
Andrew terkejut. Sangat terkejut begitu mendengar apa yang baru saja Farhan ucapkan. Ia tidak menyangka jika Farhan mengakui statusnya yang selama ini dengan susah payah disembunyikan oleh Farhan sendiri agar tidak terungkap ke muka umum.
Ya, selama ini memang Andrew sering merasa iri pada Gilang, sering merasa sakit hati karena tidak ada satu pun baik Gilang atau Farhan yang bersedia mengakui dirinya sebagai keturunan keluarga Andreas di depan umum. Jika mereka bertiga sedang berjalan bersama, maka Andrew harus menyesuaikan langkah agar tidak mendahului Farhan dan Gilang, dengan kata lain ia harus berjalan di belakang Gilang dan Farhan karena dirinya hanyalah seorang tangan kanan Farhan, bukan putra seperti Gilang yang bebas melakukan apa pun yang ingin dilakukan.
Jika Andrew saja begitu terkejut, apalagi seluruh karyawan yang ada di aula. Suara dengungan semakin nyaring terdengar, seperti suara ratusan ribu lebah yang berkumpul di dalam satu ruangan. Gumaman demi gumaman saling bersahutan. Mereka yang hadir saling menolehkan kepala ke sana dan kemari, membagi perasaan terkejut mereka dengan rekan mereka yang duduk di samping mereka atau dengan siapa pun yang ingin mendengar betapa terkejutnya mereka semua.
Farhan kembali berdeham, membuat seisi ruangan kembali senyap. Dengungan tiba-tiba saja menghilang secara bersamaan, walaupun masih ada yang saling berbisik dan menatap Farhan dengan sinis.
"Kalian semua pasti terkejut, ya? Dan mulai bertanya-tanya kenapa aku menyimpan kebenaran tentang Andrew selama ini? Entah apakah aku pantas mengatakannya di hadapan kalian, tapi aku akan mengatakan kebenarannya bahwa selama ini aku berusaha untuk melindunginya agar keberadaanya tidak terancam seperti yang sering terjadi padaku dan Gilang. Menurutku kehidupan masa kecil yang dia jalani dengan ibunya tanpa kehadiranku sudah cukup sulit, aku tidak ingin membuatnya melewati kesulitan lainnya saat dia akhirnya berada si sisiku. Jujur saja aku merasa bersalah karena tidak melihat Andrew tumbuh dari balita hingga dia menginjak usia remaja."
Para karyawan yang hadir mulai mengangguk. Tadinya, sempat muncul di dalam pikiran mereka bahwa Farhan adalah orang tua kejam yang tidak mengakui putranya sendiri.
"Kalian pasti tahu bahwa nyawaku dan Gilang sering terancam karena posisi kami sebagai pemilik Andreas Group. Tanggung jawab kami juga begitu besar pada perusahaan ini. Tidak mudah menjadi orang yang selalu dipandang dan menarik perhatian. Kejahatan bisa terjadi pada kami kapan pun, entah itu karena masalah pribadi atau karena persaingan bisnis yang kejam, yang jelas aku tidak ingin Andrew melalui itu semua.
Andrew yang duduk di dereten kursi paling depan berusaha sekuat tenaga agar matanya tidak menghasilkan bulir bening. Namun, gagal, tetap saja ia menangis begitu mendengar semua yang Farhan katakan.
Andrew ingat, dulu sekali saat dirinya baru mulai masuk di perusahaan, Gilang dan Farhan sering bersitegang dengan beberapa orang yang merupakan rekan bisnis mereka. Tidak jarang bahkan keduanya mendapatkan ancaman atau perlakuan tidak menyenangkan lainnya, sementara dirinya berada di zona aman. Siapa yang akan membentak, mengancam dan memaki orang yang tidak tahu apa-apa dan bukan siapa-siapa.
"Maafkan aku, Nak, dan semoga kamu tidak marah padaku." Suara serak Farhan kembali terdengar memenuhi seisi ruangan. "Tidak lama lagi Andrew akan menikah, aku rasa kebenaran ini perlu diketahui oleh semua orang, itulah sebabnya hanya untuk mengatakan hal ini aku membuat kalian membolos dari ruangan kalian dan berkumpul di aula ini. Aku hanya ingin agar kalian semua tahu siapa Andrew yang sebenarnya, sehingga kalian memperlakukan Andrew sebaik kalian memperlakukan aku dan Gilang.
***
Arya menanti kemunculan Pelangi di lobi gedung perkantoran Andreas Group. Sudah dua jam lamanya ia menunggu, tetapi Pelangi tidak kunjung tiba. Padahal pertemuan yang diadakan Farhan di aula telah usai sejak setengah jam yang lalu.
Arya bangkit berdiri dan mulai mondar-mandir dengan gelisah di depan meja penerimaan tamu. Sontak saja sosok Arya menjadi pusat perhatian. Selain tinggi tubuhnya yang menjulang, wajahnya yang tampan dan penampilannya yang terlihat santai juga membuat banyak pasang mata menatap Arya, kebanyakan karyawan wanita yang diam-diam melirik Arya dengan genit.
Arya tidak sabar lagi. Ia meraih ponselnya dan berniat untuk menghubungi Gilang agar bisa berbicara dengan Pelangi. Ia tidak peduli pada anggapan Gilang tentang dirinya yang berani menghubungi Pelangi, padahal Pelangi adalah istri Gilang, yang penting ia bisa bertemu dengan Pelangi hari ini juga dan mengatakan niatnya pada Pelangi agar wanita itu bersedia menjadi ibu dari anaknya.
Arya segera menekan tombol call pada layar ponselnya saat menemukan nama Gilang yang tersimpan pada daftar kontak. Namun, belum lagi panggilannya terhubung, yang dinanti-nanti akhirnya muncul. Arya tersenyum saat dilihatnya Pelangi keluar dari dalam elevator dengan dua orang wanita lainnya.
Arya memutuskan panggilan dan segera berlari menghampiri Pelangi.
"Hai," ujar Arya, saat ia tiba di hadapan Pelangi.
"Pak Arya," ujar Pelangi sembari tersenyum.
Arya mengangguk. "Senang rasanya bisa bertemu denganmu lagi, Pelangi."
Pelangi tersenyum kikuk. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Arya sekarang. Beruntung ada Amara yang segera mengulurkan tangan ke Arya ketika dilihatnya Pelangi kebingungan dan mulai salah tingkah.
"Saya Amara, salah satu asisten keluarga Andreas. Ada yang bisa saya bantu, Pak? Apa Anda ingin bertemu dengan Pak Gilang atau mungkin Pak Farhan?" tanya Amara.
Arya menyambut uluran tangan Amara sembari berkata, "Saya Arya, senang berkenalan denganmu, Amara. Kedatangan saya kemari bukan untuk bertemu dengan Pak Gilang. Saya datang kemari karena ingin bertemu dengan dia." Arya menunjuk Pelangi sembari memperlihatkan susunan gigi putihnya.
Kedua mata Pelangi membelalak, ia terkejut sekali karena Arya terang-terangan mengatakan ingin bertemu dengannya, bukannya Gilang. Memangnya apa yang Arya inginkan darinya hingga pria itu menemuinya langsung di kantor.
Amara dan Delia menatap Pelangi dan arya secara bergantian dengan tatapan bingung dan penasaran.
"Em, tapi, Pak, untuk apa Anda ingin menemuiku. Apa gara-gara masalah di kafe kemarin. Apa Anda masih marah dan dendam padaku karena aku mengira bahwa Anda adalah pegawai di kafe itu?" tanya Pelangi.
Arya tersenyum. "Tidak. Aku sama sekali tidak masalah dengan hal itu. Bukankah sudah kukatakan sejak awal kalau aku tidak marah."
"Lalu?"
"Ayo ikut denganku. Ada yang ingin kutanyakan padamu."
Arya meraih pergelangan tangan Pelangi dan segera menuntun Pelangi menuju kantin. Pelangi yang kebingungan tidak dapat berontak dan menolak, apalagi mengingat Arya adalah rekan bisnis Gilang yang memang sudah seharusnya dihormati.
Sesampainya di kantin, Arya segera memesankan satu milkshake rasa strawberry untuk Pelangi dan satu gelas kopi dingin untuk dirinya sendiri, kemudian ia menuntun Pelangi menuju salah satu meja kosong yang terdapat di pojok kantin dan meminta wanita itu untuk duduk.
Setelah Pelangi duduk dengan nyaman, Arya segera duduk di hadapan Pelangi dan berkata, "Jadilah ibu dari anak-anakku."
"Hah?!"
Bersambung.