
Andrew melajukan kendaraannya menembus padatnya arus lalu lintas Kota Jakarta. Jarak antara Blossom Hotel dengan perumahan elite tempat Farhan tinggal memang lumayan jauh. Sekitar satu jam perjalanan, itu pun jika jalanan yang dilalui tidak terjadi macet.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu satu jam rasa satu tahun, akhirnya Andrew tiba di kediaman Farhan Andreas.
Salah satu petugas keamanan yang berjejer di depan gerbang kediaman Farhan Andreas segera membuka gerbang begitu Andrew menurunkan kaca mobilnya dan memperlihatkan wajahnya pada salah satu petugas. Andrew tahu, jika lebih dari dua petugas dikerahkan untuk menjaga gerbang bagian depan, itu berarti situasi sedang genting, dan memang benar adanya, situasi di kediaman Farhan tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Apalagi yang menjadi taruhan dalam situasi genting kali ini adalah nyawa menantu tersayang Farhan.
Andrew segera menginjak pedal gas kendaraannya begitu gerbang telah terbuka lebar, memasuki halaman yang luas dan indah. Namun, sekarang halaman yang indah itu terlihat suram. Pelayan berkumpul di setiap sudut halaman, membentuk rombongan-rombongan kecil yang kompak membicarakan sesuatu sembari menangis.
Andrew menghentikan mobilnya di bawah sebuah pohon tabebuya yang berdiri kokoh di dekat semak mawar. Ia tidak ingin menanggalkan kesopanan hanya karena dirinya adalah anak dari pemilik kerajaan bisnis perhotelan terbesar di Jakarta. Mana mungkin ia mengendarai mobilnya melewati sekumpulan pelayan yang sedang bersedih karena kehilangan rekan kerja mereka.
Andrew memilih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, berjalan sedikit cepat, lalu kemudian berlari agar ia dapat tiba dengan cepat di bangunan utama. Saat Andrew melintas, pelayan yang sedang berkumpul sontak berdiri dan membungkuk hormat. Andrew hanya mengangguk singkat sebelum akhirnya kembali melajukan larinya menuju rumah.
"Pelangi!" teriak Andrew saat kakinya telah memasuki bagian dalam rumah, lalu berlari menaiki anak tangga dua-dua sekaligus menuju kamar Pelangi dan Gilang yang berada di lantai dua.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka. Andrew langsung menyipitkan mata, berusaha memfokuskan pandangan ke setiap sudut kamar untuk mencari keberadaan Pelangi. Beberapa saat kemudian, kedua mata Andrew menangkap sosok yang dicarinya.
Pelangi meringkuk di sudut kamar, bersandar pada dinding sembari memeluk lutut, wajah cantiknya tenggelam ke dalam lututnya yang ditekuk sedemikian rupa.
Andrew menutup pintu kamar, lalu melangkah menghampiri Pelangi. Hatinya sakit melihat keadaan Pelangi, ketakutan yang nyata membuat wanita itu menyendiri seperti sekarang.
Andrew terus melangkah, kemudian duduk di hadapan Pelangi yang belum menyadari kehadiran Andrew.
"Hai," bisik Andrew, sembari menyentuh lengan Pelangi.
Mendengar suara Andrew, Pelangi mengangkat wajahnya, memperlihatkan wajah cantiknya yang basah karena air mata. Sorot matanya yang biasanya terlihat ceria, tidak tampak di kedua mata bulat Pelangi hari ini. Sebaliknya, Andrew melihat ketakutan dan kekhawatiran di sana, juga kebingungan yang sama sekali tidak berusaha Pelangi sembunyikan.
Andrew mengulurkan tangan, mengusap air mata Pelangi dengan lembut.
"Ndrew, di mana Gilang?" tanya Pelangi dengan suara parau.
Andrew menggeleng. "Aku tidak tahu. Aku baru saja tiba, aku bahkan baru tahu dari Exel kalau semua ini terjadi padamu. Maafkan aku, Pelangi, maafkan aku." Andrew menangis, ia tidak tahan untuk tidak mengeluarkan bulir bening itu dari kedua matanya. Menyadari bahwa dirinya hampir saja kehilangan Pelangi membuat rasa sedih dan menyesal menyerang dadanya bersamaan dan tanpa henti, sseolah ada ratusan belati yang tertancap di sana. "Andai saja aku ada di sampingmu saat itu, andai saja aku terus mengawasimu seperti biasanya ...." Andrew tidak dapat meneruskan kalimatnya, ia terisak hingga tidak mampu lagi untuk berkata-kata.
"Aku sungguh tidak apa-apa, aku hanya tidak menyangka saja jika ada orang yang begitu ingin menghilangkan nyawaku. Dan sekarang aku mulai berpikir, apa orang itu hanya ingin aku saja yang mati? Bagaimana kalau mereka juga mengincar Gilang, bagaimana, Ndrew?" Pelangi kembali menangis, tubuhnya gemetar, dan sorot ketakutan kembali terpancar dari matanya yang bulat. Ia takut jika Gilang yang dicintainya juga sedang menjadi target para pembunuh yang identitasnya masih misterius.
Andrew menarik Pelangi ke dalam pelukannya, mengusap punggungnya dengan lembut, berharap Pelangi dapat lebih tenang. Akan tetapi, Andrew tahu jika semua itu akan percuma saja. Sekarang Pelangi sedang mengkhawatirkan Gilang, dan hanya dengan menemui Gilang dan memastikan keadaan pria itu saja Pelangi akan merasa tenang.
"Aku akan mencari Gilang. Apakah sudah ada yang mencoba menghubungi Gilang?" tanya Andrew.
Pelangi mengangguk. "Ya, aku sempat mendengar kalau Tito mencoba untuk menghubungi Gilang, tapi ponselnya tidak aktif. Apa kamu tidak bertemu Gilang di kantor?"
Andrew menggeleng. "Aku belum ke kantor hari ini. Aku sedang di hotel tadi bersama dengan Exel dan Delia."
Pelangi diam saja. Ia tidak terlalu peduli pada Exel dan juga Delia. Sekarang ini yang paling penting baginya adalah bagaimana keadaan Gilang dan di mana Gilang. Tidak mungkin Gilang tidak datang jika suaminya itu telah mengetahui keadaannya.
"Pelangi!"
Teriakan Amara yang baru saja tiba bersama dengan Toni dan menerobos masuk ke kamar membuat Pelangi dan Andrew terkejut. Detik berikutnya, Amara menghambur ke dalam pelukan Pelangi dan mulai menangis tersedu-sedu sambil mendekap Pelangi.
"Syukurlah kamu selamat, syukurlah kamu tidak apa-apa, aku pikir kamu sudah ... pokoknya aku bersyukur sekali kamu baik-baik saja. Ya, Tuhan, siapa orang yang begitu jahat sampai ingin melukaimu?!" Amara terisak, mengeratkan pelukannya pada Pelangi, membuat Pelangi kesulitan bernapas.
"Ck, dia bisa pingsan karena sesak kalau kamu memeluknya seperti itu." Toni menjauhkan tubuh Amara dari Pelangi, tetapi percuma saja, Amara menepis tangan Toni dn tetap memeluk Pelangi walaupun tidak seerat sebelumnya.
Pelangi membalas pelukan Amara, "Aku memang tidak apa-apa, Ra, tapi ada dua orang yang meregang nyawa di depanku tadi," lirih Pelangi.
Amara menjauhkan tubuhnya dari Pelangi, lalu menatap wanita itu dengan iba. "Siapa?"
"Bi Aminah dan Ringgo."
Pelangi mengangguk. "Dia datang dan berusaha memperingatkanku bahwa ada sesorang yang ingin menghancurkan bisnis ayah dan memisahkanku dari Gilang. Saat dia akan menyebut nama seseorang itu, tiba-tiba saja sebuah tembakan mengenai tubuhnya, dan dia meninggal, darahnya bahkan mengenai wajahku." Tubuh Pelangi gemetar saat mengatakan semua itu. "Lalu, saat kami berlari menuju mobil, Bi Aminah tertembak tepat di kepala. Aku rasa orang itu ingin menembakku tapi melesat. Gara-gara aku Bi Minah jadi meninggal. Seharusnya akulah yang tertembak buka Bi Aminah."
"Shuut, jangan bilang begitu." Amara kembali memeluk Pelangi. "Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Kita semua tidak tahu bahwa hal seburuk ini akan menimpamu dan Bi Minah, andai kita tahu, jangankan Bi Minah, kamu pun pasti memilih untuk tetap berada di rumah hari ini. Jadi, jangan menyalahkan dirimu sendiri, Pelangi. Doakan saja semoga Bi Minah tenang di sana. Tugas kita di sini adalah mencari tahu siapa pelakunya dan menjebloskan mereka semua ke penjara. Mereka harus bertanggung jawab atas meninggalnya Bi Minah."
Toni ikut menunduk di hadapan Pelangi. "Benar apa yang dikatakan Amara. Tugas kita sekarang adalah mencari siapa yang bertanggug jawab. Aku akan mengabari Gilang nanti. Saat ini dia sedang tidak ada di kantor, karena sedang meninjau lokasi pembangunan hotel baru bersama dengan Pak Surya."
Mendengar nama Surya disebut, Pelangi bereaksi. Wajahnya menegang dan mendadak pikiran buruk memenuhi kepalanya. Jika yang dikatakan Ringgo benar, apakah Surya ada hubungannya dengan semua ini. Toh, perusahaan Gilang sekarang sedang bekerja sama dengan perusahaan Surya. Lagi pula, hanya Surya yang pernah datang ke rumah Farhan. Sebelumnya Pelangi tidak pernah mendapati seorang rekan kerja datang ke kediaman mertuanya. Kedatangan Farhan pastilah memiliki tujuan lain, bukan hanya sekadar mengantar undangan saja.
"Toni, sedekat apa hubungan ayah dan Gilang dengan Pak Surya itu? Maksudku sudah berapa lama mereka saling kenal?" tanya Pelangi.
"Kami baru beberapa minggu ini kenal dengannya. Sebelumnya baik aku, Gilang, maupun Pak Farhan tidak mengenal Pak Surya sama sekali. Kenapa?"
Pelangi terlihat semakin khawatir. "Aku memiliki firasat buruk tentang si Surya itu. Ringgo bilang ada seseorang yang ingin menghancurkan bisnis ayah, bisa saja kan orang yang dimaksud Ringgo adalah Pak Surya."
Toni menghela napas. "Kecurigaanmu tidak beralasan, Pelangi. Ada banyak orang yang menjadi rekan bisnis Gilang dan Pak Farhan."
Jika Toni terlihat tidak terlalu memikirkan ucapan Pelangi, berbeda halnya dengan Toni. Ia tahu sebelumnya pasti telah terjadi sesuatu, jika tidak mana mungkin Pelangi mencurigai Surya.
"Apa yang membuatmu mencurigai pria itu?" tanya Andrew, terlihat penasaran.
Pelangi menatap Andrew, Toni dan Amara bergantian. Ada keraguan di dalam hatinya untuk mengatakan pengalaman memalukan yang dialaminya beberapa hari lalu.
"Sebenarnya aku tidak tahu apakah yang akan kukatakan ini dapat dijadikan patokan bahwa sikapnya yang kurang ajar mencerminkan niatnya yang buruk, tapi kan tidak salah juga kalau--"
"Langsung saja, Pelangi. Jangan berbelit-belit!" seru Andrew dengan tidak sabar.
"Dia pernah meremas bokongku!" pekik Pelangi, lalu menundukan wajah. Ia terlalu malu untuk menatap semua orang yang ada di depannya, bahkan Amara sekali pun.
"Kapan?" tanya Andrew.
Jika Amara dan Toni terlihat terkejut akan pengakuan Pelangi, lain halnya dengan Andrew yang wajahnya merah padam. Terlihat dengan jelas bahwa Andrew sangat marah dan tidak terima atas perlakuan Surya pada Pelangi.
"Pelangi, tatap aku dan katakan kapan dia melakukan hal tidak sopan itu padamu," ujar Andrew, karena Pelangi tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
Pelangi mendongakkan kepala dengan enggan agar dapat kembali menatap Andrew. "Saat dia datang kemari untuk mengantarkan undngan beberapa hari lalu."
Amara mendaratkan tinju di lengan Toni karena terlalu kesal. "Waktu itu kan ada aku juga di sampingmu, La, kenapa kamu tidak katakan padaku?!"
"Aku malu." Pelangi kembali menunduk.
"Jadi itulah sebabnya kamu langsung menarikku pergi dari rumah. Padahal saat itu kita kan sedang menunggu tukang servis AC."
Pelangi mengangguk, kemudian ia kembali menatap Andrew dan Toni. "Menurutmu apakah dia itu orang baik? Dengan sikap yag tidak sopan seperti itu, aku rasa dia itu seorang penjahat yang berpura-pura baik."
Andrew yang sejak tadi duduk di hadapan Pelangi, bangkit berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Pelangi agar wanita itu berdiri juga. "Bangunlah dan istirahatlah dengan baik di ranjang. Aku dan Toni akan menyusul Gilang. Jika memang dia memiliki niat buruk pada keluarga ini, tidak menutup kemungkinan jika Gilang juga sedang dalam bahaya."
Kedua mata Pelangi kembali berair ketika mendengar ucapan Andrew. Ia benar-benar khawatir dan takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Gilang. "Kabari aku jika kamu sudah menemukan Gilang."
Andrew mengangguk, lalu refleks ia mendaratkan kecupan di dahi Pelangi. "Jangan terlalu khawatir. Aku akan menemukan suamimu untukmu."
"Terima kasih, Andrew dan maafkan aku," lirih Pelangi.
Andrew tahu apa maksud permintaan maaf Pelangi. Karena tidak ingin membuat Pelangi menjadi terbebani oleh perasan bersalah, Andrew pun memasang senyum palsunya seperti biasa. "Jangan merasa tidak enak, Pelangi. Aku sama sekali tidak patah hati. Jika kamu bahagia, aku pun demikian. Tunggulah di sini dan istirahatlah." Andrew membelai pipi Pelangi sebelum akhirnya ia keluar dari kamar dengan tangan mengepal.
"Di benar-benar jatuh cinta padamu, Pelangi. Bertepuk sebelah tangannya, sungguh membuatku terharu. Cinta memang sialan!" gumam Toni, lalu ia menyusul Andrew.
Bersambung ....