
Justin tengah menyiapkan bahan rapat siang ini, ketika pesan dari sang istri membuatnya mengerutkan dahi. Hanya satu kata, "Mas," yang sesaat kemudian ia hubungi tidak juga mendapat jawaban.
Justin tahu saat ini Nena tengah menemui Samuel di tempat ia bekerja. Pria itu berkata ada rapat penting saat sang istri meminta untuk ditemani. Tapi kini dia malah dibuat bingung saat nomor Nena amat sulit dihubungi.
Entah kenapa percakapan nya dengan William waktu lalu terus terbayang di ingatannya.
"Kau harus percaya, terkadang butuh orang brengsek seperti aku, untuk tahu seberapa brengseknya seseorang itu. Aku tahu Samuel, lebih dari yang kau tahu."
Justin bertambah dilema, saat Alvin mengabarkan bahwa rapat akan dimulai segera, namun pria itu memutuskan untuk pergi. Dia tidak akan bisa tenang sebelum memastikan sang istri baik-baik saja.
"Berikan kunci motormu." Justin menodong Alvin yang kini mengerutkan dahi bingung.
"Anda mau kemana, Pak." Alvin bertanya sembari memberikan kunci dari saku celananya pada bosnya itu. Dan Justin yang menjawab ada urusan penting sembari berlari membuatnya kelabakan bukan main. "Pak! Rapatnya bagaimana?"
Justin seolah tidak peduli, rengekan sang istri saat mengatakan dia takut menemui Samuel sendirian terus memenuhi pikirannya.
"Maaf, Pak. Dilarang parkir motor di sini," tegur security, saat Justin menghentikan motornya sembarangan di depan kantor Samuel. Sebelum akhirnya pria berseragam itu terkejut saat yang melepaskan helm di hadapannya itu adalah atasannya sendiri.
"Buang saja kalau kau tidak suka." Justin memberikan helm beserta kunci motor itu kemudian berlari ke ruangan Samuel.
Baru saja membuka pintu, Justin disambut dengan jeritan Nena yang memanggil namanya. Tidak butuh waktu lama untuk membuat pria itu mengerti dengan apa yang telah terjadi.
Samuel beranjak berdiri dan mengangkat kedua tangannya, entah kalimat pembelaan apa yang ia lontarkan, Justin lebih fokus menatap Nena yang meringkuk di ujung sofa dan tampak berantakan, tatapan keduanya bertemu, sorot mata itu ketakutan. Wanitanya itu terlihat amat sangat ketakutan.
"SAMUEL!!" Bentak Justin murka, setengah berlari menghampiri pria blasteran itu kemudian memukul wajahnya membabi buta.
Justin yang mendapat serangan balik di rahangnya nyaris tersungkur. Dia semakin marah. "BRENGSEK!" Bentaknya, kembali melancarkan tendangannya hingga pria yang membuat dirinya benci setengah mati itu tergeletak tidak berdaya, bertubi-tubi Justin melancarkan pukulan demi pukulan hingga tangannya kebas sendiri.
"Aku bisa jelaskan Justin." Samuel memohon. "Ini tidak seperti yang kau lihat, istrimu yang menggodaku lebih dulu," tambahnya yang malah membuat seorang Justin semakin marah.
"BAJINGAN KAU! AKU AKAN MEMBUNUHMU DENGAN TANGANKU SENDIRI!" Dengan keras Justin membentak, baginya tidak ada yang boleh menyentuh apa yang telah menjadi miliknya.
Kalimat yang suaminya lontarkan membuat Nena terkesiap, airmatanya kembali merebak, kata-kata itu mengingatkannya pada mendiang sang ayah. Dan itu diucapkan oleh suaminya yang kini tampak kesetanan.
Tidak puas seorang Justin memukuli Samuel dengan tangannya hingga mulut pria itu mengeluarkan darah, dia bangkit menendang dan menginjak, tidak akan berhenti hingga tubuh pria yang membuatnya amat kesal itu lumat di bawah kakinya.
Justin mengambil kursi di dekatnya, dan pelukan erat dari belakang membuatnya melemah seketika.
"Udah, Mas. Aku nggak mau kamu dipenjara gara-gara ini." Nena berucap di sela tangisnya, suaranya tampak bergetar.
Justin membuang kursi di tangannya sembarangan, menyentuh tangan sang istri di dadanya yang tampak dingin, dia berbalik membuat pelukan Nena seketika terlepas, wanita itu menunduk dalam.
Justin melepaskan jas yang ia kenakan, kemudian menyampirkannya ke pundak sang istri hingga membuatnya mendongak, tatapan matanya nanar.
Melihat luka lebam bekas pukulan di wajah istrinya membuat hati Justin terasa hancur, dia menyatukan keningnya pada Nena, menghela napas penuh sesal. "Maafin aku yang nggak bisa jagain kamu," ucapnya.
Nena menggeleng, "makasih, Mas. Kamu udah dateng, aku takut," ucapnya dengan kembali menangis.
Justin menjauhkan keningnya, menatap wanita di hadapannya dengan seksama, baju yang terkoyak menampakan setengah pundaknya yang tampak memar, sudut bibirnya berdarah, dan lebam di pipi sang istri membuatnya sontak memejamkan mata, meredam perasaan ingin kembali menginjak Samuel hingga habis tak bersisa.
Justin menyentuh pipi Nena hati-hati, "Bilang, Sayang, si brengsek itu ngapain kamu," desaknya.
Nena kembali terisak, daripada mengadukan dua kali tamparan di pipi, juga sakit di punggung akibat dibenturkan dengan keras, Nena lebih menyesalkan bibirnya yang dicium oleh pria itu tanpa ampun, dia terus menangis. "Aku jijik, Mas," ucapnya, dengan punggung tangan yang terus menerus ia usapkan pada mulutnya.
Justin meraih tangan Nena, menggantikannya menghapus bekas menjijikan itu dengan mulutnya sendiri, menyentuhnya selembut kapas, menyalurkan rasa aman, menghapuskan kenangan buruk yang mungkin tertinggal di benak wanita kesayangannya itu.
***
"Justin! Kau apakan Samuel?" William yang menyerobot masuk ke dalam ruangan Justin membuat tamu pria itu menoleh, namun William tampak tidak peduli. "
"Wajahnya babak belur, rusuk, tangan, jari bahkan hingga gigi pun patah. Ya Tuhan Justin, kau bisa kena pasal." William kembali mengomel yang membuat tamu Justin sedikit terlihat ngeri, kemudian pria itu menyuruh si tamu untuk membuat janji temu lagi lain waktu.
Justin menatap William saat kedua tamunya itu pergi, pria itu sedikit kesal, "dia bahkan pantas mendapatkan lebih dari itu," ucapnya. "Aku akan balik menuntutnya jika dia berani melaporkanku," tambahnya lagi.
"Kau gila." William menggeleng tidak percaya.
***
Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu, Nena yang tidak mau sendiri di apartemen memilih menghabiskan waktu menunggu sang suami di rumah sang ibu.
"Makanya jadi istri tuh nurut, kalo suamimu bilang nggak boleh ya jangan maksa." Marlina kembali mengomel, padahal sudah beberapa kali kalimat itu ia lontarkan beberapa hari yang lalu.
Nena yang tampak melamun duduk di sofa jadi berdecak, wajahnya memberenggut tidak suka. "Iya, Bu. Bawel banget ih," omelnya yang membuat sang ibu menggelengkan kepala, menantu mana yang berani membalikan setiap ucapan mertuanya coba.
Dan mertua mana yang berani terus mengomel sembari mencubit pipi menantunya itu dengan kesal, Nena mengaduh. "Iya, ampun, Bu," rengeknya, namun kemudian tertawa dan merebahkan kepala di pangkuan Marlina yang duduk di sebelahnya.
Marlina mengusap kepala putrinya sayang, "kamu itu dari kecil emang udah cantik. Bahkan dulu nyaris diculik orang karena dia suka," ucap Marlina.
Karin yang sedang duduk di bawah mengerjakan pr nya di meja seketika menoleh. "Masa diculik, Bu?" Tanyanya tidak percaya.
Marlina mengangguk, "nggak tahu aja dia, biar cantik bandelnya nauzubilah."
"Ibu." Nena kembali mengeluh, mencegah sang ibu untuk membeberkan aibnya lebih jauh.
Suara salam dan pintu terbuka membuat perhatian mereka teralihkan. Ardi yang baru pulang kuliah masuk dan melemparkan jaket di tangannya ke wajah Nena yang tampak bermanja-manja di pangkuan sang ibu. "Kolokan," ledeknya yang mendapat lemparan balik jaket miliknya saat ia mendudukan diri di sebelah Marlina.
"Mandi abis itu makan," ucap Marlina yang membuat Ardi menganggukkan kepala.
"Bang Ar, bantuin Karin kerjain Pr dong." Karin yang duduk membelakangi ketiganya itu berucap, kemudian menoleh.
"Kenapa cicak dalam kedaan terancam, pasti memutuskan ekornya, Bang?" Tanya Karin. Nena yang terduduk karena sang ibu memilih pergi ke dapur jadi ikut menyimak.
Ardi berpikir, mengingat-ingat, "untuk mengelabuhi musuhnya lah, Karin," jawabnya.
"Kenapa harus diputusin? Emangnya nggak bisa diomongin baik-baik." Karin berucap sok polos, membuat Ardi melongo, dan Nena seketika tertawa.
"Terserah lah, urusan lo ama cicek itu mah." Ardi dengan kesal berkomentar.
Karin tertawa, "Bang, kenapa cinderela meninggalkan sepatunya sepulang pesta," Tanyanya kemudian.
Ardi berdecak, "nggak mau jawab gue, palingan jebakan lagi," tolaknya.
"Ih, orang buat tugas bahasa, gue disuruh milih cerita. Tapi cerita putri-putri itu gue nggak ada yang tau."
"Emang emak lo nggak pernah nyeritain dongeng pas mau tidur?" Pertanyaan Ardi mendapat sikutan di lengan dari sang kakak.
Karin diam sesaat, kemudian menggeleng. Ardi yang melihat itu jadi merasa bersalah. "Kenapa Cinderella meninggalkan sepatunya, mungkin karena kegedean, jadinya copot."
"Ngaco!" Nena menoyor pipi sang adik, "dia itu buru-buru karena waktu nya udah abis, jam 12 malem Cinderella yang cantik itu bakalan berubah jadi upik abu."
"Oh, aku pernah denger sih," ucap Karin.
"Mending lo tanya mbah google aja, lebih tau, lebih lengkap." Ardi meberi saran.
"Jangan Cinderella, mendingan Rapunzel lebih seru," ucap Nena.
"Rapunzel yang makan buah apel keselek, mati ya," tebak Ardi yang lagi-lagi mendapat toyoran di pipi.
"Itu mah putri salju, ya tapi nggak keselek apel juga, masa iya nggak elegan gitu." Nena mencoba bersabar.
"Bukannya dia itu yang pangerannya kurcaci ya, idih nggak cakep dong."
"Lo bisa diem nggak, kalo nggak ngerti nggak usah ikut-ikutan." Nena mulai kesal. Karin jadi tertawa.
"Udah mending lo bikin cerita si buta dari gua hantu aja, tau gue itu mah." Ardi memberi penawaran.
"Ya tau lah, orang lo monyetnya." Nena menyela, yang membuat Karin kembali tertawa.
Ardi mendengus kesal, "Sialan," umpatnya.
Masih dengan perdebatan judul mana yang benar antara putri salju atau putri tidur, ketiganya menoleh dan menjawab salam dari Justin yang pulang untuk makan siang, pria itu tidak sendirian.
"Bang Buleee." Karin memekik girang mendapati William yang berjalan di belakang abangnya. Gadis belasan tahun itu bangkit, hendak memeluk pria bule itu ketika tangan Ardi menarik baju Karin hingga gadis itu kembali terduduk di tempatnya.
"Apa sih Bang, Ar. Ih, ngeselin." Karin protes, dan kini lebih sibuk memukulkan tangannya pada Ardi.
William duduk di hadapan ke duanya, mengacak rambut Karin kemudian tertawa, melirik Nena yang mendapatkan ciuaman di dahi oleh suaminya. "Sudah baikan, Na?" Tanyanya.
"Nena mengangguk, "makasih, Will," ucap Nena yang mendapat senyuman dari pria bule itu.
"Bang, Bule." Panggil Karin yang membuat William menoleh. "Kalo Abang disuruh milih jadi pangeran, maunya Cinderella, Rapunzel, apa putri salju."
William berpikir sejenak, "putri salju aja," jawabnya.
Karin dengan antusias bertanya, "kenapa?"
"Biar dapet ciuman pertama," jawab William, sebenarnya sepontan saja, tidak bermaksud apa-apa, namun entah kenapa Justin malah tersedak minuman di tangannya. Nena yang tertawa bersembunyi di balik punggung suaminya itu. William jadi bingung sendiri.
Perhatian kembali teralihkan pada Karin yang tidak tahu apa-apa, "mau dong Karin jadi putri saljunya Bang Bule," ucapnya polos, gadis itu memang secara terang-terangan mengaku fans nomor satu pria bule itu. "Bang Ar," Karin menoleh ke belakang, Ardi yang duduk di atas sofa bergumam sebagai jawaban. "Cocok nggak Karin jadi putri salju?" Tanyanyanya.
"Apaan putri salju, putri santet lo mah."
"Ih, Bang Ar, ngeselin." Karin memukul Ardi di belakangnya, "iya nanti Bang Ar yang Karin santet, biar nggak dapet jodoh sampe tua," omelnya kesal.
"Kalo Ardi sampe tua nggak dapet jodoh, kamu juga sama dong." Nena nyeletuk yang membuat Ardi melotot ke arahnya, tapi seorang Karin malah tidak mengerti dengan maksud mbaknya itu.
"Apa si, orang dewasa nggak jelas." Karin kembali fokus ke bukunya.
Nena beranjak pergi saat sang ibu memanggilnya untuk membantu merapikan makanan di meja. Justin mengikutinya, sebelum beranjak dia menepuk pundak sang adik. "Belum halal, jangan coba-coba," sindirnya.
"Apaan sih, Bang." Ardi menjawab asal, entah kenapa jadi gugup sendiri.
"Ujiannya berat, apalagi satu rumah." William menambahkan. "Tapi kalo terpaksa boleh lah."
"Will." Justin menegur sahabatnya itu, tidak mau sang adik terpengaruh oleh pria bule yang kurang waras itu.
William tertawa, "sekali dua kali boleh lah, Justin," godanya sebelum ikut beranjak pergi mengikuti kedua sahabatnya itu.
Ardi dan Karin bergumam nyaris bersamaan. "Apaan sih," lirihnya.
***
Nb. Nggak bikin iklan. Soalnya katanya nggak penting.
Berkomentarlah memberi semangat kalo kalian emang suka. Setidaknya komentar hahaha tanpa benar-benar tertawa pun author udah bahagia.