
Mobil mewah Justin berhenti di parkiran pusat perbelanjaan, pria yang selalu rapi dengan setelan jas mahalnya itu turun dengan tergesa dan memberi perintah, "Jangan kemana-mana!" Pada Nena yang menatapnya penuh rasa ingin tahu. Namun dengan patuh gadis bermata bulat itu mengangguk.
"Ini Mall kan ya? Terus, gue nyeker gitu?" Gumam Nena, gadis itu masih keki mengingat kelakuan bosnya yang membuang sepatu kesayangannya itu.
Selang beberapa menit, pintu mobil terbuka, Justin mengangsurkan sendal jepit berwarna maroon dengan bunga mawar merah besar di ujungnya. Tanpa bertanya Nena memakai sendal itu dan berjalan mengikuti atasannya.
Nena menginjakkan kakinya masuk kedalam Mall, disambut dengan udara sejuk dari air conditioning, masih di belakang Justin, sesekali para pengunjung yang berpapasan dengan mereka tampak menoleh. Gadis berpakaian formal lengkap dengan blazer hitamnya itu tampak kontras dengan sendal jepit yang ia kenakan. Nena melirik kakinya, bunga mawar besar tampak melambai-lambai menutupi sebagian jari-jarinya yang mungil.
Ya amsyong, seleranya bos gue!
"Saya ada urusan dengan meneger departemen store ini," Justin menolehkan kepalanya, memastikan assistant barunya itu menangkap ucapannya dengan baik. Nena nampak mengangguk, pria yang sejak kedatangannya memasuki Mall itu menjadi pusat perhatian, entah karena penampilannya yang kelewat rapibatau tampangnya yang mirip artis Korea, terlihat tampak merencanakan sesuatu.
"Kamu tidak usah ikut." Justin meraih tangan Nena saat pengunjung tampak berdesakan, ada konser artis lokal di tengah area Mall itu. Gadis yang merasa jantungnya nyaris lepas karena genggaman si bos yang begitu hangat, dengan pasrah mengikuti kemana atasannya itu melangkah.
Nena sedikit terkejut ketika atasannya itu mengajaknya masuk ke sebuah salon kecantikan, dan lebih terkejut lagi saat seorang pria kemayu bertubuh tambun dengan batu akik memenuhi jari-jarinya yang montok semok, tampak berhambur dengan histeris ke arah Justin, dan pria itu lebih memilih ngumpet di balik punggung Nena yang tampak setengah spaning, gagal fokus.
"Beybih Entin, Eci kan kangen bingit sama yey, ih yey mah gitu deh. Sebel, sebel, sebel." Pria yang lebih suka dinobatkan sebagai kelompok kaum perempuan itu nampak menghentak-hentakan kakinya dengan kesal.
"Menjauhlah!" Teriak Justin, membuat beberapa karyawan yang tampak sibuk memijat customer mereka menoleh, cekikikan. Ajaibnya Pria kemayu bernama Alex yang lebih suka disapa dengan panggilan Eci, tampak patuh, mundur teratur dengan bibir mencebik, sedih.
Justin keluar dari persembunyian, mengabaikan Nena yang masih gagal paham. Pemuda yang mendadak pucat pasi itu mengeluarkan dompetnya dan mengangsurkan credit card pada Eci yang ternyata pemilik salon, pria kemayu itu menerimanya dengan senang hati, sepertinya mereka sudang sering bertransaksi hal serupa.
"Jangan kemana-mana, tunggu saya kembali." Titah Justin dan berlalu secepat yang dia mampu menghindari Eci yang sepertinya begitu bernafsu dengan pria yang dia panggil beybih itu.
Sepeninggalan Justin, Eci sang pemilik salon menarik lengan Nena dengan begitu lembut, mendapati tidak ada penolakan dari gadis cantik bawaan pujaan gantengnya itu, pria kemayu yang dasarnya ramah tampak dua kali lebih bersahabat.
Eci mendudukan Nena di kursi nyaman dengan sandaran yang begitu empuk, kemudian melepaskan cincin yang melingkar di jari-jarinya. Khusus untuk titah Beybih Entin nya itu, dia turun tangan sendiri memberikan pelayanan terbaik untuk gadis yang duduk pasrah membiarkan jemari montok Eci menjamah perkakas kepalanya.
"Yey sapose? Pere centong bawaan Beybih Entin biusannya pespi pacar dese, udah lemong bingit dese tinda pernah bawa pere kesindang." Celoteh Eci dengan bahasa bencongnya, diliriknya gadis cantik yang tampak bingung itu dari pantulan kaca di hadapannya.
Nena menggaruk pipi, kentara sekali dia tidak mengerti, diliriknya takut-takut pria kemayu yang tangannya begitu lembut mengoleskan sesuatu pada rambut lebatnya, gadis itu sungguh tidak paham dengan celotehan pemilik salon dengan mengkombinasikan sayur bercita rasa pahit, sendok nasi, dan peralatan medis yang dicampur baur jadi satu. Demi lalala yeyeye teriakan penonton bayaran, Nena lebih bisa memahami bahasa gaul kids jaman now daripada bahasa yang keluar dari bibir sensual pria yang marah dia panggila om itu.
"Plis deh, Eci. Jangan bikin anak orang mumet dengan bahasa yang nggak ada di kamus besar bahasa indonesia lo itu." Tegur seseorang yang mendekati mereka dengan niatan meminjam sisir yang tergeletak di hadapan Nena. Seorang wanita yang Nena yakini tulen itu nampak tersenyum manis padanya. Yang dibalas dengan hal serupa oleh dirinya.
"Ih, herman deh eke, bahasa gahol gicu dibilang bikin mumet. Emang yey mumet ciin?" tanya Eci yang Nena yakin pasti ditujukan padanya.
"Yey pacar Beybih Entin bukan sih?" tanyanya dengan bahasa sedikit agak normal, dan Nena pun dapat mengerti dengan baik.
"Bukan, saya assistantnya." Jawab Nena. Eci tampak tidak percaya.
"Biasanya perempuan yang dese, dia maksudnya, bawa kesini itu pacarnya."
"Memangnya Pak Justin sering kesini?"
"Yey kan assistantnya dese, masa tidak tahu, Mall King Dom ini kan punya dese."
Nena hanya ber oh tanpa suara, dia tidak terlalu terkejut dengan fakta itu, setelah Rumah sakit, Hotel dan Mall ini, pasti masih banyak lagi aset usaha yang atas nama dia, dan semakin membuatnya merasa takut untuk sekedar menaruh perasaan, hati, apalagi harapan. Gadis itu sangat tahu diri.
"Saya masih baru, jadi nggak banyak tahu."
"Ooh begindang, kalo yey pengen tahu banyak tentang bos yey itu, tepat kalo nanyanya sama eke ciin, eke ini batal calon bini dese. Hihi desenya yang nggak mau sama eke."
Tapi kalo pake bahasa bencong mending nggak usah dah. Asli otak gue nge'heng, udah muncul tulisan EROR pasti nih di jidat gue. Rutuk Nena dalam hati.
"Biasanya eke suka sulam alis, tapi alis yey udah lebat, dibentuk dikit udah paripurna banget. Mau tanam bulu mata palsu, tapi bulu mata yey juga udah lentik, sulam bibir, bibir yey udah cetar juga, yey oplas dimandose? Eci mau deh muka model begini."
"Emang udah cetakan dari sononya, Om Eci."
"Orang tua yey pasti ada keturunan Belanda yes?"
"Nggak ada, cuma papa sih yang ada keturunan Cina islam dari kakeknya."
"Tapi muka yey, nggak mirip orang tionghoa, malah kaya noni Belanda. Yey anak pungut berarti."
"Astagfirullah, Om Eci ngomongnya."
"Astaga, yey manggilnya om lagi, om lagi, ih, sebel, sebel, sebel."
***