
Ketukan di pintu membuat Nena yang tengah tidur di kamarnya seketika terjaga. Gadis itu beranjak menuruni ranjang, menuju pintu depan dan terkejut saat membukanya.
"Mas Justin," sapa Nena, pada pria yang tampak kacau di pandangannya, tidak seperti Justin biasanya, pria itu sedikit berantakan dengan rambut yang sepertinya jarang sekali disisir.
"Ibu, mana?" Justin bertanya sembari melangkah masuk, dan saat Nena berkata ibu dan adiknya tengah keluar rumah membagikan undangan lisan pada sanak saudara, justin menoleh. "Saya ingin bicara," ungkapnya.
Nena mengangguk, kemudian duduk di sofa ruang tamu, Justin mengikutinya. Mereka saling berhadapan.
"Kamu yakin mau menikah dengan, Bimo?" Tanya Justin.
"Sudah sejauh ini, Mas. Nggak yakinpun, aku bisa apa."
Justin beranjang mendekat, kemudian berlutut di hadapan Nena yang terduduk, gadis itu tampak terkejut. "Kenapa kamu tidak mau menunggu saya, saya akan membuktikan kalo kita itu bukan saudara. Atau kita bisa tes DNA." Justin menggenggam erat jemari tangan Nena, tatapannya tampak memelas.
Nena membuang muka, untuk menarik tangannya, ia merasa tidak punya cukup tenaga, hanya bisa berkata dengan lemah. "Udah lah, Mas. Lupain aku, karena setiap kenyataan yang akan kita dengar, pasti akan terasa semakin berat. Yakin saja, kita memang saudara."
Justin menggeleng, menjatuhkan kepalanya pada lutut gadis itu. Tidak ada kalimat lagi yang ia ucapkan. hanya hembusan napas berat yang membuat Nena tahu bahwa abangnya itu masih belum terima dengan kenyataan yang sudah ada.
Setelah beberapa menit obrolan itu berlalu, Nena kembali ke kamarnya, dan Justin masih duduk bersandar di sofa, membuka-buka galeri foto di hpnya. Foto dirinya bersama Nena yang belum diedit saat pemotretan untuk prewedding beberapa hari yang lalu, memory otaknya terus memutar kedekatan dirinya dengan gadis itu.
Kebersamaan di tempat kerja, perdebatannya di dalam mobil, pertengkaran kala memilih tempat makan siang, semua berlalu terlalu cepat dan Justin menyadari perasaannya pada gadis itu sudah terlalu dalam.
"Itu tanggal lahir saya,"
"Kita banyak kesamaan,"
"Dua tujuh, saya juga."
Justin berdecih, kala kalimat-kalimat itu terus berputar di kepalanya. "Kembar?" Gumamnya pelan, kemudian tertawa sumbang. Dia merasa dirinya mulai gila.
***
Nena terbangun kala dirinya merasakan seseorang memeluknya erat dari belakang. Dia terkejut, tangan yang terasa kokoh melingkar di perutnya meyakinkan gadis itu bahwa bukan sang ibu yang kini berada di belakangnya, dan Ardi, anak itu tidak akan berani sekurang ajar ini. Nena menolehkan kepala.
"Mas! kamu ngapain," pekik Nena, terkejut saat menyadari bahwa Justin lah yang memeluk dirinya, gadis itu berusaha melepaskan diri saat pria yang ikut berbaring di ranjangnya itu malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Saya mau tidur." Justin menjawab dengan suara parau, kuncian lengannya mengerat saat gadis di pelukannya itu mencoba untuk melarikan diri.
"Kamu kan punya kamar, kenapa tidur di sini." Nena semakin gelisah, hembusan dari hidung pria di belakangnya itu menerpa tengkuknya, memberikan sensasi aneh, takut, merinding, semua bercampur menjadi satu. Jantungnya berdetak tidak beraturan.
Nena yang berusaha untuk tenang nyatanya tidak bisa semudah itu, dia membiarkan saja pria yang memeluk erat dirinya untuk tidur lebih dulu, setelah itu nanti ia akan pergi, begitu pikirnya, hingga ia merasa pergerakan-pergerakan ganjil yang membuatnya sekuat tenaga menahan napas. Pria yang mengaku ingin tidur itu terus mengusik tengkuk lehernya, tangannya tidak bisa diam.
Dengan sekali hentakan, Nena terduduk, membuat pelukan Justin terlepas, kemudian menoleh dan terkejut melihat tatapan Justin yang seperti hendak mengulitinya. "Tolong pergi, Mas. Ini kamar aku," usirnya, berusaha memberanikan diri.
Nena beringsut mundur, pria yang kini ikut duduk di hadapannya itu tampak seperti orang lain, tatapannya dingin, kosong, gadis itu hendak melarikan diri saat kemudian dengan kasar pria itu merenggut lengannya hingga jatuh ke ranjang, kemudian menindih tubuhnya.
"MASS!!" Nena berteriak histeris, meronta, sebuah pukulan dan cakaran ia lancarkan pada tubuh dan wajah pria yang kini tampak kesetanan. "Mas istigfar, Mas. Jangan kaya gini." Nena menangis, masih sekuat tenaga untuk melawan.
"Sekali saja, Serena, biarkan saya bersikap egois." Justin mengabaikan tangisan Nena, mengabaikan rasa perih bekas cakaran di rahangnya, pria itu menarik piyama Nena hingga beberapa kancing terlepas, terpental entah kemana.
"Jangaan!" Nena berusaha mempertahankan bajunya, juga menghalau serangan pria yang kini dengan bringasnya memberikan tanda ke pemilikan di leher gadis itu.
"Kau milikku, Serena, kau milikku." Justin terus menyerang, berusaha menaklukkan pertahanan gadis yang terus meronta di bawah tubuhnya. Hingga sebuah kalimat yang meluncur dengan bergetar dari mulut Nena membuatnya melemah tidak berdaya.
Nena merasa kalah, sebagian dari dirinya menginginkan semua ini untuk terjadi, ia hampir menyerah, nyaris pasrah hingga akal sehatnya memberi dorongan untuk tetap bertahan.
"Setelah ini aku akan hancur, Mas. Dan penyebabnya adalah kamu yang bahkan nggak bisa untuk aku mintai pertanggung jawaban. Untuk yang pertama kali itu, nggak akan bisa diulang lagi. Aku nggak mau suami aku kecewa nantinya." Nena tidak pernah menyangka, kalimat panjangnya itu akan berhasil membuat kesadaran Justin memulih.
Gadis itu merasa cengkraman di tangannya mengendur, dan dengan sekuat tenaga mendorong pria itu hingga terjatuh ke ranjang, dengan cepat ia pun turun.
Nena mengeratkan genggamannya pada baju yang terkoyak di bagian dada, gadis itu terlihat berantakan. "Pergi." Dengan geram, Nena menunjuk pintu, tatapannya tajam pada pria yang kini terduduk di ranjangnya.
Justin menghela napas berat, mengusap wajahnya gusar, kemudian menoleh pada Nena dengan tatapan melunak. Pria itu turun, mendekat pada Nena yang beringsut mundur ketakutan.
"Maaf," sesal Justin, tatapannya sendu mengarah pada gadis itu.
Dengan masih menangis, Nena membuang muka. Dia tahu saat akhirnya Justin melangkah menuju pintu dan bahkan beberapa saat kemudian ia mendengar suara deru mobil di pelataran rumahnya. Pria itu pergi. Dia telah pergi.
Nena duduk terjatuh ke lantai, tungkai kakinya begitu lemas untuk ia bangkit berdiri lagi, gadis itu terus menangis.
Nyatanya, bukan karena rasa takut pada kejadian beberapa saat yang lalu air matanya terus luruh.
Ia lebih takut pada kenyataan, takut dengan kepergian Justin yang entah sejak kapan telah mengisi relung hatinya. Takut pada hatinya yang merasa kehilangan pria itu. Dia takut pada ketakutannya sendiri.