
Andrew dan Toni meradang saat mendengar apa yang beberapa waktu lalu Atika katakan kepada mereka. Awalnya mereka tidak percaya, tetapi mendengar penjelasan Atika yang begitu mendetil, mau tidak mau mereka akhirnya percaya.
Sekarang keduanya sedang dalam perjalanan kembali ke kota, bersama dengan Exel dan Delia yang ikut serta bersama mereka. Atika sendiri menolak untuk ikut. Wanita itu mengatakan lebih merasa nyaman dan aman saat berada di tempat penampungan ketimbang harus kembali ke kota yang berarti keberadannya akan lebih dekat dengan Gisel.
"Aku janji tidak akan pergi ke mana pun, Pak.Kalian bisa mencariku di sini jika kalian membutuhkanku, dan jika kalian akan melaporkan Gisel ke polisi, maka aku pun akan menunggu polisi di sini untuk menjemputku. Aku tidak akan lari, tenang saja, Pak."
Itulah yang dikatakan oleh Atika beberapa waktu lalu. Baik Andrew dan Toni tidak berniat untuk memaksa Atika, toh wanita itu telah mau bekerja sama dengan mereka. Anggap saja mereka membiarkan kebebasan Atika sebelum wanita itu mendekam di penjara karena telah menjadi kaki tangan Gisela.
Delia yang duduk di kursi belakang mobil menyandarkan kepalanya pada pundak Exel. Sejak tadi wanita itu menangis dalam diam. Ia tahu alasan kenapa Andrew dan Toni menginginkan mereka unttuk ikut ke kota. Andrew dan Toni tidak ingin kehilangan Exel lagi, toh mereka berdua berniat untuk memenjarakan semua orang yang telah menyakiti Pelangi, tidak terkecuali Exel.
"Sudahlah. Berhentilah menangis. Kamu akan membuat mobil ini kebanjiran, Delia." Exel berbisik di telingan Delia, tetapi Delia seolah tidak peduli, air matanya malah mengalir semakin deras begitu exel bersuara di sebelahnya.
"Shuut, shuut, sudah kubilang diamlah," ujar Exel lagi, kali ini ia menepuk-nepuk puncak kepala Delia juga. Persis seperti seorang ayah yang sedang menenangkan putrinya yang sedang menangis.
Delia menyedot cairan di hidungnya dalam-dalam sebelum cairan kental itu melewati lubang hidungnya dan menetes ke pangkuannya, kemudian ia berkata. "Mana bisa aku tidak menangis jika kebersamaanku denganmu akan segera berakhir."
Mendengar keributan di kursi belakang, Toni menoleh dan menatap Delia dengan iba. Ia tahu sedekat apa hubungan Delia dan Exel. Ia juga tahu bahwa Exel selama ini melakukan segala pekerjaan demi biaya pengobatan Delia yang mengalami gagal ginjal dan juga penyakit jantung bawaan yang sudah diderita wanita itu sejak masih kecil.
"Kebersamaanmu dengan Exel tidak akan berakhir. Aku janji padamu, Delia," ujar Toni, berharap agar Delia lebih tenang setelah mendengar apa yang ia katakan.
"Bagaimana caranya?"
"Kami akan mengupayakan agar hukuman Exel tidak terlalu berat. Apalagi Exel pernah beberapa kali menolong Pelangi. Saat Ringgo berusah menculik Pelangi dan saat Pelangi hampir terjatuh dari balkon kamarnya." Kali ini Andrew yang menjawab.
"Kalian tahu itu?" Exel terkejut mendengar ucapan Andrew.
"Tentu kami tahu. Di kediaman keluarga Andreas, CCTV tersebar di mana-mana." Toni menjawab sembari terkekeh. "Jangan kamu ulangi lagi, Xel, kalau sampai Gilang lihat maka habislah kamu."
Exel terlihat malu karena kedapatan memanjat pagar pembatas di balkon kamar Pelangi. "Saat itu aku hanya ingin melihat keadaannya karena aku merasa bersalah padanya, tapi dia malah ketakutan dan hampir saja terjatuh."
"Ya, beruntung dia tidak apa-apa. Kalau sampai dia kenapa-kenapa, aku pasti akan mencarimu dan mematahkan lehermu." Andrew menimpali.
Mendengar ucapan Andrew, ada rasa cemburu yang merasuki Delia. Ia tidak habis pikir saja, kenapa Andrew begitu tergila-gila pada wanita yang telah bersuami.
"Beruntung sekali Pelangi. Aku rasa semua pria di dunia ini ingin selalu melindunginya," ujar Delia, sembari menenggelamkan wajahnya lebih dalam ke pundak Exel.
Andrew menatap Delia melalui kaca spion mobil bagian depan. "Bukan hanya Pelangi, Del, bahkan kamu juga. Jika ada orang yang berusah untuk menyakitimu, aku pasti akan mematahkan setiap sendi orang itu."
Delia berdecak. "Ck, aku tidak percaya."
Andrew tersenyum melihat tingkah Delia yang begitu manja pada Exel. "Suatu hari nanti pasti akan kubuktikan."
***
pelangi terus bersembunyi di dalam kamarnya sejak beberapa waktu lalu. Ia terlalu malu untuk bertemu dengan Gilang. Beberapa kali ia hanya bisa mengeluh di dalam hati karena tidak bisa menjaga ucapannya di depan Gilang. Bagaimana bisa ia melarang Gilang menikah dengan Gisel, padahal sekarang ini dirinya bukanlah siapa-siapa bagi Gilang.
Sedangkan Gilang, pria itu bukannya menegur kelancangan Pelangi, malah meminta Pelangi menyebutkan satu alasan kenapa ia melarang Gilang menikah dengan Gisel. Tentu saja Pelangi menjadi bingung dan memilih untuk berlari ke arah kamar dan bersembunyi hingga sekarang.
"Bodohnya aku." Pelangi kembali mengeluh, sembari menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal seperti yang sejak tadi ia lakukan.
Tidak lama kemudian, suara kutukan di pintu kamar terdengar, membuat Pelangi melompat karena terkejut.
"Siapa?" teriak Pelangi dari atas ranjangnya, walaupun ia tahu bahwa Gilanglah yang mengetuk pintu kamarnya saat ini. Memangnya mau siapa lagi, sekarang ini hanya ada mereka berdua yang mendiami kamar hotel yang Gilang sewa. Ya, hanya berdua, membuat Pelangi memikirkan hal yang tidak-tidak di setiap detiknya.
"Raina buka pintunya. Mari kita makan siang!" teriakan Gilang dari luar kamar terdengar samar di telinga Pelangi.
Pelangi segera bangkit dengan enggan dari atas ranjang dan berjalan perlahan menuju pintu, berharap ia tidak akan pernah sampai di depan pintu sehingga ia tidak perlu membuka pintu tersebut untuk menghadapi Gilang.
"Kenapa lama sekali, sih?" omel Gilang, saat pintu telah terbuka dan Pelangi terlihat dari balik pintu.
"Maaf, aku tertidur tadi. Ada apa memangnya?" tanya Pelangi sembari berpura-pura menguap.
"Sekarang sudah waktunya makan siang. Karena aku belum berbelanja, mari kita makan di luar saja."
"Tapi--"
"Tidak ada tapi-tapian, aku sudah lapar sekali, Raina." Gilang meraih tangan Pelangi dan menarik lengan gadis itu keluar dari kamar.
Pelangi mengikuti langkah Gilang dengan enggan, walaupun perutnya juga terasa lapar saat ini.
Setelah tiba di restoran, masih sambil menggenggam tangan Pelangi, Gilang segera menuju sebuah meja bundar besar yang terdapat si samping jendela dan meminta Pelangi untuk duduk di kursi yang ada di sana.
Sambil menunggu pesanan datang, Gilang terus saja menatap Pelangi tanpa henti, membuat wanita itu menjadi salah tingkah dan mulai bertanya-tanya kenapa Gilang menatapnya seperti itu.
"Mari mengobrol," ujar Gilang setelah beberapa saat keduanya terjebak dalam keheningan.
"Ngobrol tentang apa?" tanya Pelangi.
"Apa saja."
Pelangi memijat pelipisnya. "Bagaimana kalau kita mengobtol tentang temanku saja."
Gilang menaikan sebelah alisnya. "Temanmu. Apa dia sepenting itu sampai-sampai kamu ingin membahasnya denganku."
Pelangi mengangguk. "Dia penting bagiku. Lagi pula, tadi kamu mengatakan padaku kalau kita boleh mengobrol tentang apa saja."
"Ya, ya, baiklah. Bicaralah."
Pelangi berdeham, lalu berkata, "Temanku pernah bercerita padaku, bahwa suaminya selalu menatapnya dengan dingin. Tapi, terkadang suaminya bersikap begitu baik padanya. Apa menurutmu sikap seperti itu normal bagi pasangan menikah? Oh, ya, mereka berdua menikah karena perjodohan."
"Bisa jadi suaminya memiliki kepribadian ganda." Gilang menjawab sengan singkat.
Gilang mengangkat kedua bahunya. "Kalau begitu, bisa jadi suami temanmu itu kesal karena harus menikah karena dijodohkan."
"Tapi akhirnya temanku itu mengandung, kok. Jika suaminya kesal dan tidak terima karena harus menikahi wanita yang dijodohkan oleh orang tuanya, mana mungkin temanku itu mengandung."
Gilang tertawa. "**** tidak ada hubungannya dengan cinta. **** adalah kebutuhan bagi sebagian orang, Raina. Walaupun dia tidak suka pada istrinya, tapi siapa yang akan tahan jika ada wanita yang berbaring di tempat tidurnya. Aku rasa karena itulah temanmu itu pada akhirnya mengandung juga."
Pelangi cemberut dan refleks melemparkan sapu tangan ke arah Gilang. "Apa kamu mengatakannya berdasarkan pengalaman?"
"Tidak. Aku bukan tipe yang akan menebar benih sembarangan. Aku tidak akan bercinta pada wanita jika aku tidak mencintai wanita itu. Bahkan jika aku suka, tetapi tidak cinta, wanita itu tidak akan kusentuh."
Dada Pelangi berdebar begitu mendengar jawaban dari Gilang. Jika yang Gilang katakan benar, itu berarti Gilang mencintainya. Lalu, kenapa Gilang menatapnya dengan begitu sinis saat di tepi kolam renang, bahkan Gilang tega mendorongnya ke dalam air.
Pelangi kembali berdeham dan menegakkan duduknya, ia ingin menggali lebih dalam tentang perasaan Gilang dan juga kepribadian pria itu.
"Oh, ya, apa menurutmu seseorang yang awalnya saling benci, pada akhirnya akan saling jatuh cinta?" tanya Pelangi penasaran.
Gilang menopang dagu dengan tangannya dan menatap Pelangi dengan tajam. "Ya, aku rasa hal itu bisa terjadi. Cinta adalah sesuatu yang ajaib dan istimewa, Raina. Tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi pada dua orang yang sering bertemu. Walau awalnya mereka saling membenci, tetapi pada akhirnya kebersamaan mereka bisa menumbuhkan rasa cinta. Mungkin awalnya karena terbiasa akan kehadiran satu sama lain, lalu rindu dan cemburu saat melihat seseorang yang selalu bersama dengan kita malah bersama dengan orang lain. Di saat itulah kita menyadari bahwa kita telah jatuh cinta."
"Kamu berbicara berdasarkan pengalaman?" tanya Pelangi.
"Ya," jawab Gilang sembari mengangguk. "Aku bercerita berdasarkan pengalaman." Gilang tersenyum dan kemudian menegakkan duduknya, karena seorang pelayan datang menghampiri meja mereka dengan membawa pesanan yang sebelumnya telah Gilang pesan.
Pelangi menggunakan kesempatan itu untuk mengusap air matanya, selagi Gilang sibuk dengan berbagai macam makanan yang sedang disajikan.
"Selamat menikmati hidangannya, Tuan, Nyonya," ujar si pramusaji.
Gilang mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada si pramusaji.
"Makanlah. Nanti setelah makan kita lanjutkan bergosip tentang temanmu."
Pelangi tersenyum kepada Gilang. "Aku rasa gosip tentang temanku sudah selesai. Setidaknya aku tahu bahwa suami temanku itu mungkin pernah membenci temanku pada awal pernikahan, tapi pada akhirnya dia mencintai temanku."
"Ya, katakan saja pada temanmu itu agar jangan terlau memusingkan suaminya. Jika suaminya tidak mencintainya, tinggalkan saja. Karena pernikahan bukan tentang kamu menjalani satu dua hari atau satu dua tahun, tapi selamanya. Dan seorang wanita berhak untuk bahagia dengan pernikahannya untuk selamanya."
Pelangi mengangguk. Ia kagum sekali pada Gilang. "Setelah ini bagaimana kalau kita membicarakan tentang dirimu." Pelangi memberi saran, sembari meraih dua buah croissant dari atas piring besar berbentuk hati yang terlihat cantik dan elegan.
"Tidak banyak hal yang menarik tentang diriku selain fakta bahwa aku ini memesona," ujar Gilang.
Pelangi tertawa. "Kamu memang sangat memesona, Pak Gilang."
"Ya, tapi percuma saja jika pesonaku tidak membuatmu tertarik padaku." Gilang kembali melempar tatapan tajam ke Pelangi, membuat kedua pipi wanita itu merona merah.
Pelangi menghela napas. "Aku bukannya tidak tertarik. Aku hanya sedang menahan diri," batin Pelangi.
"Oh, ya, karena hari ini kita sedang libur bekerja, bagaimana kalau aku ajarkan kamu berenang." Gilang memberi saran.
Pelangi tersedak begitu mendengar apa yang Gilang katakan. "Berenang! Denganmu?"
Gilang mengangguk. "Ya, berenang. Aku tidak akan selalu ada untuk melindungimu, Raina, siapa tahu saja suatu hari nanti kamu kembali terpeleset dan jatuh ke kolam renang."
"Ucapan adalah doa," sinis Pelangi.
Gilang kembali tertawa. Tawa renyah yang mempu membuat dada Pelangi kembali berdebar tak keruan. "Aku bukannya sedang mendoakan hal buruk terjadi padamu. Aku hanya sedang beebicara fakta tentang kamu yang tidak bisa berenang, dan kemungkinan yang bisa terjadi kapan saja padamu. Kemungkinan kamu kembali terjatuh."
Pelangi menyipitkan mata dan menatap Gilang dengan curiga. "Kamu tidak berniat untuk menenggelamkanku, 'kan?"
Gilang menggeleng. "Untuk apa aku menenggelamkanmu, jika banyak hal lebih menyenangkan yang bisa kulakukan padamu. Seperti meraba tubuhmu, mengecupi lehermu, dan melepas pakaian renangmu. Kurasa hal itu lebih menyenangkan. Aku sangat mahir melakukannya walau berada di dalam air."
Pelangi bangkit berdiri, mengambil tiga buah croissant lagi dan kemudian meninggalkan Gilang yang masih mengoceh tentang fantasi liarnya di dalam kolam renang. Karena jika ia tetap bertahan di sana, bisa-bisa pertahanan dirinya sebagai wanita baik-baik akan runtuh saat itu juga.
"Gilang sialan," gumam Pelangi.
***
Gisel mengamuk setelah ia menerima laporan dari salah satu orang suruhannya bahwa Gilang melakukan chek-in di sebuah hotel bersama dengan asisten pribadi pria itu.
Beberapa hari sudah Gisel memang meninta seseorang untuk memata-matai Gilang dan melaporkan semua yang Gilang lakukan kepadanya. Selama beberapa hari ini semuanya berjalan normal. Gilang hanya pergi ke kantor dan beberapa kali keluar menemui klien seperti yang biasa pria itu lakukan. Tidak ada aktivitas yang mencurigakan sama sekali. Namun, laporan hari ini membuatnya marah dan ingin menerkam siapa saja saat ini juga. bagaimana bisa Gilang membawa wanita lain ke hotel tanpa sepengetahuannya.
Gisel menatap Antonio, pria yang ia tugaskan untuk mengikuti Gilang. "Jadi, Gilang menyewa kamar itu selama satu minggu?"
Antonio mengangguk. "Ya, Nona, selama satu minggu dia dan wanita itu akan tinggal di sana."
"Argh! Sialan, sialan, sialan!" teriak Gisel.
"Apa yang harus kulakukan sekarang, Nona?"
"Kamu pergilah ke hotel itu dan pesankan satu kamar untukku juga. Jika memungkinkan aku ingin kamar yang letaknya berdekatan dengan kamar Gilang," perintah Gisel, sembari melemparkan sejumlah uang cash pada Antonio.
Antonio segera keluar dari apartemen Gisel dan mengirimkan pesan pada seseorang.
[Dia ingin menginap di hotel yang sama dan kamar yang berdekatan dengan kamar Tuan Gilang. Apa yang harus aku lakukan, Tuan?]
[Lakukan saja apa yang dia perintahkan. Aku akan melakukan reservasi di sana juga hari ini.]
Bersambung ....
Next part, Gisel akan dijebak dan masuk ke dalam jeruji besi 😱