
Pelangi berlari menyusuri jalanan berbatu. Sesekali ia terjatuh karena tersandung bebatuan yang mencuat dari dalam tanah, membuat beberapa anggota tubuhnya terluka. Namun, hal itu tidaklah berarti apa-apa bagi Pelangi. Semua rasa sakit yang ia rasakan seolah hilang dan tidak memiliki arti apa pun saat ia kembali mengingat sosok Gilang yang sedang meringkuk kesakitan di ujung jalan seorang diri.
Setelah berlari lumayan jauh, Pelangi akhirnya tiba di gerbang hotel. Tadinya Pelangi mengira dirinya tidak perlu berlari sejauh itu. Ia berharap Farhan Andreas dan rombongan masih berada di jalan setapak yang tadi di laluinya bersama dengan Gilang. Namun, harapannya sia-sia. Sepertinya pria tua itu memutuskan untuk kembali ke hotel setelah ia dan Gilang meninggalkan rombongan.
Pelangi menaiki undakan bagian depan hotel dengan langkah lebar, beberapa pekerja yang sudah memulai pekerjaan mereka di halaman depan menatap Pelangi dengan bingung, bahkan ada beberapa pekerja yang menghampiri Pelangi dan menanyakan apa yang telah terjadi, karena memang penampilan Pelangi kali ini amat sangat memprihatinkan, celana training yang ia kenakan sobek pada bagian lutut dan terlihat darah merembes dari bagian yang sobek itu, terdapat juga luka gores di dagu Pelangi, dan secara keselurahan pakaian Pelangi terlihat kotor.
Pelangi terus melangkah menuju aula utama, dan mengedarkan pandangan, berusaha mencari sosok yang ia kenal. Ketika ia tidak menemukan sosok Farhan, Toni, dan Andrew, atau pun Joko, ia melanjutkan langkahnya menuju tangga yang akan membawanya ke lantai dua, di mana terdapat kamar seluruh anggota keluarga Andreas.
"Hai, ada apa?" Andrew yang kebetulan hendak menuju lantai satu berpapasan dengan Pelangi dan langsung menanyai Pelangi.
Melihat Andrew, Pelangi segera menghampiri pria itu. "Tolong, tolong aku, Pak," ujar Pelangi yang terlihat panik.
"Oke, oke, tenanglah. Tarik napasmu, kemudian embuskan perlahan. Ya, begitu, bagus. Sekarang katakan padaku apa yang terjadi?" Andrew terlihat panik, apalagi saat dilihatnya luka gores di dagu Pelangi dan juga lutut wanita itu.
Pelangi mengelus dadanya, masih sembari mengatur napas yang memang terasa sesak sekali di dada. "Pak Gilang sedang kesakitan. Dia *******-***** kepalanya di ujung jalan sana. Aku rasa dia sakit kepala, Pak. Ayo cepat kita harus segera menolong dia."
Mendengar ucapan Pelangi, seketika raut wajah Andrew menjadi semakin panik. "Ayo, tunjukan padaku jalannya."
Pelangi mengangguk, kemudian segera mengekor langkah Andrew menuju halaman hotel. Setibanya di halaman depan, Andrew meminta Pelangi mengikutinya menuju sebuah sedan mewah berwarna hitam yang terparkir di halaman samping.
"Masuklah," titah Andrew.
Pelangi yang sejak tadi sibuk memperhatikan sedan di depannya yang tampak familiar segera masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Andrew yang langsung melajukan kendaraannya dengan cepat.
Di dalam perjalanan, Pelangi terus bergerak-gerak gelisah. Apalagi saat sedan yang dikendarai Andrew bergerak semakin lambat. Pikiran buruk mulai merasuki isi kepala Pelangi. Ia mulai bertanya-tanya, bagaimana jika Gilang menjadi tidak sabaran karena dirinya yang terlalu lama memanggil pertolongan, dan karena tidak sabaran Gilang memutuskan berjalan seorang diri yang keputusan itu malah membuat diri Gilang celaka. Apalagi terdapat jurang di sisi kiri jalan tempat ia meninggalkan Gilang tadi.
"Tidak bisakah lebih cepat sedikit? Pak Gilang bisa-bisa semakin sekarat di sana," ujar Pelangi.
"Tidak bisa. Apa kamu tidak lihat kalau jalanannya berbatu dan berlubang seperti ini," jawab Andrew. "Sebenarnya apa yang terjadi? Tidak mungkin Gilang tiba-tiba sakit kepala seperti yang kamu katakan saat di hotel tadi."
Pelangi menatap Andrew, kemudian berkata, "Aku tidak tahu, kami sedang berjalan, tetapi ternyata jalan yang kami ambil adalah jalan buntu. Hanya ada jurang dan semak belukar di sana. Aku mengajak Pak Gilang untuk kembali, tapi saat aku menoleh untuk mencari keberadaannya, ternyata dia tengah bersandar pada batang pohon tumbang. Dia terlihat ketakutan, tubuhnya gemetar, tangannya dingin dan setelah itu dia mulai mermas rambutnya. Aku bahkan yakin sekali melihat air mata mengalir di kedua pipinya."
Andrew mengangguk, ia mulai paham sekarang kenapa Gilang tiba-tiba mengalami sakit kepala. "Dia trauma pada jurang. Mungkin juga ada sesuatu yang mulai diingatnya hingga ia menjadi seperti itu."
Pelangi mengernyitkan dahi mendengar penjelasan Andrew. "Trauma pada jurang? Tapi, kenapa?" tanya Pelangi.
Andrew menatap Pelangi sekilas, pria itu tersenyum miring penuh arti dan bertanya, "Kamu sendiri bagaimana, Raina? Bagaimana perasaanmu saat kamu melihat jurang?"
Deg.
Pelangi terkejut atas pertanyaan andrew, pria itu bersikap seolah-olah mengetahui masa lalunya dan fakta bahwa Pelangi pun memiliki ketakutan yang sama pada jurang.
"Aku ... aku baik-baik saja. Buktinya aku bisa berlari hingga ke hotel. Padahal jaraknya lumayan jauh."
Andrew tersenyum dan mengulurkan tangan, mengusap keringat yang masih mengalir di wajah Pelangi. "Datanglah ke kamarku nanti, biar aku obati luka-lukamu."
"Tidk usah, aku--"
"Jika kamu tidak datang seorang diri, aku yang akan mendatangimu dan menggendongmu sepenjang lorong menuju kamarku. Kamu tinggal pilih, mau datang sendiri atau kugendong."
Pelangi diam saja, ia tidak berniat menanggapi ucapan Andrew sama sekali.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka tiba di tempat terakhir Pelangi meninggalkan Gilang.
Pelangi segera membuka pintu mobil dan turun dari kendaraan itu dengan tergesa-gesa begitu mobil yang dikendarai Andrew telah berhenti. Ia menghela bapas lega saat dilihatnya Gilang masih berada di tempat yang sama sebelum ia kembali ke hotel. Pria itu masih meringkuk di atas rerumputan yang telah dilapisi dengan jaket milik Pelangi.
"Pak, Pak Gilang." Pelangi mengguncang tubuh Gilang perlahan. Gilang membuka mata sedikit. "Syukurlah," gumam Pelangi.
Andrew menghampiri Gilang dan berlutut di hadapan pria itu. "Gil, bagaimana perasaanmu?"
"Tidak baik," ujar Gilang.
Andrew terkekeh kemudian membantu Gilang untuk bangun. "Kita harus kembali ke hotel sekarang, atau kamu lebih suka tiduran di sini?"
Gilang melayangkan tinju ke dada Andrew dengan lemah, kemudian ia berkata, "Bantu aku untuk berdiri."
Andrew dan Pelangi bekerja sama menuntun Gilang menuju mobil Andrew, dan ketiganya melanjutkan perjalanan menuju hotel.
***
HOTEL MENTARI 13.00
Gilang membuka mata saat sinar matahari masuk melalui celah jendela yang tirainya sedikit terbuka. Ia mengerjap, lalu memindai daerah sekitarnya yang terlihat asing.
Gilang bangkit untuk duduk dan bersandar pada sandaran ranjang yang berlapis busa empuk. Sebelah tangannya refleks memijat kepalanya yang masih berdenyut, sementara sebelah tangannya lagi meraih sebotol air mineral yang ada di samping tempat tidurnya dan meminumnya hingga habis. Tenggorokannya terasa kering, karena ia terlalu banyak berteriak ketika menahan sakit tadi.
Setelah merasa keadaannya telah membaik, Gilang lantas turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Ia merasa harus menemui seseorang untuk menanyakan dan memastikan sesuatu pada orang tersebut. Namun, belum lagi ia tiba di pintu, pintu mendadak terbuka dan sesosok wanita yang sempat ditemuinya beberapa kali menerobos masuk ke dalam kamarnya dan mendorong tubuhnya dengan keras.
"Sialan! Gilang sialan. Percuma aku bicara pada ayah dan teman-temnmu di bawah sana. Mereka semua membelamu, mereka memaklumi apa yang terjadi sekarang dan mengatakan kalau semua ini di luar kuasa mereka. Sialan kalian semua!" Amara berteriak tepat di depan wajah Gilang.
Gilang menatap Amara dengan bingung. Ia ingat satu tahun yang lalu wanita itu pun marah padanya dan mengatakan bahwa dirinya adalah pria tidak tahu malu dan tidak punya hati. Wanita itu bahkan menampar Gisel dan menjambak rambut Gisel dengan keras, membuat cidera yang lumayan parah di wajah Gisel.
Saat itu Gilang hanya berpikir bahwa Amara mungkin hanyalah salah satu penggemarnya yang patah hati, tetapi sekarang ia tidak berpikir demikian. Gilang sadar ada yang hilang dari memorinya, dan wanita di hadpannya bisa jadi adalah salah satu petunjuk yang bisa menuntunya kembali mengingat segalanya.
"Siapa kamu dan ada apa ini?" tanya Gilang.
Amara tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang Gilang katakan. "Ooh, jadi otakmu masih eror! Baiklah, biar kujelaskan dari awal agar kamu kembali waras wahai Gilang Andreas. Jadi satu tahun lalu--"
"Amara!"
Sebuah suara mengejutkan amara, membuat ucapannya terputus. Amara menoleh ke asal suara, dan betapa terkejutnya ia melihat siapa yang telah memanggilnya.
"Kamu," lirih Amara.
Bersambung ....