OH MY BOSS

OH MY BOSS
AKU TIDAK BUTUH YANG LAIN!



Anneth bergerak perlahan dari posisinya yang telentang, mencoba untuk bangkit dari atas ranjang lalu kemudian pergi dari tempatnya sekarang berada. Ia merasa kotor sekali saat ini. Ingin rasanya ia menenggelamkan tubuhnya di laut yang dalam, agar segala kotoran yang menempel di tubuhnya dapat terbasuh secara keseluruhan dan terbawa arus hingga jauh.


Ia melirik sekilas ke samping, di mana hanya terdapat sebuah bantal dan selimut yang kusut. Saksi bisu dari perbuatan bejat Arya padanya.


Anneth menangis saat mengingat apa yang terjadi beberapa jam lalu. Ia mengira bahwa dirinya bisa menghadapi Arya, tetapi ternyata tidak. Arya lebih cerdas dan lebih cepat dari dirinya, hingga ia tidak dapat menghindar dari kesialan yang ternyata telah menantinya.


"Akh." Anneth mengerang, saat ia merasakan nyeri pada perut dan juga organ sensitifnya ketika ia menggerakkan kaki.


"Berbaringlah lebih lama. Rasa nyerinya akan segera menghilang."


Anneth terkesiap saat mendengar suara Arya yang tidak jauh dari tempatnya berada. Lampu kamar memang tidak ada yang menyala, selain lampu tidur kecil yang terletak di atas lemari kecil tepat di samping ranjang.


Anneth segera mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan pria itu. Dan di sanalah ia melihat Arya, sedang duduk di sofa tepat di depan ranjang. Kakinya disilang dengan tangan yang dilipat di depan dada. Anneth segera meraih selimut dan menutupi tubuhnya yang polos tanpa tertutupi sehelai benang pun.


"Aku tidak tahu kalau kamu masih pera_wan. Pantas saja rasanya sangat berbeda." Arya berkomentar.


Anneth mengepalkan tangannya saat mendengar ucapan Arya. "Apa hakmu menilaiku dan mengira aku sudah tidak pera_wan?"


Arya menyalakan lampu dengan menekan tombol pada sebuah remote kecil yang ada di tangannya. "Mungkin karena kamu begitu murahan. Kamu mengajukan diri untuk menikah kontrak denganku. Terang saja aku menilai kalau kamu itu sudah tidak pera_wan dan wanita murahan."


Anneth tersenyum sinis. "Aku melakukannya agar kamu mendapatkan keturunan. Bukan untuk menjual diri! Seharusnya kamu berterima kasih padaku, karena aku bersedia untuk memecahkan masalah keluargamu."


Arya diam saja. Ia terlihat sedang serius memikirkan sesuatu.


"Aku ingin pulang!" ujar Anneth kemudian, saat dilihatnya Arya tidak berniat untuk menyebutnya. Ia bangkit berdiri, lalu meraih jubah mandi yang terlipat rapi di atas meja rias dan segera mengenakan jubah mandi itu. Toh pakaiannya sudah tidak dapat digunakan lagi karena Arya telah merobeknya tadi.


"Kamu tidak mungkin keluar dari sini dengan penampilan seperti itu, Orang-orang akan menertawakanmu," ujar Arya, saat dilihatnya Anneth melangkah menuju pintu.


Anneth menghentikan langkah dan berbalik menatap Arya untuk yang terakhir kalinya. "Kenapa tidak? Lebih baik aku ditertawakan orang-orang daripada harus berada di ruangan yang sama denganmu lebih lama lagi."


"Tapi sekarang baru jam tiga pagi. Memangnya kamu mau ke mana?"


Anneth tidak menghiraukan pertanyaan Arya. Ia dengan cepat berlari menuju pintu, membukanya dan menutupnya kembali. Setelah berada di luar kamar, Anneth segera menuju elevator dan masuk ke dalamnya, lalu menekan angka yang akan membawanya menuju lobi.


Di dalam elevator Anneth menangis. Namun, ia merasa lega juga karena Arya membiarkannya pergi begitu saja. Pria itu tidak mencoba untuk menghalangi kepergiannya seperti yang ia kira sebelumnya.


***


Pukul 06.00, saat matahari masih malu-malu menampakan dirinya. Saat embun masih betah menggelantung di dahan dan dedaunan hijau, Alex dan Surya sudah memosisikan diri di bawah sebuah pohon rindang yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Gilang.


Alex merapatkan jaket yang ia kenakan dan meniupi kedua telapak tangannya yang terasa dingin.


"Matikan saja AC-nya kalau kamu begitu kedinginan." Surya memberi saran.


"Tidak usah. Terakhir kali aku mematikan AC mobil ini, aku kesulitan untuk menyalakannya kembali." Alex menyingkirkan uluran tangan Surya yang hendak mematikan AC.


"Benar juga. Aku lupa kalau AC-nya memang sedikit eror." Surya terkekeh, lalu kembali memperhatikan rumah besar yang ada di seberang jalan. Rumah itu masih terlihat sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.


"Sabarlah. Setelah kita menyelesaikan tugas dari Arya, kita akan mendapatkan banyak uang. Aku akan membelikanmu sepuluh mobil sport, Sur."


Alex dan Surya tertawa bersamaan, merasa puas hanya dengan membayangkan apa yang akan mereka dapat jika mereka berhasil melakukan apa yang Arya perintahkan.


"Tapi ngomong-ngomong jam berapa orang itu akan keluar dari istana mereka? Sepertinya mereka semua masih bergelung dengan nyaman di dalam selimut." tanya Alex.


"Hem, setahuku sekitar jam delapan. Mereka akan keluar menggunakan mobil yang terpisah. Biasanya Toni yang akan lebih dulu keluar menggunakan sedan silver, lalu setengah jam kemudian Andrew menyusul dengan sedan hitamnya. Nah, Arya jelas mengatakan kalau Andrew lah yang harus kita celakai terlebih dahulu, setelah itu baru Toni." Alex menjelaskan.


Surya mengangguk paham. Senyum keji tersungging di bibirnya. Ia sudah tidak sabar untuk menghabisi para tangan kanan Gilang. Jika Gilang kehilangan orang-orang yang setia padanya, maka akan mudah sekali untuk melihat Gilang hancur.


***


Rumah Besar Andreas 07.30


Sementara itu terjadi kehebohan yang luar biasa di dalam kediaman keluarga Andreas. Saat sedang sarapan tiba-tiba saja Delia merasakan mual dan segera berlari ke kamar mandi untuk muntah.


Semuanya menatap kepergian Delia dengan bingung. Namun, tidak dengan Pelangi dan Amara yang segera menyusul Delia ke kamar mandi. Ketika Amara dan Pelangi tiba di depan pintu kamar mandi, Delia mengangkat wajahnya dari wastafel. wajahnya terlihat pucat dan matanya merah.


"Ada apa? Apa yang kamu rasakan?" tanya Pelangi dengan khawatir, ia lalu menghampiri Delia dan mengusap punggung wanita itu dengan lembut.


"Aku mual sekali. Rasanya aku ingin muntah terus menerus." Delia menjawab dengan lirih. "Keluarlah kalian, aku ingin muntah lagi." Delia mendorong Pelangi dan Amara keluar dari dalam kamar mandi, kemudian menutup pintu dan kembali memuntahkan isi perutnya.


"Kenapa dia? Apa dia punya penyakit asam lambung?" tanya Amara, ia pun terlihat tidak kalah khawatir dari Pelangi.


Pelangi menggeleng. "Entahlah, kita tidak akan tahu jika kita tidak menghubungi dokter. Kamu kembalilah ke ruang makan, aku akan menghubungi dokter dan menyusul. Katakan pada Andrew agar tidak usah berangkat ke kantor dulu. Aku takut kalau-kalau keadaan Delia semakin parah."


Amara mengangguk, kemudian ia segera berjalan menuju ruang makan, sementara Pelangi menuju ruang keluarga untuk menelepon dokter.


Pelangi berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruang keluarga, lalu segera menghubungi dokter keluarga yang biasa menangani keluarga Andreas.


Setengah jam kemudian, seorang dokter tua datang dan atas petunjuk Pelangi, dokter itu segera menghampiri Delia yang ada di kamarnya.


Dalam perjalanan menuju kamar Delia di lantai dua, dokter itu bertanya pada Pelangi, "Apa yang terjadi?"


"Delia muntah saat sedang serapan. Dan setelah itu Delia tidak bisa makan apa pun." Pelangi menjelaskan secara singkat.


Dokter itu mengangguk. "Oh, semoga saja akan ada kabar baik."


Pelangi mengernyitkan dahi mendengar ucapan sang dokter. Ia bingung, bagaimana bisa ada kabar baik saat seseorang sedang sakit. Namun, sejurus kemudian ia menyadari sesuatu. Refleks Pelangi memegang perutnya saat ia menyadari bahwa mual di pagi hari bukan berarti asam lambung naik, bisa saja jika ada sesuatu yang tengah bertumbuh di dalam rahim Delia. Menyadari hal itu, tiba-tiba saja Pelangi merasakan nyeri di dada.


"Nah, jadi, yang mana kamarnya?"


Pelangi terkejut saat sang dokter bertanya padanya. Ia tidak sadar jika mereka telah tiba di lantai dua dan sekarang tengah berhadapan dengan tiga pintu berjejer yang semuanya tertutup rapat.


"Ah, maaf, Dok. Ini kamar Delia." Pelangi menuju pintu yang paling pertama, lalu mengetuk.


Pelangi membuka pintu dan mempersilakan dokter untuk masuk. "Mari."


Dokter mengikuti langkah Pelangi hingga mereka tiba di depan ranjang di mana Delia sedang berbaring di atasnya.


"Sudah jauh lebih baik?" tanya Pelangi pada Andrew yang sejak tadi menemani Delia.


Andrew mengangguk. "Lumayan."


"Baguslah," ujar Pelangi.


Andrew hanya tersenyum sembari menatap Pelangi. Wajah Pelangi yang muram membuat Andrew penasaran, dan bertanya-tanya apa yang tengah terjadi pada Pelangi.


Andrew dan Pelangi berdiri agak jauh ke belakang saat dokter melakukan pemeriksaan.


"Pelangi," panggil Andrew.


"Heem." Pelangi bergumam, sambil menoleh untuk menatap Andrew.


"Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu. Katakan saja padaku. Aku masih sama seperti dulu, siap mendengarkan semua yang kamu rasakan dan kamu khawatirkan."


Pelangi tersenyum. "Siap."


Andrew kemudian meraih tangan Pelangi dan meremasnya dengan lembut. Pelangi terkejut atas tindakan Andrew. Ia berusaha untuk melepaskan tangan Andrew dari tangannya, tetapi Andrew malah menggenggam tangan Pelangi semakin kuat.


Andrew baru melepaskan tangan Pelangi saat dokter telah selesai memeriksa keadaan Delia.


"Bagaimana, Dok?" tanya Andrew.


Dokter tersenyum sebelum menjawab, "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Pak, Andrew. Istri Anda baik-baik saja. Aku sarankan agar Anda membawanya untuk bertemu dengan dokter obgyn."


"Dokter obgyn?"


"Ya, dokter kandungan. Istri Anda tengah mengandung."


"Aku apa?" tanya Delia yang begitu terkejut mendengar ucapan dokter.


"Anda sedang mengandung, Nyonya. Itulah penyebab mual yang Anda alami pagi ini." Dokter terkekeh.


Andrew sendiri tidak mampu berkata-kata. Ia segera menghampiri Delia dan memeluk wanita itu dengan erat. Ia bahagia sekali karena akan segera menjadi seorang ayah.


Sementara Pelangi. Ia bingung harus menanggapi berita kehamilan Delia dengan cara seperti apa. Ia turut bahagia, tentu saja, mana mungkin ia tidak bahagia mengetahui bahwa akan ada makhluk kecil yang menggemaskan berlarian di dalam istana mereka. Namun, ada sesuatu yang seperti sedang menusuk-busuk dadanya saat ini. Ia sadar, jika ia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan seperti yang saat ini Delia rasakan, sampai kapan pun. Ya, sampai kapan pun. Dan kenyataan itu sukses membuat Pelangi meneteskan air mata. Tanpa mengatakan apa pun, ia segera keluar dari kamar Delia dan berlari menuju kamarnya.


***


Gilang tengah memaju mundurkan kursi rodanya saat Pelangi memasuki kamar. Gilang dapat melihat raut kesedihan di wajah istrinya itu, tetapi buru-buru Pelangi menepiskan wajah sedihnya, lalu tersenyum saat menyadari bahwa Gilang tengah menatapnya.


"Hai, Sayangku." Pelangi menghampiri Gilang, menyentuh kedua pipi pria itu dan mengecup pipi, dahi, dan hidung Gilang sebelum akhirnya ia mendorong kursi roda Gilang menuju balkon. "Aku harap belum kesiangan untuk menjemurmu."


Pelangi memang selalu rutin mendorong kursi roda Gilang ke balkon kamar dan membiarkan Gilang berjemur selama beberapa menit di bawah sinar matahari pagi agar suaminya itu tidak kekurangan Vitamin D alami yang dihasilkan oleh sinar matahari.


"Aku merasa seperti pakaian yang setiap hari harus dijemur." Gilang berkomentar.


Pelangi tertawa. "Jika kamu pakaian, maka aku akan mengenakanmu setiap hari."


"Ya, aku pun tidak akan terima jika kamu melepasku dan mencuciku, lalu menjemurku. Tidak ada tempat yang lebih baik bagi selembar pakaian selain menempel pada tubuh wanita cantik dan seksi sepertimu." Gilang menggoda Pelangi.


Pelangi tersenyum dan mencubit hidung Gilang. "Dasar genit."


"Oh, ya, bagaimana keadaan Delia. Apa dia benar menderita asam lambung?" tanya Gilang.


"Dokter meminta Andrew agar membawa Delia periksa ke dokter obgyn," jawab Pelangi.


"Dokter obgyn?"


"Ya, dokter obgyn. Delia bukannya menderita asam lambung. Dia mual dan muntah karena dia sedang hamil." Pelangi tersenyum, lalu berlutut di hadapan Gilang. "Selamat, kita berdua akan menjadi om dan tante."


Gilang berusaha untuk tersenyum. Ia sekarang tahu bahwa wajah Pelangi yang murung dan sedih saat memasuki kamar tadi pastilah disebabkan kabar tentang kehamilan Delia. Jangankan Pelangi, sekarang saja Gilang merasa sangat sedih. Ingin rasanya ia memeluk Pelangi dan menangis di pelukan wanita itu, karena ia sadar bahwa sampai kapan pun dirinya tidak akan bisa memberikan Pelangi seorang anak yang pasti diinginkan oleh setiap wanita yang telah menikah di dunia ini.


"Pelangi, maafkan aku," ujar Gilang.


Pelangi mengangkat sebelah alisnya. "Maaf, untuk apa?"


"Untuk segalanya."


Pelangi mengerti maksud Gilang. "Jangan pernah meminta maaf. Bukanlah sudah pernah kukatakan agar jangan pernah meminta maaf untuk sesuatu yang terjadi di luar kendali kita."


"Aku tidak bisa membuatmu menjadi seorang ibu. Apakah aku egois jika akau tetap mempertahankanmu agar selalu ada di sisiku. Padahal jika aku melepaskanmu, kamu mungkin akan mendapatkan segala apa yang kamu mau."


Kedua mata Pelangi berkaca-kaca sekarang, dan setetes bulir bening mulai mengalir di pipinya. "Memangnya kamu tahu apa tentang apa yang aku ingin dan yang tidak aku ingin? Apa yang kamu tahu tentang isi hatiku?"


Gilang diam saja. Namun, air matanya pun mulai menyapa kedua pipinya.


"Aku memilikimu di dalam hidupku adalah segalanya, Gil, tidak masalah jika aku tidak mendapatkan beberapa hal di dalam hidupku. Sama sekali tidak masalah, karena apa? Karena kamu adalah segalanya. Aku tidak begitu serakah sehingga menginginkan seisi dunia menjadi milikku. Untuk apa, jika kamu saja sudah cukup untukku."


Gilang menangis. Kali ini ia tidak berusaha untuk menahannya. Ia menumpahkan segala bentuk kecemasan dan kekecewaanyang selama ini ia pendam di dalam hatinya.


Melihat Gilang terisak seperti itu, membuat dada Pelangi menjadi sakit. Ia tidak tahan melihat Gilang bersedih. Sungguh bodoh dirinya karena sempat merasa sedih saat menyadari dirinya tidak akan pernah bisa mengandung. Menyesali keadaannya itu, sama saja dengan menyesali keadaan Gilang. Dan ia tidak ingin penyesalan semacam itu merusak hubungannya dengan Gilang.


Pelangi memeluk Gilang dengan erat. "Aku mencintaimu, Gil, hanya kamu. Aku tidak butuh yang lain."


Bersambung.