OH MY BOSS

OH MY BOSS
TRAGEDI GAUN MALAM



Bibir Pelangi menyunggingkan senyum saat ia menyadari bahwa Gilang tengah menahan ujung gaunnya agar ia tetap berada di sana. Meski merasa senang, Pelangi berusaha agar tetap terlihat biasa saja. Toh, Pelangi bertekad bahwa ia harus menjaga harga dirinya sebagai seorang perempuan.


Alih-alih berbalik untuk memastikan apakah benar Gilang yang menahan gaunnya, Pelangi malah dengan penuh percaya diri berkata, "Lepaskan. Aku bukan perempuan yang bisa kamu atur sesukamu, Gilang," ujar Pelangi dengan sengit.


"Aku tidak berusaha untuk mengaturmu. Sungguh." Gilang menjawab ucapan Pelangi.


Pelangi pikir, setelah mengatakan itu, Gilang akan melepaskan genggaman tangannya dari gaun Pelangi dan membiarkan Pelangi pergi, tetapi ternyata tidak. Saat Pelangi mencoba untuk melangkah, Gaunnya masih tertahan, membuatnya tidak bisa ke mana-mana.


Pelangi menahan senyum. Ia beradeham untuk mengubah suara cekikikan yang ingin keluar dari bibirnya. "Jika kamu tidak berusaha untuk mengaturku, maka lepaskan aku. Jangan jadi pria yang mempermainkan seorang perempuan. Siang kamu memusuhiku, saat malam hari baru kamu mau berinteraksi denganku. Hal seperti itu hina sekali, Gil."


Gilang mendekat ke punggung Pelangi, lalu berbisik di telinga gadis itu. "Pergilah, aku sama sekali tidak berusaha untuk menahanmu agar tetap di sini. Aku tidak tertarik, Pelangi, bahkan saat kamu membuka seluruh pakaianmu dan menari di hadapanku, aku tidak akan tergiur."


Pelangi bergidik saat napas Gilang yang hangat mendarat di telinganya dan leher bagian belakang.


"Kamu menahan gaunku, mana bisa aku pergi."


Gilang membalik tubuh Pelangi agar menghadap ke arahnya. Pelangi pikir Gilang akan langsung menciumnya saat itu juga, tetapi ternyata ia salah. "Lihatlah! Meja riasmu yang menahanmu, bukan aku."


Mata Pelangi melotot, pipinya memerah karena malu, dan kedua kakinya seketika menjadi lemas saat ia melihat ujung gaun tidurnya tersangkut di ujung meja. Perlahan Pelangi mengangkat wajahnya dan tatapannya langsung bertemu dengan tatapan mata Gilang yang tajam.


"Bukan kamu?" lirih Pelangi.


Gilang menggeleng. "Sayang sekali, bukan aku."


Pelangi langsung berbalik memunggungi Gilang dan berlalu dengan cepat dari hadapan pria itu. Ia merasa malu setengah mati. Bagaimana bisa ia begitu percaya diri meyakini bahwa Gilanglah yang menahan gaunnya, bahwa Gilang tergoda akan kemolekan tubuhnya, bahwa Gilang akan menariknya ke atas ranjang saat itu juga. Padahal, pria itu tidak tertarik sama sekali dengannya. Gilang pun dengan jelas mengatakan tidak akan tertarik walaupun Pelangi tampil tanpa busana dan menari di hadapannya.Pelangi merasa harga dirinya jatuh hingga ke inti bumi saat itu juga.


Gilang berusaha menahan senyum saat melihat Pelangi menghilang dalam keremangan menuju balkon yang lampunya telah dipadamkan sejak tadi. Pelangi memang senang berbaring di balkon dalam keadaan yang tidak terlalu terang, hanya ada beberapa lampu kecil yang Pelangi letakan di samping sofa bed sebagai penerangan.


Gilang menghela napas, lalu berjalan menuju ranjang berukuran king size yang letaknya tidak terlalu jauh dari balkon. Hanya ada pintu geser berbahan kaca yang memisahkan antara kamar dan balkon, membuat Gilang dapat melihat Pelangi dengan jelas dari dalam kamar, bahkan dalam keremangan sekali pun. Dan siluet Pelangi yang begitu indah membuat Gilang tidak dapat tidur. "Sial!”


***


Sinar matahari pagi yang hangat menyengat kelopak mata Pelangi yang masih terpejam. Menyadari bahwa pagi telah tiba, ia segera bangkit berdiri kemudian memindai keadaan sekitar dengan kedua matanya. "Aku ketiduran," keluh Pelangi, sambil merentangkan kedua tangan.


Semalam ia memang terlalu malu untuk kembali masuk ke dalam kamar dan tidur di samping Gilang seperti biasanya. Itulah sebabnya ia sengaja berlama-lama menghabiskan waktu di balkon, sambil sesekali mengintip Gilang dan menebak-nebak apakah pria itu sudah tertidur ataukah belum. Semua karena tragedi gaun tersangkut. Mengingat kejadian itu, rasa malu Pelangi kembali muncul dan menjalar ke seluruh anggota tubuhnya. Ia bergidik, kemudian berlari masuk ke dalam kamar. Ia yakin sekali, Gilang pasti sudah berangkat ke kantor di waktu yang sesiang ini.


Pelangi melompat ke atas ranjang, dan segera bergelung di dalam selimut tebal favoritnya. "Aaah, akhirnya aku bisa tidur tenang. Jika ada Gilang yang sok cool itu, mana bisa aku tidur seyaman ini," ujarnya sambil menepuk-nepuk kasur.


"Argh ... argh!"


Pelangi melotot, saat mendengar suara erangan seseorang dari dalam selimutnya. Ia menggeser tubuhnya dengan cepat ke pinggir ranjang, lalu dengan perlahan mengangkat selimut yang ia kenakan, mengintip apakah benar ada orang lain di dalam selimutnya. Benar aja, saat tangan Pelangi berhasil mengangkat selimut setinggi yang ia bisa, Gilang terlihat di dalam selimut.


"Aaah! Sedang apa kamu di dalam sana?" Pelangi memekik.


Gilang yang terkejut segera bangkit berdiri dan memasang kuda-kuda, seperti seorang atlet karate yang siap menghajar lawannya. "Siapa? Ada siapa?"


"Tempat tidurku maksudmu? Ini bukan tempat tidurmu, tapi tempat tidurku, jadi wajar jika aku berbaring di atasnya. Kamu itu yang bermasalah, untuk apa memukul-mukul dadaku? Mencari perhatian seperti semalam? Memancingku agar aku mau bercinta denganmu? No way, aku bukan pria murahan."


Pelangi menggigit bibir bawahnya, ia merasa bodoh karena tidak memeriksa terlebih dahulu sebelum melompat seenaknya ke atas ranjang.


"Aku tidak sengaja. Sama sekali tidak sengaja, jadi tolonglah jangan kepedean! Aku pikir kamu sudah pergi ke kantor, kan sekarang sudah siang. Pergi sana!" Pelangi mengibaskan tangan di depan Gilang, lalu kembali berbaring di atas ranjang dan memejamkan mata. Tidak memedulikan kehadiran Gilang yang jujur saja membuat dadanya berdebar.


Gilang mengomel, lalu segera melangkah menuju kamar mandi begitu melihat jam yang telah menunjukan pukul 09.50. "Sial, aku terlambat. Semua karena Pelangi."


Pelangi yang mendengar omelan Gilang, semakin kesal. "Kenapa jadi aku yang disalahkan," gumam Pelangi.


***



Gilang terkantuk-kantuk saat menghadapi setumpuk dokumen yang ada di atas meja kerjanya. Seharusnya dokumen-dokumen itu dapat ia selesaikan dengan cepat jika saja ia mengizinkan Toni untuk membantunya. Akan tetapi, Gilang melarang Toni untuk masuk ke ruangannya, apalagi membantunya mengerjakan dokumen-dokumen penting.


Sejak pengkhianatan yang Toni lakukan, Gilang menjadi hilang kepercayaan kepada sahabatnya itu, dan ia pun belum memaafkan kesalahan Toni.


Tito yang menggantikan posisi Toni, berusaha membangunkan Gilang yang tengah tertidur dalam posisi duduk. "Pak, Pak Gilang. Jika Anda mengantuk, tidurlah dulu di sofa. Biar aku yang kerjakan semua ini."


Gilang yang terkejut segera mengucek matanya. "Tidak, aku tidak apa-apa. Biar aku saja yang kerjakan."


Tito mengangguk. Lalu kembali duduk di tempat duduknya.


Gilang menguap dan mulai menyalahkan Pelangi. Seandainya saja semalam Pelangi tidak berpakaian seksi, ia pasti tidak akan kesulitan untuk tidur. Bagaimana ia bisa tidur dengan nyenyak, jika kehadiran Pelangi dengan kemolekan tubuhnya dan kulitnya yang putih bersih membangunkan sesuatu yang sulit sekali diajak untuk kembali tertidur.


Gilang menggelengkan kepala, membuyarkan bayangan Pelangi dengan gaun tidur berleher rendah yang memperlihatkan belahan dadanya. Sungguh bayangan yang menggangu konsentrasi.


Tok, tok, tok.


Seorang sekretaris memasuki ruangan Gilang, kemudian sekretaris itu berkata, "Ada yang ingin bertemu dengan Anda, Pak, untuk mengantarkan makan siang."


Dahi Gilang mengernyit. "Pelangi," gumamnya, dengan senyum mengembang. "Suruh dia masuk."


Gilang merapikan rambut dan dasinya, ia tidak boleh terlihat berantakan di depan Pelangi. Namun, ternyata tebakannya salah. Bukan Pelangi yang datang, tapi Anneth.


"Hai, Pak."



Bersambung ....