OH MY BOSS

OH MY BOSS
ANDREW MENEMUI EXEL



Waktu yang berjalan menjadi saksi atas keromantisan yang tercipta antara dua insan yang saling mendamba. Tidak ada penghalang di antara keduanya untuk saling mengungkapkan kerinduan melalui hasrat yang selama ini berusaha untuk mereka pendam.


Baik Gilang maupun Pelangi merasa terpuaskan bermandi cinta dan peluh yang bagaikan air sungai, basah, dingin, dan dapat melepas dahaga. Setelah menahan diri satu bulan lamanya dari godaan masing-masing, akhirnya mereka berada di puncak kenikmatan. Hal itu tentu saja memperkuat ikatan di antara keduanya, dan baik Gilang maupun Pelangi yakin sekali bahwa setelah ini tidak ada yang mampu membuat mereka berdebat lalu berpisah. Bukankah sebuah masalah yang hadir hari ini akan menjadi pelajaran dan bekal untuk melanjutkan hari esok.


Proses pendewasaan cinta keduanya telah berlalu, dan ketika mereka lebih dewasa dalam berpikir, pastilah mereka akan lebih dewasa pula dalam menyikapi setiap permasalahan yang muncul di kemudian hari.


Gilang membelai puncak kepala Pelangi, mengurai helai demi helai jalinan ikal rambut Pelangi yang menempel di kening dan pipi, lalu tanpa ragu ia mendaratkan kecupan hampir di seluruh bagian wajah Pelangi. Mulai dari kening, pipi, dagu, hingga leher. Tentu saja bibir Pelangi adalah bagian yang paling lama ia nikmati.


Pelangi tersenyum, membuat rona merah di pipinya kembali muncul. Gadis itu terlihat malu-malu, bagai seorang pengantin baru yang baru pertama kali mengecap manisnya sebuah percintaan. Imut sekali.


"Aku harap aku tida menyakitinya saat aku berbaring di atasmu tadi," ujar Gilang sambil memandang perut Pelangi, mengkhawatirkan keberadaan si bayi yang baru saja mendapat kunjungan darinya.


Pelangi menggeleng. "Aku tidak merasa sakit sama sekali, kurasa dia pun tidak."


Gilang kembali menenggelamkan wajahnya di leher Pelangi, membuat Pelangi bergidik karena embusan hangat dari napas Gilang langsung mendarat di lehernya.


"Maafkan aku karena beberapa minggu ini aku sangat menyebalkan. Kamu pasti muak sekali padaku."


Pelangi menghela napas. "Bagaimana kalau kita lupakan saja. Anggap saja aku koma selama satu bulan ini, dan hari ini adalah hari pertamaku sadar."


Dahi Gilang mengernyit. "Apa tidak terasa aneh?"


"Aku lebih suka pengaturan seperti itu, karena aku tidak suka menyimpan kenangan buruk, Gil. Itulah kunci agar aku selalu hidup bahagia. Kenangan buruk hanya akan menyakiti dan menggerogotiku dari dalam."


Gilang mengecup pipi Pelangi, lalu berkata, "Baiklah jika itu maumu. Karena hari ini adalah hari pertama kamu sadar dari koma, aku harus menyiapkan pesta kepulangan. Sebuah kejutan kecil yang harus dilakukan seorang suami pada istrinya, benar?"


Pipi Pelangi kembali merona, apalagi Gilang bicara ambil menatapnya dengan begitu intens. Sorot mata Gilang yang tajam, mampu membuat jantung Pelangi berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Ia sangat terpesona pada sosok Gilang, hingga rasanya setiap kali menatap Gilang, Pelangi akan mengalami siklus jatuh cinta lagi, lagi ,dan lagi pada orang yang sama. Hal itu membuat Pelangi ingin terus menempel, bahkan jika bisa ia ingin masuk dan menetap di dalam tubuh Gilang agar ia dapat memiliki pria itu untuk selamanya.


"Nah, ayo sekarang kita bangun dan kita mandi bersama. Setelah berkeringat, kita berdua perlu berendam air hangat. Aku akan menggosok seluruh bagian tubuhmu dengan busa agar benar-benar bersih dan wangi." Gilang mengedipkan matanya, lalu membantu Pelangi untuk duduk.


Mendengar kalimat 'mandi bersama' mampu membuat pikiran Pelangi melayang ke mana-mana. "Aku bisa mandi sendiri, Gil. Kamu saja yang mandi duluan, bukankah sekarang kamu sudah sangat terlambat untuk pergi ke kantor." Pelangi mengarahkan telunjuknya ke jam besar yang menempel di dinding.


Gilang tidak menghiraukan ucapan Pelangi, ia tetap bangkit berdiri sembari menggendong Pelangi dan berjalan menuju kamar mandi. "Ayahku pemilik perusahaan itu. Kurasa dia tidak akan keberatan jika aku libur satu hari. Apalagi aku sedang sibuk membahagiakan menantu tersayangnya. Jika kukatakan padanya, dia pasti akan langsung memberiku cuti selama enam bulan, menyewakan hotel, pesawat pribadi, hingga kapal pesiar."


Pelangi tergelak. "Ayah memang orang yang baik. Beruntung sekali aku menjadi menantunya."


"Ya, dan lebih beruntung lagi karena kamu mendapatkan putranya yang tampan ini."


***


Exel melangkah dengan tergesa-gesa melewati jalanan yang berbatu dan licin. Hujan baru saja berhenti beberapa saat yang lalu, setelah sebelumnya sukses mengguyur bumi selama dua jam lamanya. Menyisakan genangan di jalanan yang berlubang.


Dalam keremangan senja ditambah dengan awan gelap yang menutupi langit, Exel tidak akan salah melihat bahwa ada seseorang yang tengah mengikuti setiap langkahnya sejak beberapa jam yang lalu.


Bukan kali ini saja Exel merasa diikuti. Dua hari yang lalu Exel juga memiliki perasaan yang sama. Perasaan bahwa dirinya sedang dibuntuti ketika kembali dari pasar. Untunglah saat itu Exel menyadari kehadiran si penguntit dengan cepat, sehingga ia dapat melakukan tindakan tepat secepat mungkin, yaitu menyesatkan si penguntit.


Akan tetapi, hari ini berbeda. Karena hujan yang turun dengan deras membuat Exel tidak terlalu memperhatikan sekitarnya. Fokusnya hanya tertuju pada setiap langkahnya di jalanan yang licin, menjaga keseimbangan agar ia tidak terjatuh. Karena terlalu fokus pada jalanan itulah, ia terlambat menyadari kehadiran si penguntit.


Exel melangkah keluar dari jalan setapak, lalu berlindung di balik pohon beringin besar. Berpegangan pada sulur-sulur yang menjuntai hingga ke tanah agar ia tidak terjatuh.


Degup jantungnya yang kencang terdengar membelah keheningan senja saat dilihatnya sesosok bayangan datang mendekat. Bayangan seorang pria bertubuh tinggi itu membuat Exel penasaran. Apakah sosok itu adalah seorang polisi yang datang dari kota untuk mencarinya atau hanya preman kampung yang ingin mengusilinya seperti beberapa hari yang lalu


Exel semakin meringkuk ke dalam lekukan pohon beringin, sembari memasang kuda-kuda barangkali saja si penguntit tiba-tiba menampakan diri dan menghajarnya.


"Kena kamu!"


Buk!


Benar saja, sebuah tinju mendadak mendarat di wajah Exel, tepat di hidungnya. Membuat hidung Exel mengeluarkan cairan kental yang berbau anyir.


Karena mendapat serangan yang begitu cepat dan tepat, membuat tubuh Exel terhuyung ke belakang dan seketika ia terjatuh ke tanah yang keras dan basah.


Melihat lawannya yang tak berdaya, Andrew yang merupakan si penguntit, segera menarik lengan Exel dan memaksa pria itu agar keluar dari persembunyian. Ia ingin melihat dengan jelas bagaimana wajah pria yang telah berani menyakiti Pelanginya.


Begitu tiba di jalan setapak, Andrew kembali mendaratkan tinju di wajah Exel yang sudah babak belur. Sebenarnya Exel bisa saja membalas tinju dari Andrew, tapi ia telah berjanji pada seseorang agar tidak berkelahi lagi. Apalagi baru beberapa hari yang lalu ia terlibat perkelahian dengan seorang preman pasar. Dalam perkelahian itu Exel menang, tidak ada yang sanggup mengalahkan Exel, tetapi orang tua si preman menuntut ganti rugi biaya perawatan di preman di puskesmas, yang membuat Exel harus menguras tabungannya yang tidak seberapa.


"Hanya segini kemampuanmu? Kenapa kamu tidak melawan, Sialan. Ayolah bangun dan lawan aku, aku suka jika lawanku memiliki kekuatan yang sebanding denganku." Andrew berteriak di hadapan Exel.


"Apa masalahmu padaku? Aku bahkan tidak kenal padamu," tanya Exel.


Andrew mendaratkan tinju satu kali lagi di rahang Exel, membuat Exel meringis menahan sakit, tetapi ia tetap tidak membalas serangan Andrew.


Buk!


Andrew menendang perut Exel berkali-kali tanpa henti, ia bahkan tidak peduli pada teriakan-teriakan yang keluar dari bibir Exel, serta darah yang semakin banyak keluar dari mulut dan hidungnya. Andrew baru menghentikan tendangannya saat seorang wanita tiba-tiba menghambur ke arah Exel dan segera memeluk tubuh Exel yang masih meringkuk di tanah. Wanita itu bahkan sempat mendapat satu tendangan yang lumayan kuat dari kaki Andrew


"Argh!" jerit Delia, saat tendangan Andrew mendarat di perutnya.


Mendengar suara Delia yang menjerit kesakitan, membuat Exel panik. Ia segera bangkit dengan susah payah, lalu memeriksa keadaan Delia.


"Del, apa yang kamu lakukan di sini? Dan kenapa kamu bertindak begitu ceroboh. Aku bisa melindungi diriku sendiri, jangan suka ikut campur dalam urusanku, Del." Exel menatap Delia dengan panik.


Delia tidak menanggapi ucapan Exel, karena perutnya memang sangat sakit sekarang ini. "Aku ingin pulang," isak Delia.


Exel mengangguk. "Biar kugendong." Exel berdiri, dan kemudian membantu Delia untuk berdiri juga. Akan tetapi, gadis itu tidak dapat melakukannya, baru setengah berdiri saja tubuhnya sudah kembali terjatuh. Sementara Exel yang juga sudah babak belur, terlihat kesulitan untuk menopang tubuhnya sendiri, apalagi menopang tubuh Delia.


Melihat hal itu, Andrew yang masih diselimuti amarah, segera menghampiri Delia dan meminta maaf pada gadis itu. "Maafkan aku, aku tidak sengaja. Katakan di mana rumahmu, biar aku yang antar."


Delia mengalihkan pandangannya ke wajah Andrew, dan matanya yang sendu langsung bertatapan dengan sepasang mata Andrew yang memiliki sorot tajam. "Aku harus digendong," ujar Delia.


Andrew mengangguk. "Tidak masalah. Aku bisa menggendongmu." Andrew kemudian bangkit berdiri dan mengangkat tubuh Delia perlahan. Rambut Delia yang panjang menjuntai melewati lengan kekar Andrew


Saat Delia telah berada dalam gendongannya, Andrew menyempatkan diri untuk memberi satu tendangan lagi ke tubuh Exel yang masih berlutut di tanah.


"Jangan sakiti dia. Dia itu saudaraku. Tanpa dia, aku tidak akan bisa hidup," lirih Delia, suaranya begitu lembut bagai alunan lagu sedih yang terdengar di malam yang dingin.



"Oh, sorry, tapi saudaramu itu telah menyakiti seseorang yang begitu penting dalam hidupku, jadi tidak masalah bagiku jika aku ingin menyakiti bahkan menghabisinya." Andrew berkata dengan sengit. Sebenarnya ia tidak tega bersikap begitu dingin pada Delia. Akan tetapi, saat ini ia sedang diliputi amarah,


hingga rasanya sulit sekali mengendalikan emosinya.


Mendengar ucapan Andrew, Delia menghela napas. "Kamu boleh menghabisinya jika hal itu dapat membuatmu tenang, tapi lakukanlah setelah kematianku. Jika kamu menghabisinya sebelum kematianku, aku harus menggantungkan hidupku pada siapa? Apa padamu?"


Andrew tersenyum sinis sambil menatap wajah gadis cantik yang sedang dalam gendongannya. "Kamu sudah dewasa, bukan lagi anak-anak. Kamu bisa mengurus dirimu sendiri setelah kematiannya. Aku memiliki seorang kenalan wanita yang mampu hidup sebatang kara walau masalah di dalam hidupnya sangat banyak. Tidak pernah aku mendengarnya mengeluh sama sekali. Dia sangat kuat dan tabah."


"Aku harap dia selalu sehat. Tidak sepertiku. Aku harus rutin melakukan cuci darah, jika tidak, aku tidak akan bisa melanjutkan hidup. Dengan keadaan yang seperti ini, aku memang akan selalu bergantung pada orang lain, dalam hal ini aku hanya bisa menggantungkan hidupku pada Exel."


Andrew merasa tidak enak dan tiba-tiba saja rasa iba muncul di hati kecilnya untuk gadis yang baru ia kenal. Ia tidak menyangka jika gadis itu menderita suatu penyakit


"Nah, itu rumah kami." Suara Delia kembali mengejutkan Andrew saat gadis itu menunjuk sebuah rumah papan kecil yang letaknya agak jauh dari jalan setapak.


Andrew berbelok dan terus berjalan dalam diam hingga ia tiba di depan pintu kayu yang terlihat hendak jebol.


Sebelum memasuki rumah, Andrew menyempatkan diri menoleh ke belakang, menunggu kedatangan Exel yang belum juga terlihat batang hidungnya.


"Kita masuk saja duluan. Aku ingin berbaring," lirih Delia, yang wajahnya terlihat semakin pucat.


Andrew mengangguk, lalu mendorong pintu di hadapannya agar terbuka. Ruangan yang ada di hadapannya mengingatkan Andrew akan kediaman Pelangi sebelum Pelangi menikah dengan Gilang. Satu ruang tamu pencahayaan remang, dan sebuah kamar yang pintunya berada di sisi lain ruang tamu. Terdapat sofa usang di ruangan itu, lengkap dengan bantal dan selimut di atasnya.


"Turunkan saja aku di sofa," pinta Delia.


Andrew kembali mengangguk dan segera menurunkan tubuh Delia dengan pelan di atas sofa.


"Trims," ujar Delia, sambil mengernyit menahan sakit saat ia memperbaiki posisi duduknya.


Tidak lama kemudian, Exel muncul. Ia langsung berjalan ke bagian belakang rumah, tidak diragukan lagi pria itu pasti menuju kamar mandi untuk berganti pakaian dan membersihkan darah di wajahnya.


"Kalian tinggal di sini?" tanya Andrew yang terlihat penasaran.


Delia mengangguk.


"Dengan orang tua kalian?"


Delia menggeleng. "Kami tidak punya orang tua. Aku dan Exel besar di panti asuhan. Namun, sejak aku keluar dari rumah sakit satu bulan lalu, Exel membawaku pindah ke rumah ini. Kami sedang menunggu salah satu saudara kami sesama penghuni panti. Kudengar dia sekarang menjadi wanita karir yang sukses di dunia modeling. Exel bilang dia akan datang untuk menjengukku."


"Siapa?" tanya Andrew, penasaran.


"Gisel."


Bersambung ...