OH MY BOSS

OH MY BOSS
REKAN BISNIS BARU



Gilang menjatuhkan gelas yang baru diterimanya dari seorang pelayan bar, membuat gelas tersebut menjadi serpihan kecil yang berserakan di lantai.


Seorang pelayan bar berkemeja merah dengan cekatan membersihkan serpihan-serpihan kaca dari lantai.


"Maaf, aku tidak sengaja," ujar Gilang, merasa tidak enak karena telah membuat gaduh.


"Tidak apa-apa, Pak, sungguh tidak apa-apa," ucap si pelayan.


Rekan Gilang yang juga merupakan seorang klien berdecak sembari menghela napas saat melihat sikap Gilang. "Biarkan saja, Pak Gilang, memang itu sudah tugas mereka. Membersihkan kekacauan yang kita buat adalah bentuk pelayanan yang memang harus mereka kerjakan. Tidak usah minta maaf," ujar Surya Permana.


Gilang tidak menghiraukan ucapan Surya. Sejak awal, ia memang tidak terlalu suka pada pria itu. Bukan tanpa alasan Gilang tidak menyukai Surya, selain karena ucapannya yang kasar, Surya juga selalu menentukan tempat pertemuan mereka di tempat-tempat hiburan malam yang hampir tidak pernah Gilang kunjungi sejak ia menikah dengan Pelangi, dan malam ini Surya kembali menunjukan bahwa ia memang pantas untuk tidak disukai.


"Menghargai orang lain adalah sesuatu yang baik untuk dilakukan, Pak Surya. Toh, tidak ada ruginya juga," ujar Gilang dengan kesal.


Surya tertawa mendengar ucapan Gilang. "Ya, ya, ya, menghargai orang lain memang hal yang baik. Tapi, Pak Gilang, kita juga harus lihat-lihat siapa yang seharusnya kita hormati dan siapa yang tidak. Tidak semua orang pantas untuk dihormati. Apalagi seorang pelayan, pembantu dan sejenisnya. Orang-orang kotor macam mereka tidak pantas mendapat sebuah kehormatan dari orang seperti kita."


Gilang berang, ia sudah tidak tahan lagi pada tingkah Surya. Seandainya Toni tidak memegang lengan Gilang, Gilang pasti akan menghajar Surya hingga gigi pria itu rontok tanpa sisa.


"Tenangkan Dirimu, Gil, dia salah satu klien penting kita. Jangan terpancing pada tingkahnya yang memang menyebalkan," bisik Toni di telinga Gilang.


Gilang mengatur napas, menuruti nasihat Toni. Toh, ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk mengganti semua kerugian yang ia sebabkan di perusahaan selama satu bulan terakhir.


Setelah si pelayan selesai membereskan serpihan kaca, Gilang memberinya beberapa lembar uang. "Jangan menolak, ini tip untukmu."


"Terima kasih, Pak, terima kasih." Si pelayan membungkuk hormat pada Gilang, lalu segera berlalu pergi.


"Aku punya banyak uang. Sayang kalau tidak kuhanburkan," ujar Gilang, melihat ekspresi aneh di wajah Surya.


"Banyak cara menyenangkan untuk menghabiskan uang, Pak Gilang. Bercinta dengan gadis-gadis misalnya, alkohol, obat-obatan. Bukannya menjadi penyumbang untuk orang susah. Kita kan bukan panti sosial." Surya menjawab dengan malas.


Gilang tersenyum kecut mendengar ucapan Surya. "Semua yang Anda sebutkan itu bukan life style-ku. Lagi pula aku sudah beristri." Gilang menunjukan jari manisnya di hadapan Surya, memperlihatkan sebuah cincin yang melingkar di sana.


"Oh, suami takut istri rupanya," komentar Surya.


"Bukan takut, tapi sayang. Dua hal itu sangat berbeda." Rahang Gilang mulai mengeras. Toni yang menyadari perubahan emosi pada Gilang, segera menengahi perdebatan yang terjadi di antara kedua petinggi perusahan tersebut.


Toni berdeham dan berkata, "Apa bisa kita mulai saja rapatnya? Hari sudah semakin malam, kita hanya membuang-buang waktu di sini jika pertemuan kita kali ini tidak menghasilkan apa-apa." tanya Toni, sambil melirik arloji yang melingkar di tangannya, kemudian menatap Surya dan Gilang bergantian.


Selama rapat berlangsung, Gilang sama sekali tidak fokus. Perasaannya tiba-tiba saja tidak enak. Seperti ada sesuatu hal buruk yang sedang terjadi. Namun, ia tidak bisa memastikan apa yang membuat pikirannya menjadi kalut.


Untuk menenangkan pikirannya, Gilang bahkan mengirim pesan ke Pelangi dan Amara. Akan tetapi, kedua gadis itu tidak ada yang membaca pesan darinya.


Ingin sekali Gilang menelepon ke rumah, tapi akan terkesan tidak sopan jika ia meninggalkan rapat yang sedang berlangsung. Apalagi sebelumnya ia telah bersitegang dengan Surya.


***


Sementara itu di kediaman Farhan Andreas, ketegangan masih berlanjut. Exel yang masih berusaha menahan pergelangan tangan Pelangi agar gadis itu tidak terjatuh mulai putus asa. Pelangi yang telah pingsan tidak lagi dapat menggenggam tangan Exel dengan kuat. Sehingga Exel harus berusaha seorang diri untuk menjaga agar tubuh Pelangi tidak meluncur dan mendarat dengan keras di atas tanah.


Sepuluh menit pertama tidak masalah, tetapi di menit kesebelas Exel mulai tidak tahan. Keringat yang mulai membanjiri tangannya menjadi penyebab utama ia kesulitan menahan tangan Pelangi.


"Aku harus lepaskan dia. Ya, harus." Exel mengambil satu-satunya keputusan yang ada, karena sangat tidak mungkin menahan tangan Pelangi lebih lama lagi.


Exel menjangkau bantalan sofa yang berada tidak jauh darinya dengan sebelah kakinya, lalu ia menjatuhkan bantalan sofa itu ke bawah. Ada sedikitnya lima bantalan sofa yang ia jatuhkan ke bawah, berharap tubuh Pelangi nantinya akan mendarat di atas bantal-bantal itu. Ya, memang tetdengar tidak masuk akal, tapi untuk sekarang Exel memang hanya bisa berharap, walaupun harapannya sama sekali tidak logis.


Setelah semua bantal sofa berada tepat di bawah balkon, Exel perlahan melangkah melewati jeruji pembatas balkon yang memang tidak terlalu tinggi, sambil masih berusaha memegangi tangan Pelangi yang kini hanya bisa ia pegang jemari-jemarinya saja.


Setelah beberapa saat memanjat dengan susah payah, akhirnya tubuh Exel berada di luar jeruji pembatas. Ia segera melihat ke bawah dan merasa bersyukur sekali karena bantal-bantal yang ia lemparkan ke bawah tersusun dengan rapi dan tidak renggang sama sekali, sehingga jika ia bisa mengayunkan tubuh Pelangi dengan hati-hati dan menjatuhkannya di tempat yang tepat, Pelangi pasti akan selamat.


Exel mengatur napas, karena sekarang ia merasa gugup sekali. "Oh, ya, Tuhan, aku bukan super herro. Tolong bantu aku menyelamatkan gadis yang tidak berdosa ini," ucap Exel, lalu dengan perlahan ia mulai mengayunkan tubuh Pelangi dan melepasnya. Beberapa saat setelah tubuh Pelangi meluncur bebas di udara, Exel pun ikut melompat dari atas balkon, ia harus memastikan apakah Pelangi baik-baik saja.


Buk!


Exel mendarat dengan selamat walaupun sebelah kakinya terkilir dan menyebabkan ia tidak bisa berdiri dengan baik.


Untuk memastikan apakah Pelangi baik-baik saja, Exel segera bangkit untuk duduk dan merangkak ke tempat di mana Pelangi terbaring. Sesampainya di samping Pelangi, Exel segera mengguncang tubuh gadis itu, Exel bahkan memberikan napas buatan agar pelangi segera sadar.


"Halo, siapa di sana?"


Suara seorang wanita yang tiba-tiba muncul di halaman belakang membuat Exel terkejut.


"Siapa di sana?!"


Bersambung ....