OH MY BOSS

OH MY BOSS
AKU SAYANG KAMU



 


 


 


Dengan berusaha berjalan secara normal, Nena menghampiri Justin dan menggandeng lengan suaminya itu. Bimo keluar dari lift dengan canggung.


Tatapan Justin beralih pada sang istri di sebelahnya. "Kaki kamu masih sakit?" Tanyanya. Nena menggeleng sebagai jawaban, wajahnya tampak murung. Setelah meremas jemari sang istri yang melingkar di lengannya, mereka memutuskan untuk pergi.


"Tunggu! Pak Justin." Seruan Bimo membuat keduanya berhenti, kemudian menoleh. Bimo menghampiri Justin dengan tangan terulur. "Selamat, atas pernikahan kalian," ucapnya.


Justin menyambut uluran tangan mantan calon suami istrinya itu. "Terimakasih," balasnya. Merasakan remasan jari Nena yang semakin kuat di lengannya, pria itu menoleh. Tatapan matanya seolah berkata 'bukan masalah'.


"Saya kesini hanya ingin mengajukan surat pengunduran diri." Bimo menyerahkan sebuah map pada Justin.


Justin menerimanya, membuka sekilas. "Oh, sayang sekali," ucapnya basa-basi. Sebuah obrolan kecil mengalir setelahnya, seolah di antara mereka tidak pernah terjadi apa-apa, hingga akhirnya Bimo pamit undur diri pada pasangan baru di hadapannya itu.


"Mas, kok bisa ada di depan lift? Emang rapatnya udah selesai?" Tanya Nena, saat mereka kembali melangkah menuju ruangan Justin.


"Ah, eum . . . itu." Justin mengusap tengkuknya, "sudah kok," lanjutnya kemudian.


"Tumben cepet." Nena sedikit curiga, namun senyuman sang suami membungkam pertanyaan selanjutnya.


Keduanya masuk ke dalam ruangan besar Justin, melihat cara jalan Nena yang sedikit tertatih membuat pria di sampingnya itu khawatir. "Sepertinya kaki kamu masih bermasalah," tebaknya, kemudian menyuruh Nena duduk di sofa.


"Nggak apa-apa kok, Mas."


"Duduklah, biar saya periksa."


"Memangnya Mas Justin tukang urut?"


"Saya pernah belajar sedikit, soalnya dulu sering olah raga, jadi kalau terkilir bisa diatasi sendiri," tuturnya, berlutut di hadapan Nena untuk memeriksa kaki wanita itu.


"Duh! Sakit, Mas."


"Tahan, sedikit." Justin memutar pelan pergelangan kaki Nena, membuat wanita itu terus mengoceh kesakitan, satu gerakan cepat menghasilkan bunyi kencang yang disusul dengan teriakan Nena dan tabokan di bahu sang suami.


"Patah kaki aku, Mas!" Teriak Nena, matanya berkaca-kaca.


Justin terkekeh sembari mengusap bagian bahu yang dirasa kebas. "Coba gerakin sakit nggak," titahnya, berdiri mengulurkan tangan.


Dengan hati-hati Nena berdiri dengan bantuan sang suami, dan terkejut saat merasakan nyeri di pergelangan kakinya sudah hilang, wanita itu tertawa takjub. "Beneran sembuh, Mas? Kok bisa?" Saking tidak percayanya Nena sampai melompat-lompat kecil dan memeluk Justin, mengucapkan terimakasih. Namun sedetik kemudian langsung melepaskannya dengan canggung.


"Ayo peluk lagi." Merasa tidak puas, Justin menarik lengan Nena untuk kembali memeluknya.


Nena terdiam, dengan kaku melingkarkan tangannya memeluk Justin. "Mas, udah belum?" Tanyanya, namun bukan melepaskan dirinya, pria yang sejak sehari kemarin menjadi suaminya itu malah merengkuhnya semakin erat.


"Bentar lagi." Justin tersenyum, memejamkan mata. Mengingat terakhir kali dia memeluk Nena yaitu saat sehari sebelum wanita itu akan  menikah dengan orang lain, tetapi sekarang, wanita dipelukannya ini malah Sudah sah jadi istrinya, benar-benar sulit dipercaya. "Anggap aja imbalan buat jasa tukang pijit."


***


Di tempat lain, William dengan tampang kusut melangkah tergesa keluar dari ruang rapat, di belakangnya Alvin, asisten khusus yang ditunjuk Justin beberapa minggu yang lalu mengikutinya dalam diam.


"Bos kamu itu sudah nggak waras kalau kamu belum tahu," ocehnya pada Alvin, yang dengan patuh mengangguk, entahlah maksudnya mengiyakan atau tidak, yang dia tahu atasan bulenya itu terlihat sangat emosi.


"Bagaimana mungkin dia meninggalkan rapat begitu saja, apa dia sudah bosan jadi Ceo." William terus mengoceh hingga sampai di depan pintu besar ruangan Justin. Dengan gerakan kasar pria bule itu membuka pintu ganda dan terkejut dengan pemandangan yang ia lihat di dalamnya.


"Ya Tuhan, hancurnya hatiku!" Pekiknya dramatis sembari meremas dada, raut wajahnya tampak melas sekali.


Nena yang reflek mendorong suaminya langsung memasang senyum malu, dan Justin dengan santai melangkah menghampiri meja kerjanya, duduk di kursi putar, memberi code untuk Alvin mendekat.


"Ini rangkuman hasil rapat tadi, Pak." Alvin menyerahkan catatannya pada sang atasan.


"Memangnya kalian tidak bisa melakukannya di rumah? Harus di sini? Harus aku yang melihat dengan mata kepalaku sendiri?" William menghampiri Nena dan duduk di sebelah wanita itu, tatapannya tampak terluka. Entahlah, dibuat-buat atau memang benar adanya. "Kalian benar-benar menyakiti perasaanku."


Nena yang sibuk memasang kembali sepatunya menyempatkan diri untuk mencubit lengan pria bule sahabatnya itu hingga mengaduh kesakitan. "Kamu tuh, nyebelin banget. Ini nggak seperti yang kamu pikirkan, Will." Nena menjelaskan dengan sama dramatisnya, membuat Justin yang sibuk dengan kertas di tangannya melirik sekilas.


"Pokoknya, Na! Kalau Justin macam-macam, pukul saja." William mengguncang kedua bahu sahabat wanitanya itu.


"Sini-sini, biar kepalamu yang kupukul." Justin yang menjawab, melangkah mengahampiri keduanya, duduk di salah satu sisi Nena.


"Buru-buru kabur dari ruang rapat malah peluk-pelukan di sini. Bagus sekali."


Sindiran William membuat Justin mengerutkan dahi dengan gerakan mengancam pada pria bule itu. Nena ikut menoleh, dari tatapannya Justin tahu, wanita di sampingnya itu minta penjelasan. Selain senyum kaku yang bisa ia berikan, apalagi? "Itu, Tidak penting," tukasnya.


"Tidak penting?! Ya Tuhan, aku ditinggal sendirian, teganya kalian bermesraan di sini." William melipatkan kedua lengannya di depan dada dan bersandar di sofa, raut wajahnya tampak kesal, membuat Nena bertanya-tanya, sebenarnya pria bule itu sedang cemburu pada siapa? Dia atau malah suaminya. Dan sejauh ini William yang tidak pernah terlihat mengencani seorang wanita, boleh dong Nena curiga.


"Tidak ada yang salah, aku mencium istriku di depan umum pun, sah-sah saja." Justin tidak mau kalah.


"Udah, deh, kalian berdua kaya anak kecil." Nena yang duduk di antara mereka mencoba melerai, "Bener, Mas. Kamu ninggalin rapat?" Nena menolehkan kepalanya pada sang suami.


Justin mengusap wajahnya gusar, entah kenapa dirinya melakukan itu saat tidak sengaja mengecek cctv di laptopnya, dan melihat Bimo dan Nena satu lift di sana. Benar-benar tidak terduga. "Nggak juga, saya sudah minta izin," sangkalnya yang mendapat cebikan kesal dari William.


"Lebih baik kalian itu bulan madu saja yang jauh, bermesraan di hadapan orang lain, bikin sakit mata, tahu." Mendengar usul William, Justin menjentikan jari.


"Ide bagus tuh," sambar Justin, kemudian merangkulkan tangannya pada bahu sang istri. "Sebaiknya kita bulan madu kemana, ya?" Tanyanya.


Nena mulai berpikir, "kemana aja deh, yang penting sama kamu," ucapnya. Justin tersenyum senang, membuat William semakin keki di tempatnya.


"Ya Tuhan, aku muak sekali." William beranjak dari duduknya, melangkah cepat ke pintu untuk keluar sembari memegangi perut, ekspresinya seolah ingin muntah. Dan sebelum benar-benar pergi pria itu menoleh, "Nanti malam jangan sampai lupa," ucapnya.


Setelah kepergian William keduanya tertawa geli, sahabat bulenya itu memang paling menyenangkan untuk dibully. "Jadi, mau bulan madu ke mana?" Tanya Justin.


Nena menoleh, "aku pikir, Mas cuma bercanda."


Justin menyandarka punggungnya pada sofa dengan kedua lengan terlipat di dada, "kemanapun boleh saja, yang penting jatah malam pertama dulu," godanya, dan mendapatkan pukulan di lengan, yang tidak sempat ia hindari. Nena baru tahu ternyata suaminya se-mesum itu.


Nena ikut bersandar di sofa, "Mas, bisa nggak sih ngomong sama akutuh pake aku-kamu, biar nggak kaku banget gitu," pintanya.


"Bisa," jawab Justin.


"Coba, kasih contoh."


Justin berpikir sebentar, "aku sayang kamu," ucapnya kemudian.


Nena terkekeh, "ya nggak harus gitu juga contohnya," ucapnya.


"Kenapa? Emang nggak mau, disayang sama aku?" Justin menjawel pipi sang istri, membuat wanita itu berjengit mundur. Belum sempat membalas, dering ponsel Justin sudah menyita perhatian keduanya.


Justin beranjak berdiri, raut wajahnya mengeras. Setelah sambungan ber-akhir, dia kembali duduk. "Kita ke rumah tante Linda."


Nena mengerjap bingung, masih belum paham dengan apa yang terjadi, yang ia tahu Tante Linda itu putri ke dua keluarga Adley, "ada apa sih, Mas?" tanyanya.


"Papa dapat surat panggilan dari kantor polisi, dan katanya Tante Rania yang melaporkannya. Masih berkaitan dengan masalah dua puluh delapan tahun yang lalu. Masalah kita."


"Kenapa kita perginya ke rumah Tante Linda?"


"Tante Rania yang menyuruh kita ke sana."


Justin kembali menelpon seseorang, entah siapa Nena pun tidak tahu, yang dia tangkap dari ekspresi wajahnya sekarang, suaminya itu tampak tenang. Bagaimana bisa dalam keadaan se-kacau ini tapi dia bisa se-tenang itu?


 


Tolong jangan dilewatin like nya. 😄😄