
Hujan turun dengan derasnya mengiringi perjalanan Gilang dan Pelangi menuju kembali ke rumah. Sebelum mobil yang Gilang kendarai keluar dari area rumah sakit, langit memang terlihat gelap. Gumpalan awan hitam tampak berarak di kejauhan yang sesaat kemudian menurunkan bulir-bulir bening ke bumi.
Gilang mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, karena jarak pandang Gilang tidak begitu jelas. Hujan yang turun begitu deras membatasi penglihatannya sehingga ia harus menyetir dengan hati-hati.
Sementara itu tidak seberapa jauh dari mobil yang Gilang kendarai, terlihat dua mobil mengikuti sejak mobil Gilang keluar dari area rumah sakit. Mobil itu adalah mobil Alex dan Gisel. Gilang tidak menyadari keberadaan dua mobil itu karena hujan yang cukup deras membuatnya sulit untuk memperhatikan mobil yang ada di belakangnya dengan saksama.
"Apa mobil yang di belakang ini bukan mobil penjahat yang tadi ingin menabrakmu, Gil?" tanya Pelangi yang sejak tadi memperhatikan melalui spion dan sesekali terkadang ia menoleh ke belakang.
Gilang menggeleng. "Sepertinya bukan. Jangan terlalu khawatir, Pelangi. Kita sedang berada di kota, banyak mobil yang berlalu-lalang di sini Lebih baik kamu tidur dan beristirahat, perjalanan kita masih lumayan jauh."
Pelangi menoleh dan menatap Gilang lekat-lekat. "Tidakkah sebaiknya kita putar balik saja dan menginap di rumah Delia atau Andrew." Pelangi memberi saran, karena ia memang merasa sangat khawatir saat ini. seolah ada firasat buruk yang menghantuinya.
"Tidak usah. Kita pulang saja sekarang, toh hari juga belum sore. Tenang saja, Sayangku." Gilang meraih telapak tangan Pelangi dan mengarahkan tangan wanita itu ke bibirnya agar dapat ia kecup. "Tidurlah."
Pelangi menyerah. Sulit sekali meminta sesuatu pada Gilang jika pria itu sudah mengatakan tidak. "Baiklah, aku akan tidur saja kalau begitu." Pelangi mendaratkan kecupan singkat di pipi Gilang sebelum akhirnya ia bersandar pada sandaran kursi dan memejamkan mata.
***
Semakin lama waktu yang ditempuh, semakin jauh pula posisi Gilang dari pusat kota. Kini kendaraan yang Gilang kemudikan mulai memasuki jalanan yang sepi dengan pepohonan yang tumbuh rapat di kanan dan kirinya. Tidak ada lagi gedung-gedung pencakar langit yang terlihat. Di balik pepohonan yang tumbuh rapat bagai pagar pembatas itu terdapat jurang dengan kedalaman yang mencapai hingga puluhan meter.
Alex yang menyadari bahwa rencananya menemui jalan buntu segera menghubungi beberapa anak buah Surya dan meminta mereka melakukan rencana B.
Ya, rencana A adalah menghabisi Gilang saat pria itu sedang seorang diri, dengan kata lain Pelangi tidak akan ikut celaka jika Gilang celaka. Sedangkan rencana B adalah menjauhkan Gilang dari Pelangi sebelum akhirnya Gilang dihabisi, karena pesan dari Surya adalah, habisi Gilang dan bagaimana pun juga Pelangi harus tetap hidup dan tidak boleh tergores sama sekali.
Setelah menutuskan panggilan telepon, Alex pun mulai menunggu. Beruntung ia telah menempatkan beberapa anak buah Alex di titik-titik tertentu di sepanjang jalan menuju kediaman Gilang yang jauh dari pusat kota untuk berjaga-jaga.
"Baiklah, kalau tidak salah tikungan yang ada di depan sana." Alex terkekeh. Ia mendahului mobil Gilang dan berhenti tepat di tikungan yang sebentar lagi pasti dilalui oleh Gilang.
Sedikitnya delapan orang pria bertubuh besar bersembunyi di sela-sela pepohonan sembari memegang balok berukuran besar di masing-masing tangan. Walaupun hujan turun dengan begitu deras, tetapi semua anak buah Surya terlihat siaga. Alex terpaksa hanya memberikan balok sebagai senjata mereka, karena renca B yang telah ia susus adalah rencana mendadak sehingga Alex tidak sempat menyediakan senjata api untuk sekumpulan anak buah Surya itu.
"Sebentar lagi mereka melintas. Lemparkan salah satu balok kalian ke arah mobil agar Gilang berhenti. Saat Gilang menghentikan mobilnya segera hampiri dan habisi dia. Tapi ingat, jangan lakukan apa pun pada istrinya. istrinya biar aku saja yang urus." Alex berteriak dari dalam mobil yang kaca jendelanya ia biarkan terbuka.
Kedelapan pria berotot dengan tubuh dipenuhi tato itu mengangguk serempak, tepat saat sebuah sedan mendekat ke tikuangan dan ....
Bruk!
Sebuah balok berukuran besar mendarat tepat di kaca bagian depan mobil Gilang, membuat Gilang mendadak harus menghentikan laju mobilnya.
"Sial!" gumam Gilang, saat ia mulai kehilangan kendali pada mobilnya yang sekarang masih melaju dan siap untuk menabrak pohon yang ada di sisi kiri jalan. "Pelangi, kemari, Sayang." Gilang menarik tubuh Pelangi dan memeluk tubuh wanita itu agar terhindar dari benturan.
Bruk!
Kaca bagian depan mobil pecah, begitu juga dengan bodi mobil yang mengalamai kerusakan parah di samping kiri.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Gilang pada Pelangi.
Pelangi mengangguk. "Ya, aku tidak apa-apa. tapi apa yang terjadi?" Pelangi terlihat bingung. Ia memang sedang tidur tadi, sehingga ia tidak tahu bahwa hampir saja mereka mengalami kecelakaan.
Gilang menggeleng. "Entahlah, tapi sepertinya ada yang sengaja melempar mobil kita dengan kayu," ujar Gilang.
"Kayu?" Belum lagi pelangi mengajukan pertanyaan lainnya, ia melihat segerombol pria bertampang preman menghampiri mobil sembari membawa pentungan di tangan. "Gil, siapa mereka?" Wajah Pelangi terlihat pucat pasi, aura ketakutan terpancar jelas di wajahnya yang cantik.
Gilang memperhatikan apa yang Pelangi lihat sekarang. Tangannya menggenggam erat tangan Pelangi. "Di mana ponselmu?" tanya Gilang yang juga terlihat sama khawatirnya seperti Pelangi.
"Di tas." Pelangi menjawab dengan suara yang gemetar.
"Aku akan turun untuk menarik perhatian mereka. Sementara aku di luar, kamu hubungi saja Andrew, Toni dan juga polisi jika memungkinkan."
"Jangan turun. Aku mohon jangan, Gil, jangan." Pelangi mulai menangis,m smvil menahan tangan Gilang, agar pria itu tetap di sisinya. Ia tidak ingin terjadi hal yang buruk pada Gilang. Dan turun dari mobil untuk menghampiri segerombolan preman adalah langkah mudah untuk mencelakai diri sendiri.
Pelangi menangis, ia menutup mulut dengan tangan agar tidak berteriak. rasanya ia memang ingin berteriak saat ini agar Gilang kembali ke sisinya. Namun, ia masih ingat pesan Gilang, ia harus menghubungi beberapa orang, hanya dengan begitulah bantuan akan datang untuk menolong mereka.
"Maaf, apa salah satu dari kalian yang melempar sesuatu ke mobilku?" Gilang berteriak ke arah segerombolan pria itu agar suaranya terdengar menembus hujan, tetapi yang ditanya bukannya menjawab, mereka malah tertawa.
"Kamu Gilang Andreas, bukan?" tanya salah satu pria yang terlihat paling bengis dan bertampang paling jelek.
"Ya ... argh!"
Kejadiannya begitu cepat. Sebuah hantaman dari balok melayang ke wajah Gilang, kemudian sebuah hantaman lagi mendarat di perut, puggung, kaki, lengan dan kepala Gilang.
Pelangi yang melihat semua itu segera turun dari dalam mobil setelah sebelumnya ia mengirimkan pesan suara untuk Toni, Andrew dan Amara. Ia bahkan sempat merekam sedikit adegan saat Gilang mulai mendapat serangan yang bertubi-tubi. Rekaman video itu pun ia kirimkan ke Andrew, Toni dan Amara.
"Hentikan, jangan pukul suamiku, aku mohon jangan pukul." Pelangi berlari menghampiri Gilang yang terkapar di tanah, tenggelam dalam genangan darahnya sendiri. Tubuhnya tidak lagi bergerak, tetapi Pelangi dapat melihat gerakan dadanya yang naik turun secara teratur walaupun terlihat lemah.
Pelangi berjongkok dan meletakkan kepala Gilang di pangkuannya. Darah yang begitu banyak membuat Pelangi tidak dapat nenatap mata Gilang yang sedikit tertutup. Meski begitu ia tahu bahwa belahan jiwanya itu sedang menangis dan menyesal.
"Hai, Sayangku, selamatkan dirimu," ujar Gilang, suaranya pelan dan lemah. "Selamatkan anak kita." Gilang menyentuh perut Pelangi dengan susah payah. "Aku mencintaimu. Jaga dirimu. "
Pelangi terisak. "Apa yang kamu katakan. Jangan bicara seperti itu, Gil, aku yakin kita bisa kembali ke rumah dengan selamat. Aku yakin mereka pasti tidak akan menyakitimu lagi." Pelangi kemudian menatap satu per satu wajah pria yang ada di depannya. Kemudian ia memohon. "Aku mohon lepaskan kami. Biarkan kami pergi. Apa yang kalian minta akan aku beri, asal kalian memviarkan suamiku dan aku oergi. Dia hatus ke runah sakit, aku mohon."
Salah seorang pria berjongkok di hadapan Pelangi dan menatap Pelangi lekat-lekat. "Kamu benar-benar akan memberikan apa yang kami minta?" tanyanya.
Pelangi mengangguk. "Ya, apa pun. Apa pun. "
Pria itu kemudian berkata. "Kami ingin suamimu ini mati saat ini juga. Hanya itu yang kami inginkan."
Tepat di saat pria itu menghentikan ucapannya, seorang pria lain datang dari arah belakang dan bersiap untuk memukul Gilang yang sudah tak berdaya. Melihat hal itu, Pelangi segera bangkit berdiri dan mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga menuju jejeran pohon yang berada di tepi jalan.
Detik berikutnya tubuh pria itu jatuh ke jurang. disusul oleh tubuh Pelangi yang kehilangan keseimbangan dan ikut masuk ke dalam jurang.
"Tidak, tidak, Pelangi, tidak," lirih Gilang. Ia melihat semua kejadian mengerikan itu. Tangisnya pecah tetapi tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak. Ia merasa bodoh dan tidak berdaya. Bagaimana bisa ia membiarkan sang pujaan hati meregang nyawa hanya untuk menyelamatkannya tepat di depan mata kepalanya.
Seorang pria dari gerombolan pria mendekat ke arah Gilang. "Susul saja dia jika kamu begitu sedih," ujar pria itu, kemudian mengangkat pentungannya tinggi-tinggi dan bersiap menghantam wajah Gilang.
Dor!
Sebuah peluru melumpuhkan tangan pria itu, lalu disusul peluru kedua yang menumbangkan tubuh si pria berwajah bengis dengan mulut yang mengeluarkan darah dan tergeletak tepat di samping Gilang.
Setelahnya, terdengar lebih banyak suara tembakan yang memekakakn telinga. Disusul oleh jerit kesakitan yang berasal dari bibir para pria bertubuh besar.
Gilang hanya mendengarkan semua keributan itu dengan perasaan hampa. Setelah sekian menit tergeletak di atas genangan darahnya sendiri, ia pikir ia akan mati. Mati adalah sesuatu ysrng paling ia inginkan saat ini. Namun, ternyata tidak. Kedua matanya masih dapat terbuka menatap langit yang gelap dan masih menurunkan rintik yang tiada henti, seolah langit ikut menangis, ikut bersedih atas kehilangan yang menghancurkan jiwa Gilang.
Pelanginya yang ceria. Pelanginya yang cantik tidak akan pernah bisa dilihatnya lagi. Gilang ingin meraung, lalu melompat ke jurang di mana tubuh Pelangi hilang dari pandangannya beberapa waktu lalu. Namun, apalah daya, jangankan untuk berdiri, menggerakan kaki saja ia tidak bisa.
Gilang menyesal. Sangat menyesal. Andai saja ia menuruti permintaan Pelangi tadi untuk berbalik dan menginap di rumah Delia, semua ini pasti tidak akan terjadi.
"Gilang, Gilang, kamu tidak apa-apa?" Gisel berlutut di samping Gilang. Saat itulah Gilang tahu siapa yang telah menembaki semua pria bertubuh besar. Gisellah orangnya. Gilang dapat melihat senjata api di kedua tangan gisel yang gemetar.
"Kamu terlambat, Sel, Pelangiku ... dia, dia jatuh ke jurang."
Gisel menangis melihat keadaan Gilang. Untuk pertama kali di dalam hidupnya Gisel merasa hatinya hancur, ia merasa iba dan sedih melihat Gilang menangisi Pelangi.
"Bertahanlah, Gil, aku akan membawamu ke rumah sakit."
Bersambung ....