
Antonio, seorang pria bertubuh kurus dan tinggi yang pas-pasan berjalan dengan santai sembari menyeret sebuah koper berukuran sedang di belakang seorang wanita cantik pun seksi berkacamata hitam. Keduanya tengah menyeberangi lobi Hotel Savari, menuju sebuah meja resepsionis yang terdapat di seberang ruangan.
Setibanya di tengah lobi, si wanita memisahkan diri dari si pria dan memilih untuk menunggu di sofa yang terdapat di setiap sudut lobi, sejajar dengan meja resepsionis.
Wanita cantik itu adalah Gisela, yang sejak semalam tidak dapat tidur dengan nyenyak karena ingin buru-buru melakukan reservasi di Hotel Savari. Wajar saja jika Gisela merasa tidak sabar, bayangan gilang dan Pelangi yang menghabiskan malam bersama di dalam sebuah kamar di hotel itu terus melintas di dalam kepalanya. Membuatnya gelisah, marah dan sakit hati sekaligus. Ingin rasanya malam itu juga ia datang dan menerobos masuk ke dalam kamar Gilang, lalu menghajar wanita yang telah berani menggoda Gilang hingga Gilang solah lupa diri. Namun, akal sehatnya belum sampai sekacau itu hingga ia tidak bisa berpikir jernih.
"Kita mendapat kamar yang berjarak tiga kamar dari kamar Pak Gilang, Nona." Antonio kembali dan menyerahkan sebuah kartu pada Gisel yang sejak tadi menunggu di sofa, sementara Antonio lekaukan chek-in.
"Baiklah. Kamu boleh kembali. Datanglah dengan segera jika aku meneleponmu dan menintamu untuk datang," ujar Gisel, sambil berdiri dan menerima card lock dari tangan Antonio.
Antonio mengangguk dengan patuh dan segera berlalu dari hadapan Gisela. Pria itu berjalan dengan santai hingga tiba di luar hotel. Setelah memastikan bahwa ia tak lagi berada dalam jarak pandang Gisela, ia segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan mengirimkan pesan pada Andrew.
[Gisela sudah di posisi, kamarnya berjarak tiga kamar dari kamar Gilang dan Pelangi, Tuan.]
***
Pelangi menggeliat sembari meringis karena merasakan nyeri pada lehernya. Ia pun membuka mata dengan perlahan dan mendapati Gilang di hadapannya, sedang tertidur dengan posisi yang pasti akan membuat leher pria itu sakit juga.
Gilang dan juga Pelangi tertidur dalam posisi duduk, sementara kepala mereka bersandar pada meja yang menuh dengan berkas-berkas kantor milik Gilang dan juga laptop. Tidak mengherankan jika saat terbangun leher Pelangi terasa sakit sekali
"Ah, aku ketiduran," lirih Pelangi, sembari menggerakkan lehernya dengan perlahan untuk menghilangkan rasa kaku yang menyerang lehernya.
Setelah Pelangi merasa keadaannya lehernya sedikit membaik, wanita itu segera mengguncang tubuh Gilang dengan perlahan. "Bangunlah," ujarnya. "Bangunlah dan pindah tidur di ranjang. Lehermu bisa sakit kalau kamu terus-terusan tidur dengan posisi seperti ini." Pelangi terus mengguncang tubuh Gilang sembari mengoceh hingga pria itu menggeliat dan membuka mata.
"Argh!" lirih Gilang, sambil memegangi lehernya.
"Pasti sakit sekali. Aku juga tadi seperti itu saat baru bangun. Rasanya leherku ini akan lepas dari tempatnya," ujar Pelangi.
Gilang menatap Pelangi dengan iba. "Maafkan aku. Seandainya semalam aku memintamu untuk tidak membantuku, kamu pasti akan tidur dengan nyaman di atas ranjang, bukannya malah tidur di tempat seperti ini." Gilang terlihat benar-benar menyesal.
Pelangi tersenyum agar Gilang tidak semakin merasa bersalah. "Aku tidak apa-apa. Bukankah aku sendiri yang menolak untuk tidur lebih dulu semalam. Tidak mungkin aku membiarkan bosku bekerja sendirian. Aku tidak ingin makan gajih buta."
Gilang membalas senyuman Pelangi dan menggeser duduknya ke arah Pelangi, kemudian ia menatap wanita itu dengan tajam. "Apa lehermu masih sakit?" tanya Gilang.
Pelangi menggeleng, kemudian mengguk. Ia salah tingkah karena Gilang berada begitu dekat dengannya. Ia bahkan dapat merasakan embusan napas Gilang yang hangat pada wajahnya.
Gilang menarik Pelanngi mendekat kemudian mendaratkan bibirnyadi leher Pelangi. Pelangi refleks menyentuh pundak Gilang dan meremas kemeja pria itu untuk menahan rasa geli yang menjalar di seluruh bagian lehernya.
Setelah beberapa saat, Gilang menjauh dari Pelangi sembari tersenyum. "Sebenarnya aku ingin melakukan lebih dari sekadar mencium lehermu. Tapi hal itu tidak akan kulakukan sampai kamu mengatakan kalau kamu menyukaiku dan kamu mengingatku," ujar Gilang, lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. "Mandilah juga, kita akan ke kantor pagi ini," teriak Gilang, begitu ia telah tiba di ambang pintu kamar mandi.
Teriakan Gilang menyadarkan Pelangi yang sedang sibuk memikirkan perkataan Gilang barusan. "Apa maksud perkataannya? Apa dia ingat padaku," gumam Pelangi seorang diri.Kemudian ia menutup mulut dengan tangannya, ekspresi terkejut dan bahagia terpancar jelas di wajah cantiknya. "Ya, Tuhan, benarkah dia ingat padaku! Suamiku ingat padaku!"
***
Di dalam perjalanan menuju kantor. Gilang dan Pelangi tidak banyak berkata-kata. Keduanya lebih banyak diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Jika Pelangi sibuk memikirkan perkataan Gilang saat masih di kamar hotel tadi. Gilang justru sibuk memikirkan apa yang baru saja dilihatnya ketika ia keluar dari kamar hotel tadi.
Ya, saat akan berangkat ke kantor, Gilang melihat seorang wanita memasuki sebuah kamar yang berjarak beberapa kamar dari kamarnya. Wanita itu mirip sekali dengan Gisel, begitu juga dengan pakaiannya. Pakaian yang dikenakan oleh Gisel kebanyakan adalah pakaian yang dijual dalam edisi terbatas alias limited edition. Hingga Gilang merasa yakin sekali bahwa wanita yang barusan ia lihat itu memang Gisel.
Akan tetapi, jika wanita itu memang Gisel, apa yang dilakukan Gisel di hotel yang sama di tempatnya menginap? Gilang membatin.
Gilang segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya dan menghubungi nomor apartemen Gisel.
"Halo," Suara seorang wanita menjawab panggilan Gilang pada dering pertama.
"Bi Ayu. Di mana Gisel Bi? Katakan padanya kalau aku mau bicara," ujar Gilang, pada asisten rumah tangga Gisel.
"Nyonya sedang mandi, Tuan, baru saja saya mengisi bak mandi nyonya dengan air hangat dan busa-busa wangi. Jika saya mengganggu beliau, pasti beliau marah pada saya," jawab Bi ayu dari seberang panggilan. Suaranya terdengar menggerutu seperti biasanya.
"Baiklah, tidak usah, Bi, nanti biar aku telepon ke ponselnya saja," ujar Gilang, lalu memutuskan panggilan.
Rasa khawatirnnya seketika menghilang begitu mendengar jawaban dari Bi Ayu. Wanita paruh baya itu memang sangat polos dan selalu berbicara apa adanya. Itulah sebabnya Gilang lebih memilih menelepon nomor telepon rumah Gisel alih-alih menelepon nomor ponselnya, karena Gisel bisa saja berbohong tentang keberadaannya, tetapi tidak dengan Bi Ayu. Jika wanita paruh baya itu mengatakan bahwa Gisel sedang mandi, maka itu berarti Gisel memang sedang mandi dan wanita yang mirip dengan Gisel di hotel tadi hanyalah bayangannya saja.
Pelangi yang sejak pagi tadi merasa bahagia, seketika saja menjadi kesal. Mood-nya rusak parah saat mendengar Gilang menyebut nama Gisel. Melihat wajah Pelangi yang cemberut, Gilang pun mencubiti pipi wanita itu dengan gemas.
"Tapi cium-cium boleh?" Gilang meraih tangan Pelangi dan mengecup punggung tangan wanita itu dengan lembut. Pelangi diam saja, ia merasa terlalu nyaman dengan perlakuan Gilang padanya, hingga ia tidak mampu untuk menolak. Apalagi ia merasa berhak, bagaimana pun juga Gilang adalah suaminya.
Setelah mengecup punggung tangan Pelangi, Gilang terus menggenggam tangan wanita itu, tidak sekali pun terbesit keinginan Gilang untuk melepaskan tangan Pelangi.
"Tetaplah seperti ini. Aku suka saat-saat di mana aku bisa menyentuhmu," ujar Gilang saat mereka telah tiba di kantor dan Pelangi berusaha menjauhkan tangan Gilang dari tangannya.
"Ini tidak pantas, Gil, kalau karyawan lain lihat, maka hal ini akan jadi pembicaraan yang akan mergikan reputasimu."
Gilang menaikan sebelah alisnya dan nenatap Pelangi saat Gilang telah menghentikan mobilnya. "Reputasiku tidak penting."
"Tapi bagiku reputasimu sangat penting. Aku tidak ingin bekerja pada bos yang dicap playboy," ujar Pelangi, lalu menjauhkan tangan Gilang dan segera keluar dari mobil.
Gilang tersenyum. "Dasar, dia sudah tahu kalau aku ini suaminya, tapi masih saja berpura-pura tidak ingat. Apa, sih, yang dia cari sebenarnya?" Gilang menggelengkan kepala, lalu keluar dari dalam mobil, menyerahkan kunci mobilnya pada petugas yang berjaga di depan pintu masuk gedung Andreas Group, dan segera menyusul Pelangi yang sudah berada di dalam gedung.
***
Andrew terbangun saat ponselnye berdering. Ia meraih ponsel dari atas lemari kecil yang berada berada di samping sofa tempatnya tidur dan melihat nama Toni tertera pada layar benda pipih tersebut.
"Ya, halo."
"Sekarang sudah jam berapa? Jangan bertingkah seperti pengantin baru. Kamu cepatlah datang ke kantor. Dasar pria mesum." Toni memutuskan panggilan dengan kesal, karena Andrew lagi-lagi datang terlambat ke kantor, membuat dirinya harus sibuk seorang diri.
Andrew bangkit untuk duduk dan mengucek matanya sebelum akhirnya ia mengeluh begitu melihat angka 10 pada penunjuk waktu yang ada di ponselnya.
"****! Aku terlambat," keluhnya, lalu segera berlari ke kamar mandi.
Delia yang sedang tidur di atas ranjang, ikut terbangun karena keributan yang dibuat oleh Andrew. Tidak berapa lama kemudian, Andrew keluar dari kamar mandi dengan wajah basah. Pria itu kemudian terburu-buru mengganti pakainnya, membuka jubah mandi bahkan di depan Delia sekali pun.
"Eh, apa-apaan!" Delia protes saat Andrew melepas tali pada jubahnya.
"Tutup matamu kalau tidak ingin lihat, Sayangku. Aku sudah terlambat."
Delia menutup mata, membiarkan Andrew beraktivitas sesukanya di dalam kamar. Semalam ia dan Andrew memang berciuman. Ciuman luar bisa yang membuat Delia berharap Andrew melakukan lebih dari sekadar ciuman. Namun, Andrew menghentikannya tepat sebelum gairah mereka berdua semakin tersulut. Andrew cukup menghargai sebuah hubungan, dan kedekatan yang lebih intim hanya akan ia lakukan saat dirinya sudah terikat pernikahan. Itulah yang dikatakan Andrew sembari menjauh dari Delia semalam dengan susah payah.
Cup.
Sebuah kecupan mendarat di bibir Delia yang masih menutup mata. Seketika Delia membuka mata dan mendapati Andrew yang sudah berpakaian di hadapannya. Meski dasi dan jasnya masih ia pegang begitu saja, tetapi Andrew tetap terlihat memesonadan sangat menggoda.
"Aku berangkat dulu. Nanti akan ada pegawai hotel yang mengantarkan makanan. Makan yang banyak dan ingat, jangan ke mana-mana tanpa aku. Pokoknnya jangan buka pintu siapapun yang datang kecuali Exel. Oke."
Delia mengangguk sembari tersenyum. Ia senang sekali karena sekarang ada seseorang yang memperhatikannya dan mengkhawatirkan dirinya. Sebenarnya selama ini Exel juga selalu memperhatikannya, hanya saja perhatian antara Exel dan Andrew jelas berbeda. Exel menyayanginya layaknya saudara, tetapi Andrew menyayanginya karena mereka adalah pasangan kekasih sekarang.
"Jam berapa kamu akan pulang?" tanya Delia.
"Tidak tahu. Kami ada beberapa rapat hari ini dan segala macamnya. Akan aku hubungi setiap aku istirahat."
"Tidak usah terus menghubungiku jika sibuk. Fokus saja dengan pekerjaanmu. Selamat bekerja dan hati-hati di jalan." Delia mengantarkan Andrew yang berlari secepat kilat ke arah pintu, lalu berdiri di ambang pintu, memperhatikan pintu kamar Pelangi dan Gilang yang juga tertutup rapat.
"Aku akan mengawasi kamar itu dari sini, toh melindungi Pelangi adalah tugas Andrew, walaupun dia tidak memintaku, tetapi aku akan melakukannua dengan senang hati." Delia bergumam. Sejak kejadian semalam ia tidak lagi cemburu pada sosok Pelangi. Walaupun ia tahu jika andrew masih memiliki rasa pada Pelangi, tetapi ia percaya bahwa Andrew tidak akan pernah mengecewakannya.
***
Gisel tersenyum sinis di depan cermin rias yang ada di hadapannya. Wanita berwajah cantik dan berhati licik itu merasa puas sekali pada rencana yang telah ia atur sedemikian rupa untuk menyakiti Pelangi. Sebenarnya ia tidak ingin menyakiti siapa pun lagi setelah ia berusaha menjalani hidup sebagai 'orang baik' selama satu tahun terakhir ini, tetapi sulit sekali mengendalikan amarah di dalam dirinya saat ia melihat Gilang menaruh perhatian pada wanita lain. Apalagi Gilangnya yang istimewa itu sampai berani menginap di sebuah kamar hotel tanpa sepengetahuannya. Tentu saja amarahnya tersulut hingga di titik yang tidak bisa lagi ia kendalikan.
Gisel berusaha meyakinkan diri bahwa Gilang tidak mungkin semudah itu jatuh cinta pada wanita lain selain dirinya, tetapi beberapa tahun yang lalu pun ia telah kehilangan Gilang karena seorang gadis pembersih lantai. Ia tidak ingin hal tersebut kembali terulang, hingga baginya menyelesaikan akar permasalahan lebih cepat maka akan lebih baik, sedangkan mengulur waktu hanya akan membuat keadaan semakin kacau. Bisa jadi hubungan Gilang malah semakin dekat dengan si wanita penggoda.
"Wajahmu memang mirip dengan si Pelangi sialan itu. Aku tidak ingin kamu pun merebut Gilang dariku, sama seperti Pelangi yang telah merebut Gilang dariku, Raina."
Bersambung ....