
Pelangi menggeleng, berusaha untuk menampik tanggapan Gilang tentang Andrew yang masih mencintainya. Meskipun Pelangi juga merasakan adanya keanehan pada diri Andrew selama beberapa hari ini.
"Sudahlah, Gil, kita tidak seharusnya membicarakan hal ini, karena kita berdua tahu bahwa yang sebenarnya adalah Andrew sangat mencintai Delia. Mereka sudah menikah, bahkan akan memiliki anak sebentar lagi. Jadi, aku mohon agar jangan mulai berpikir yang tidak-tidak."
"Baiklah jika kamu tidak ingin membicarakan hal ini, tapi jika terjadi sesuatu atau Andrew melakukan sesuatu padamu, bisakah aku meminta agar kamu mengatakannya padaku? Maksudku adalah jangan menyembunyikan apa pun dariku, Pelangi," ujar Gilang, dengan ekspresi datar yang sulit ditebak oleh Pelangi.
Pelangi mengangguk, ia meletakkan tablet di atas meja kemudian berlutut di hadapan Gilang. "Aku tidak akan menyembunyikan apa pun darimu, Gil, sama sekali tidak akan."
Gilang tersenyum. "Ya, aku yakin kamu tidak akan melakukan hal itu padaku. Aku pasti akan sangat kecewa jika hal seperti itu terjadi. Aku memiliki firasat yang tidak baik, Pelangi."
Pelangi mengecup punggung tangan Gilang. "Aku janji, aku tidak akan membuatmu kecewa. Semua itu hanya perasaanmu saja."
"Baiklah, semoga semua hanya perasaanku saja. Coba cek apa jadwalku selanjutnya," pinta Gilang.
Pelangi segera bangkit berdiri dan meraih tablet yang tadi ia letakkan di atas meja. "Pertemuan dengan pemilik jaringan Hotel Amanda di Sunrise Resto."
"Tidak terlalu jauh dari sini. Cepat hubungi sopir untuk mengantar kita."
"Aku bisa menyetir," ucap Pelangi, sembari mengacungkan tangan.
"Tidak, Pelangi, aku tidak akan membuat istriku menjadi asisten dan juga sopir sekaligus. Jika kamu tidak mau, aku akan memecatmu. Lagi pula, siapa yang akan memasuk dan mengeluarkan kursi rodaku ke dalam mobil jika sopir tidak ikut bersama kita. "
Mendengar kata 'pecat' membuat Pelangi segera meraih gagang telepon untuk meminta sekretaris memanggilkan seorang sopir kepercayaan Gilang. "Baiklah, baiklah, Bos. Akan kulakukan apa pun, asal jangan pernah berpikir untuk memecatku." Pelangi memasang wajah berpura-pura takut, membuat Gilang tertawa.
"Aku tidak mungkin memecatmu. Apa kamu tahu alasanku memintamu untuk bekerja denganku?"
Pelangi menggeleng. "Tidak ... ah, sebentar, Gil. Halo, tolong minta seorang sopir menyiapkan mobil. Kami akan berangkat lima belas menit lagi," ujar Pelangi pada sekretaris Gilang yang berada di seberang panggilan. Setelah memutuskan panggilan, Pelangi lantas menatap Gilang dan berkata, "Memangnya apa alasanmu?"
"Aku tidak ingin kamu sedih karena melihat kehamilan Delia. Itulah sebabnya aku setuju untuk kembali bekerja dan memintamu untuk menjadi asistenku."
Pelangi diam untuk sejenak. Akhirnya rasa penasaran yang selama ini ia pendam terjawab saja. Awalnya ia memang bingung dan sempat tidak percaya pada keputusan Gilang yang setuju untuk kembali ke kantor dan menjadikannya sebagai asisten pria itu. Tetapi sekarang ia tahu jika alasan di balik semua yang Gilang lakukan adalah untuk membahagiakannya.
"Mana mungkin aku sedih atas kehamilan Delia," ujar Pelangi setelah beberapa saat.
"Jangan berusaha untuk menyembunyikan perasaanmu dariku. Aku tahu kamu sedih. Hanya saja aku tidak tahu apakah kamu kecewa atau tidak?" Gilang menatap Pelangi dengan intens, ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melihat mimik wajah wanita itu. Ia ingin tahu, apakah Pelangi memang kecewa atau tidak.
"Untuk apa aku kecewa. Aku sama sekali tidak kecewa. Sekarang diamlah, dan ayo kita turun ke bawah. Aku rasa sopir sudah siap."
***
Sunrise Resto adalah salah satu resto berkelas dan termahal di kota Jakarta. Kebanyakan yang datang ke sana adalah orang-orang dari kalangan kelas atas seperti Keluarga Andreas, Keluarga Adiguna dan juga Keluarga Subroto. Ya, Keluarga Subroto adalah salah satu Keluarga terkaya dan sukses di Indonesia. Memiliki hotel di hampir seluruh pulau yang ada di Indonesia membuat Keluarga tersebut termasuk golongan pengusaha yang kehadirannya harus diperhitungkan.
Keluarga Subroto hanya memiliki satu orang putri sebagai pewaris. Wanita cantik dan mandiri yang sekarang tengah berusaha untuk menjalin kerjasama dengan Andreas Group. Wanita itu bernama Amanda.
Amanda Subroto duduk dengan menyilangkan kaki di kursinya. Roknya yang ketat dan super pendek terlihat hampir tergulung hingga pangkal paha saat ia mengambil posisi seperti itu.
Amanda adalah pengusaha muda dan sukses. Usianya sama dengan Gilang, tetapi ia sudah memiliki beberapa hotel yang dibangun dengan kerja kerasnya sendiri tanpa bantuan dari orang tuanya yang kaya raya. Selain hotel, Amanda juga melebarkan sayap bisnisnya di bidang fashion. Ia memiliki butik ternama di beberapa daerah, termasuk Jakarta, Kalimantan, Bali dan di beberapa pulau lainnya. Tidak heran jika ia menjadi wanita yang sangat sombong dan cenderung merendahkan orang lain.
Seperti saat ini, Amanda menatap Gilang yang baru tiba di depannya dengan tatapan menghina. Tidak peduli seberapa tampan dan sempurna wajah Gilang, kenyataan bahwa Gilang cacat mampu membuat Amanda menatap Gilang dengan sebelah mata.
Pelangi sendiri awalnya takjub melihat penampilan Amanda. Bagi Pelangi Amanda sangatlah cantik, kulitnya yang kuning langsat dan rambutnya yang keriting dan hitam legam membuat Amanda semakin terlihat menarik. Kedua mata Amanda besar, dengan bulu mata yang lentik dan alis yang hitam lebat. Namun, begitu melihat seringai di wajah Amanda, rasa takjub Pelangi seketika menghilang.
"Selamat siang, Bu Amanda," sapa Gilang, ketika kursi rodanya tiba di hapan Amanda.
"Anda Gilang Andreas?" Amanda bertanya, bukannya menjawab sapaan dari Gilang.
"Ya, saya Gilang Andreas."
Amanda tersenyum miring. "Anda terlihat jauh berbeda seperti yang dikatakan orang-orang dan juga seperti yang terlihat di majalah bisnis yang pernah kubaca."
Gilang mengerti apa yang dimaksud oleh Amanda. "Ya, aku sedang mengalami musibah. Dan seperti inilah aku sekarang. Tidak masalah, 'kan? Bukankah kita akan berbisnis, bukannya berkencan, sehingga penampilanku sangat tidak penting untuk kita bahas." Gilang tersenyum sinis.
Wajah Amanda seketika merah padam begitu mendengar perkataan Gilang. "Ya, kita memang akan berbisnis, bukannya berkencan. Tapi apakah Anda bisa berbisnis dengan baik dalam keadaan seperti ini? Aku tidak mau terjadi kesalahan yang akan merugikanku."
Gilang tertawa. "Andalah yang mengajukan kerja sama dengan perusahaanku, jika Anda tidak berkenan, mari kita batalkan. Lagi pula, Bu Amanda, jikalau perusahaan kita jadi bekerjasama, Anda tidak usah khawatir. Aku mampu menjalankan tugasku dengan baik, karena aku memiliki banyak tangan dan banyak kaki yang akan membantuku."
Amanda mengibaskan rambut panjangnya ke belakang kemudian berkata, "Baiklah, mari kita pesan minum dulu sebelum kita membicarakan hal yang lebih serius. Anda ingin minum apa?"
"Tidak usah. Aku sedang tidak ingin minum."
"Ck, ayolah, Pak Gilang. Pesan saja, aku akan membantu memegang gelas Anda nanti jika kamu tidak bisa minum sendiri," ucap Amanda, sembari diiringi tawa yang membuat Gilang dan Pelangi merasa kesal.
"Maaf, Bu, Pak Gilang sama sekali tidak butuh bantuan Anda, karena ada aku yang akan membantunya. Dan kutegaskan pada Anda juga untuk berhentilah merendahkannya jika Anda ingin alis Anda tetap setebal sekarang." Pelangi tidak tahan lagi melihat suaminya direndahkan, hingga ia berani berkata kasar pada Amanda tanpa memikirkannya terlebih dahulu.
"Kamu mengancamku?" tanya Amanda. Kedua matanya yang besar terlihat semakin besar saat ia emelototi Pelangi.
Akan tetapi, Pelangi tidak takut sama sekali. Bukan Pelangi namanya jika mudah terintimidasi pada sikap Amanda yang sok berkuasa. Pelangi melakukan hal yang sama seperti yang Amanda lakukan. Ia memelototi Amanda sambil berkacak pinggang.
"Ya, Aku mengancammu? Apa masih kurang jelas?" Pelangi menjawab pertanyaan Amanda.
"Beruntung kamu itu hanya seorang asisten. Akan sangat memalukan jika aku berdebat dengan seorang babu sepertimu." Amanda berucap sembari melempar tatapan menghina ke Pelangi. "Pak Gilang, aku sekadar memberi saran, Anda harus sesegera mungkin memecat asisten Anda yang tidak berpendidikan ini dan mencari asisten baru yang lebih beradab. Akan sangat disayangkan jika pengusaha sukses seperti Anda memiliki asisten yang tidak memiliki sopan santun seperti dia."
Pelangi menghela napas panjang sebelum berkata, "Apa Anda tidak salah? Andalah yang tidak beradab di sini. Apa masalah Anda dengan keadaan fisik Pak Gilang? Sejak awal Anda sudah menatapnya dengan tatapan aneh, lalu Anda terang-terangan meragukan kemampuannya dalam menjalankan bisnis, dan kemudian Anda memperoloknya dengan mengatakan akan memegangkan gelasnya jika dia tidak bisa memegang sendiri. Anda sama sekali tidak pantas menghina kondisinya saat ini!"
"Aku tidak memperoloknya--"
"Ya, memang tidak, tapi Anda menertawakannya! Aku membatalkan kerjasama ini. Kau tidak sudi jika Pak Gilang bekerjasama dengan wanita Gila dan tidak beradab seperti Anda."
Amanda bangkit berdiri sembari menggebrak meja yang ada di hadapannya. Ia sudah hilang kesabaran menghadapi Pelangi yang banyak bicara. "Apa hakmu membatalkan kerja sama antara perusahaanku dan perusahaan Gilang?"
"Jelas aku memiliki hak, karena aku adalah Pelangi Andreas, istri dari Gilang Andreas. Dasar sialan!" Pelangi kemudian mendorong kursi roda Gilang melewati Amanda. Ia bahkan dengan sengaja menyenggol tubuh Amanda dengan keras saat melewati wanita itu yang sekarang wajahnya terlihat semerah buah tomat.
"Sekarang kamu pintar berkelahi," ujar Gilang, saat mereka telah berada di luar Sunrise Resto.
Pelangi mengigit bibir bawahnya. Ia tadi benar-benar terpancing emosi, hingga mengambil tindakan dan berkata tanpa memikirkannya dulu.
"Aku mengacaukan segalanya, Gil. Astaga, apa yang terjadi denganku? Bagaimana sekarang? " Pelangi mengusap wajahnya dengan kasar ketika mereka akhirnya berada di dalam mobil. "Apa aku akan membuat perusahaan bangkrut kemudian kita semua akan hidup dalam kesusahan?"
Gilang tertawa. "Apa kamu takut hidup susah?"
Pelangi menggeleng. "Tidak, tapi aku tidak ingin kalian semua hidup susah hanya karena kebodohanku. Jika hal itu terjadi, aku pasti akan menyesal seumur hidup."
Gilang tersenyum untuk menenangkan Pelangi. "Apa yang kamu lakukan sudah benar, dan hal itu tidak akan membuat perusahaan kita bangkrut apalagi sampai harus jatuh miskin. Toh belum ada perjanjian dan segala macamnya. Aku senang kamu marah pada wanita itu tadi. Kamu membelaku."
Pelangi menghela napas sembari mengelus dada. Ia meras lega karena tindakannya tidak berakibat fatal pada kelangsungan perusahaan.
"Aku tidak suka dia menghinamu seperti tadi. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk mengatainya. Memangnya dia itu siapa sehingga berhak menilaimu," ujar Pelangi, sembari memeluk pinggang Gilang dan menyandarkan kepala di dada pria itu. Pelangi tidka begitu peduli pada kehadiran sopir di antara mereka.
"Terima kasih," ujar Gilang.
"Aku tidak menerima ucapan terima kasih. Aku hanya menerima kecupan." Pelangi berbisik di telinga Gilang.
Gilang tersenyum. "Ayo lakukan saat kita tiba di rumah, dan mari lakukan sambil mandi bersama."
Kedua pipi Pelangi seketika memanas. Mandi bersama dengan Gilang merupakan hal paling menyenangkan yang pernah ia lakukan. Dulu Gilang sangat lihai membuatnya kualahan saat mereka berendam bersama di dalam bathtub. Sekarang Gilang tidak bisa melakukan seperti yang dulu sering Gilang lakukan. Namun, hal itu bukan masalah bagi Pelangi. Jika Gilang tidak bisa melakukan banyak hal, toh dirinya bisa melakukan segalanya.
"Aku akan menikmati seluruh bagian tubuhmu saat kita tiba di rumah nanti." Pelangi kembali berbisik, lalu menggigit telinga Gilang. Ia sudah sangat tidak sabar
***
Andrew masih duduk di kursi kerjanya sembari memejamkan mata begitu ia mendengar suara ketukan di pintu ruangannya.
Andrew membuka mata dan memerintahkan siapa pun yang mengetuk untuk masuk.
Pintu berayun membuka diiringi oleh kemunculan Delia dari luar ruangan.
"Delia," ujar Andrew. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin ke sini. Apa tidak boleh?" tanya Delia dengan wajah cemberut.
Andrew bangkit berdiri dan menghampiri istrinya. "Tentu boleh, Sayang, hanya saja kenapa tidak memberi kabar dulu. Aku kan bisa menjemputnu jika kamu ingin ikut ke kantor."
Delia menggeleng. "Aku ingin memberi kejutan."
"Ya, dan aku sungguh terkejut." Andrew menuntun Delia untuk duduk di sofa.
Saat keduanya telah duduk di sofa, Andrew tiba-tiba saja kembali teringat akan tindakan Pelangi yang beberapa saat lalu mencium Gilang. Perlahan gai_rah Andrew muncul. Walaupun di depannya saat ini hanya ada Delia, tetapi di dalam pikirannya ia membayangkan sosok Pelangilah yang tengah duduk sembari menatapnya.
Andrew membelai wajah Delia, sentuhannya yang lembut terasa menggelitik di kulit Delia yang halus. Delia menggeliat, ia kegelian saat tangan Andrew sekarang mulai membelai lehernya, lalu tengkuknya, dan kemudian Andrew mendaratkan bibirnya di sana.
Delia merasa tubuhnya mulai mengejang. Namun, yang Andrew lakukan barusan belum ada apa-apanya jika dibandingkan apa yang Andrew lakukan kemudian.
Andrew melepaskan hoodie kebesaran yang Delia kenakan, lalu menarik pakaian dalam Delia hingga terlepas, begitu tubuh Delia sudah polos tanpa sehelai benang pun yang menempel, Andrew mendaratkan bibirnya di seluruh permukaan kulit Delia, membiarkan wanita itu mende_sah dan tubuhnya menggeliat tak keruan karena kegelian.
Setelah puas dengan tubuh Delia, Andrew medaratkan bibirnya di bibir Delia dan ********** dengan rakus. Delia bahkan kesulitan bernapas.
"Ndrew, astaga aku ...."
"Shut, diamlah, nikmati saja dan ...." Andrew menggantungkan ucapannya saat kedua matanya terbuka dan sosok Delia terlihat jelas oleh kedua matanya.
Andrew segera menjauh, ia membantu Delia memasang pakaian dalam dan hoodie wanita itu dengan cepat.
"Maafkan aku. Kita tidak seharusnya tidak melakukan ini di kantor. Aku hilang kendali. Kembalilah ke rumah, aku akan menyusul sebentar lagi. Aku harus mengecek sesuatu sebentar." Setelah mengatakan itu Andrew segera keluar dari ruangan, meninggalkan Delia yang merasa bingung dan kecewa.
Bersambung.