OH MY BOSS

OH MY BOSS
JUAL MAHAL DIBALAS DENGAN JUAL MAHAL



Siang begitu cerah dengan langit biru tak berawan seakan mengejek Pelangi yang sedang gundah. Bagaimana mungkin hari bisa seindah ini, padahal hatinya sedang diselimuti mendung yang gelap.


Setelah memeriksakan kehamilannya dan Dokter Virzha mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, Pelangi kembali ke rumah Farhan Andreas, karena Farhan jelas sekali memerintahkan agar Pelangi diantarkan ke rumahnya dan tinggal di sana untuk sementara waktu, bukan ke rumah Gilang.


Dengan dibantu oleh Amara dan juga Andrew, Pelangi turun dari mobil. Sebelah tangannya dipegang oleh Andrew, dan sebelahnya lagi oleh Amara, persis seperti seorang pasien yang sekarat dan bersiap untuk mati.


Pelangi menghirup udara dalam-dalam, lalu mengembuskan perlahan saat kakinya menjejak ke tanah. Ia senang sekali karena akhirnya dapat menghirup aroma tanah dan rerumputan yang berbaur menjadi satu. Terlebih lagi angin yang berembus siang ini terasa sejuk menerpa tubuh Pelangi yang selama satu minggu ini hanya menerima rasa sejuk yang tidak alami dari air conditioner.


Di kejauhan, tepatnya di lantai dua kediaman Farhan Andreas, Gilang memperhatikan semua yang ada di halaman depan. Andrew, Amara dan tentu saja matanya terpaku pada sosok Pelangi yang ia cintai. Sejak mobil Andrew memasuki halaman depan, kedua mata elang Gilang tidak pernah beralih dari mobil sedan berwarna hitam tersebut. Bahkan ia mendekat ke jendela saat pintu mobil mulai terbuka dan penumpangnya keluar dari dalam mobil satu per satu.


Hatinya berdebar menanti kemunculan Pelangi. Selama satu minggu ini ia telah berusaha semampunya untuk menepis rasa rindu yang begitu besar, yang ia rasakan untuk Pelangi.


Ya, rumit memang. Apalagi di saat ia merasa rindu, di saat itu jugalah bayangan Pelangi dan komplotannya yang tertawa karena telah berhasil menipu dirinya muncul di kepala dan mulai menari-nari tanpa henti. Jika sudah begitu, hatinya tiba-tiba menjadi sakit dan benih-benih kebencian muncul seketika di dalam hatinya, menghapus rasa cinta dan rasa rindu yang selama ini ia rasakan pada Pelangi.


Gilang memejamkan mata, lalu mulai mengatur napas agar bisa terlihat normal saat bertemu dengan Pelangi nanti. Toh, perintah dari ayahnya sudah sagat jelas bahwa ia harus bersikap baik pada Pelangi. Jangan sampai Pelangi merasa tidak nyaman, karena hal itu akan mengganggu perkembangan janin yang sedang dikandung oleh Pelangi.


Setelah berhasil menenggelamkan amarah ke dasar jiwa yang paling dalam. Gilang pun segera melangkah menuju lantai bawah, menuruni anak tangga satu per satu dengan langkah berat dan enggan. Namun, tidak bisa dipungkiri, ada sedikit rasa bahagia yang ia rasakan dari lubuk hatinya yang paling dalam karena ia akan kembali bertemu dengan sang pujaan hati.


Setibanya di lantai bawah, Gilang segera duduk di sofa yang ada di ruang tamu, membuka laptopnya dan mulai menenggelamkan diri di balik layar benda tersebut.


Tidak lama kemudian, daun pintu berayun membuka, Andrew muncul, disusul oleh Amara dan Pelangi yang masih terlihat pucat dan sedikit kurus.


Gilang menahan napas begitu melihat Pelangi agar dadanya tetap berdetak dengan normal. Sebagian dari dirinya ingin agar ia dapat memeluk Pelangi, menggendong Pelangi ke kamar dan membaringkannya di atas ranjang, kemudian menanyakan kabar Pelangi, meminta pelangi untuk menceritakan segala hal yang telah dilalui tanpa dirinya selama seminggu ini. Namun, sebagian dari dirinya menolak untuk melakukan semua itu.


Pelangi itu penipu. Dia gadis yang kejam, gadis yang berbisa dan gadis yang berbahaya. Jangan dekati dia. Jauhi dia, jauhi dia!


"Gil." Andrew yang pertama buka suara, memecah keheningan yang mengudara.


Gilang yang sejak tadi berpura-pura sibuk dengan laptopnya, segera mendongak dan berusaha menyunggingkan senyum palsu di bibirnya.


"Oh, hai, masuk dan istirahatlah." Gilang berkata seperlunya, lalu kembali sibuk dengan laptopnya.


Pelangi yang melihat perlakuan Gilang, tiba-tiba saja merasa kesal. Namun, ia tidak ingin membuang-buang tenaga untuk menghampiri Gilang dan bertanya apa yang membuat Gilang menjadi sedingin itu. Toh ia sudah cukup sabar selama seminggu ini, menanti kemunculan Gilang yang tak kunjung datang.


Alih-alih menghampiri Gilang, Pelangi justru segera berjalan dengan cepat menuju lantai dua, di mana kamarnya berada. Berusaha bersikap acuh pada Gilang, walaupun rasa rindunya pada Gilang sudah tak tertahankan.


Konsentrasi Gilang yang sedang berpura-pura sibuk seketika pecah, saat dilihatnya Pelangi pergi begitu saja dari hadapannya tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Melihat wajah Gilang yang kebingungan, Andrew seketika tertawa. "Makanya, jangan sok jual mahal," ujarnya, lalu menyusul Pelangi bersama dengan Amara.


Sesampainya di lantai dua, Pelangi tidak langsung menuju ke kamarnya. Ia berbelok ke kamar Farhan Andreas untuk melihat bagaimana keadaan ayah mertuanya itu. Toni sudah memberitahunya saat ia masih dirawat di rumah sakit bahwa Farhan Andreas sedang tidak sehat, itulah sebabnya Farhan tidak dapat menengok keadaannya sampai akhirnya ia diizinkan pulang.


Tok, tok, tok!


Pelangi mengetuk pintu kamar Farhan. Sedetik kemudian pintu terbuka dan memperlihatkan sosok cantik berpakaian serba putih khas seorang suster.


"Ya," ujar suster itu.


"Aku mau bertemu dengan Ayah."


Suster An mengerjap, lalu memandangi Pelangi dengan tatapan penuh penilaian. "Anda anak perempuan Pak Farhan?"


Pelangi menggeleng. "Ya, bisa dikatakan begitu karena saya menantunya."


Suster An memasang wajah sangsi yang menyebalkan, sebelum akhirnya ia meminta Pelangi untuk masuk. "Masuklah kalau begitu." Suster An kemudian berbalik pergi, mendahului Pelangi untuk kembali memasuki kamar Farhan.


Pelangi mengikuti langkah Suster An, hingga ia tiba di samping ranjang berukuran besar di mana sang ayah mertua sedang tertidur pulas.


"Pak Farhan baru saja minum obat, dan sekarang dia sedang beristirahat. Saya sarankan, lebih baik jangan bangunkan dia." Suster An menjelaskan, lalu segera duduk dengan nyaman di kursi yang ditempatkan tepat di samping ranjang.


Pelangi mendelik kesal ke arah Suster An, entah kenapa ia merasa sangat tidak suka pada suster itu. Baru pertama bertemu saja, sikap Suster An sudah sangat tidak bersahabat padanya. Padahal jika boleh Pelangi menyombong sedikit, dirinyalah majikan di rumah ini, bukan suster itu.


"Tidak akan kubangunkan." Pelangi menanggapi ucapan Suster An. "Oh, ya, siapa namamu dan dari rumah sakit mana kamu berasal?" Pelangi bertanya dengan nada yang sengit.


"Nama saya Anneth. Saya dari rumah sakit Gold Medic." Suster An menjawab tanpa memandang Pelangi sama sekali. Suster itu terlihat asyik dengan ponselnya, sehingga tidak terlalu meladeni lawan bicaranya.


Pelangi mengatur napas, kemudian berkata. "Baiklah Anneth, aku akan mengajukan keluhan pada pihak rumah sakit atas sikapmu yang sangat tidak sopan ini. Terima kasih!” Pelangi berbalik sambil mengibaskan rambut panjangnya, lalu pergi meninggalkan Suster An yang terlihat terkejut sekaligus kesal.


"Dasar, baru menanti saja sombongnya bukan main," omel suster An.


Bersambung ....


NEXT PART : Pelangi membalas sikap sok acuh Gilang dengan pakaian tidur yang super minim bahan 😂