OH MY BOSS

OH MY BOSS
CINTA SEGITIGA



Roda waktu terus bergulir, hingga tanpa terasa satu bulan kembali berlalu. Tidak ada yang normal bagi Pelangi sekarang. Ia sibuk mengurus Gilang dan juga Anneth yang sejak wanita itu dinyatakan pulih langsung tinggal di kediaman keluarga Andreas juga. Sebenarnya Anneth ingin kembali ke apartemen, tetapi Pelangi melarang. Ia merasa bertanggung jawab atas kehancuran yang dialami oleh wanita itu. Apalagi setelah Pelangi tahu bahwa Arya benar-benar telah melecehkan Anneth hingga wanita itu menjadi trauma dan terpukul.


Sementara itu Delia bersikap luar biasa pendiam. Amara dan Pelangi sampai bingung dibuatnya. Ketika ditanya tentang apa yang sebenarnya telah terjadi, Delia hanya menggeleng, terkadang hanya tersenyum, terkadang malah menangis. Hal itu sungguh membuat seisi rumah menjadi bingung, tanpa terkecuali Andrew.


Lalu, yang membuat Pelangi semakin galau adalah kondisi Gilang yang terus menurun. Pria itu sering demam, terkadang sesak napas menyerangnya secara tiba-tiba. Tentu saja Pelangi menjadi siaga setiap saat. Ia takut jika saat Gilang terserang sesak napas, ia tidak menyadari situasi tersebut dan akhirnya berakibat fatal untuk Gilang.


Hampir setiap malam Pelangi tidak tidur. Ia hanya berbaring di samping Gilang sembari menatap dada pria itu. Memastikan bahwa dada Gilang masih bergerak naik turun dengan teratur.


Seperti pagi ini, Pelangi hampir saja terjatuh saat menuju lantai atas untuk mengantarkan susu ibu hamil untuk Delia. Untunglah ada Anneth di sana yang kebetulan sedang turun menuju ke ruang makan. Anneth menahan lengan Pelangi tepat waktu sebelum wanita itu terjatuh.


"Hati-hati, Pelangi," ujar Anneth.


"Ya ampun, trims, Sus, andai kamu tidak ada mungkin aku akan masuk ruang ICU sekarang."


Anneth tersenyum tipis. "Jangan bicara sembarangan. Kamu orang baik, itulah sebabnya aku dikirim tepat waktu untuk menyelamatkanmu. Jangan anggap ini utang budi. Anggap saja Tuhan memang mengirimku untuk menolongmu."


"Baiklah. Aku tidak akan menganggapnya sebagai utang budi. Tidka ada utang di antara kita." Pelangi menepuk pundak Anneth.


"Aku hanya khawatir tidak bisa membalas semua apa yang kamu lakukan untukku." Kedua mata indah Anneth berkaca-kaca.


"Cukup tetaplah hidup dengan baik. Dengan begitu artinya kamu menghargai semua pemberianku padamu."


Anneth mengangguk. "Ya, semoga aku bisa."


Pelangi menyikut perut Anneth. "Tentu kamu bisa, memangnya kenapa tidak, hah?"


Anneth kembali tersenyum tipis. Sejak mendapat pengalaman buruk dengan Arya, Anneth memang seperti kehilangan gairah dalam menjalani hidup. Wanita itu jarang keluar rumah, jarang tertawa, jarang bicara dan jarang bercanda. Padahal dulu Anneth adalah sosok yang periang dan penuh percaya diri, tidak jauh berbeda dengan Pelangi. Wajahnya yang selalu cantik, kini terlihat pucat tanpa riasan. Jangankan mengenakan lipstik, mengenakan bedak saja tidak pernah.


"Kamu mau mengantarkan susu untuk istrinya Andrew?" tanya Anneth kemudian.


Pelangi mengangguk. "Dia di kamar, 'kan? Karena dia tidak juga turun, maka aku berinisiatif untuk mengantarkan susu. Delia selalu minum susu di pagi hari."


Anneth diam sejenak. Sebenarnya ia ingin melarang Pelangi untuk datang ke kamar Andrew, karena semalam tanpa sengaja ia mendengar pertengkaran antara Delia dan Andrew, dan pertengkaran itu masalah utamanya adalah Andrew yang ternyata masih mencintai Pelangi.


"Hai, kok melamun? Apa Delia ada di kamar?" Pelangi menyentuh pundak Anneth saat dilihatnya wanita itu hanya diam diam saja.


Anneth tersentak, ia kemudian mengangguk. "Ya, dia ada di kamarnya."


"Baiklah, aku ke atas dulu kalau begitu. Selamat sarapan dan makan yang banyak, ya." Pelangi melambaikan tangannya pada Anneth sebelum kembali meniti anak tangga menuju lantai atas.


"Dia begitu tulus. Semoga Andrew segera menyadari kesalahannya yang dibuat," gumam Anneth, lalu mengambil langkah berbeda dari Pelangi.


Sesampainya di depan pintu kamar Delia, Pelangi merapikan gelas susu yang ada di atas nampan, lalu tangannya bersiap untuk mengetuk. Namun, hal itu urung ia lakukan saat didengarnya suara teriakan Delia dari dalam kamar, dan yang membuat Pelangi tercengang adalah Delia menyebut namanya.


Pelangi mengerjap, tetapi rasa penasarannya tidak berlangsung lama saat detik-detik berikutnya ia kembali mendengar namanya dilontarkan, kali ini dari bibir Andrew.


"Ya, aku mencintainya. Itu kenyataan, Del, tapi aku sedang berusaha untuk melupakannya. Apa kamu tidak mengerti? Pelangi itu cinta pertamaku. Sulit bagiku untuk--"


"Karena sulit, maka ceraikan saja aku! Sudah berapa kali kamu menyebut namanya dalam tidurmu, Ndrew. Apa kamu pikir aku tidak terluka, hah?"


Deg!


Pelangi menyentuh dadanya. Ia tidak menyangka jika penyebab Delia berubah selama ini ternyata karena dirinya, karena Andrew masih menyimpan rasa padanya.


Tok, tok, tok!


Pelangi terkejut saat pintu di hadapannya diketuk oleh seseorang. Ia menoleh ke samping dan mendapati Toni sedang berdiri di sampingnya dan mengetuk pintu kamar Andrew.


"Ketuk saja dan selesaikan. Aku tahu ini bukan tanggung jawabmu, tetapi Delia harus diyakinkan bahwa kamu tidak menyukai Andrew dan kalian berdua tidak mungkin berhubungan."


"Kamu tahu?"


"Ya, mereka bertengkar setiap hari, saat aku kebetulan lewat, aku tidak sengaja mendengarnya, kemudian beberapa hari setelahnya aku mendengarnya dengan sengaja. Delia cemburu. Semua karena kegilaan Andrew." Toni menepuk pundak Pelangi, kemudian segera berlalu dari hadapan wanita itu menuju kamarnya yang berada di seberang ruangan.


Pintu berayun membuka, menampakan wajah Andrew yang terlihat setengah mati menahan emosi. Namun, begitu melihat Pelangi berdiri di depan pintu kamarnya, wajah Andrew seketika melunak.


"Aku mengantar susu untuk Delia. Dia tidak turun untuk sarapan tadi, makanya aku datang ke atas sini."


Andrew diam sejenak, ia hanya menatap Pelangi dengan tatapan yang sulit diartikan. "Masuklah. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot ujar Andrew.


"Tidak masalah. Mengantar susu ke sini tidak merepotkan sama sekali." Pelangi menjawab tanpa memandang Andrew. Ia hanya menatap lurus ke depan, tepat di mana Delia berdiri sambil memandangnya dengan wajah kesal.


"Del, aku membawa susu," ujar Pelangi. Ia bersikap senormal mungkin, berpura-pura tidak tahu akan pertengkaran yang terjadi antara Delia dan Andrew.


"Letakan saja di meja rias, Pelangi, aku sedang tidak ingin minum susu." Delia berkata sambil berbalik memunggungi Pelangi.


"Ingin kuambilkan makanan yang lain? Buah, roti, atau apa?"


"Diamlah. Pelankan suaramu. Aku tidak ingin dengar dan aku tidak ingin makan apa pun!" Delia berteriak sembari menutup kedua telinganya.


"Delia, apa yang kamu lakukan?!" Andrew balas berteriak. Tindakan Andrew itu membuat Pelangi kecewa. Bagaimana bisa Andrew meneriaki istrinya yang tengah hamil. Tidak seharusnya Andrew melakukan hal demikian.


"Keluar, Ndrew, keluar!" Delia kembali berteriak histeris.


"Del, maaf, aku tidak bermaksud untuk--"


"Keluarkan, Ndrew. Turuti apa yang dia mau. Lagi pula, tidak seharusnya kamu membentaknya," ujar Pelangi.


Andrew menatap Pelangi dan Delia bergantian. Ia terlihat menyesal, karena tidak dapat mengendalikan emosinya. "Baiklah, aku akan keluar."


Setelah Andrew keluar dari dalam kamar, Pelangi segera menghampiri Delia dan tanpa mengatakan apa pun lagi Pelangi menarik Delia ke dalam pelukannya. Ia merangkul wanita itu dengan sangat erat dan membiarkan Delia menangis dalam dekapannya.


"Entah apa yang harus kulakukan padamu, Pelangi, apa yang harus kulakukan?" isak Delia.


"Lakukan sesukamu, Del, jangan kamu jadikan beban. Benci saja aku jika kamu ingin membenciku, atau pukul saja aku." Pelangi berkata sembari mengusap punggung Delia.


"Ini sulit. Aku tahu ketulusanmu. Mana mungkin aku membencimu. Tapi di sisi lain aku tidak suka padamu karena kehadiranmu membuat Andrew tidak bisa mencintaiku sepenuhnya. Padahal aku tahu itu bukan salahmu. Kamu sangat mencintai Gilang. Tapi lihatlah Andrew, dia bahkan mengaku tidak dapat melupakanmu. Jika memang begitu, kenapa dia menikahiku, kenapa?!" Delia mengungkapkan segalanya yang selama ini ia simpan seorang diri. Ia mengungkapkannya langsung di hadapan Pelangi. Ia ingin Pelangi tahu bahwa dirinya tidak membenci Pelangi, tetapi di sisi lain dirinya sangat cemburu pada kehadiran Pelangi.


"Agar apa? Sebuah rasa tidak mungkin hilang begitu saja. Aku tahu itu, tapi sayangnya aku tidak bisa memahami dan menerimanya. Andai Exel masih ada, aku pasti akan memintanya untuk membawaku pergi. Aku ingin pergi dari sini."


***


Pelangi memikirkan perkataan Delia semalaman. Ia bahkan tidak dapat memejamkan matanya barang sejenak saja. Bayangan wajah Delia yang sedih terus muncul di dalam benaknya. Sekarang sudah pukul 02.00, tapi ia masih terjaga.


"Sebuah rasa tidak akan mudah hilang, lalu bagaimana cara menghilangkannya?" gumam Pelangi.


"Rasa apa, Sayangku, manis, asin, atau pahit?" Gilang membuka mata dan menyahut ucapan Pelangi.


Pelangi tersentak. Ia terkejut karena ia tidak menyangka jika Gilang mendengar apa yang dikatakannya. "Kamu tidak tidur?"


"Tidak. Aku hanya menutup mata sejak tadi."


Pelangi berdecak, kemudian mengusap puncak kepala Gilang. "Tidurlah, Gil, kamu harus istirahat yang cukup. Tidak baik jika kamu begadang setiap hari."


"Bagaimana aku bisa tidur jika istriku sejak tadi terlihat gelisah. Katakan padaku, Pelangi, apa ada sesuatu?"


"Tidak ada, Sayang."


Gilang menaikkan sebelah alisnya, ia tahu jika Pelangi sedang berbohong. "Jangan berbohong. Kamu sudah berjanji padaku bahwa kamu tidak akan menyembunyikan apa pun dariku."


Pelangi menghela napas. "Aku tidak ingin membebani pikiranmu."


"Aku sama sekali tidak merasa terbebani. Masalahmu adalah masalahmu juga. Berbagilah denganku, Pelangi. Aku kan suamimu. Apa gunanya aku jika tidak bisa memberi solusi untukmu."


Pelangi menatap langsung ke dalam mata Gilang yang teduh. Ia suka sekali menatap kedua mata pria itu lama-lama. Bahkan setelah menikah bertahun-tahun, menatap mata Gilang masih bisa menimbulkan getaran yang tidak asing di dadanya, seolah ia jatuh cinta pada Gilang untuk kali pertama, lagi, lagi, dan lagi.


"Baiklah, akan aku ceritakan, tapi tolong jangan marah, oke." Pelangi menyentuh tangan Gilang dan mendaratkan kecupan di sana.


"Tidak, aku tidak akan marah." Gilang tersenyum.


"Ini tentang Andrew," ujar Pelangi.


Mendengar nama Andrew disebut, raut wajah Gilang seketika menjadi serius.


"Ada apa dengannya?"


"Andrew dan Delia bertengkar."


"Kalau yang itu aku sudah tahu," ucap Gilang.


"Dari mana kamu tahu? Padahal aku kan belum cerita. Apa Toni yang mengatakannya, atau jangan-jangan kamu dan Toni bersama-sama menguping pertengkaran mereka."


Gilang tertawa melihat kepolosan di wajah istrinya. "Astaga, Pelangi, Pelangi, kamu ini dari dulu memang tidak pernah berubah. Apa tidak kentara? Menurutmu kenapa mereka jarang bicara saat di meja makan. Andrew juga selalu berangkat ke kantor dengan wajah muram, dan Delia bahkan tiba-tiba menjadi pendiam, padahal dia itu kan banyak bicara sama seperti dirimu. Semuanya sangat jelas, tapi kamu bisa-bisanya tidak menyadari hal itu."


Pelangi menggaruk tengkuknya. "Aku tidak memperhatikan itu semua, karena aku selalu memperhatikanmu seorang."


"Benarkah?"


Pelangi mengangguk. "Ya, aku takut terjadi sesuatu padamu dan aku tidak melihat atau menyadarinya. Itulah sebabnya aku selalu memandangimu setiap waktu."


Dada Gilang menghangat. Ia tidak menyangka akan mendapat jawaban demikian dari Pelangi.


"Kamu begitu perhatian."


"Karena kamu adalah suamiku. Aku mencintaimu dengan segenap jiwaku. Mana bisa aku mengabaikanmu hanya untuk memperhatikan orang lain. Aku bahkan tidak memperhatikan semua yang kamu katakan tadi, walaupun aku menyadari salah satunya, yaitu sikap Delia yang berubah."


"Terima kasih, Pelangi, senang rasanya memilikimu dalam hidupku."


"Aku pun merasakan hal yang sama. Senang rasanya memilikimu." Pelangi mengecup bibir Gilang. "Nah, mari kita lanjutkan tentang Andrew."


"Ya, katakan ada apa?"


"Andrew mengatakan hal yang membuat Delia sakit hati. Andrew bilang kalau dia--"


"Mencintaimu." Gilang memotong ucapan Pelangi.


Pelangi mengangguk. "Benar. Dia mengatakan hal itu pada istrinya yang sedang mengandung. Apa Andrew itu tidak waras?!"


"Sudah kuduga bahwa dia akan melakukan kekacauan seperti ini. Cara Andrew menatapmu dan cara dia memperlakukanmu kentara sekali jika dia masih memiliki perasaan padamu."


"Aku pikir selama ini dia hanya menganggapku sebagai teman dekatnya. Aku sungguh tidak sadar jika dia jatuh cinta padaku."


"Antara pria dan wanita tidak bisa berteman, Pelangi. Hubungan seperti itu tidak pernah ada. Jika terjalin pertemanan antara pria dan wanita, aku yakin sekali jika salah satunya pasti akan jatuh cinta. Kamu saja yang terlalu polos dan tidak peka."


"Jadi menurutmu apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus mengatakan pada Andrew bahwa aku tidak mencintainya agar dia berhenti mencintaiku? Atau aku harus menamparnya agar dia sadar dan tidak lagi menyakiti istrinya, atau kita harus pindah rumah?"


Gilang terlihat sedang berpikir. "Sebenarnya aku lebih tertarik dengan saran pindah rumah, tapi ayah pasti tidak akan setuju. Di masa tuanya, dia ingin agar kita semua berkumpul dan tinggal bersama. Lagi pula, cinta tidak akan menghilang semudah itu. Jarak bukanlah penghalang dari sebuah rasa."


"Lalu, aku harus bagaimana?"


"Temui dia dan katakan kalau kamu tidak mencintainya, setelah itu biarkan saja dia memikirkannya. Aku yakin, nanti saat bayinya lahir, dia pasti akan mencintai Delia seutuhnya. Aku harap kehadiran anak di tengah-tengah mereka dapat memperkuat ikatan keduanya."


Pelangi mengangguk. "Akan aku temui dia besok. Terima kasih karena sudah mau mendengarkan dan memberi solusi untukku. Dan terima kasih juga karena kamu tidak marah."


"Siapa bilang aku tidak marah. Aku marah, Pelangi, sangat marah. Hanya saja aku sadar kalau aku tidak bisa melakukan banyak hal, termasuk menghajar Andrew habis-habisan."


Pelangi memeluk Gilang dan mengecup leher, bibir, pipi, hingga hidung pria itu. "Aku akan menghajarnya untukmu nanti."


"Ya, kamu harus cepat menyelesaikannya agar kalian tidak terjebak dalam cinta segitiga."


Bersambung.