OH MY BOSS

OH MY BOSS
KEINGINAN MENGADOPSI BAYI



Pelangi menatap Amara dengan penuh harap, ia penasaran pada tanggapan sahabatnya itu tentang gagasan yang muncul di kepalanya sejak ia mendengar Anneth tidak ingin mengurus bayi yang tengah dikandungnya.


"Bagaimana menurutmu? Tidak masalah kan jika aku mengadopsi bayi, karena keadaanku dan Gilang tidak memungkinkan aku untuk hamil sampai kapan pun. Sementara aku tidak ingin menua sendirian dan kesepian." Pelangi berkata pada Amara.


Amara yang sejak tadi diam saja kini menggelengkan kepala. "Entahlah, Pelangi, aku tidak terlalu yakin. Bukankah seharusnya kamu mendiskusikan hal ini pada Gilang terlebih dahulu."


Pelangi terlihat kecewa. Ia tadinya berharap Amara mendukungnya, dengan begitu akan lebih mudah baginya untuk mengatakan niatnya itu pada Gilang, karena jika ia mendapat dukungan, berarti gagasannya masuk akal dan masih dapat dikatakan wajar.


"Aku memang berniat untuk mendiskusikannya pada Gilang. Tidak mungkin aku memutuskan hal sebesar ini seorang diri. Hanya saja aku ingin bertukar pikiran dulu denganmu sebelum aku mendiskusikan hal ini pada Gilang," ujar Pelangi.


Amara melipat tangan di depan dada. Ia sibuk memikirkan sesuatu. Terlihat jelas dari wajahnya yang berubah serius dan kerutan di dahinya yang terlihat jelas.


"Aku rasa mengadopsi anak adalah ide bagus, tapi apa mertuamu akan setuju jika kamu mengadopsi anak dari Anneth. Bukannya apa-apa, tapi anak Anneth kan ... bagaimana mengucapkannya, ya." Amara bingung, ia ingin mengucapkan bahwa anak Anneth adalah anak yang hadir karena sebuah pelecehan. Tidak semua orang mau mengadopsi anak yang berlatar belakang demikian.


Walaupun tidak bisa mengungkapkannya, Pelangi mengerti apa maksud Anneth. "Aku tahu apa yang ingin kamu katakan, Ra, aku akan bicara pada ayah mertua juga nanti. Aku harap ayah dan Gilang tidak keberatan.


Amara mengangguk dan meraih pergelangan tangan Pelangi. " Semoga lancar."


"Pasti lancar." Pelangi tersenyum riang, memikirkan seorang bayi berada di dalam gendongannya saja mampu membuat hatinya merasa bahagia, bagaimana jadinya jika ia benar-benar menggendong bayi, pasti ia akan sangat bersyukur.


***


Arya Adiguna duduk di dalam ruangannya. Ia terlihat melamun, tatapannya kosong dan pikirannya melayang ke waktu di mana ia pertama kali bertemu dengan Anneth.


Tadinya Arya ingin menghilangkan nyawa Anneth setelah ia mendapat kepuasan dari wanita itu, sama seperti saat dirinya menghabisi nyawa sekretarisnya di hotel yang sama. Namun, hal itu urung ia lakukan karena ternyata Anneth tidak seperti yang dipikirkannya. Arya sama sekali tidak menyangka jika Anneth ternyata masih perawan, padahal sejak awal Anneth mengajukan diri untuk menjadi istri kontraknya, ia mengira bahwa Anneth adalah wanita murahan yang berusaha mendekatinya hanya karena harta, sama seperti yang dilakukan sekretarisnya beberapa bulan lalu, tetapi semakin dipikirkan, ia semakin yakin bahwa Anneth bukanlah wanita seperti itu.


"Selamat siang, Pak." Maulana memasuki ruangan kerja Arya dan menyapa Arya dengan riang, walaupun yang disapa tidak terlihat antusias sama sekali.


Arya hanya melirik Maulana, kemudian kembali memandang ke luar jendela seperti yang sejak tadi ia lakukan.


"Aku tidak dapat kabar apa pun tentang wanita bernama Anneth itu," ucap Maulana.


Arya menghela napas. "Ya, aku tahu. Kamu sama sekali tidak kompeten sejak dulu, mencari seorang wanita saja kamu tidak bisa. Entah kenapa ayahku begitu suka dan percaya padamu. Sepertinya ayahku sudah tidak terlalu teliti lagi dalam menilai karyawan."


Maulana terkekeh, kemudian duduk di salah satu kursi yang terdapat di samping jendela. "Aku ini sangat berguna, Anda saja yang tidak menyadarinya."


"Ya, sangat berguna, terima kasih karena telah sangat berguna." Arya kembali menghela napas. "Siapa sebenarnya wanita itu?Saat pertama melihatnya, aku merasa dia tidak asing, dan sekarang wanita itu meninggalkan kesan yang sangat dalam. Aku sulit melupakannya. Aku juga penasaran kenapa dia mau menikah kontrak agar dapat melahirkan bayi untukku. Padahal aku adalah orang asing baginya, kami bahkan tidak pernah bertemu sebelumnya."


Maulana menatap Arya dengan saksama. Ia sedang memikirkan haruskah ia mengatakan pada Arya siapa Anneth sebenarnya.


"Hem, begini, Ar, sebenarnya Anneth adalah suster yang merawatmu selama ini," ujar Maulana, mulai berbicara santai dan menanggalkan formalitas antara dirinya dan Arya.


Dahi Arya mengernyit. "Suster yang merawatku?"


Maulana mengangguk. "Ya, saat kamu sedang kumat, kamu tidak akan ingat apa pun. Kamu seolah menjadi orang lain dengan segala emosi yang ada di dalam dirimu. Kamu begitu meledak-ledak dan tidak bisa mengendalikan diri. Nah, Anneth adalah suster yang mendampingi dokter Zayan untuk merawatmu. Aku rasa suster itu kasihan padamu, itulah sebabnya dia mengajukan diri untuk menikah kontrak denganmu sampai dia melahirkan bayi untukmu."


Arya terkejut. Ia tidak menyangka jika ternyata Anneth adalah suster yang telah merawatnya. Ia juga menyesal karena telah memperlakukan Anneth dengan tidak baik, padahal dari penuturan Maulana, sepertinya Anneth memang hanya ingin membantunya untuk memperoleh keturunan.


Arya mengusap wajahnya dengan kasar. "Cari tahu di mana dia. Jika perlu, kerahkan semua anak buah ayah atau sewa saja detektif swasta untuk mencari keberadaannya. Wanita itu harus ditemukan."


Maulana bangkit berdiri dan menghampiri Arya dengan mata memicing curiga. "Kamu serius sekali. Apa kamu jatuh cinta padanya?"


"Tidak. Aku hanya ingin dia berada dalam pengawasanku selama beberapa bulan untuk memastikan apakah dia mengandung bayiku atau tidak." Arya menjawab dengan tegas agar Maulana tidak lagi mengajukan macam-macam pertanyaan yang sama sekali tidak penting.


Maulana mengangkat kedua bahu, lalu segera keluar dari ruangan Arya sembari berkata, "Aku akan menyewa preman jalanan juga, barangkali mereka bertemu dengan Anneth di jalan."


***


Sore hari tiba, Pelangi seperti biasa akan mendorong kursi roda Gilang menuju halaman yang berumput hijau dan menghabiskan waktu di sana hingga matahari mulai tenggelam. Menikmati sore hari di halaman memang menjadi salah satu hal yang menyenangkan bagi Pelangi dan Gilang.


Saat ini Pelangi dan Gilang sedang duduk di bawah sebuah pohon rindang yang daunnya berguguran dan menghujani mereka saat angin berembus.


Gilang tertawa mendengar ucapan wanita itu. "Serius kamu merasa kita seperti sedang berada di Kanada?"


Pelangi mengangguk. "Aku sering melihat di televisi, saat musim gugur Kota Quebec akan menjadi sangat indah. Daun-daun pohon maple berguguran di sepanjang jalan dan taman. Ya, seperti ini. Lihatlah, tempat yang kita duduki penuh dengan daun-daun kering."


Gilang kembali tertawa. "Ya, daun-daun ini menumpuk, apa tukang kebun tidak pernah membersihkannya? Kenapa mereka semua jadi pemalas."


"Tukang kebun kita sedangpulang kampung bersama dengan istrinya, lalu Pak Dadang juga pulang kampung karena anaknya akan segera melahirkan. Aku dengar Pak Dadang akan kembali setelah anak mereka memberi nama untuk cucunya. Semacam syukuran begitulah."


"Benarkah?"


"Ya, benar. Sebenarnya kita berdua diundang. Hanya saja kesehatanmu tidak memungkinkan kita untuk berangkat ke sana. Jadi, aku menitipkan sedikit kado untuk si bayi dan ibunya." Pelangi tersenyum.


Gilang ikut tersenyum begitu melihat binar bahagia di kedua mata Pelangi. "Kamu memberi kado apa?" tanya Gilang pada sang istri.


"Hem, aku memberi pakaian, bouncer, sepatu, kaus kaki, kaus tangan, pokoknya semua yang dibutuhkan si bayi. Itulah sebabnya kemarin lusa aku pergi dengan Amara begitu lama, karena kami berdua berbelanja. Aku bahkan hampir menghabiskan isi kartu ATM-mu." Pelangi tertawa.


Gilang merasa sedih sekarang, walaupun Pelangi terlihat bahagia, tetapi ada sesuatu dari tawa wanita itu yang justru menusuk hatinya. Pelangi sangat menikmati saat-saat berbelanja perlengkapan bayi, tetapi sampai kapan pun Pelangi tidak akan pernah bisa berbelanja keperluan bayi untuk bayi mereka sendiri.


"Kamu bahagia?" tanya Gilang.


Pelangi mengangguk. "Ya, aku bahagia."


"Maafkan aku karena tidak bisa memberi kebahagian seperti itu padamu."


Pelangi menarik kursi roda Gilang agar pria itu mendekat ke tempatnya duduk. "Jangan bilang begitu. Aku tidak mau kamu merasa sedih hanya karena masalah yang sudah kita bahas berulang kali."


Gilang mengangguk. "Cium aku kalau begitu."


Pelangi segera mendaratkan kecupan di bibir Gilang dan mengusap rambut pria itu. "Ada yang ingin kukatakan pada, Gil," ucap Pelangi kemudian.


"Apa?" tanya Gilang.


"Hem, tapi kamu jangan marah atau merasa tersinggung, atau merasa apa pun. Janji." Pelangi mengaitkan jari kelingking Gilang ke jari kelingkingnya.


"Ya, aku janji," ujar Gilang. "Asal kamu tidak meminta restu untuk menikah lagi."


Pelangi tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Gilang. " Ish, kamu pikir aku ini wanita seperti apa. Mana mugkin aku menikah lagi."


"Mana aku tahu niatmu, benar, 'kan?" Gilang menjawab dengan suara datar.


Pelangi mencubit hidung Gilang dengan keras, hingga hidung mancung pria itu terlihat kemerahan.


"Aku tidak memiliki niat seperti itu sama sekali, Gil, jangan asal menuduhku." Pelangi cemberut, lalu melanjutkan. "Aku ingin mengadopsi bayi. Bagaimana menurutmu?"


Gilang tidak terlalu terkejut, seolah gagasan demikian juga pernah singgah di dalam benaknya. "Bayi? Apa kamu sudah memiliki calon bayi yang ingin kamu adopsi?"


Pelangi mengangguk. "Ya, aku sudah memilikinya. Tapi aku harus meminta izin pada ibunya dulu. Jika ibunya mengizinkan, maka aku akan mengadopsi bayi itu."


Sekarang Gilang terlihat bingung. "Bukan bayi dari panti asuhan atau rumah sakit?" tanya Gilang.


Pelangi menggeleng. "Bukan. Aku ingin mengadopsi bayi Anneth."


Sekarang Gilang makin terlihat bingung, karena setahunya Anneth belum menikah, dan tidak sedang mengandung juga, jadi bagaimana bisa Pelangi ingin mengadopsi bayi Anneth?


"Bayi Anneth, maksudmu bagaimana? Apa Suster An punya anak?" tanya Gilang.


Pelangi menggeleng sekali lagi. "Tidak, Sayang, tidak. Anneth belum punya anak, tapi sebentar lagi dia akan memiliki anak. Dia sedang mengandung."


Bersambung.