
Amara menggerak-gerakan kakinya dengan gelisah di dalam ruangan Toni. Ruangan yang didominasi dengan cat berwarna tosca dan putih itu terlihat cerah dan luas, nyaman sekali untuk dipandangi saat hati sedang gundah seperti sekarang ini. Tidak banyak barang yang ada di dalam ruang kerja Toni, hanya sebuah rak buku dan meja kerja, juga sofa minimalis untuk menerima tamu yang dilengkapi dengan meja berkaki pendek di depannya. Tidak banyak yang berubah sejak satu tahun yang lalu, Toni tetap sosok yang sederhana. Tidak ada barang mewah yang menghiasi ruangannya, walaupun ia adalah salah satu orang kepercayaan keluarga Andreas. Toni memang bukan tipe yang suka menghambur-hamburkan uang.
Sudah dua jam Toni meminta Amara untuk menunggu, sementara pria itu sibuk seperti biasanya menyelesaikan urusan-urusan kantor yang seharusnya Gilang selesaikan.
Amara mulai merasa bosan, hingga ia memutuskan untuk bangkit berdiri dan berjalan menuju rak buku, ia berniat untuk mencari buku yang bagus untuk dibaca. Tetapi bukannya menemukan buku yang menarik, ia malah menemukan tumpukan majalah bisnis yang menarik perhatiannya, yaitu sebuah majalah yang tersembunyi di rak paling bawah. Majalah itu adalah majalah yang dilarang edar satu tahun lalu, majalah yang menceritakan bagaimana kejatuhan Andreas Group hingga kecelakaan yang dialami oleh sang Direktur dan istri yang kemudian menghilang tanpa jejak.
Amara membungkuk untuk meraih satu buah majalah dan membuka-buka halamannya tepat saat pintu terbuka dan Toni memasuki ruangan.
"Maaf lama menunggu, ada beberapa rapat direksi yang harus aku cancel dan beberapa surel yang harus aku balas di laptop Gilang."
Amara mengangguk dan berjalan menghampiri Toni yang terlihat sibuk menyalakan laptopnya sendiri di meja kerja.
"Apa ini?" tanya Amara, sembari melambaikan majalah bisnis di hadapan Toni. "Bukankah majalah ini dilarang edar dan ditarik kembali."
"Ya, memang."
"Tapi kamu menyimpannya. Untuk apa coba?" Amara kembali bertanya dengan penasaran.
Toni tersenyum, senyum yang membuat Amara sesak napas. "Aku menyimpannya untuk misi-misiku, salah satunya sudah kuberikan pada seseorang bernama Joko beberapa hari lalu di Hotel Mentari."
Amara mengerutkan dahinya, ia masih tidak mengerti pada apa yang Toni katakan. Toni memang sempat menahannya agar tidak bertemu dengan Gilang terlebih dahulu saat ia tiba di Hotel Mentari. Itulah sebabnya Toni mengurungnya di dalam kamar pria itu agar Amara tidak kembali mendatangi Gilang dan membuat kekacauan seperti yang sebelumnya ia lakukan.
"Aku tidak paham pada ucapanmu. Kamu seperti sedang bermain teka-teki."
Toni menghampiri Amara, lalu menyentuh pundak wanita itu. "Percaya saja padaku. Aku akan membuat Pelangimu kembali. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan padamu sekarang, tetapi aku rasa kamu berhak tahu, mengingat kamu memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Pelangi."
"Apa, apa maksud ucapanmu?"
Toni menghela napas, kemudian ia berkata, "Pelangi, dia masih hidup, Ra."
"Apa? Jangan bercanda." Suara Amara tercekat, ia tidak percaya pada apa yang Toni ucapkan, tetapi di sisi lain ia sangat bahagia mendengar berita itu. Ingin rasanya ia melompat karena bahagia dan menyeret Toni agar membawanya bertemu dengan Pelangi saat itu juga.
"Aku tidak bercanda. Dia bekerja di Hotel Mentari sebagai karyawan bagian kebersihan. Saat bertemu dengannya, kami semua terkejut, termasuk Pak Farhan dan Andrew. Tito juga, aku melihat Tito beberapa kali menangis setiap menatap Pelangi."
"Kenapa kamu tidak mengatakan semua ini padaku saat kita di sana?" Amara protes.
"Pelangi sama halnya dengan Gilang. Dia tidak ingat pada kita semua, bahkan pada Gilang pun tidak. Dia hidup sebagai Raina, putri angkat seorang wanita tua bernama Bu Siti di Desa Tanpa Nama. Aku sudah menyelidikinya dan aku juga tahu bahwa salah satu teman Pelangi sedang menyelidiki tentang kehidupan Pelangi sebelumnya karena dia penasaran kenapa Pak Farhan dan Andrew menyebut Raina sebagai Pelangi. Aku menemui pria itu dan memberikan semua informasi yang dia butuhkan, bahkan majalah ini juga."
Amara menangis begitu mendengar penjelasan Toni. Tubuhnya gemetar dan ia terduduk lemas di kursi yang ada di hadapan meja kerja Toni.
"Maaf, karena selama ini aku berpikiran buruk tentangmu. Aku pikir kamu sejahat Pak Farhan dan Andrew yang membiarkan Gilang melupakan Pelangi."
Toni berlutut di hadapan Amara, kemudian meremas tangan wanita itu dan mengecupnya. "Tidak ada yang berniat demikian di antara kami, Amara. Kami hanya menunggu saat yang tepat untuk mengatakan semuanya pada Gilang. Kami tidak bisa memaksa sebuah kenangan masuk ke dalam ingatannya, sementara dia sangat menikmati kehidupannya dengan ingatan empat tahun yang lalu. Jika kami melakukan itu, bisa jadi Gilang akan bingung dan otaknya akan semakin kacau. Jika sudah begitu, maka tidak akan ada harapan sama sekali."
"Lalu, bagaiman dengan rencana pernikahan Gisel dan Gilang. Aku dengar mereka akan menikah awal tahun depan, itu berarti kurang dari satu bulan lagi kan. Apa kalian akan tetap diam saat Gilang ngotot ingin melamar Gisela nanti."
Toni mengusap air mata Amara yang masih terus mengalir menuruni pipi. "Itu bagian Andrew. Andrew memiliki rencana bagus yang akan membatalkan niat Gilang untuk melamar Gisel. Serahkan saja padanya."
Amara tersenyum dan segera memeluk Toni,yang disambut hangat oleh Toni. "Terima kasih banyak karena sudah menjelaskan segalanya padaku. Aku merasa malu sekali karena telah menilaimu dengan begitu buruk. Begitu juga dengan Andrew dan Pak Farhan."
"Jangan minta maaf, aku tahu bagaimana perasaanmu. Jika kamu berjanji tidak akan mengacau dan bisa mengendalikan diri, akan kubawa kamu bertemu dengan Raina."
Amara melepaskan pelukannya pada tubuh Toni dan mendongak agar dapat menatap wajah pria itu. "Sungguh?" lirihnya.
Toni mengangguk. "Sungguh."
"Aku janji akan mengendalikan diriku."
Toni menepikan rambut panjang Amara yang menempel di pipinya yang basah ke belakang telinga. "Tapi sekarang aku yang kehilangan kendali akan diriku," ujarnya, lalu mengecup bibir Amara dengan lembut dan mesra, membuat kaki Amara seketika menjadi lemas dan ia kembali pasrah pada kelembutan Toni.
***
Gisel memasuki apartemennya dengan tergesa-gesa dan segera menutup pintunya. Ia bahkan berlari ke seberang ruangan, melempar tas tangannya ke sembarang arah, menutup semua jendela dan tirai yang ada di ruangan itu, lalu beralih ke kamar dan melakukan hal yang sama juga di sana.
"Dia pasti hantu. Ya, dia pasti hantu." Kalimat itu terus keluar dari bibir Gisela sejak ia keluar dari kamar Gilang, hingga ia kembali tiba di apartemennya. "Mana mungkin orang yang sudah mati hidup kembali," gumamnya lagi.
Setelah semua jendela dan tirai tertutup rapat, Gisel meringkuk di tempat tidur, dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Ingatannya kembali melayang ke waktu yang telah lalu, di mana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Pelangi terjatuh ke jurang. Memang, ia tidak melihat secara langsung mayat Pelangi, tetapi terjatuh ke jurang yang begitu dalam, tidak mungkin jika Pelangi masih hidup dan sehat seperti yang baru saja ia lihat.
Gisel menyingkap selimutnya dan bangkit untuk duduk. "Tapi, dia memperkenalkan diri sebagai Raina. Apa mungkin ada orang yang begitu mirip di dunia ini?" Gisel bergumam seorang diri. Ia lalu bangkit dan berjalan menuju ruang tamu di mana ia meninggalkan tas tangannya tadi.
Dengan cekatan Gisel mengeluarkan ponsel dari dalam tas tangannya, lalu menghubungi sebuah nomor kantor detektif swasta. "Halo," ujar Gisel. "Aku ingin berkonsultasi dan menyewa jasa detektif terbaik di sana. Ya, aku segera ke sana." Gisel memutus panggilan dan segera bangkit berdiri. "Aku harus mencari tahu tentang wanita itu. Ya, hanya dengan begitu hidupku bisa kembali tenang."
***
Saat ini Pelangi sedang duduk di ruang tengah, bersama dengan Gilang yang baru saja tiba dari sebuah toko. Ada setumpuk paper bag dengan berbagai ukuran di atas sofa, mulai dari yang paling besar hingga yang paling kecil.
"Aku tidak butuh ponsel sebagus ini," ujar Pelangi, setelah beberapa saat. "Lalu, apa semua di dalam tas itu?" tanya Pelangi, karena saat meletakkan belanjaan itu di atas sofa, Gilang dengan jelas mengatakan kalau semua barang yang ada di atas sofa itu adalah milik Pelangi.
"Macam-macam. Buka saja sendiri," ujar Gilang, lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Ia benar-benar kelelahan pergi berbelanja seorang diri, apalagi barang yang dibeli bukanlah barang miliknya, sehingga membutuhkan ketelitian yang ekstra agar tidak ada yang salah ia pilih, terutama ukuran.
Pelangi membongkar satu per satu paper bag yang ada di atas sofa. Dalam waktu lima menit saja ia sudah berhasil mengeluarkan sepuluh pasang pakaian dengan bahan super lembut dan mewah yang pasti memiliki harga selangit. Lalu ada sepatu, jam tangan, kaus kaki, ikat rambut, set Make-up, parfum, skincare, bodycare, parfum, aksesoris, tas tangan, baju tidur dan ....
"****** *****, beha! Serius kamu membelikanku barang seperti ini juga?" Wajah Pelangi seketika menjadi merah sekarang. Ia malu, bagaimana bisa Gilang terpikir untuk membelikan pakaian dalam untuknya.
"Ya, cobalah, muat apa tidak. Kalau yang itu tidak muat nanti aku belikan yang baru. Aku tidak tahu apa ukuranmu, Raina. Karena kamu terlihat kurus, maka aku membelikan ukuran yang sedang, tidak kecil dan tidak besar juga." Gilang menjawab dengan santai, ia tidak menyadari jika Pelangj sekarang sedang malu setengah mati. Apalagi ****** ***** dan bra yang Gilang belikan memiliki bentuk yang aneh dan tidak pernah sekalipun Pelangi mengenakan ****** ***** seperti yang Gilang belikan.
Pelangi buru-buru memasukan ****** ***** dan bra ke dalam paper bag. Melihat hal itu, Gilang lantas bertanya, "Apa kamu tidak suka? Atau tidak muat?"
"Ck, bukan itu masalahnya, tapi tidak seharusnya kamu membelikanku dalaman. Aku bisa beli sendiri nanti begitu aku mendapat gaji dari hasil kerjaku."
"Sudahlah, jangan sungkan. Kan aku sudah bilang kalau aku akan memenuhi semua kebutuhanmu. Kamu harus pakai barang yang kubeli untukmu. Aku membelinya dengan penuh perjuangan. Pegawai toko terus-terusan menggodaku, mengatakan bahwa aku adalah calon suami yang ideal untuk anaknya, saat aku katakan bahwa aku belum menikah, dan aku membeli semua barang ini untuk kekasihku."
"Kekasih?"
"Ya, itu lebih masuk akal daripada aku mengatakan kalau aku membeli semua ini untuk asistenku," ujar Gilang dengan malas.
"Ya, tapi, aku kan bukan kekasihmu."
"Itu kan cuma alasan, santai saja, Raina."
Saat sedang asyik berdebat. Amara tiba bersama dengan Toni. Keduanya langsung menuju sumber keributan yang berasal dari ruang tengah.
"Hai, ada apa ini?" Teriak Toni, menengahi perdebatan tidak penting antara Gilang dan Pelangi.
"Oh, hai, Toni. Kamu terlambat, padahal tadi aku hendak mengajakmu berbelanja."
Toni menaikan sebelah alisnya. "Karen aku terlambat, apa semua ini kamu sendiri yang membelinya?" Toni menatap tumpukan paper bag di atas sofa.
"Ya, aku melakukannya seorang diri. Rekor, bukan?"
Toni mengangguk. "Sebelumnya kamu tidak pernah melakukan ini. Apalagi berbelanja kebutuhan wanita, lihatlah bahkan ada sabun pencuci ****** juga." Toni meraih sebuah botol yang terjatuh dari salah satu paper bag.
Pelangi buru-buru merebut botol itu dari tangan Toni, membuat ia menumpahkan isi paper bag yang sedang ia pegang, yaitu bra dan ****** ***** bermodel G-String yang super seksi.
Amara membungkuk, membantu Pelangi memasukan kembali ****** ***** dan bra yang tercecer di lantai.
"Trims," ujar Pelangi. Bukannya membalas ucapannya, wanita yang ada di hadapannya malah menangis, dan hal itu membuat Pelangi bingung.
Toni buru-buru menghampiri Amara dan membantu wanita itu untuk berdiri. "Hai, Amara, ingat janjimu. Kendalikan dirimu," bisiknya.
Amara segera menyeka pipinya yang basah, lalu tersenyum ke arah Pelangi. "Maaf, aku masih sedikit terbawa perasaan. Tadi saat dalam perjalanan aku menangisi drama korea yang kutonton. Tidak kusangka, jika rasa sedihnya masih terasa hingga sekarang." Amara beralasan, walaupun alasannya sama sekali tidak masuk akal, tetapi itu lebih baik daripada membiarkan Pelangi kebingungan.
"Oh, begitu. Tidak apa-apa. Temanku juga selalu menangis saat menonton drama," ujar Pelangi.
"Teman? Kamu memiliki teman lain?" tanya Amara, wajahnya seketika cemberut. Ia tidak
menyangka jika Pelangi benar-benar telah melupakannya.
"Ya, namanya Alia. Dia sahabat terbaiku. Dia pencinta drama korea juga. Dia selalu menonton drama di sela-sela kesibukan kami memetik sayuran di kebun."
"Ngomong-ngomong masalah drama, bagaimana kalau kita pergi menonton malam ini." Toni memberi saran, sebelum tampang Amara yang kecewa semakin tampak jelas terlihat.
"Ide bagus. Sepertinya asyik jika kita menonton di bioskop." Gilang menimpali, walaupun ia belum pernah sekali pun menginjakan kaki di bioskop.
"Oke, kalau begitu aku akan pesan tiket sekarang secara online." Toni segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya, tetapi Gilang menghentikan apa yang sedang Toni lakukan.
"Biar aku saja," ujar Gilang. "Aku akan menyewa satu theater untuk kita berempat."
"Berlima. Aku ikut!"
Bersambung ....