OH MY BOSS

OH MY BOSS
CEMBURU



Hari ini Nena menerima ajakan makan siang dari salah satu teman kuliahnya yang bekerja di perusahaan Agensi,  sekalian dia mau menanyakan bagaimana cara agar dia bisa jadi bintang iklan.


 


 


Dulu sewaktu sekolah menengah atas, Nena memang terkenal karena fotonya, terpilih menjadi gadis sampul di salah satu majalah, dan menjadi bintang film atau minimal iklan adalah cita-citanya yang tak terraih karena sang ayah waktu itu sakit keras, dan Nena menjadi tulang punggung keluarga.


 


 


"Lo ikut audisi aja, Na. Casting buat jadi bintang iklan gitu, pasti deh diterima, lo kan cakep,"  komentar Anggi, saat Nena mengutarakan ingin menjadi bintang iklan, Anggi itu teman kuliahnya yang dulu sempat dekat, karena kesibukan masing-masing, mereka jadi jarang bertemu.


 


 


Nena mengangguk antusias, "gue udah coba, Nggi, baru nyebutin nama aja langsung ditolak, gila nggak?" Curhatnya.


 


 


Anggi yang mendengar itu tampak tidak percaya, "masa iya si, lo nggak disuruh uji bakat dulu gitu?" Tanyanya.


 


 


"Kaga, boro-boro," jawab Nena, sembari mengaduk bakso pesanannya.


 


 


Anggi mulai berpikir, kemudian menjentikan jari. "Ada satu perusahaan gede, dia mau ngeluncurin produk baru gitu, lagi nyari model buat brand ambassador produk barunya."


 


 


"Nggak pake artis aja?"


 


 


"Mungkin dia mau bikin sesuatu yang beda," ucap Anggi, kemudian memberikan lembaran brosur yang tertulis alamat kantornya juga di sana.


 


 


Nena mengernyit, nama perusahaannya seperti tidak asing, tapi dia tidak ambil pusing, menyimpan lembaran brosur itu di dalam tas dan kembali makan, bersamaan dengan itu dua orang teman lelaki yang juga bekerja di kantor itu mendatangi mereka.


 


 


"Eh, Nena, ketemu lagi," ujarnya sok Asik. Namanya Bima, salah satu teman kuliah Nena juga, orang Jogja, kenapa Nena malah jadi ingat mantan calon suaminya itu ya, jangan-jangan mereka kembar.


 


 


"Ketemu? Emangnya gue ilang." Nena menyahut asal, membuat temannya itu tertawa.


 


 


"Nggak berubah kamu, dari dulu tetep lucu." Entah kenapa Nena mencium bau-bau buaya, pasalnya pria ini dulu begitu gencar meminta nomor hpnya.


 


 


Beni yang sejak tadi sibuk dengan semangkuk makanannya ikut nimbrung. "Eh, Na, baju kita warnanya sama, jangan jangan kita—,"


 


 


"Jodoh orang woy!" Anggi memotong perkataan teman yang sejak jaman kuliah dulu memang selalu gencar menggoda teman wanitanya yang satu itu. "Lo nggak liat dia pake cincin."


 


 


"Lah, lo udah nikah, Na? Kok nggak ngundang." Beni menyahut, raut wajahnya tampak kecewa. Nena hanya tersenyum sebagai tanggapan.


 


 


"Mungkin pestanya sederhana kali, yang penting sah, iya nggak, Na," ucap Bima yang lagi-lagi hanya ditanggapi senyum oleh Nena, "coba aja lo sama gue, tapi kabarin gue ya kalo mungkin lo ada niatan buat selingkuh," tambahnya lagi.


 


 


"Jangan mau, Na. Si Bima mah udah punya bini dia, mending selingkuh sama gue." Beni ikut menawarkan diri.


 


 


"Nggak deh, makasih," balas Nena.


 


 


"Emh, yang kaya kalian berdua ini nih," Anggi menunjuk ke dua teman laki-lakinya itu, "masuk neraka pake jalur undangan," tambahnya lagi yang membuat mereka tertawa.


 


 


"Ya sapa tahu, Nena mau, Nggi." Bima menanggapi.


 


 


Anggi berdecak sinis, "tadi lo telat ya, diomelin Pak Miko lo pasti, aura kegelapannya nyampe ke ruangan kerja gue." Anggi mengomel. Pasalnya atasannya yang satu itu jika sedang marah semua bawahannya pasti kena.


 


 


"Iya, sial banget gue hari ini," ucap Bima, Nena ikut menyimak obrolan teman-temannya itu. "Mana semalem abis dimarahin bini gara-gara ngilangin tutup tupperware, nggak dikasih jatah, bangun kesiangan nggak ada sarapan, nyampe kantor diomelin pula, Mario teguh juga kalo jadi gue butuh motifasi dia," curhat Bima, menyebutkan nama motifator kondang yang kabarnya nggak mengakui anak kandungnya itu. Nena jadi tertawa.


 


 


"Itu tutup keramat beneran ilang?" tanya Beni yang kemarin menjadi korban penggeledahan dari temannya itu, disuruh bantu cari pula. Bima hanya mengangguk kemudian kembali makan dengan lesu.


 


 


"Makanya, biar bini nggak marah-marah mulu tuh kasih duit yang bener, kalo uang belanjanya kenceng juga jangankan tutup tupperware, panci prestonya lo ilangin juga nggak bakal ngamuk dia." Anggi memberi wejangan.


 


 


"Dengerin tuh, calon emak-emak lagi ngomong." Beni yang meledek mendapatkan lemparan tisu yang membuat pria itu menghindar cengengesan.


 


 


"Udah gue kasih uang belanja dia." Bima membela diri.


 


 


"Uang belanja doang mah nggak cukup, lo pikir beli make up murah, yakali bini lu pake bedak dari tepung sajiku, cakep kagak kriuk iya." Anggi terus mengomel, Nena tertawa menanggapinya.


 


 


Bima yang mendapat wejangan semacam itu dari wanita yang bahkan belum berumah tangga jadi mengumpat dalam hati, "gini nih, Na. Temen lo dari jaman kuliah tetep pedes ngomongnya, apalagi kalo ada anak baru, beuh galak banget dia." Bima mengadu.


 


 


Anggi yang merasa tersindir berdecak sebal, "dimata gue, mereka tuh bukan anak baru, tapi ancaman baru."


 


 


"Kaya iklan selogan lo, Nggi." Beni menanggapi.


 


 


"Emang gue tukang bikin iklan, mau apa lo." Anggi melengos, mengambil kotak bekal dari dalam tas dan membukanya, isinya potongan buah segar. "Buah, Na, Ben, Bim," tawarnya yang mendapat gelengan dari Nena, namun kedua teman laki-lakinya itu memakannya tanpa sungkan.


 


 


"Mayan," ujar Bima.


 


 


"Gratisan." Beni menambahkan.


 


 


Anggi yang kesal menarik kotak bekal itu ke dalam pelukannya. "Gue nggak suka ya, kalo gue lagi makan terus pura-pura nawarin eh kalian malah mau," omelnya yang membuat kedua temannya itu melongo.


 


 


Lah, Nena kembali tertawa, temannya itu dari dulu memang nggak pernah berubah. Kali ini Nena lebih banyak diam, tapi lebih banyak tertawa. Dia rindu masa-masa kuliah dulu.


 


 


***


 


 


Tanpa mengetuk pintu, Nena nyelonong masuk ke dalam ruangan besar suaminya, dan terkejut mendapati seorang wanita di sana. Justin tampak fokus memberikan arahan tentang berkas-berkas yang harus diperbaiki sebelum ia membubuhkan tanda tangan, namun sang wanita yang tampak manis dengan stelan ketatnya itu menjadi terlihat canggung mendapati kedatangan ibu bos, padahal Nena berusaha untuk biasa saja.


 


 


"Terimakasih, Pak. Saya perbaiki lagi," ujar si wanita yang mendapatkan anggukan dari Justin. Hanya mengangguk, tanpa menoleh, apalagi tersenyum, tapi tetap saja rasanya Nena ingin mengumpat dalam hati. Astagfirullah.


 


 


Justin menoleh, tersenyum pada sang istri saat wanita yang menemuinya tadi berpamitan kemudian keluar. Pria itu berdiri dan melangkah memeluk Nena yang entah kenapa diam saja.


 


 


 


 


"Cemburu Mbaknya."


 


 


Nena tidak menanggapi, hingga kemudian Justin mendekat, menyandarkan tubuhnya pada meja di hadapan Nena. "Sekretaris William, tadi Alvin ikut dia ke kantor cabang, jadi buat sementara, Indira—",


 


 


"Oh, namanya Indira, cantik," potong Nena dan malah membuat suaminya itu tertawa, mengacak rambut sang istri yang entah kenapa diam saja. Namun tatapan dinginnya itu membuat Justin tahu bahwa wanitanya itu tidak suka.


 


 


"Kamu udah makan?" Tanya Justin mengubah topik obrolan.


 


 


Nena melengos. "Aku pernah Mas jadi sekretaris kamu, pernah juga disuruh ini itu, tapi nggak sampe masuk ke sini," omelnya menunjuk ruang kosong di sebelahnya, tempat wanita yang entah kenapa membuat ia kesal itu sempat membungkukan tubuhnya, ke arah sang suami beberapa saat yang lalu. "Bisa lewat depan kan, dulu juga aku gitu. Kenapa harus disamping kamu?"


"Aku yang nyuruh dia berdiri di situ." Justin menunjuk ruang kosong itu dengan dagunya, "abisnya dia apah-apah mulu, ngulang terus aku kan capek."


"Berarti kamu yang modus, inget ya, Mas. Kita itu bisa jadi sejauh ini berawal dari hubungan bos dan sekretaris."


Justin tertawa kecil. "Tapi kasus kita itu beda, Sayang."


"Bedanya?"


"Ya karena kita itu jodoh, makanya bertemu."


"Aku lagi bukan ngomongin judul lagu loh, Mas."


 


Justin tersenyum, membungkuk mendekatkan wajahnya hingga Nena sedikit berjengit memundurkan kepala. "Jadi gini, ya? Rasanya dicemburuin?" Tanyanya yang membuat wajah Nena bersemu merah.


 


 


"Siapa yang cemburu," sangkal Nena. Wanita itu mengarahkan pandangan ke arah bawah.


 


 


Justin mengecup bibir wanita itu sekilas, hanya sekilas saja, karena ia tahu, berlama-lama hanya akan membuatnya meminta lebih. "Ayo makan, aku laper," ajaknya, menarik sang istri berdiri kemudian merangkul lehernya.


 


 


Nena yang membungkuk, berjalan terseok-seok mengikuti tarikan sang suami, "Mas, aku susah napas ini, mati dah," omelnya, meronta sembari memukul-mukul lengan sang suami di lehernya.


 


 


"Makan apa kita enaknya ya?" Justin malah bertanya.


 


 


"Makan ati," jawab Nena sembari terus meronta.


 


 


"Enak tuh, dari tadi emang kaya bau-bau hati panggang, jadi laper."


 


 


"MAS!!"


 


 


***


Ternyata Ardi benar, istrinya itu jika sedang kesal salah satu sogokannya adalah makanan. Justin tersenyum memandangi Nena yang sibuk menyantap makanannya di seberang meja.


 


 


"Hah, apa?" tanya Justin gelagapan saat sang istri tiba-tiba melontarkan pertanyaan.


 


 


Nena berdecak kesal, "bengong aja terus, ngelamunin apaan si? Pasti mikir jorok ya, mikirin siapa?"


 


 


Justin malah tertawa, istrinya ini kenapa cepat sekali emosi si, padahal setahunya tanggal pmsnya masih lama. "Mikirin kamu lah." Justin menjawab.


 


 


Nena mencebik. "Bohong," tuduhnya.


 


 


"Ya iyalah aku mikirin kamu, jorokpun pasti tentang kamu, mana pernah sih aku main jorok sama yang lain." Justin menjawab santai dan mendapatkan pelototan dari sang istri.


 


 


"Ini tempat umum, Mas." Nena berkata sembari menoleh keadaan sekitar, beruntung keadaan sedang sepi, atau memang tempat seprivat ini memang terlalu mahal untuk disewa oleh orang biasa. "Mas, kemarin aku ketemu temenku terus aku dikasih brosur ini." Nena mengeluarkan selembar brosur dari dalam tasnya, menunjukan pada sang suami. "Aku mau Ikut casting," ujarnya kemudian.


 


 


Melihat kertas itu Justin tersedak minuman yang bahkan gelasnya masih menempel di ujung bibirnya, pria itu tampak terkejut. Berusaha menguasai diri. "Oh," balasnya singkat.


 


 


"Kamu kenapa si, Mas?" Tanya Nena.


 


 


"Nggak, nggak apa-apa."


 


 


***


 


 


Netizen; kenapa thor, itu jidat ditempel-tempel gitu, bocor?


 


 


Author; pusing aku tuh, kalian mintanya diancem baru pada like baru pada komen, masa akunya mesti ngancem mulu kan dosa, luntur dong prediket author baik hati dan tidak sombongnya.


 


 


Netizen; oh, lupa thor, namanya juga manusia.


 


 


Author; satu lagi, akutuh nggak bisa ya bikin cerita, panas, bergairah, mendesah, basah akutuh nggak bisa, jiwa mamah Dedeh akutuh menolak.


 


 


Netizen; Munapik lu thor ah.


 


 


Author; diem dulu lu biji kuda.


 


 


Netizen; dih author, nyelanya.


 


 


Author; jadi tolong lah jangan nyuruh-nyuruh aku buat bikin adegan panas. Nanti kalo akunya terpengaruh, terus hilap bagemana.


 


 


Netizen; ya bagus thor.


 


 


Author; dosa Jupri, Juleha.


 


 


Netizen; bodo amat


 


 


Author; itu kata-kata gue goblo. *nelen ban*