
Satu minggu telah berlalu semenjak kejadian di Big Market. Sejak saat itu kilasan demi kilasan bayangan bermunculan di dalam benak Pelangi bagai keping puzzel yang mulai melengkapi satu sama lain.
Pelangi mulai mengingat hal-hal kecil dalam kehidupannya, meskipun tidak mendetail, karena ingatannya memang hanya muncul secuil demi secuil.
Seperti pagi ini saat sedang bersiap untuk berangkat ke kantor, Pelangi tiba-tiba ingat tentang kejadian beberapa tahun lalu, saat Andrew menyelamatkannya dari kejaran seorang rentenir di sebuah gang sempit yang kumuh dan kemudian mengajaknya untuk bertemu dengan Farhan Andreas untuk pertama kalinya.
Pelangi ingat bagaimana ia merasakan gugup saat berdiri di hadapan Farhan Andreas, apalagi saat pria tua itu memintanya untuk menjadi istri Gilang Andreas. Pewaris satu-satunya Andreas Group. "Rupanya ayah Farhan yang menjodohkan kami. Tapi kenapa dia menjodohkan Gilang dengan wanita sepertiku? Aneh sekali." Pelangi bergumam seorang diri di depan cermin sembari menyisir rambut panjangnya.
Ya, memang tampangnya tidak jelek, tapi dari status sosial jelas sekali ia berada di strata terendah. Bagaimana mungkin seorang CEO seperti Farhan tertarik mencari menantu dari kalangan strata terendah seperti dirinya?
Setelah selesai berdandan dan penampilannya sudah rapi, Pelangi memutuskan untuk keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan seperti pagi-pagi sebelumnya. Farhan memang selalu memintanya untuk sarapan bersama.
Di ruang makan, seluruh anggota keluarga Andreas sudah duduk mengelilingi meja makan dan menyantap sarapan mereka yang hanya berupa roti tawar, selai, susu segar dan oat saja.
Pelangi tersenyum saat melihat Gilang tengah mengunyah sarapannya. Pria itu seperti biasanya, selalu sukses mencuri perhatian karena rupanya yang sangat menggiurkan.
Pelangi menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan pikiran aneh yang menghinggapi kepalanya. Bagaimana bisa dirinya menganggap Gilang menggiurkan! Memangnya pria itu adalah makanan yang bisa disantapnya saat ia sedang lapar.
"Selamat pagi," sapa seorang wanita yang kehadirannya tidak disadari oleh Pelangi. wanita itu adalah Gisel. Gisel duduk tepat di samping Gilang, terlihat sibuk mengoles selai nanas pada setiap lembar roti tawar dan meletakkan roti-roti itu di piring Gilang.
"Pagi," jawab Pelangi, berusaha bersikap seramah mungkin walaupun hatinya sedang terbakar saat ini. Melihat wanita lain melayani suaminya tentu saja membuat dirinya terbakar api cemburu.
Gisel tersenyum dan melirik kursi yang ada di hadapannya. "Duduklah. Jangan sungkan."
Pelangi mengangguk dan segera duduk di kursi yang ada di hadapan Gisel.
“Hai, biar kubuatkan roti isi cokelat.” Andrew menghampiri Pelangi dan mulai sibuk mengoleskan selai cokelat pada roti dan memberikan roti itu pada Pelangi. "Makanlah, Rain."
"Ah, iya, terima kasih." Pelangi meraih roti yang tergeletak di atas piring lalu mengunyahnya perlahan sementara Andrew menuang segelas susu segar ke gelas milik Pelangi.
Pelangi refleks membalas semua kebaikan Andrew. Ia meraih selembar roti, mengoles selai pada roti tersebut dan memberikannya pada Andrew .
“Untukku?” tanya Andrew, sembari menaikkan sebelah alisnya.
Pelangi mengangguk. “Kebaikan dibalas kebaikan.”
Andrew menerima roti dari Pelangi dan melahapnya dengan cepat. “Jika aku memberi cinta, apa kamu akan memberikan hal yang sama juga?”
“Andrew.” Farhan dan Toni bersamaan menegur Andrew agar pria itu tidak kelewat batas.
Andrew tertawa. “Dia belum menikah. Apa salahnya?”
“Akan kupertimbangkan.” Pelangi menjawab pertanyaan Andrew sebelumnya. Ia sengaja melakukan itu untuk menarik perhatian Gilang.
Benar saja, mendengar apa yang Pelangi ucapkan Gilang langsung bangkit berdiri dengan wajah kesal dan meraih tas kerjanya yang tergeletak di kursi kosong di sampingnya. “Ikut denganku sekarang, atau kutinggal?” ujar Gilang pada Pelangi.
Pelangi yang masih sibuk mengunyah rotinya segera bangkit berdiri. Namun, Andrew menahan Pelangi dengan cara memegang pergelangan tangan wanita itu.
“Kamu masih sarapan. Selesaikan dulu sarapanmu. Jika bosmu itu meninggalkanmu, aku yang akan mengantarkanmu ke kantor,” ujar Andrew.
Pelangi mengangguk dan memilih duduk kembali.
Melihat hal itu Gilang menjadi semakin kesal. Ia kemudian berkata, “Baiklah, kalau begitu kamu kupecat.”
Mendengar kalimat pecat, membuat Pelangi buru-buru meraih segelas susu segar, meminumnya, lalu mengejar Gilang yang sudah beranjak dari ruang makan dengan cepat. Secepat kilat.
“Dia itu keterlaluan sekali!” Gisel melempar serbet dengan kasar di atas meja makan melihat Gilang meninggalkannya begitu saja, bahkan tanpa mengecup keningnya seperti biasa.
***
Di dalam perjalanan menuju kantor, Gilang lebih banyak diam. Hanya sesekali ia menatap Pelangi yang duduk di sebelahnya dengan wajah cemberut. Wanita itu masih kesal sekali, karena Gilang mengancam akan memecatnya hanya karena ia masih ingin sarapan.
“Cokelat di bibirmu itu, ingin aku yang bersihkan atau kamu sendiri yang membersihkan?” tanya Gilang setelah beberapa saat.
Hari ini Gilang memang memilih untuk mengendarai mobilnya seorang diri menuju kantor, sehingga ia bebas berbicara dengan Pelangi tanpa harus menjaga wibawa di hadapan sopirnya.
Mendengar ucapan Gilang, Pelangi segera meraih sapu tangan dari dalam tasnya dan mengusap bibirnya. “Sudah, atau masih ada?” Pelangi memonyongkan bibirnya.
“Kamu sengaja memancingku?” tanya Gilang.
“Sial,” gumam Gilang, lalu menepikan mobilnya. Setelah mobil berhenti, Gilang menarik lengan Pelangi hingga tubuh wanita itu menempel di tubuhnya, dan tanpa berbasa-basi lagi, Gilang segera mendaratkan kecupan di bibir Pelangi.
Pelangi berontak, bagaimana pun juga dirinya hidup sebagai Raina sekarang, bukan Pelangi, sehingga dirinya dan Gilang tidak memiliki status apa pun yang membenarkan perbuatan Gilang padanya sekarang.
“Lepas. Apa yang kamu lakukan?” tanya Pelangi, setelah berhasil menjauhkan tubuh Gilang dari tubuhnya. Bibirnya masih berkedut dan gairah yang terasa aneh tiba-tiba saja memenuhi dadanya. Ingin rasanya ia melemparkan diri ke dalam pelukan Gilang, dan membiarkan Gilang melakukan apa pun yang pria itu inginkan pada tubuhnya. Namun, dengan susah payah ia menghalau keinginan gilanya itu.
Gilang mengatur napas sebelum menjawab pertanyaan Pelangi. Ia merasa bodoh karena tidak dapat mengendalikan diri.
“Sorry, aku hanya cemburu.” Gilang berpikir lebih baik mengucapkan yang sebenarnya pada pelangi daripada ia harus mengarang alasan atas tindakan bodohnya barusan. Lagi pula, apa yang harus ia katakan pada Pelangi atas tindkannya barusan? Nafsu? Tidak, yang barusan dilakukannya bukan hanya karena ia sedang bernafsu, tetapi karena ia marah melihat kedekatan Pelangi dan Andrew. Selain karena alasan itu, jujur saja dirinya sangat merindukan Pelangi juga. Ingin rasanya ia mengakhiri segala kepura-puraannya dan kembali pada Pelangi. Namun, jika ia melakukan hal itu, ia tidak bisa menggali informasi lebih dalam dari Gisela yang telah membuat hubungannya dan Pelangi hancur berantakan.
“Cemburu?” tanya Pelangi.
“Ya, aku cemburu. Aku cemburu saat melihat kamu berdekatan dengan Andrew, atau bahkan dengan pria mana pun.” Gilang kembali menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas, melanjutkan perjalanan menuju kantor.
“Tapi kamu sudah memiliki Gisel, bagaimana bisa kamu merasakan cemburu saat aku dekat dengan pria lain. Apa kamu memiliki dua hati yang bisa dibagi setengah-setengah?” sarkas Pelangi.
“Siapa yang bisa mengendalikan sebuah rasa yang tumbuh, Raina? Apa kamu bisa? Jika bisa, tolong katakan bagaimana caranya kepadaku.”
Pelangi diam saja. Benar apa yang dikatakan Gilang. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa mengendalikan sebuah rasa yang tumbuh di hati. Namun, buka hal yang sulit untuk menyembunyikan rasa itu. Seperti yang sedang ia lakukan sekarang. Andai saja Gilang tahu, betapa tersiksanya dirinya saat melihat kedekatan Gilang dan Gisel. Andai Gilang tahu!
***
“Sebaiknya jaga ucapan dan sikapmu saat di depan Pak Farhan. Walaupun kamu hanya bercanda, tetapi aku takut jika beliau menganggap serius apa yang kamu lakukan. Kesehatannya bisa drop. Apalagi beliau memiliki harapan yang besar agar Pelangi dan Gilang dapat bersatu kembali.” Toni menasihati Andrew.
Saat ini keduanya sedang berada di dalam sebuah mobil yang melaju kencang menuju sebuah panti sosial yang terletak di pinggiran kota.
Andrew melirik Toni yang sedang mengemudi, kemudian berkata. “Siapa bilang aku bercanda. Aku serius pada setiap perkataanku. Jika Pelangi tidak kunjung mengingat Gilang, biar aku saja yang menggantikan posisi Gilang.”
Toni menggeleng. “Dasar Gila.”
Andrew hanya mengangkat kedua bahunya, lalu kembali bersandar pada sandaran kursi yang ia duduki, kembali hanyut dalam lamunan seperti sebelumnya.
“apa masih jauh?” tanya Toni.
“Apa kamu tidak bisa melihat di peta, kenapa harus bertanya padaku?” Andrew menjawab dengan ketus.
“Aku hanya ingin kamu memiliki kesibukan, karena jika hanya duduk diam seperti itu, aku yakin pikiranmu sedang melayang ke istri Gilang sekarang.”
Andrew berdecak. “Seharusnya tidak jauh dari sini.”
“Apa kamu yakin Delia dan Exel mengatakan yang sebenarnya? Bagaimanapun juga mereka berdua adalah teman masa kecil Gisel di panti asuhan. Bisa saja mereka hanya menjebak kita dengan mengatakan bahwa mereka tahu keberadaan Atika.”
“Mereka berdua bukan orang yang seperti itu. Percaya saja padaku. Setelah kita menemukan Atika, kita bisa bertanya banyak hal padanya, termasuk rencana jahat Gisel pada Pelangi.”
Toni mengangguk. “Ya, semoga saja semuanya berjalan dengan lancar. Sudah terlalu lama kita membiarkan Gisel berkeliaran dan tidak mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kurasa kebebasannya harus segera diakhiri.”
Andrew diam saja. Ia sadar ada konsekuensi dari setiap tindakan yang akan ia ambil. Salah satunya adalah memisahkan Exel dari Delia suatu saat nanti. Karena saat Gisel diputuskan bersalah oleh pengadilan, maka Exel akan menyusul Gisel setelahnya.
***
Gilang menghentikan mobilnya dan memberikan kunci mobilnya pada petugas valet yang telah menunggu di depan Hotel Savari begitu Pelangi turun dari mobil.
Pelangi memandangi bangunan hotel mewah yang ada di hadapannya dengan bingung. Ia tidak mengerti kenapa Gilang malah membawanya ke hotel, bukannya ke kantor.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Pelangi, dengan tubuh yang gemetar karena takut. Pikirannya mulai melayang ke mana-mana sekarang. Ia takut Gilang merencakan hal yang buruk kepadanya, itulah sebabnya Gilang membawanya ke hotel alih-alih ke kantor.
"Diam sajalah dan ikuti aku."
Bersambung ....