
Cerita ini gratis sampe tamat di F I Z Z O buat yang mau mampir aja. yang gamau gapapa.
Judul: Sebatas Kekasih Bayaran
nama pena: Ade annisa66
Blurb
Setelah pengorbanan yang dilakukan hingga membuatnya harus diasingkan ke luar negeri dalam waktu lama, Kafa malah mendapatkan sebuah pengkhianatan dari wanita yang dicintainya.
Cloudya--kekasih Kafa, menikahi seseorang yang begitu dekat dengan pria itu.
Kafa lalu meminta Yaiza, wanita malam yang ia sewa sebagai pacarnya, untuk membalas sakit hati pada Cloudya.
Akankah Yaiza dapat membantu Kafa, atau malah ikut terjebak dalam sandiwara yang diperankannya?
Bab 1 Janji
"Kamu mau janji satu hal nggak sama aku?" tanya seorang gadis yang saat ini berbaring di lapangan berrumput, menjadikan punggung kekasihnya sebagai bantal kepala.
"Janji apa?" Kafa, pria yang tengkurap dengan laptop menyala di hadapannya itu bertanya.
"Kamu harus janji, bakal maafin aku kalo suatu saat nanti aku bikin kamu marah."
"Tergantung kesalahan kamu apa."
"Pokoknya kamu harus janji dulu."
"Memangnya kenapa sih?"
"Nama aku Cloudya, Cloudi itu artinya awan mendung, sedangkan Kafa, nama kamu itu berarti hujan. Gimana kalo suatu saat nanti, aku bikin kamu jatuh dan kecewa."
Filosofi nyeleneh itu membuat Kafa jadi tertawa. "Kenapa gitu sih mikirnya?"
Cloudya berdecak sebal. "Ya emang gitu, awan mendung itu kan bisa menjatuhkan hujan."
"Mendung kan nggak berarti hujan." Kafa menyangkalnya. "Daripada mikir gitu, mending kamu mikir yang baik-baik aja, omongan itu doa tau."
Cloudya beranjak duduk. "Ih jangan sampe deh, pokoknya kita harus berjodoh, aku awan mendung, kamu hujannya. Kita jodoh kan?"
Kafa hanya sedikit tertawa, menanggapi celotehan gadis itu, lalu kembali fokus pada laptop yang menyala di hadapannya.
"Fa, kemarin kamu bilang mau ajarin aku nyetir mobil."
Kafa mengerutkan dahinya mengingat. "Besok lagi aja, gimana?" tawarnya yang memang tengah sibuk mengerjakan tugas kuliah.
Kafa mengambil jurusan Arsitektur, dua tahun lalu dia berpacaran dengan Cloudya yang adalah kakak tingkat di kampusnya, sering bertemu dengan gadis itu membuat perasaannya semakin tumbuh. Perhatian Cloudya mengingatkan Kafa pada mendiang sang ibu yang telah lama meninggal dunia.
"Maunya sekarang. Aku udah nggak sabar pengen bisa bawa mobil sendiri. Masa kamu kasih aku hadiah mobil tapi aku nggak bisa bawa." Dengan kesal Cloudya menarik lengan kaus pendek yang dikenakan pria itu.
Kafa menoleh tersenyum, menopang kepala dengan tangannya yang bertumpu pada rumput. "Besok kan masih bisa," ucapnya kembali memberikan penawaran, memiringkan tubuhnya menghadap gadis itu. "Besok aku ajarin," bujuknya.
Membelikan hadiah mobil bukanlah hal yang sulit bagi Kafa, menjadi anak seorang Duda kaya raya membuat dia bisa melakukan apa saja. Sang papa bahkan tidak peduli uangnya habis untuk apa, mereka juga nyaris tidak pernah bertemu saking sibuknya.
"Tapi aku maunya sekarang." Cloudya memaksa.
"Bujuk aku coba, bisa nggak?" Senyum Kafa mengembang, menantang perempuan itu untuk melancarkan bujuk rayuan.
Dengan semangat Cloudya mencondongkan wajahnya untuk mencium pria itu, kekasihnya begitu lemah saat dia memaksa dengan cara seperi ini. Namun kali ini Kafa menolak, dengan tertawa pria itu mendorong wajahnya.
"Nggak gini dong bujuknya." Kafa menghindar saat gadis itu setengah menindih tubuhnya. Dengan gigih Cloudya terus mendesak pria itu untuk mengabulkan permintaannya.
"Yaudah iya aku ajarin."
.
Kafa mengajarkan hal-hal dasar dari mobil matic yang dibelinya, tidak sulit bagi kekasihnya untuk cepat mengerti. Mereka belajar berkendara di komplek perumahan sepi, yang jarang sekali ada pengendara lain yang lewat di sana.
"Pelan-pelan aja, Sayang." Kafa tertawa saat gadis itu terlalu semangat menginjak pedal gas, Cloudya pun mengerti dan memelankan laju kendaraan yang baru pertama kali itu dia bawa.
"Gini kan? Yeee aku bisa." Cloudya terlihat begitu senang.
Kafa ikut tersenyum, mengacak rambut Cloudya dengan sayang. Apapun yang membuat gadis itu senang, dia akan melakukannya.
"Feeling kamu harus kuat, coba latihan belok." Kafa ikut memegang stir mobil, tepat di tangan gadis itu yang membuatnya menoleh, mereka lalu sama-sama tersenyum.
Setelah beberapa jam berputar-putar, Cloudya lumayan mahir meski terkadang sering menginjak rem dengan tiba-tiba, membuat Kafa harus mengeratkan genggaman tangannya pada pegangan di atas kepala.
"Satu putaran lagi boleh nggak?" Cloudya memohon saat Kafa sudah mengajaknya untuk pulang.
Kafa berdecak kecil, sudah cukup jantungnya nyaris copot sejauh beberapa putaran tadi, kekasihnya itu terlalu bersemangat dan percaya diri. "Kamu nggak capek?"
"Nggaak." Cloudya kembali menyalakan mesin mobil, melajukannya dengan lebih santai, seolah dia memang sudah mahir melakukannya.
Ponsel yang gadis itu letakan di dashboard mobil berbunyi, Kafa melarang Cloudya untuk menghiraukannya, namun gadis itu berkata tidak apa-apa dan memeriksa panggilan masuk pada benda kesayangannya.
"Cloudya!" Pekik Kafa saat tiba-tiba dari arah depan, pengguna sepeda motor muncul dari pertigaan jalan.
Cloudya yang panik salah menginjak pedal gas, Kafa reflek menarik rem tangan, namun terlambat karena mereka sudah menubruk pengendara motor di hadapannya.
"Faa! Ini gimana?" Cloudya yang ketakutan menutup kedua telinganya, saat pria pengendara motor itu menggedor kaca mobil, meminta untuk mundur karena anaknya yang masih balita terlindah mobil mereka.
Kafa mengambil alih kemudi tanpa berpindah dari bangku yang ia duduki, setelah memundurkan kendaraan itu, dia lalu berpikir untuk diam atau lari.
Dengan panik Cloudya menarik kaus yang dikenakan kekasihnya. "Ayo kita pergi dari sini, Fa. Masih nggak ada orang, cepet kita pergi."
"Nggak bisa, Clou. Kita harus tanggung jawab." Kafa menolaknya.
"Anakku, anakku!" Teriak pria tersebut dengan merengkuh tubuh putrinya yang berlumuran darah, dari dalam mobil, mereka menyaksikan kepedihannya. "Kau membunuh anakku!"
Cloudya yang ketakutan mendapat pelukan dari Kafa, kejadian itu benar-benar di luar dugaan mereka. "Aku bunuh orang, Fa," gumamnya dengan bergetar, raut wajahnya begitu panik. "Aku pembunuh."
"Kita nggak sengaja."
"Aku pembunuh." Cloudya menangis histeris, bersahut-sahutan dengan pria pengendara motor yang baru saja kehilangan putrinya.
"Aku nggak mau dipenjara, Nggak mau!" Cloudya terus menggeleng ketakutan, "aku nggak mau."
Melihat beberapa warga yang mulai berlarian mendekat, Cloudya semakin panik. Dia berkata tidak mau menjadi bulan-bulanan masa, tidak mau dicap pembunuh oleh mereka.
"Cloudya, dengerin aku." Kafa memegang kedua bahu Cloudya, meminta perhatian di tengah kepanikan mereka, seketika gadis itu menghentikan tangisannya. "Sekarang kamu pergi dari sini. Biar aku yang bertanggung jawab."
"Tapi, Fa?"
"Dengerin aku," tekad Kafa. "Setelah aku keluar dari mobil dan mengalihkan perhatian mereka, kamu segera pergi dari sini. Aku akan mengurusnya sendiri."
Cloudya menggigit ujung kuku ibu jarinya, perempuan itu ragu. "Tapi aku takut," keluhnya.
"Percaya sama aku, nggak ada yang akan nyalahin kamu."
"Tapi-,"
"Cloudya, kamu percaya kan sama aku." Kafa memberikan tatapan tegasnya pada gadis itu, sebuah tekad dan keberanian ia tunjukkan di matanya, meyakinkan gadis itu bahwa dia mampu melindunginya.
Kafa keluar dari dalam mobil, mengalihkan perhatian warga yang memang tidak terlalu banyak di tempat itu, dia berkata akan bertanggung jawab atas kecelakaan yang disebabkannya.
Dari ekor matanya, Kafa melihat Cloudya keluar dari mobil, tanpa menutup pintu dia pergi dari tempat itu.
"Hati-hati dong, Pak!" Salah satu warga membentak.
"Iya, saya minta maaf. Saya benar-benar tidak sengaja. Saya akan bertanggung jawab."
***
Kafa dijatuhi hukuman lima tahun penjara, karena telah tidak sengaja menewaskan anak balita dalam kecelakaan tersebut.
Lewat bantuan sang papa, dengan kekuasaan dan uang yang dimilikinya, Kafa tidak harus menjalani pedihnya hidup di balik jeruji besi, sebagai gantinya pria itu diasingkan ke luar negri untuk syarat agar tidak menampakkan dirinya lagi.
Sampai waktu yang mereka sepakati, Kafa harus meninggalkan semua kehidupannya di Indonesia, lalu memulai kehidupan baru di negara lain hingga bertahun-tahun lamanya. Kafa tinggal di rumah seorang dosen sahabat sang papa, lalu berkuliah di sana.
Selama di negara itu, Kafa tidak diperbolehkan berhubungan dengan siapapun dari Indonesia, bahkan saat ayahnya menikah pun, pria itu tidak bisa menghadirinya.
.
5 tahun kemudian.
Sesuai masa tahanannya di Indonesia, Kafa lalu kembali. Pria itu meminta salah satu apartemen yang papanya miliki untuk ia tinggali. Sang papa sudah punya istri, dia terlalu malas beradaptasi dengan orang baru dan tinggal serumah dengan ibu tiri.
Pertama yang Kafa ingin lakukan sesampainya di Indonesia adalah mencari Cloudya, kekasihnya. Terakhir mereka bertemu adalah saat kejadian, perempuan itu bahkan tidak tahu dirinya diasingkan. Karena sejak saat itu Cloudya sulit dihubungi dan menghilang.
Kafa berharap hubungan mereka akan kembali bersatu, karena sedikitpun cintanya tidak pernah luntur terhadap gadis itu, kendati selama lima tahun ini mereka belum pernah bertemu. Dia benar-benar merindukan kekasihnya itu.
Suara bel pada pintu membuat Kafa beranjak duduk dari tidurannya di atas ranjang, pria itu baru saja pulang, tidak mungkin langsung ada tamu karena selain sang papa tidak ada orang lain yang tahu tentang keberadaannya.
Bab 2 Istri baru papa
"Selamat sore, Tuan Muda Kafa Langit Bimantara." Sapa seseorang berpakaian rapi, saat Kafa membuka pintu untuk tamunya. Dia perkirakan usianya tidak jauh berbeda dari dirinya, pria itu menunduk sopan.
"Panggil saja saya Kafa."
"Baik Tuan Kafa." Pria itu mengangguk patuh. "Saya Ringgo, diutus oleh Tuan besar Bimantara untuk menjadi asisten pribadi anda, saya siap membantu semua yang dibutuhkan oleh anda."
Kafa mengangguk mengerti. Dia ingat, sang papa memang berkata akan mengutus seseorang untuk menjadi asisten pribadinya, karena lusa dia sudah harus mulai bekerja di perusahaan papanya.
"Tuan Besar memberi pesan agar anda bersiap ikut makan malam, Tuan." Ringgo menyampaikan berita saat tuannya mempersilahkan untuk masuk.
"Apa dia akan memperkenalkan aku pada istri barunya?" Kafa bertanya setelah menduduki sofa di ruang tamu apartemen yang ditempatinya.
Ringgo mengangguk. "Mungkin seperti itu, beliau tidak berbicara apapun selain memberikan pesan itu."
Kafa berdecak kecil. "Tidak perlu terlalu formal denganku, kita seumuran bukan?"
Ringgo kembali mengangguk dengan sungkan, daripada menanggapi permintaan itu, dia memilih untuk diam.
"Seperti apa istri papaku, kudengar dia masih sangat muda." Penasaran dengan siapa wanita yang memikat hati papanya setelah sekian lama, Kafa lalu bertanya.
"Seumuran dengan anda, Tuan."
"Oyah?" Kafa menunjukkan raut terkejut dibuat-buat, dia sudah mendengar tentang hal itu, mendapat seorang ibu sambung seumuran dengan dirinya, tentu saja dia tidak menyangka. "Mereka sudah punya seorang anak, apakah benar?"
"Benar, Tuan. Seorang anak laki-laki berusia empat tahun." Ringgo memberikan informasi.
Kafa tersenyum sinis. "Jadi aku punya adik?"
Ringgo tidak menanggapi, mungkin tidak mengerti apa maksud pertanyaan itu. Kafa lalu memberi tugas pertama pada asistennya, untuk menyiapkan pakaian yang harus ia kenakan nanti malam.
.
Cukup banyak yang berubah dari rumah besar sang papa, saat Kafa menginjakkan kakinya di halaman, setelah keluar dari mobil yang ditumpanginya.
Beberapa pelayan membungkuk demi menyambut kedatangannya, sebagian wajah-wajah itu Kafa masih kenal, lima tahun berlalu, ternyata mereka begitu setia pada papanya itu.
"Tuan Besar sudah menunggu di ruang makan, Tuan." Seorang kepala pelayan menyambut Kafa, saat pria itu memperhatikan dekorasi di dalam rumah yang sedikit berbeda, Dia lalu mengangguk saja.
Kafa melewati ruang keluarga yang banyak terpasang foto pernikahan di dindingnya, pria itu terpaku, tatapannya tertuju pada foto mempelai wanita yang begitu sangat dikenalinya. Tapi tentu saja dia masih berharap bahwa itu hanya mirip saja.
"Mari, Tuan."
Suara itu membuat Kafa terjaga dari lamunanya, kembali mengikuti langkah wanita tua tersebut ke arah meja makan di rumah besar papaanya, entah kenapa dia merasa ragu, ingin berbalik dan pergi dari tempat itu.
"Kau terlambat lima menit dari waktu yang telah dijanjikan." Bimantara, sang papa beranjak berdiri menyambut putranya, lalu memberi pelukan pada pria itu. "Bagaimana kabarmu."
Kafa balik memeluk dan mengusap pelan punggung sang papa, tanpa dipungkiri, dia sedikit merindukannya. "Cukup baik," balasnya.
"Ayo duduk, kau pasti lapar." Pria paruh baya itu memundurkan satu kursi di sebelahnya.
Belum sempat Kafa mendudukkan dirinya, seorang wanita dengan semangkuk masakan di tangannya, mendekat dan meletakan benda itu di atas meja.
Kafa terpaku, wanita itu pemilik foto di ruang keluarga, istri baru sang papa yang seumuran dengan dirinya. Dia adalah Cloudya, kekasihnya.
"Sayang, ini Kafa, putraku." Kafa semakin syok saat melihat sang papa merangkul mesra wanita itu.
Kafa membeku, wanita yang dinikahi papanya, ternyata Seseorang yang sampai detik ini masih ia anggap sebagai kekasihnya.
Pria itu merasa oksigen di sekitarnya berubah menjadi karbon dioksida, sesak di dalam dada ini nyaris seketika membunuh dirinya. Bagaimana bisa? Cloudya, wanita yang dicintainya itu kini berastatus ibu tirinya.
.
Tidak banyak percakapan saat makan malam itu, meski waktu yang berjalan terasa begitu lama, saat Kafa satu meja dengan wanita yang kini resmi menjadi mantan kekasihnya. Tapi kenapa harus dengan ayahnya dia menikah, Kafa mungkin lebih bisa terima jika Cloudya menikah dengan orang lain, tapi kenapa harus papanya.
Kafa mengepalkan tangannya di atas meja rias yang terletak di dalam kamar, kamar lama miliknya yang semua barang-barangnya masih sama seperti lima tahun lalu dia meninggalkannya, termasuk fomade kadaluwarsa di atas meja yang tidak bergerak dari tempatnya. Selain itu parfum dan deodoran juga masih tertata rapi di tempat yang sama, dengan kasar Kafa menyibak semuanya menggunakan satu tangan hingga berhamburan di lantai.
Napasnya memburu, Kafa belum puas meluapkan kekecewaannya pada perempuan itu. Bagaimana dia bisa membayangkan wanita yang amat dicintainya tidur satu ranjang dengan sang papa, bagaimana pria yang ia hormati itu menikmati tubuh kekasihnya.
"Haaaa!" Kafa berteriak marah dengan meninju kaca di hadapannya, benda itu pecah, menampilkan bayangan dirinya yang ikut retak. Darah segar yang berasal dari punggung tangan Kafa, mengalir di permukaannya.
"Kafa!"
Suara itu, Kafa mengenalinya. Dia tidak menoleh sampai perempuan itu menyentuh tangannya yang terluka.
"Kamu tuh apa-apaan sih!" Cloudya terlihat begitu marah, Kafa mendongakkan pandangannya, bertemu dengan tatapan perempuan itu yang langsung menghindarinya.
"Nyonya?" Seorang kepala pelayan wanita berdiri di ambang pintu yang sedikit terbuka, di tangannya sebuah nampan berisi air putih dia bawa.
Cloudya menghampirinya, mengambil gelas dari atas nampan. "Tolong ambilkan kotak p3k ya, Bi."
"Baik, Nyonya."
Sebelum kepala pelayan itu pergi, Cloudya memanggilnya lagi. "Tolong jangan katakan kejadian ini pada Tuan, saya tidak mau beliau cemas."
"Baik Nyonya."
Cloudia kembali menghampiri Kafa yang masih berdiri menatapnya, pria itu diam saja.
"Kamu pergi dari meja makan tanpa minum terlebih dahulu, aku bawain air putih buat kamu." Cloudya menyerahkan gelas di tangannya.
Kafa masih diam, kemudian melengos. Tidak mendapat tanggapan dari dirinya, perempuan itu meletakan gelas di tangannya ke atas meja, beralih pada tangan Kafa yang terluka.
"Tidak perlu pedulikan aku." Dengan kaku, Kafa menarik tangannya yang tidak terasa ada luka di sana, hatinya lebih sakit dari apapun juga.
"Tangan kamu harus segera diobati, biar nggak infeksi."
Kafa memberanikan diri untuk menatap wajah cantik itu lagi, tidak banyak yang berubah dari kekasihnya, hanya bertambah cantik dan keibuan seperti yang selama ini dia suka. Kekasihnya? Tentu saja bukan, wanita itu kini adalah ibu tirinya.
Cloudya menoleh ke arah pintu saat kepala pelayan membawakan kotak berisi obat-obatan yang dibutuhkan unyuk membalut luka tangan Kafa, dia lalu meminta wanita itu untuk pergi saja dan membiarkan pintu kamar terbuka.
Kafa tidak menolak saat Cloudya menyuruhnya duduk di tepi ranjang, dengan penuh perhatian wanita itu membantu memasangkan perban setelah membersihkan luka dan membubuhkan cairan obat di sana. Kafa masih diam, bingung harus berkata apa.
"Kenapa harus papaku?" Cloudya menghentikan gerakan tangannya yang masih berusaha memasang perban dengan benar. "Dari sekian banyak orang di dunia ini, kenapa harus papaku yang kamu jadikan suami."
Di mata orang lain, Cloudya mungkin terlihat baik-baik saja, tapi Kafa tahu bagaimana perempuan itu mati-matian menahan airmatanya.
"Aku tidak tau bahwa dia papamu."
"Bohong."
Dengan segenap tekad yang terpancar di kedua bolamatanya yang menyala, Cloudya memberanikan diri menatap wajah Kafa dengan menyembunyikan perasaannya. "Aku benar-benar tidak tau bahwa dia adalah papamu, sebelumnya kamu bahkan nggak pernah memperkenalkan aku. Dan saat aku membutuhkan bantuan, pria itu datang dengan semua uang yang bisa membeli kesetiaan. Termasuk perasaan aku buat kamu."
Sakit, Kafa merasa bahwa perjuangannya selama ini telah sia-sia. Wanita itu tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.
"Di mana saat aku butuh kamu, Fa. Kenapa kamu menghilang?"
"Kenapa aku menghilang?" ulang Kafa dengan segala luka yang ia pancarkan lewat sorot matanya. "Aku menghilang demi menebus kesalahan kamu, kamu melupakan itu?"
"Bohong. Papamu bilang kamu kuliah di luar negri, tapi kenapa kamu nggak pernah hubingi aku." Sesekali Cloudya menoleh ke arah pintu, mungkin dia takut seseorang yang tidak ia inginkan untuk tahu, tiba-tiba datang menemui wanita itu.
"Karena aku nggak bisa." Dengan sungguh-sungguh Kafa menyampaikannya.
Cloudya menggeleng, menolak penjelasan pria itu tentang apa yang terjadi selama mereka jauh. Sepertinya dia menghampirinya memang bukan untuk itu.
Cloudya beranjak berdiri setelah selesai dengan tugasnya membalut tangan pria itu. "Aku sudah punya kehidupan baru, suami yang baik, suami yang bisa memberikan aku apa saja. Dan aku juga punya anak yang butuh keharmonisan keluarga. Aku sangat menyayangi anakku."
Kafa mengepalkan dengan kuat tangannya yang baru saja mendapat perawatan dari wanita itu, memunculkan noda merah di perbannya yang masih sangat baru.
"Aku mohon sama kamu, jangan sampai suami aku tau tentang hubungan kita sebelumnya." Cloudya menolehkan wajahnya lagi dengan tatapan yang begitu angkuh, tidak peduli bahkan pria di hadapannya itu sudah hancur berkeping-keping dan begitu rapuh. "Jangan ganggu aku, lupakan tentang hubungan kita sebelumnya, anggap saja kita memang tidak pernah saling bertamu."
Kafa membuang muka, mengangguk dengan senyum kekalahan di bibirnya. "Baik jika itu mau kamu," ucapnya, kemudian beranjak berdiri. "Tapi sebelum itu, boleh aku memelukmu?"
Sesaat Cloudya diam, terlihat begitu ragu. Namun tidak menolak saat Kafa mendekat dan merengkuh tubuhnya.
Kafa memejamkan matanya kuat-kuat, berharap setelah dia buka, semua yang dialami hari ini hanyalah mimpi belaka. Wanita itu masih menjadi miliknya.
Namun ternyata tidak, ini bukan lelucon gila yang sengaja dirancang untuk mengerjainya. Wanita itu bahkan tidak memeluk balik tubuhnya.
Cloudya bukanlah kekasihnya yang dulu, sikap dingin wanita itu ikut membuat hati Kafa perlahan membeku.
Pelukan keduanya terlepas saat seseorang membuka pintu tanpa mengetuknya lebih dulu. Perhatian keduanya tertuju ke arah itu.
Bab 3 Adik tiri
"Mami!" Seorang bocah laki-laki masuk ke dalam ruangan dan langsung memeluk Cloudya, dari panggilan mami yang diucapkannya, Kafa tahu anak itu adalah adik tirinya.
Cloudya sedikit membungkuk, mengusap poni yang menutupi kening putranya, terlihat sekali di mata Kafa bahwa wanita itu amat menyayanginya. "Kenapa kamu ke sini, mami kan bilang tunggu di kamar sebentar."
"Mami lama sekali, Owi cali mami." Bocah yang menyebutkan namanya sendiri dengan panggilan Owi lalu menoleh pada Kafa, beralih ke perban di tangannya. "Mami, siapah om kelen ini, Owi belum pelnah lihat."
Kafa sedikit tersenyum mendengar anak itu berbisik pada sang ibu. Cloudya langsung mendekap tubuh putranya dari belakang dan menjauhkan dari Kafa saat pria itu mendekatinya.
Kafa berdecih sinis menatap wajah ketakutan wanita itu. "Apa kamu berpikir aku akan menyakitinya?" tanyanya dengan alis terangkat.
Cloudya melengos, Kafa dapat melihat kecemasan di raut wajahnya. Mungkin wanita itu takut bahwa dia akan nerebut kebahagiaan putranya.
"Siapa namamu?" Kafa bertanya setelah berlutut di hadapan anak itu, mensejajari tinggi tubuh kecilnya.
Kafa dapat melihat dirinya di masa lalu, hanya dengan menatap mata adik tirinya itu, tentu saja mereka begitu mirip. Keduanya berasal dari benih yang sama meski ditanam di lahan yang berbeda. Owi adalah dirinya versi balita.
Sebelum menjawab, anak itu menoleh pada ibunya dan tersenyum, mungkin meminta izin untuk memperkenalkan dirinya pada orang baru. Saat Kafa ikut menatap wanita itu, barulah dia mengangguk dan membuat putranya terlihat begitu senang. Yang Kafa dapat tangkap dari interaksi mereka, Owi adalah anak yang patuh.
"Namaku Owi, Om. Om siapah?"
"Clowy, namanya Clowy." Cloudya meluruskan. "Dia lebih suka dipanggil Owi," imbuhnya tanpa diminta.
Kafa mendongakkan pandangannya pada wanita itu, entah tidak suka dilihat olehnya, atau sengaja menghindar saja. Cloudya selalu membuang muka.
"Aku Kafa." Pria itu mengulurkan tangan kanannya yang dibalut perban.
Owi mengangkat tangan kecilnya juga, menyentuh perban bercak merah di tangan Kafa dengan telunjuk mungilnya. "Tenapah Om telukah?"
Kafa memperhatikan tangannya, lalu menoleh pada kaca yang masih meninggalkan noda darah di sana. "Karena itu."
"Apa itu sangat sakit?" Owi bertanya lagi.
Kafa tertawa mendengus mendengar pertanyaan itu. "Tidak," singkatnya.
"Tidah sakit? Om heebat." Owi mengacungkan ibu jarinya.
"Ini tidak sakit. Yang sakit di sini." Kafa meletakan tangan kanannya di dada, lalu menoleh pada Cloudya yang ternyata tengah menatapnya, meski sorot matanya tidak terbaca, jelas sekali raut wajah wanita itu berkata tidak suka.
"Om sakit jantung? Kasihan sekali om ini. Mami ayo belikan obat untuk Om Ava." Owi memohon dengan menarik tangan ibunya.
"Owi, ini sudah malam sebaiknya kamu kembali ke kamar."
"Owi masih ingin belbicala pada Om Ava, mami apa Owi bisa berteman dengan Om Ava." Dengan mata bulatnya yang jernih, Owi memohon kembali pada ibunya.
"Owi, kalian berbeda, dia sudah dewasa, tidak bisa menjadi temanmu."
"Kenapa Owi tidak bisa beteman dengan olang dewasa? Owi beteman dengan Pa Bandi, Pa Usen."
Kafa mengangkat alis, anak itu mungkin menyebutkan nama supir dan beberapa pekerja di rumah ini.
"Yasudah, Owi berteman dengan mereka saja."
"Meleka tidak kelen mami."
"Owi." Tegur Clodya dengan sedikit menaikkan nada suaranya.
Seketika anak itu menunduk. "Maafkan Owi, Mami," sesalnya.
"Owi?" Kafa memanggil, membuat bocah itu takut-takut mengangkat kepalanya. "Ayo kita berteman," imbuhnya dengan tersenyum tulus dan mengacak rambut anak itu.
Owi melirik ibunya yang tidak senang melihat kedekatan mereka, namun wanita itu memberikan anggukan pada putranya. Seketika itu Owi pun bersorak bahagia.
"Papi!" Owi berlari ke arah pria yang dipanghilnya papi, meloncat ke dalam gendongannya. "Papi Owi punya teman balu."
Kafa beranjak berdiri, menatap ayahnya yang memperhatikan kondisi kamar yang berantakan.
"Apa yang terjadi, Kafa. Kamu terluka? Kaca itu?" Papanya terlihat panik, meminta penjelasan.
Pertanyaan itu tertuju pada putranya, namun dengan sigap Cloudya menjawabnya dengan berbohong bahwa Kafa tidak berhati-hati dan jatuh di depan meja rias, tangannya tidak sengaja mengenai kaca sampai pecah dan meninggalkan sedikit luka.
Kafa merasa takjub saat begitu tenangnya wanita itu berdusta. Meski tetap saja sang papa terlihat tidak percaya.
"Apa yang terjadi Kafa?" Pria itu meminta penjelasan lain pada putranya.
"Benar, Pa. Aku kurang berhati-hati saat belum menyalakan lampu, lalu terjatuh. Bukan begitu, Mama?" Kafa menoleh pada Cloudya yang terlihat syok dengan panggilan darinya.
Sang papa terlihat lega."Lain kali lebih berhati-hati. Sudah diobati kan lukanya?"
"Sudah aku obati, Mas." Cloudya yang menjawab, Kafa hanya mengangguk saja.
"Papi, sekalang Owi punya teman balu, namanya Om Ava." Owi kembali mengadukan tentang teman barunya itu pada ayahnya.
Pria yang baru saja beberapa minggu lalu ulang tahun ke setengah abad itu tertawa menanggapi putranya. Kafa tahu karena dia memang hafal dengan tanggal lahir papanya. Dan meski pria itu terbilang tua, dia masih terlihat tampan dan awet muda. Mungkin karena itu sang kekasih berpaling darinya. Cih apa-apaan, baru kali ini Kafa cemburu pada papanya sendiri. Bisa-bisanya dia kalah di tikungan, oleh orang yang tidak pernah ia bayangkan masuk ke daftar pertandingan.
"Bukan Om dong, dia kakakmu." Pria itu menjelaskan tentang status Kafa pada putra kecilnya.
"Kakak? Owi punya kakak? Yeeee."
"Kamu senang?"
"Owi sangat senang, Owi punya kakak yang kelen."
Kafa tersenyum canggung saat papanya menoleh dan terlihat bahagia melihat keantusiasan putranya.
"Owi ingin belmain dengan kakak." Dalam gendongan papinya itu, Owi membujuk.
"Tidak sekarang ya, Sayang. Biarkan kakakmu istirahat dulu. Besok baru main lagi."
"Oke, Papi."
"Ayo kembali ke kamar."
"Dongengkan Owi puti dan pangelan lagi ya, Pi."
"Kenapa putri dan pangeran terus?"
"Owi suka."
"Putri sudah menikah dengan pria berkuda yang lain, dia tidak menunggu sang pangeran."
"Kenapa celitanya menjadi sepelti itu."
Bimantara tertawa melihat ekspresi putranya."Kalo tidak percaya, baca saja buku dongeng di kamar kamu."
Dan Kafa bersumpah akan mebakar buku itu jika ada, entah kenapa semua hal yang ia dengar selalu menyinggung perasaannya.
"Sudah ayo kita keluar, mungkin Kafa butuh istrirahat." Cloudya merangkul pinggang suaminya, mungkin sengaja ingin melihat Kafa semakin bertambah sakit ulu hatinya.
"Iya. Beristirahatlah, Kafa," ucap sang papa seblum membawa anak istrinya keluar dari kamar.
Seiring pintu ruangan itu tertutup, Kafa merasa lututnya begitu lemas. Tertnyata pura-pura kuat di hadapan keluarga bahagia itu membuat tenaganya begitu terkuras. Dia lalu jatuh terduduk di lantai, menyesali perasaan cinta yang selama ini ia jaga begitu lama di hatinya. Dan kini hancur sudah semuanya.
Seperti halnya Cloudya yang begitu kuat menyakitinya, Kafa bertekad akan melakukan hal yang sama. Cukup sekali saja dia terlihat lemah, pria itu akan membuktikan siapa yang lebih mencintai siapa nantinya.
Bab 4 Jebakan
Kafa sudah mulai bekerja di Bimantara grup, perusahaan keluarga yang bergerak di bidang property milik sang papa. Banyak anak perusahaan di bawah naungan Bimantara, sebagai penerus utama, Kafa dituntut untuk bisa memahami struktur kerja di sana.
Dan tamu pertama di ruangan pribadinya adalah sepupu sialan yang sejak dulu sering memancing jiwa pencaci makinya. Saka Bumi Dirgantara, anak dari adik sang papa yang selalu merecokinya.
Tapi meski menyebalkan, ada beberapa hal yang Kafa sukai dari adik sepupunya itu, di antaranya karena pria itu pandai menjaga rahasia dan selalu berterus terang jika menginginkan apa-apa.
Berbeda dengan kakaknya yang ambisi, Saka lebih santai dan tidak terpacu dengan keberhasilan orang lain, dia hanya bekerja untuk kesenangannya sendiri.
"Jadi istri bokap lo itu ternyata pacar lo yang waktu kuliah? Astagaa." Saka tertawa terpingkal-pingkal setelah mendengar informasi menyedihkan dari sepupunya, entah kenapa melihat kebahagiaan pria itu Kafa jadi menyesal telah bercerita.
Dengan Saka, pria itu memang kerapkali memakai bahasa informal saat berbicara, hanya saja lima tahun tinggal di Luar Negri, Kafa terbiasa menggunakan bahasa sesuai kamus besar bahasa Indonesia.
"Terus sekarang lo tinggal serumah sama mantan lo itu?" setelah meredakan tawanya, Saka kemudian bertanyan.
Kafa menempelkan punggungnya pada sandaran kursi putar yang ia duduki, kemudian berdecak keki. "Ya enggak lah, memangnya aku orang gila."
"Dengar ya, Fa. Kita harus menjadi orang gila demi menghadapi kegilaan dunia ini."
Kafa sebenarnya malas menanggapi celotehan orang gila di hadapannya, tapi dia terlanjur bercerita. "Aku justru butuh kewarasan untuk menghadapi kegilaan ini."
Saka turun dari meja yang dia duduki, lalu menghampiri sepupunya. "Lo salah besar," tukasnya.
Kafa mengangkat alisnya tidak mengerti, sejak kemarin dia bahkan tidak tahu apa yang harus dia lakukan setelah ini.
"Kalo lo ditikung, puter balik, Bego. Tabrak dari depan." Saka memberi saran.
"Sinting!" Umpat Kafa, mana mungkin dia menyalip papanya, apalagi menabrak dari depan, bisa durhaka dia. "Mereka sudah punya anak."
Saka kembali tertawa. "Ya, gue tau. Pantesan pas acara pernikahan itu digelar, gue kaya nggak asing sama istri bokap lo. Ternyata itu cewek yang pernah lo kenalin."
"Kenapa kamu nggak bilang!" Bentak Kafa, padahal beberapa kali pria itu kerap mengunjungi dirinya diam-diam saat berada di negara tetangga. Tapi pria itu diam saja.
Saka berdecak sebal menanggapi kemarahan sepupunya. "Ya gue nggak yakin lah, gue pikir cuma pernah liat di mana, nggak berpikir bahwa itu cewek lo. Gue kan ketemu cewek lo cuman sekilas doang. Dan setelah pesta pernikahan itu, gue juga nggak pernah ketemu istri bokap lo lagi, tau dia punya anak aja dari bokap gue. Gue nggak tau apa-apa, suer."
Saka mengangkat dua jarinya bersumpah, dari raut wajahnya yang meyakinkan Kafa percaya, pria itu memang sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Di balik tingkahnya yang menyebalkan, Kafa tau sepupunya itu menyimpan rasa iba atas kejadian yang menimpanya. Hanya saja memang seperti itu cara dia menyampaikannya.
"Sudah lah, kalian mungkin belum berjodoh." Saka tersenyum prihatin, menunjukan rasa iba di wajahnya.
Kafa menegakkan duduknya, mulai membuka laptop dan memeriksa data-data yang diberikan sang papa untuk dipelajari olehnya. Dia juga berusaha untuk biasa saja.
"Pasti berat jadi lo, harus liat orang yang dicintai menikah dengan pria lain." Saka menyampaikan bela sungkawa. "Pasti lo tiap malem ngebayangin mereka lagi ngapain."
"Setan!" Kafa murka, mengambil buku di atas meja dan bersiap membidik kepala sepupunya. "Enyah kau!" usirnya.
Ungkapan bela sungkawa barusan ternyata hanya ledekan saja, Saka yang menghindar kemudian tertawa. "Gue beneran serius ikut prihatin lah," ungkapnya.
Kafa membanting buku di tangannya ke atas meja. "Pergi sana, aku sibuk."
Bukannya tersinggung sudah mendapat usiran sedemikian rupa, Saka kembali tertawa. Belum sempat menanggapi, pintu ruangan sepupunya itu terdengar diketuk dari luar, kemudian terbuka.
"Saya mau mengantar berkas-berkas yang Bapak minta, Pak." Seorang wanita yang sejak hari ini menjadi sekretaris Kafa menyembulkan kepala, menyampaikan pesan yang beberapa saat lalu dia pinta.
"Kemarilah." Kafa menyuruhnya mendekat, wanita itu lalu memberikan beberapa tumpukan map yang dia bawa.
"Hay," sapa Saka sok akrab, "sekretaris baru yah?"
"Iya, Pak."
"Punya permen tidak?" Saka kembali bertanya.
Kafa ikut menoleh saat dengan bingung wanita itu menggelengkan kepala. "Nggak, Pak," sesalnya.
"Tapi nomor ponsel ada kan?"
Kafa berdecih sinis mendengar rayuan itu, sejak dulu saka ternyata tidak pernah berubah. Wanita itu hanya tersenyum sebagai tanggapan, mungkin tidak berani juga menaruh harapan.
"Jika sudah tidak ada perlu lagi, saya permisi, Pak."
"Luna?" Kafa memanggil nama sang sekretaris yang baru saja diingatnya.
"Saya, Pak?"
"Tolong bawa pria ini keluar dari ruangan saya." Permintaan itu membuat Luna terlihat bingung, mungkin tidak berani karena tahu Saka adalah salah satu atasannya di perusahaan ini.
Dengan senang hati, Saka setuju. Dia lalu menoleh pada perempuan itu. "Mau keluar sama-sama apa saya dulu yang keluar?"
"Eh?"
"Saka!" Kafa mengambil kembali buku di hadapannya, membuat sepupunya itu mengangkat kedua tangan dan tertawa, lalu pergi dari ruangannya dengan diikuti oleh sektetaris bernama Luna.
Ditinggal sendiri Kafa mencoba untuk fokus pada tugas yang diberikan oleh sang papa, tapi entah kenapa senyum Cloudya terbayang-bayang di benaknya, dia lalu menggelengkan kepala.
Saat mencoba kembali fokus, terbesit kebahagiaan di wajah sang papa saat bercanda dengan putranya. Apakah sanggup dia menghancurkan keharmonisan mereka.
Dan yang lebih menyebalkan dari pada semua itu, adalah ucapan Saka tentang seberapa panas permainan ranjang mereka setiap malamnya, hingga berhasil mencetak seorang bocah yang begitu lucu dan semenggemaskan Owi.
"Siyalaaan." Kafa membenturkan keningnya pada meja. Sakit memang, tapi tidak seberapa dengan luka yang menganga di permukaan hatinya. Entahlah dia harus bagaimana menghadapi ini semua.
Lagu faforit yang ia pilih sebagai nada panggilan masuk tiba-tiba saja terdengar menyebalkan di telinga Kafa. Dia memeriksa nama di layar yang ternyata sang papa, dia lalu menerimanya.
"Ada apa?" tanpa basa-basi Kafa bertanya, mungkin masih terbawa emosi dengan hal-hal yang baru saja dibayangkannya.
Sang papa menyuruh dirinya menghadiri sebuah acara sebagai perwakilan dari dirinya. Pria itu berkata bahwa dia tidak bisa pergi nanti malam.
"Apa begitu sulit melewatkan satu malam saja dari istri papa yang cantik itu?" Sindir Kafa yang malah membuat pria di seberang telepon tertawa, mungkin menganggap putranya tengah bercanda. Padahal Kafa benar-benar kesal saat mengatakannya.
"Ok baiklah." Kafa mematikan sambungan, melempar benda itu ke atas meja, lalu kembali merenung. Memikirkan berbagai cara agar dia dapat melupakan kekasihnya.
Menurut buku yang pernah dia baca, menghilangkan perasaan cinta pada seseorang, paling ampuh dengan jatuh cinta pada orang baru. Tapi rasaanya Kafa benar-benar trauma, hatinya masih terasa ngilu mendapat luka sehebat itu.
Saat pintu ruangannya kembali diketuk, satu hal yang Kafa pinta semoga, orang yang akan menemui dirinya bukanlah Saka.
"Maaf, Tuan." Ringgo masuk ke dalam ruangan saat pintu kemudian terbuka. Pria itu meletakan satu tumpuk lagi map entah apa yang membuat Kafa hampir gila.
"Apa lagi ini, Tuhan." Kafa nyaris membenturkan keningnya lagi, tapi efek benturan yang tadi masih terasa begitu nyeri.
"Ada masalah, Tuan?"
"Tidak." Kafa lalu menceritakan tentang permintaan sang papa agar dirinya menghadiri undangan nanti malam, dia lalu menyuruh pria itu untuk menyiapkan segala keperluannya.
.
Menjelang malam waktu yang ditentukan, Kafa bersiap menghadiri undangan. Pria itu berada di dalam mobil bersama Ringgo yang sibuk menyetir.
Kafa mendongak dari ponsel yang sejak tadi menyita perhatiannya, kemudian bingung dengan jalanan sepi yang dilewati mereka.
"Ini benar jalan ke acara itu?" Kafa bertanya pada asistennya yang sepanjang perjalanan ini diam saja.
"Iya, Tuan."
"Saya tidak pernah lewat jalan ini," protes Kafa yang memang tahu betul di mana tempat diselenggarakan acara.
"Saya memotong jalan, Tuan. Lewat sini lebih cepat." Pria bernama Ringgo itu beralasan.
"Cepat apah, sejak tadi kita belum juga sampai." Kafa melirik jam di pergelangan tangannya. "Jika lewat jalan yang biasa saya lewati, seharusnya kita sudah sampai dua puluh menit sebelumnya."
"Iya, Maaf Tuan. Saya dengar dari teman di sana ada kecelakaan, karena saya pikir akan macet parah, jadi saya potong arah." Pria itu meyampaikan alasannya lagi.
Mencoba untuk percaya, Kafa lalu kembali pada ponselnya, hingga beberapa menit kemudian mereka sampai di halaman sebuah rumah. Bangunan besar tak terawat yang hanya ada satu dan tanpa tetangga.
Tempat yang mereka datangi tidak sesuai dengan alamat yang diberikan sang papa, sebelum keluar dari mobil Kafa benar-benar merasa waspada.
"Ringgo?"
"Iya, Tuan." Saapaan itu kini terdengar seperti ejekan di telinga Kafa. Dan saat pria itu menoleh kepadanya, senyum licik ia tunjukan dengan sengaja. "Kita sudah sampai, Tuan."
"Siapa kamu sebenarnya!"
Bab 5 Tuntutan
Seorang wanita berdiri di depan mesin atm yang menampilkan saldo kurang dari seratus ribu uang yang dia miliki. Seraya menarik kartu yang sempat ia masukkan ke dalam mesin tersebut, dia lalu menghela napas.
Swastamita Yaiza, seorang mahasiswi jurusan Fashion Design smester tujuh, yang menunggak bayar spp. Jangankan untuk bayar semua kebutuhan kuliahnya, makan sehari-hari saja dia sudah susah.
Tapi Yaiza tidak boleh menyerah, bagaimanapun caranya dia harus lulus dan mendapat pekerjaan untuk memenuhi kebutuhannya. Lebih bagus lagi jika dia bisa meraih cita-citanya menjadi Desainer terkenal seperti harapan sang ayah.
Beberapa bulan yang lalu hidup Yaiza tidak sesulit ini saat masih ada ayahnya, pria itu membuka usaha konveksi skala kecil dan punya beberapa karyawan.
Sang ayah menderita penyakit mematikan yang bersarang di kepala, membuat dia kalah dan harus dirawat di rumah sakit beberapa lama, satu bulan lalu pria itu pun mengembuskan napas terakhirnya.
Hancur Yaiza kehilangan sosok panutan satu-satunya, setelah sang ibu juga meninggal dunia ketika ia masih balita. Yaiza punya seorang kakak laki-laki, namun saat ini berada di yayasan rumah sakit jiwa karena depresi ditinggal anak istrinya.
Sehari sebelum pergi, ayahnya berpesan agar Yaiza bisa menjaga sang kakak, pria itu mungkin tidak tahu bahwa saat ini dia bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri.
Uang tabungannya terkuras untuk biaya perawatan rumah sakit, beberapa mesin jahit konveksi milik ayahnya pun sudah habis terjual. Hanya rumah sederhana peninggalan pria itu yang masih tersisa, tidak mungkin Yaiza menjualnya juga, dia harus tinggal di mana.
Yaiza membuka ponselnya saat terdengar notif pesan masuk, sebuah permintaan maaf dari operator salkomsel bahwa dia tidak bisa memperpanjang masa aktif kuota.
Lalu sekarang bagaimana dia bisa menghubungi temannya, dia bahkan tidak punya uang untuk membeli paket data internet.
Hanya benda ini satu-satunya barang berharga yang dia punya, apakah dia harus menjualnya untuk membeli kuota. "Haaah!" Yaiza mengerang frustrasi, rasanya dia sudah nyaris gila.
Yaiza keluar dari maret-maret tempat dia memeriksa sisa uangnya lewat mesin atm, menaiki angkutan umum menuju kampus tempatnya berkuliah.
Dengan telepon biasa, Yaiza menghubungi Lusi teman kampusnya, permintaan maaf terdengar lagi saat dia ternyata tidak punya pulsa.
"Ya ampuun, sekali lagi ada yang minta maaf dapet piring cantik guaa," erang Yaiza yang merasa percuma membawa ponsel ini jika tidak ada paket data. Perempuan itu pun nemasukkan benda itu ke dalam tas selempang yang ia bawa.
Tiba-tiba angkot yang Yaiza tumpangi berhenti, padahal dia belum sampai di tempat tujuan. Penumpangnya hanya dia sendirian.
"Maaf, Neng. Di depan ada kecelakaan, jalanannya macet banget. Saya mau puter balik aja." Supir angkot memberi alasan.
"Loh, kok gitu." Yaiza tidak terima tentu saja. "Kalo gitu saya nggak mau bayar."
"Yaudah nggak apa-apa, Neng. Lagian juga saya buru-buru. Maaf yah."
Mau tidak mau Yaiza pun turun dari angkot tersebut, kampusnya masih jauh, dia harus naik apa. Di depan memang macet, tapi tidak berselang lama kembali lancar seperti biasa. "Angkot sialan," kesalnya.
Tamat sudah riwayat Yaiza, masa iya dia harus berjalan kaki. Niatnya berkuliah juga karena Lusi berjanji akan meminjaminya uang untuk hari ini dan beberapa hari ke depan. Jika tahu akan begini, lebih baik dia di rumah saja, lalu menyuruh temannya itu untuk mampir ke rumah.
Yaiza tidak bisa memesan ojek online, tidak juga bisa membeli pulsa karena dompetnya tinggal uang lima ribu tersisa. Jalan satu-satunya dia kembali menunggu angkot lagi yang memang jarang lewat jam segini.
Tidak sabar menunggu kendaraan, Yaiza lalu berjalan menyusuri trotoar. Saking kesalnya dengan semua permintaan maaf hari ini, perempuan itu menyebrang jalan tanpa hati-hati, hingga sebuah kendaraan berkecepatan tinggi mendadak berhenti saat nyaris menubruk dirinya.
Yaiza yang terkejut lalu berjongkok dengan melindungi kepala menggunakan kedua lengan. Merasa keadaan ini akan menguntungkan, dia pura-pura tersenggol mobil dan terduduk di jalanan.
Pemilik kendaraan lalu keluar, menanyakan keadaannya. "Ada yang terluka? Anda tidak apa-apa?"
Yaiza mendongakkan kepala, berniat mengomel, tapi justru malah terpesona dengan pemilik wajah panik yang terlihat begitu tampan dengan setelan jasnya. Orang kaya. Otaknya bekerja sempurna.
"Aduh, kaki saya sakit." Yaiza mengeluh, pura-pura kesakitan.
Pria itu tampak memeriksa kakinya yang terbalut celana jeans panjang, mungkin mengecek apakah ada darah yang mengalir di sana, atau barangkali patah. Dan tentu saja dia tidak menemukan kejanggalan apa-apa.
"Kamu pura-pura kan?" Seorang wanita berpakaian modis menyembul dari kaca jendela mobil, menuding Yaiza dengan fakta. "Kak Saka, udah tinggalin aja dia pasti bohong, orang nggak kenapa-napa."
Pria yang dipanggil Saka itu kembali mengalihkan perhatiannya pada Yaiza, sepertinya dia curiga. "Mari ikut saya, kita periksa ke dokter."
Mampus, pikir Yaiza. Dokter tentu akan tahu dia tidak apa-apa, bahkan memar saja tidak ada. Beruntung mobil yang pria itu hentikan sembarangan mengganggu ketertiban jalan, hal itu membuat kendaraan yang lain mengomel. Termasuk perempuan di dalam mobil.
"Udah, Kak. Tinggalin aja, kita udah telat."
Pria itu membantu Yaiza berdiri, memapahnya ke pinggir jalan, beberapa orang yang lewat hanya memperhatikan, sebagian tidak peduli dengan kejadian.
Yaiza pura-pura terpincang untuk mendalami peran, pria itu mengeluarkan dompetnya dan mengambil entah berapa lembar dan digenggamkan ke tangan Yaiza.
"Saya minta maaf, semoga uang ini cukup untuk mengobati kaki kamu." Setelah mengucapkan itu, dia lalu meninggalkan Yaiza dan masuk ke dalam mobilnya.
Permintaan maaf kali ini terasa berbeda, Yaiza bahkan mendapat uang sesuai harapannya. Tapi entah kenapa dia merasa bersalah karena sudah membohonginya. Jika nanti diberi kesempatan bertemu pria itu lagi, dia janji untuk mengembalikan uangnya.
.
"Serius lo nggak jadi minjem?" Lusi menegaskan sekali lagi, setelah Yaiza menceritakan kejadian di jalan tadi. Dan berakhir mendapat uang lima ratus ribu yang tidak ia sangka ternyata sebanyak itu.
Saat masih ada sang papa, uang segitu mungkin kecil bagi Yaiza. Tapi setelah pria itu tidak ada, lima ribu di dompetnya pun sungguh sangat berharga.
"Gue nggak enak sumpah udah bohongin dia, mana ganteng banget lagi orangnya." Yaiza mengaduk jus mangga di dalam gelas, mereka tengah berada di kantin setelah melewati kelas pertama hari ini.
Lusi mengibaskan tangannya. "Yaudahlah biarin, itu rezeki namanya. Lain kali boleh juga tuh trik begitu dipake kalo lagi boke."
Atas usul gila sahabatnya itu Yaiza berdecak sinis. "Ketabrak beneran mampus lo yang ada," omelnya.
Lusi tertawa. "Kaya apa si orangnya."
Yaiza menarik pandangannya ke atas, tersenyum saat membayangkan kembali wajah tampan pria yang memberinya setengah juta.
"Gila lo lama-lama." Lusi menyikut lengan Yaiza. Membuat mereka kemudian tertawa.
"Pokoknya ganteng banget lah. Orang kaya sih pasti. Namanya Saka."
"Jodoh janjangan."
"Nggak mungkin," tukas Yaiza. Entah kenapa dia jadi sewot, rasanya memang tidak mungkin pria sesempurna itu jadi jodohnya.
"Ya siapa tau, berdoa aja sih."
"Iya juga sih, nggak ada yang nggak mungkin ya." Yaiza mencoba menghibur hatinya. "Bismilah dah, bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut."
Mendengar itu Lusi tersedak jus yang dia minum. "Itu doa mau tidur, Bego," tukasnya dengan menoyor kepala perempuan itu.
"Ya emang. Dapetin cowok ganteng kaya gitu mah emang cuma mimpi buat gue." Yaiza menegaskan lagi ketidak mungkinan yang terjadi di antara mereka.
"Yakali lo dapet yang lebih."
Yaiza tidak menanggapi, perempuan itu kembali memikirkan rencana ke depan. Dia harus segera mendapatkan pekerjaan. "Cariin gue kerja kek, gue ngelamar di sana-sini nggak ada yang nerima, di warteg langganan gue aja gue mau kerja cuci piring nggak dikasih sama ibunya."
"Nggak mampu bayar lo kali."
"Bukan, suaminya demen sama gue."
"Sialan." Lusi menoyor sahabatnya lagi, kali ini di bagian pipi. "Mau kerja apaan, lemes banget si lo. Udah makan belum?"
Yaiza menopang pipi. "Nggak nafsu makan, gue. Lagi ada di fase mudah sedih, mudah tersinggung, mudah lelah. Mudah-mudahan aja nggak sampe gila."
"Amit-amit dah." Lusi mengetuk meja dengan tertawa.
Ngomong-ngomong soal gila, Yaiza jadi ingat minggu ini harus menjenguk sang kakak di rumah sakit. Selain membawakan makanan agar pria itu senang, dia juga harus membayar tunjangan setiap bulan.
Yandi, kakaknya itu memang tidak berbahaya. Dia hanya sering melamun saja, tapi jika Yaiza merawatnya sendiri di rumah, dia khawatir terjadi apa-apa. Di yayasan itu sang kakak mendapat perhatian yang tidak bisa dia berikan di rumah.
"Gue serius ini, cariin gue kerjaan dong." Yaiza menegakkan tubuhnya. "Gue juga belum bayar spp."
"Kerjaan apa." Lusi ikut berpikir. "Eh, lo kan cantik, Za. Open Bo aja mendingan."
"Dih, nggak mau gue," tolak Yaiza mentah-mentah.
"Yaudah, gue cuma nawarin doang. Nggak maksa."
Sesaat Yaiza diam, berpikir apakah ada hal lain yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan banyak uang. Kenyataan bahwa Lusi adalah wanita panggilan sudah menjadi rahasia umum di kampus ini, bahkan Yaiza yang akrab dengan dirinya pun sering dipandang sebelah mata. Kenapa tidak sekalian saja dia melakukannya.
"Lo pikir-pikir lagi deh. Hidup di ibu kota itu keras, gue tau dompet lo nggak ada isinya."
"Enak aja. Ada kartu tanda penduduk lah."
"Dan itu nggak bisa lo gadein di warteg kalo laper, Za."
Iya juga sih. Yaiza merasa benar-benar buntu. Demi sang kakak dan menyandang gelar sarjana, sepertinya dia memang harus mengorbankan harga dirinya. Persetan dengan masih ada atau tidak pria yang tulus dengan dirinya, dia hanya perlu mencari kerja setelah lulus dan menghidupi dirinya sendiri dengan uangnya.
Jika memang nanti tidak ada yang bisa menerima dia apa adanya, dia mungkin akan hidup sendiri saja.
"Yaudah gue mau deh. Tapi gue pilih-pilih orang ya."
"Serius?" Lusi bertanya tidak yakin. "Yaudah tenang aja gue banyak kenalan."
Jantung Yaiza berdebar hebat saat mengambil keputusan. Benarkah dia tidak akan menyesal. "Kapan gue bisa mulai kerja?"
"Entar malem lo ikut gue," ucap Lusi.
Yaiza mengangguk lemah. "Oke lah," ucapnya pasrah.
Di F i z z o udah ada 13 bab gratis sampe tamat. mampir yaa