
Hotel Savari 22.00
Gilang menyibukan diri di depan laptopnya bersama dengan Pelangi. Sudah hampir dua jam keduanya mengerjakan sesuatu yang penting, sebuah surel yang masuk ke laptop Gilang beberapa waktu lalu berisi beberapa berkas yang harus Gilang pelajari malam ini juga dan tanda tangani.
Pelangi menguap berkali-kali di depan Gilang. Berusaha membuat Gilang menaruh iba padanya dan memintanya untuk beristirahat saja, karena malam juga telah larut. Namun, Gilang tidak mengatakan apa pun. Pria itu terlalu serius mengerjakan pekerjaannya dan hanya sesekali melirik Pelangi yang menatapnya dengan wajah cemberut.
"Aku pikir menjadi seorang pimpinan sebuah perusahaan besar itu mudah. Tapi ternyata tidak, ya? Baru membolos satu hari saja kotak masuk email-mu sudah penuh dengan laporan ini dan itu. Jangankan pergi tidur, berbaring saja rasanya kita tidak memiliki waktu untuk itu," ujar Pelangi setelah beberapa saat.
Gilang melepas kacamata bacanya dan meletakkan kacamata itu di samping laptop. "Semakin besar jabatan, semakin besar tanggung jawab. Bukankah sudah pernah kukatakan jika aku selalu membawa pekerjaan pulang ke rumah dan mengerjakannya hingga larut malam. Ya, seperti seakarang ini."
"Lalu, apa gunanya puluhan karyawan di kantor jika semua harus kamu yang selesaikan?"
"Semua berguna sesuai jabatannya masing-masing. Hanya saja, baru beberapa bulan ini perusahaan kembali ke tanganku setelah sebelumnya Andreas Group jatuh ke tangan orang lain. Itulah sebabnya banyak hal yang harus aku selesaikan seorang diri sekarang ini. Aku tidak ingin ada kesalahan yang nantinya malah membuat kami kembali terperosok ke jurang yang sama."
Pelangi mengangguk, mengerti akan kekhawatiran Gilang tentang keberlangsungan perusahaannya. Bagaimana pun juga, bagi seorang CEO seperti Gilang, perusahaan yang sudah dibangun oleh ayahnya sendri pastilah sangat penting.
"Apa kamu sudah mengantuk?" tanya Gilang. "Jika sudah, istirahat saja. Biar aku yang selesaikan pekerjaan ini."
Pelangi menghela napas lega, akhirnya tawaran yang sejak tadi ia tunggu-tunggu keluar juga dari bibir Gilang. Namun, tiba-tiba saja Pelangi menjadi enggan untuk beristirahat lebih dulu dan membiarkan Gilang bekerja seorang diri. Ia merasa kasihan pada Gilang yang masih harus bekerja di jam yang seharusnya pria itu bisa beristirahat.
Pelangi membatin, apakah dulu dirinya sering menemani Gilang begadang hingga larut malam saat masih menjadi istri Gilang.
"Kenapa diam saja? Pergilah tidur," ujar Gilang lagi, saat dilihatnya Pelangi tidak beranjak dari hadapannya.
Pelangi menggeleng. "Tidak usah. Aku akan pergi tidur jika semuanya sudah selesai."
Gilang tersenyum. "Terserah padamu saja kalau begitu."
Pelangi mengelus dada begitu melihat senyum di bibir Gilang yang seksi.
***
hotel Savari, kamar nomor 311
Delia tidak dapat tidur, padahal jam yang menggantung di dinding telah menunjukkan pukul 23.00. Masih belum terlalu malam memang, tetapi bagi Delia yang sering mengalami sakit, tidak pernah sekali pun wanita itu tidur di atas pukul 22.00. Biasanya Exel akan mengomel jika melihatnya masih terjaga, padahal saat terjaga di tengah malam, ia tidak melakukan sesuatu yang dapat membuat tubuhnya lelah. Ia hanya membaca buku atau kadang-kadang menulis diari.
Delia yang sejak tadi gelisah dan mondar-mandir di dalam kamar membuat Andrew terpengaruh. Andrew yang telah bergelung di sofa dan mebutupi tubuh dengan selimut seketika terbangun dan menatap Delia dengan bingung.
"Del, kenapa belum tidur?" tanya Andrew.
Delia yang sejak tadi mondar-mandir dengan gelisah seketika terkejut begitu mendengar suara Andrew. Ia menghentikan langkah dan menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku hanya sulit tidur."
"Ah, ya, benar sekali. Besok kita akan mengawasi Pelangi seharian dan mencoba untuk menjauhkan Gisel darinya agar Pelangi tidak mengalami kejadian buruk dan hari yang buruk. Maaf aku lupa." Delia segera naik ke atas ranjang dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.
"Aku tidak mengatakan kalau besok kita akan sibuk dengan Pelangi," ujar Andrew, berusaha mengatakan bahwa mereka memiliki agenda lain untuk diri mereka sendiri.
Delia diam saja. Ia tidak menanggapi ucapan Andrew. Ia terlalu kecewa dan kesal, karena setiap apa yang dilakukannya harus selalu berhubungan dengan Pelangi.
Melihat Delia mengabaikannya, Andrew segera bangkit dari sofa dan menghampiri wanita itu. Ucapan Toni terngiang kembali di telinga Andrew, bahwa ia harus mencoba untuk membuka hati untuk wanita lain, dalam kasusnya berarti ia harus membuka hati untuk Delia, dan mulai melupakan Pelangi yang sampai kapanpun tidak akan pernah bisa ia jangkau.
Andrew melangkah menuju ranjang, kemudian duduk di tepinya dan mengulurkan tangan untuk menyentuh Delia.
"Del, bangunlah, ada yang ingin kukatakan padamu."
Delia menyingkap selimutnya dan segera duduk dengan enggan. Ia lalu menatap Andrew dengan malas dari balik rambutnya yang menutupi wajah. "Katakan apa yang harus kulakukan besok. Aku akan mencatatnya di dalam kepalaku dan mengingatnya agar aku tidak lupa," ujarnya, sembari menyingkirkan rambut panjangnya yang berantakan dan menutupi wajah.
Andrew tersenyum. "Apa yang terjadi padamu. Kamu terlihat kesal."
"Aku tidak apa-apa. Abaikan saja aku dan katakan apa yang--"
Cup.
Andrew meletakkan kedua tangannya di pipi Delia, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Delia dan mendaratkan kecupan di bibir wanita itu.
Delia mendorong Andrew menjauh agar ia tidak ikut kehilangan akal sehat, lalu berkata, "Jangan melakukannya hanya karena merasa tidak enak padaku, atau karena supaya aku lebih semangat dalam menuruti perintahmu untuk melindungi Pelangimu. Aku tidak butuh sebuah ciuman yang dilakukan dengan tidak tulus," ujar Delia, sembari menangis. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia bisa menangis. Ia hanya merasa bahwa Andrew tidak menyukai. Ia sadar jika cintanya bertepuk sebelah tangan, tetapi karena Andrew terus berada di sampingnya dan selalu membicarakan Pelangi, membuatnya merasa seperti sedang dimanfaatkan.
Andrew diam sejenak, membiarkan Delia mengungkapkan kekesalannya. Ketika Delia terlihat sudah lebih tenang, Andrew mengusap pipi wanita itu dengan lembut, menyingkirkan air mata yang masih terus turun dari kedua mata sendunya.
"Semua tuduhanmu itu sangat keterlaluan, Delia. Aku bukan tipe pria yang akan sembarang mencium wanita. Apalagi wanita yang tidak kusuka. Aku ingin mengenalmu lebih jauh, dan aku ingin hubungan kita lebih dari sebelumnya. Aku sedang berusaha membuka hati untuk cintamu. Aku tahu kalau kamu mencintaiku."
"Aku tidak--"
"Shuut," Andrew meletakan jarinya di bibir Delia, "Semuanya terlihat jelas di matamu, bagaimana kamu menyukaiku dan mencintaiku, semua dapat kulihat di kedua mata sendumu. Jangan mengelak, Delia. Katakan saja bahwa kamu mencintaiku, maka aku akan berharap agar kamu memberi kesempatan kepadaku supaya aku dapat membalas cintamu dengan layak."
"Ya, aku memang menyukaimu, tapi aku sadar kalau aku tidak memiliki kesempatan. Hatimu hanya milik Pelangi."
"Tidak lagi. Aku sadar kalau sebagian dari hatiku ada padamu, hanya saja untuk melupakan cinta pertama bukanlah hal yang mudah dan butuh waktu untuk menyadari bahwa ada cinta lain yang tersemat di dalam hatiku, dan cinta itu bukan untuk Pelangi, tapi untukmu," ujar Andrew, lalu kembali mendaratkan kecupan di bibir Delia.
Delia memejamkan mata, menyambut ciuman lembut yang Andrew berikan padanya. Ciuman penuh cinta yang merupakan ciuman pertamanya.
Bersambung ....