OH MY BOSS

OH MY BOSS
DOKUMEN MENGHILANG



Surya Permana segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah ia berhasil melarikan diri melalui pintu belakang motel yang ia sewa. Untunglah Gilang masih belum sepenuhnya sadar dan buru-buru meninggalkannya di kamar tanpa menanyakan banyak hal, termasuk menanyakan di mana keberadaan mereka saat ini.


Dengan perasaan deg-degan karena gugup, Surya melirik setumpuk dokumen-dokumen penting yang ada di sampingnya, dokumen yang berhasil ia curi dari dalam tas Gilang itu tergeletak dengan anggun di atas kursi penumpang. Surya mengulurkan tangan untuk menyentuh dokumen-dokumen itu dan mengusapnya dengan hati-hati. Dokumen-dokumen itu adalah dokumen penting yang didapatnya dengan susah payah. Dengan dokumen itulah ia nantinya akan menjadi pemilik saham terbesar Andreas Group, menggantikan posisi Farhan yang sampai saat ini masih menjabat sebagai CEO.


Senyum licik tersungging di wajah kejam Surya saat ia membayangkan betapa kaya rayanya ia nanti dan juga berkuasa.


"Gilang yang bodoh. Bagaimana bisa seorang direktur seperti dirinya memiliki otak yang begitu goblok! Bepergian dengan rekan bisnis baru tanpa pengawalan sama sekali. Jangankan sekretaris, asistennya saja tidak ikut serta bersamanya," gumam Surya dengan sinis, lalu melanjutkan. "Gilang, Gilang, Gilang, yang tidak beruntung. Bagaimana keadaanmu sekarang." Farhan tertawa terbahak-bahak. Ia ingat bagaimana ekspresi Gilang tadi saat meninggalkan kamar, angkuh sekali, dan keangkuhan itu pasti tidak akan bertahan lama saat Gilang menyadari di mana lokasi mereka, apalagi Surya tidak meninggalkan sepeser pun uang bahkan kartu ATM di dalam tas kerja Gilang, karena dompet Gilang sekarang ada padanya.


***


Perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta lebih kurang memakan waktu sepuluh jam, belum lagi ditambah dengan perjalanan dari Yogyakarta menuju ke sebuah desa di mana Gilang berada. Total keseluruhan waktu yang ditempuh oleh Andrew dan Toni lebih kurang sebelas jam.


Gilang yang telah menyadari bahwa keberadaannya begitu jauh dari Kota Jakarat beberapa saat setelah mengirimkan lokasinya pada Toni, memilih untuk kembali masuk ke dalam motel dan menginap di kamar yang sama yang sebelumnya ia tiduri saat dirinya pingsan. Tidak mungkin kan ia berdiri di luar motel semalaman suntuk hingga fajar tiba untuk menunggu Toni dan Andrew datang menjemputnya.


Walaupun awalnya ia kesulitan memejamkan mata karena merasa tidak nyaman dan merindukan Pelangi, pada akhirnya ia tertidur juga dan membiarkannya malam berlalu dengan cepat.


Gilang menggeliat saat merasakan sengat sinar matahari yang masuk melalui celah jendela yang tirainya tidak tertutup rapat. Saat ia merentangkan tangan, sebuah suara yang tidak asing terdengar merintih di samping telinga kirinya, disusul rintihan di samping telinga kanannya.


Gilang mengernyit, lalu membuka mata dengan paksa untuk mengetahui siapa yang telah lancang berani tidur di kamarnya dan tepat di sebelahnya.


"Aargh! Apa-apaan kalian berdua!" Gilang berteriak saat matanya menangkap sosok Andrew dan Toni yang berbaring di samping kanan dan kirinya sambil memeluk tubuhnya.


Berteriak saja belum cukup bagi Gilang, ia lalu menendang Toni dan Andrew hingga keduanya terjatuh dari ranjang dan mendarat di lantai yang keras.


"Aw! Sialan," gumam Andrew, sambil mengusap pinggangnya.


"Inikah caramu berterimakasih, Gil?" Toni menimpali, masih berbaring di lantai dalam posisi tengkurap.


"Berterimakasih untuk apa? Kalian berdua mengejutkanku!"


"Berterimakasih karena kami berdua telah memberikanmu kehangatan." Andrew menjawab dengan malas.


"Ya, ternyata memelukmu lumayan juga, daripada tidak ada yang kupeluk." Toni terkekeh, kemudian ia bangkit berdiri dan menghampiri Andrew, mengulurkan tangan pada pria itu agar Andrew segera berdiri juga.


Andrew menerima uluran tangan Toni. Setelah tubuhnya berdiri dengan tegak, ia meraih bantal yang terjatuh dari ranjang dan melemparkan bantal itu ke Gilang yang masih duduk bersila di atas ranjang.


"Satu sama!" ujar Andrew.


Gilang mengomel sembari memelototi Andrew. "Berani sekali!"


"Jangan cerewet. Cepat bangun dan ayo pergi dari sini!" seru Andrew, lalu berjalan menuju kamar mandi kecil yang ada di dalam kamar tersebut untuk mencuci muka.


Sementara menunggu Andrew keluar dari kamar mandi, Toni kembali duduk di samping Gilang dan menatap Gilang dengan tatapan penuh selidik. "Jadi, bisakah kamu jelaskan padaku kenapa kamu bisa berada di sini. Padahal kemarin seharusnya kamu hanya meninjau lokasi hotel yang baru bersama dengan Surya. Dan aku ingat dengan jelas bahwa lokasinya bukanlah di desa ini, Gil."


Gilang mengembuskan napas dengan kesal. "Semua ini ulah si Surya sialan itu. Aku bahkan belum menanyakan padanya kenapa aku bisa berada di sini. Aku tidak ingat sama sekali pada apa yang terjadi, Ton. Saat aku bangun, tiba-tiba saja aku sudah berada di sini. Aku pikir aku ada di sebuah penginapan di Jakarta, tapi ternyata bukan. Si Surya sialan itu tadinya ada di sini juga bersamaku, tapi kurasa setelah aku menghajarnya, dia memilih untuk meninggalkan aku di sini sendirian."


Toni mengelus dagunya, ia sedikit tidak percaya pada apa yang Gilang ucapkan. Mana nungkin Gilang tidak ingat apa pun, kecuali sahabatnya itu dibius, tapi untuk apa Surya membius Gilang kalau pada akhirnya Gilang toh akan sadar juga tanpa kekurangan satu apa pun.


"Kamu berkata jujur padaku, 'kan, Gil?" tanya Toni.


Toni mengedikan bahu. "Bisa saja kamu dan Surya memang sengaja datang ke sini dan membawa serta wanita bayaran. Kemudian kamu berakting seolah-olah Surya menjebakmu ... argh, lepas, Gil, sakit!"


Gilang mencekik Toni dengan lengannya sebelum Toni menyelesaikan ucapannya. Ia kesal sekali pada perkataan Toni yang sama sekali tidak masuk akal. "Kurang ajar kamu, Toni, bisa-bisanya kamu bicara seperti itu. Kalau Pelangi sampai dengar, dia bisa salah paham."


Toni terbatuk, ia berusaha melepaskan lehernya dari cengkraman lengan Gilang tepat saat Andrew keluar dari kamar mandi.


"Hei, Ndrew. To-tolong aku." Toni melambai ke arah Andrew, berharap pria itu mau menolongnya dari kemarahan Gilang. Namun, bukannya menolong, Andtew hanya menggelengkan kepala sambil berkomentar seenaknya.


"Dasar kekanakan!" seru Andrew.


Beberpa saat kemudian, Gilang akhirnya melepaskan Toni dan memukul wajah sahabatnya itu dengan bantal.


"Kamu ingin aku mati?" teriak Toni.


"Tidak juga, asal kamu bisa menjaga mulutmu." Gilang bangkit berdiri, kemudian segera merapikan rambut dan pakaiannya. "Ayo kita pulang. Aku sangat merindukan Pelangi. Semua baik-baik saja, 'kan?" tanya Gilang.


Mendengar pertanyaan Gilang, Andrew dan Toni saling melempar tatapan bingung.


"Ada masalah?" tanya Gilang lagi.


Toni mengangguk. "Ayo, kamu harus dengar sendiri dari Pelangi."


***


Gisel bergegas bangkit dari tempat tidur setelah sebelumnya membangunkan Alex agar pria itu bangun juga dan segera berpakaian.


Beberapa waktu yang lalu ponsel Gisel bergetar, dan pesan dari Surya terlihat pada layar ponselnya. Pria yang baru dikenal Gisel selama satu bulan terkhir itu mengatakan bahwa kehancuran keluarga Andreas sudah di depan mata dan sekarang ia telah kembali ke Jakarta. Gisel tidak mengerti apa maksud pesan itu, tetapi ia menebak bahwa Surya telah berhasil mengerjai Gilang. Entah apa yang pria itu lakukan, Gisel tidak tahu, yang terpenting baginya adalah kehancuran keluarga Gilang dan Pelangi.


"Ada apa? Kenapa kamu bangunkan aku?" tanya Alex sembari mengucek kedua matanya yang masih dilanda kantuk.


"Aku rasa Surya akan segera tiba. Sebaiknya kita berpakaian," ujar Gisel.


Alex mengangguk, lalu segera bangkit dari tempat tidur dan berpakaian. Benar saja, beberapa saat setelah keduanya mengenakan pakaian dan turun ke ruang tamu yang berada di lantai satu, Surya terlihat memasuki rumah sembari bersiul. Wajahnya yang licik terlihat semakin licik saat bibirnya menyeringai.


"Lihatlaaah, apa yang kudapat dari si bodoh Gilang itu." surya melambaikan beberapa map di tangannya sembari berputar-putar seperti penari salsa yang tengah pentas.


"Apa itu, Sur?" tanya Alex terlihat penasaran.


"Dokumen penting yang akan membuat perusahaan Andreas menjadi milikku. Aku akan menjadi bos di sana." Surya terkekeh, lalu menghampiri Gisel dan mengedipkan sebelah matanya pada wanita itu. "Katakan padaku, Gisel yang cantik, apa kamu ingin aku membiarkan Gilang atau aku habisi saja dia itu."


Gisel menatap Alex, meminta pendapat pria itu. "Bagimana menurutmu?"


Alex mengelus dagunya. Kemudian senyum sinis tersungging di bibirnya. "Aku ada ide."


Bersambung ....