
Gisel tidak percaya pada apa yang didengarnya. Bagaimana bisa Alex memiliki ide segila itu--membuat Gilang bangkrut, mengambil alih perusahaannya dan kemudian menempatkan Gilang pada posisi rendah di perusahaan agar bisa menjadikan Gilang sebagai babunya.
Pembalasan dendam yang sempurna, itu kata Alex. Mana mungkin!
"Gilang itu cerdas. Kamu jatuhkan dia hari ini, maka dia akan bangkit besok. Tidak semudah yang kamu bayangkan menjadikan Gilang sebagai anak buahmu dan menginjaknya sesukamu," ujar Gisel, terdengar masuk akal. Gilang memang tidak bodoh, kecuali ia sedang jatuh cinta. Cinta memang selalu berhasil membuat Gilang bertindak bodoh.
Surya dan Alex hanya tertawa. "Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan oleh orang miskin, Sel. Jika dalam situasi yang terdesak, Gilang pasti akan menyerah juga. Apa gunanya harga diri jika pertunya lapar."
Gisel terlihat tidak terima jika Gilang akan dijadikan babu oleh kedua pria licik yang ada di hadapannya, dan ketidaksetujuannya itu dapat dengan mudah ditebak oleh Alex.
"Kamu tidak suka kalau kami memperlakukan Gilang seperti itu?" tanya Alex. "Kamu sungguh jatuh cinta padanya, itukah sebabnya kamu tidak setuju pada pengaturan yang telah kususun sedemikian rupa untuk Gilang?" ujar Alex.
Gisel menghela napas. "Aku bukannya jatuh cinta pada Gilang. Hanya saja rencana awal kita kan bukan seperti ini. Bukankah awalnya kita hanya akan memisahkan Gilang dari Pelangi, lalu aku merebut Gilang kembali agar hubungan kami membaik seperti dulu lagi, dan setelahnya aku bisa kembali memanfaatkannya dan mengambil semua yang dimilikinya. Apa kamu lupa, Lex, kalau aku berhasil kembali bersama dengan Gilang, baik aku atau pun kamu akan bisa hidup dengan nyaman seperti dulu lagi."
Surya terkekeh. "Ya, itu memang rencanamu, merebut si Gilang yang bodoh itu dari istrinya kemudian memanfaatkannya seperti sebelumnya. Tapi rencanaku adalah rencanaku, dan aku lebih tertarik pada perusahaannya dibandingkan kisah cinta murahan kalian. Jadi, ambil saja Gilangmu itu, tapi kuperingatkan padamu, jangan ganggu rencanaku. Untuk apa memanfaatkannya jika hanya bisa mengeruk sedikit harta yang dia punya, jika aku bisa merebut dan menguasi semuanya."
Surya memperingatkan Gisel, sebelum akhirnya pria itu berbalik dan meninggalkan Gisel dan Alex di ruang tamu tanpa penjelasan apa pun lagi.
Sepeninggalan Surya, Alex menyentuh lengan Gisel dan berkata, "Aku seperti bisa nenebak apa yang ingin kamu lakukan. Apa pun yang ingin kamu lakukan untuk melindungi harta Gilang, jangan lakukan. Karena Surya akan sangat marah. Ambil saja Gilang jika kamu mau, tapi urusan harta Gilang, adalah urusanku dan Surya, kamu jangan ikut campur."
Gisel menepis tangan Alex dari lengannya, lalu ia menatap Alex dengan marah. "Dari mana kamu kenal pria itu, Lex? Katamu dia akan membantuku menempati posisiku sebelumnya, tapi kenyataan dia malah mau menguasai semua harta Gilang seorang diri. Kalau aku tahu akan seperti ini jadinya, aku tidak akan mau bergabung dengan kalian!"
Alex mendorong tubuh Gisel, hingga wanita itu hampir saja terjatuh jika tidak segera berpegangan pada lemari hias yang ada di sebelahnya.
"Ya, pergilah jika kamu mau pergi. Tidak ada yang memintamu untuk bergabung bersamaku dan juga Surya. Kamulah yang datang padaku dan meminta bantuan dariku saat kamu sudah menjadi gembel di luar sana. Ingat itu, Sel!" bentak Alex, ia kesal sekali pada Gisel yang sok. Bukannya mendukung rencananya, wanita itu malah sibuk dengan perasaannya sendiri. Padahal juga bukan karena dirinya, entah jadi apa Gisel di luar sana.
Gisel terdiam, ia hanya berdiri mematung sembari menatap kepergian Alex dengan perasaan campur aduk. Berusaha memikirkan rencana kedua yang mungkin bisa ia lakukan seorang diri tanpa melibatkan Alex dan Surya.
***
Sudah lewat tengah hari ketika akhirnya Gilang, Toni, dan Andrew tiba di kediaman Farhan Andreas.
Pelangi yang sejak pagi sudah gelisah dan tidak henti-hentinya mondar-mandir dari teras ke ruang tamu, begitu juga sebaliknya, seketika menjadi girang bukan main saat dilihatnya sedan mewah milik Andrew memasuki halaman.
Ingin rasanya ia berlari menyeberangi halaman, menghanpiri Gilang, lalu menghambur ke dalam pelukan pria itu dan menumpahkan segala rasa sedih, kecewa dan gelisah yang memenuhi dadanya.
"Ingat, jangan melompat," ujar Amara, yang sejak tadi duduk di kursi sudut teras, memperhatikan gerak-gerik Pelangi yang gelisah dan tidak mau diam.
"Dan jangan berlari ke sana. Anda itu sedang hamil." Suster An menimpali, saat dilihatnya Pelangi memasang kuda-kuda, bersiap untuk berlari ke halaman.
Pelangi berdecak, lalu mengalihkan pandangannya ke sudut teras di mana Amara dan Suster An sedang duduk dengan santainya. "Bagaiman kalian bisa tahu apa yang ingin kulakukan?"
"Jelas terlihat di wajahmu kalau kamu ingin melompat ke dalam pangkuan Gilang saat ini juga." Amara menjawab dengan malas. "Lebih baik, jaga sikpamu, Pelangi, apa kata teman-teman Bi Minah nanti."
Pelangi mengangguk dan memilih untuk menuruti perkataan Amara dan Suster An. Lagi pula, memang sedikit keterlaluan jika ia terlihat begitu bahagia di tengah-tengah orang yang sedang berkabung. Kepergian Bi Minah yang tertembak karena menemaninya ke pusat perbelanjaan bahkan belum genap satu minggu, tiga hari saja belum. Di waktu yang sesingkat itu akan terlihat kejam jika Pelangi sudah cekikikan dan berpelukan dengan Gilang di sembarang tempat.
Dada Pelangi berdegup kencang. Ia sudah sangat merindukan Gilang. Ada banyak yang ingin ia ceritakan pada pria itu dan ada banyak pertanyaan juga yang ingin ia tanyakan pada Gilang, termasuk menanyakan keberadaan Gilang yang tidak ada saat ia butuhkan.
Beberapa saat kemudian, sedan yang dikemudikan andrew berhenti tepat di depan tangga menuju teras. Pelangi menegakkan tubuh saat dilihatnya pintu bagian belakang mobil terbuka dan sebuah kepala berambut hitam kelam menyembul dari celah pintu.
Detik berikutnya, wajah Gilang yang terlihat lelah muncul dan tersenyum ke arah Pelangi. Seketika hati Pelangi berbunga dan perutnya terasa geli, seolah ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya, menggelitiknya hingga sudut bibirnya selalu ingin melengkung membentuk senyuman.
"Sayang!l seru Gilang, begitu melihat Pelangi. Kedua matanya jelas terpesona, pelangi yang siang ini mengenakan dress selutut berwarna merah muda memang terlihat sangat memesona dan luar biasa cantik.
Gilang lalu menaiki tangga dengan cepat. Kedua lengannya perlahan membuka, bersiap untuk menarik Pelangi ke dalam pelukannya dan mendekap Pelangi dengan erat.
Akan tetapi, kemunculan Farhan dari dalam rumah menggagalkan semuanya. Alih-alih mendapat pelukan selamat datang dari sang istri, Gilang justru mendapat jeweran di kedua telinganya dari Farhan.
"Anak kurang ajar. Ke mana saja kamu, hah? Kami mencarimu setengah mati, tapi kamu tidak ditemukan di mana pun. Kamu itu bagai hilang di telan bumi, Gil! Ponselmu saja tidak bisa dihubungi dan tidak bisa dilacak keberadaannya." Farhan Andreas terus mengomel dengan kedua tangan masih berada di telinga Gilang.
Pelangi yang merasa tidak tega melihat sang suami diperlakukan seperti itu segera menghampiri Farhan dan menyentuh kedua lengan sang mertua, memohon agar Farhan melepaskan Gilang dan membiarkan Gilang beristirahat terlebih dahulu.
"Ayah, Ayah, jangan begini. Biarkan Gilang istirahat dulu. Dia pasti lelah, apalagi dia baru tiba, Ayah," pinta Pelangi.
Melihat wajah Pelangi yang memelas, Farhan menjadi tidak tega. Ia akhirnya menjauhkan tangannya dari telinga Gilang. "Aku melepaskanmu karena istrimu. Jika bukan karena dia, aku pasti akan menghukumu habis-habisan."
Pelangi segera menyentuh kedua telinga Gilang begitu Farhan menjauh, berharap ia dapat meredakan rasa nyeri yang pasti dirasakan oleh pria itu. "Pasti sakit sekali, ya?" tanya Pelangi pada Gilang.
Gilang mengangguk manja, dan menyandarkan kepalanya di pundak Pelangi. Persis seperti seorang anak kecil yang mengadu pada ibunya.
Melihat tingkah Gilang, Andrew refleks melempar sebungkus roti yang ada di tangannya, sementara Toni melepas dan melambaikan sepatunya, seolah ingin sepatunya itu melayang dan mendarat di wajah Gilang yang sok imut.
"Mereka konyol sekali." Amara terkikik di kejauhan, sementara Suster An hanya mendengkus kesal. Walaupun ia mulai nengikhlaskan Gilang dan menerima kenyataan bahwa Gilang adalah objek yang sulit dijangkau, tetap saja ia merasa cemburu saat Gilang dan Pelangi terlihat mesra seperti itu.
"Pelangi. Aku tahu kamu merindukan Gilang dan juga ada banyak hal yang ingin kamu katakan padanya, tapi bisakah aku meminjamnya sebentar? Ada hal penting yang ingin kutanyakan pada Gilang sebelum aku membiarkan kalian berduaan di dalam kamar seharian."
Kedua pipi Pelangi merona merah mendengar ucapan Farhan. Berduaan seharian di dalam kamar besama dengan Gilang memang sangat ia harapkan, tetapi bukan untuk bercinta. Ada banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan Gilang. Termasuk membahas informasi dari Ringgo. Barangkali saja Gilang memiliki pendapat yang dapat memperkirakan siapa kiranya sosok di balik penembakan yang ia alami.
Setelah beberapa saat Pelangi pun mengangguk. "Baiklah, Ayah, aku pinjamkan suamiku sebentar."
Farhan tersenyum. "Terima kasih, Nak. Ayo, Gilang, ikut ke ruanganku."
Gilang mengangguk. Sebelum mengikuti langkah Farhan, ia memeluk Pelangi dan mengecup bibir wanita itu dengan kuat. Pelangi bahkan sampai kesulitan bernapas.
"Tunggu aku di kamar. Aku merindukanmu," ujar Gilang. Kemudian ia berbalik pergi, meninggalkan Pelangi yang sekarang kedua pipinya semakin merah seperti buah tomat.
Bersambung ....