlahan bermunculan di kepalanya ketika ia melihat wajah Exel. Walaupun wajah tampan itu penuh dengan darah, tetapi Pelangi masih dapat mengenalinya.


"Exel," gumam Pelangi, dan ia pun menangis. "Tolong telepon ambulans. Tolonglah, Pak," pinta Pelangi, pada pria yang tadi membalik tubuh Exel.


"Saya sudah menelepon ambulans. Kita tunggu saja," ujar pria itu.


Pelangi mengangguk sembari menyeka air matanya. "Jika dia Exel, itu berarti wanita tadi adalah Delia," gumamnya, kemudian segera berbalik untuk melihat keadaan Delia. Namun, ia tidak menemukan Delia di tempatnya tadi berdiri.


"Teman Anda pingsan. Beberapa orang membawanya ke kursi-kursi yang berjejer di pedagang es krim," ujar seorang pria.


Pelangi mengangguk, walaupun sekarang ia merasa kepalanya sakit sekali hingga membuat penglihatannya tidak jelas.


"Aku harus tetap sadar. Ya, aku harus tetap sadar." Pelangi bergumam.


Beberapa menit kemudian suara sirene ambulans terdengar di kejauhan. Pelangi yang sudah terlihat pucat tidak lagi dapat bertahan. Setelah melihat tubuh Exel dimasukan ke dalam ambulans, ia pun jatuh pingsan.


Bersambung ....