OH MY BOSS

OH MY BOSS
ARYA MEMAKSA



Pelangi terkejut begitu mendengar ucapan Arya. Ia sama sekali tidak menduga akan mendapatkan tawaran yang begitu pribadi dari Arya. Menjadi ibu dari anak-anak pria itu.


"Bagaimana?" tanya Arya lagi. Kedua matanya yang memiliki bulu mata lentik dan dibingkai oleh alis yang tebal dan hitam menatap Pelangi dengan penuh harap.


Pelangi mengerjap bingung. Ia dapat merasakan ketulusan dan harapan yang begitu dalam dari suara lembut Arya, ia juga dapat melihat kesungguhan di kedua mata bening pria itu. Pelangi menghela napas, ia tahu jika Arya pasti mengira bahwa dirinya belum menikah. Arya pasti tidak tahu bahwa dirinya adalah istri dari Gilang Andreas, karena saat pertemuan kemarin di sebuah coffe shop ia hanyalah seorang asisten pribadi Gilang di mata Arya, bukan istri.


Pelangi kemudian menegakkan duduknya dan berusaha menghalau perasaan bersalah dan perasaan tidak nyaman yang sempat menghampirinya beberapa detik lalu.


"Begini, Pak, sebenarnya aku sudah menikah. Aku adalah istri Pak Gilang. Maafkan aku karena telah membuat Anda salah paham. Aku tidak bermaksud untuk--"


"Ya, aku tahu. Aku tahu jika kamu sudah menikah dan Pak Gilang Andreas adalah suamimu."


Nah, kali ini Pelangi seolah akan mengalami serangan jantung. "Kalau Anda sudah tahu, kenapa Anda masih mengatakan hal tadi padaku? Anda tidak menghargai statusku sebagai seorang wanita yang sudah menikah, Pak." Pelangi merasa tersinggung dan marah. Bagaimana bisa Arya tidak peduli pada statusnya yang telah menikah.


Arya menggeleng. "Bukan begitu, Pelangi, aku bukannya tidak menghargai statusmu. Meskipun harus kuakui bahwa aku memang cukup kecewa saat mengetahui bahwa kamu ternyata sudah menikah dan kamu adalah istri Gilang. Aku pikir tadinya kamu belum menikah."


"Tapi kenapa Anda harus kecewa?"


Arya mengernyitkan dahi dan senyum miring tersungging di bibirnya yang merah alami. "Serius kamu menanyakan hal itu? Tentu saja karena aku tertarik padamu, memangnya karena alasan apalagi aku bisa merasa kecewa begitu mengetahui statusmu yang sebenarnya."


Pelangi meneguk saliva begitu mendengar ucapan Arya yang menurutnya terlalu jujur.


Arya mendekatkan wajahnya ke wajah Pelangi, begitu jarak mereka sudah cukup dekat, Arya bergumam, "Aku tertarik padamu sejak pertama kita bertemu."


Pelangi bangkit berdiri dan segera berbalik meninggalkan Arya yang menurutnya bertingkah sangat aneh dan tidak masuk akal.


Arya tidak tinggal diam, ia bangkit dari kursinya dan menyusul Pelangi yang melangkah menuju pintu keluar. Saat menyeberangi taman menuju jalan besar, Arya akhirnya berhasil mengejar Pelangi dan meraih pergelangan tangan wanita itu.


"Lepas." Pelangi menyentak tangan Arya yang menggenggam tangannya.


"Oke, tenanglah." Arya melepaskan pegangan tangannya pada tangan Pelangi. "Izinkan aku mengatakan detailnya padamu."


"Tidak perlu. Aku rasa pembicaraan ini tidak pantas dan--"


"Dengarkan aku dulu atau aku akan memelukmu di sini saat ini juga." Arya mengancam.


"Kamu mengancamku?" desis Pelangi.


"Ya, aku mengancammu dan bisa lebih dari sekadar mengancam jika aku terdesak. Jadi aku mohon, Pelangi, dengarkan aku."


Pelangi mundur selangkah, ia merasa ngeri melihat keseriusan Arya dalam mengejar dirinya. Pria itu terlihat tidak main-main akan niatnya untuk menjadikan Pelangi sebagai ibu dari anak-anaknya.


Setelah memindai daerah sekitar, Pelangi kemudian menunjuk salah satu kursi yang ada di sisi lain taman, dekat dengan area parkir mobil.


"Kita bicara di sana saja," ujar Pelangi, lalu melangkah menuju kursi taman, diikuti oleh Arya yang terlihat lega dan puas.


Sesampainya di kursi taman, Pelangi segera duduk di ujung kursi, sementara Arya duduk di ujung kursi satunya lagi.


"Katakan dengan cepat, karena aku harus segera kembali ke rumah," ujar Pelangi.


"Aku membutuhkan keturunan untuk menjadi penerus keluargaku, dan aku ingin kamulah yang melahirkan penerus itu untukku." Arya mengatakannya dengan jelas tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Bagaimana caranya? Apakah semacam memasukan ... maaf, cairanmu ke rahimku?"


Arya tertawa. "Tentu tidak. Aku tidak ingin cara seperti itu. Kita harus berhubungan hingga kamu hamil."


"Kamu gila?"


"Tidak. Aku masih waras. Lagi pula, kamu tidak perlu terlalu khawatir, aku tidak akan memintamu untuk menikah denganku apalagi sampai aku benar-benar jatuh cinta padamu. Tidak sama sekali. Hatiku sudah dimiliki orang lain, hingga rasanya sulit sekali membuat sosok lain masuk ke dalam hatiku. Aku hanya tertarik padamu, bukan cinta, jadi kamu jangan khawatir, Pelangi."


"Apa kamu akan minta izin pada suamiku?" Pelangi kembali bertanya.


"Tentu. Aku akan meminta izin pada Gilang."


"Dan apakah menurutmu dia akan mengizinkan semua ini terjadi pada istrinya?"


"Tentu. Aku akan membuatnya tidak punya pilihan. Jadi pikirkan saja. Aku akan menghubungimu lagi."


Setelah mengatakan hal itu, Arya segera berbalik pergi meninggalkan Pelangi yang wajahnya terlihat memucat bagai habis melihat hantu.


"Ada apa, Pelangi? Katakan padaku ada apa?" Amara bertanya sembari mengguncang tubuh Pelangi yang gemetar. Ia khawatir karena Pelangi tiba-tiba saja masuk ke dalam mobil sembari menangis setelah sebelumnya Pelangi pergi dengan seorang pria asing. Namun, percuma saja, Pelangi yang ditanyai tetap bergeming bahkan setelah Amara mengajukan pertanyaan tersebut berulang kali.


"Sudahlah, kita bicarakan di rumah saja. Aku rasa sekarang bukan saat yang tepat." Delia memberi saran sembari mengusap punggung Pelangi dengan lembut. Ia tidak tega melihat Pelangi terus didesak oleh Amara, padahal yang dibutuhkan Pelangi saat ini hanya ketenangan.


Delia memang berpengalaman dalam hal menangani sebuah kesedihan. Saat ia sedang sedih dan ingin menangis karena sesuatu hal, di saat itu ia tidak butuh siapa pun yang hadir hanya untuk membuat suasana hatinya semakin kacau. Ia butuh ditenangkan, di dekap dan didampingi, bukannya ditanyai, karena jika dirinya masih ingin menangis itu berarti bibirnya belum siap untuk berucap dan mengatakan permasalahan yang sedang ia hadapi.


Amara mengangguk, kemudian meminta sopir untuk mengantarkan mereka kembali ke rumah keluarga Andreas.


Perjalanan berlangsung dalam keheningan. Tidak ada satu pun yang berbicara hingga mobil memasuki pekarangan kediaman keluarga Andreas yang super mewah.


Saat menyadari bahwa mobil telah berhenti, Pelangi segera membuka pintu mobil dan berlari memasuki rumah sembari terisak. Amara dan Delia sempat melihat kedua mata Pelangi yang merah dan bengkak. Rasa khawatir seketika kembali memenuhi dada Amara. Ia segera berlari hendak menyusul pelangi, tetapi Delia melarang.


"Biar saja dulu, Aku rasa dia butuh waktu untuk sendiri. Lebih baik kita tanya pada Toni atau Andrew tentang siapa itu Arya.


Amara lagi-lagi setuju atas saran yang Delia katakan. "Ayo kita ke kamarku kalau begitu. Aku akan menelepon Toni."


Delia mengangguk, kemudian keduanya berlalu dari ruang utama, menuju kamar Amara yang berada di koridor paling ujung lantai pertama.


***


Di kantor, Andrew sedang sibuk di dalam ruang kerjanya yang baru, menerima ucapan selamat dari semua teman-temannya yang kebanyakan dari kalangan kelas terbawah. Mulai dari petugas valet, sekuriti, OB, hingga penjaga kantin. Bukan berarti tidak ada karyawan lain yang mengucapkan selamat padanya, hanya saja Andrew memang mendahulukan teman-teman baiknya, bukannya penjilat seperti yang sedang mengantre di depan ruangannya saat ini.


"Tidak kami sangka, ternyata kamu adalah anak dari pemilik perusahaan ini. Andai aku tahu sejak dulu, aku pasti akan minta kenaikan gajih lima puluh persen," ujar Andi, salah satu sekuriti yang bertugas di pos bagian depan kkanto.


Andrew tertawa. "Dasar mata duitan. Mana ada orang pemalas sepertimu mendapat kenaikan gajih. Untunglah aku tidak memiliki kuasa apa pun saat sering mendapati kamu tertidur di pos jaga. Andai saat itu aku memiliki kuasa, aku pasti akan langsung memecatmu.


Seisi ruangan tertawa, karena wajah Andi sekarang cemberut begitu mendengar ucapan Andrew.


"Dasar teman yang kejam," ujar Andi, sambil memonyongkan bibirnya.


Ceklek! Pintu tiba-tiba saja terbuka dan memperlihatkan sosok tinggi berjas hitam yang sedang melempar tatapan khawatir ke arah Andrew.


Suasana seketika menjadi hening begitu mereka melihat siapa yang datang. "Pak Toni." Semua yang ada di ruangan itu menyapa Toni dengan hormat. Mereka semua tahu bahwa Toni sudah seperti anak sendiri bagi Farhan Andreas.


"Ada apa?" tanya Andrew, penasaran.


"Ayo ke ruanganku!"


Andrew segera bangkit berdiri, apalagi melihat wajah Toni yang tegang dan Khawatir.


Sesampainya di ruangan Toni, Andrew kembali bertanya, "Apa ada sesuatu yang serius yang sedang terjadi?"


"Aku tidak tahu apakah masalah yang sedang terjadi ini termasuk masalah yang serius atau tidak. Tapi, beberapa saat yang lalu Amara meneleponku dan mengatakan bahwa seorang pria bernama Arya menemui Pelangi. Pria itu meminta Pelangi untuk ikut dengannya karena ada sesuatu yang ingin pria itu katakan pada Pelangi. Dan setelah berbicara dengan pria itu Pelangi kembali ke mobil sembari menangis. Sampai saat ini Pelangi enggan untuk mengatakan alasan kenapa dia menangis."


"Kita bisa beritahu Gilang. Biar Gilang yang bertanya langsung ke Pelangi agar Pelangi mau bicara."


Toni menggeleng. "Tidak bisa. Apa kamu tidak penasaran siapa pria yang menemui Pelangi?"


Andrew terlihat gelisah. "Sebenarnya sejak tadi hal itu yang ingin kutanyakan, hanya saja aku tidak bertanya karena aku takut pertanyaanku dan rasa penasaranku dianggap tidak pantas dan melukai hati Delia kalau sampai dia tahu."


"Uuuh, so sweet sekali," komentar Toni, meninju pundak Andrew, lalu kemudian ia kembali terlihat serius. "Si Arya yang datang untuk menemui Pelangi adalah Arya Saputra, putra tunggal dari GG Group."


Andrew menatap Toni sambil melotot. "Arya yang itu, yang kabarnya menjadi gila semenjak kekasihnya meninggal karena kecelakaan!"


"Kekasihnya meninggal?"


"Ya, tepat di hari pernikahan mereka. Kejadiannya di luar negeri, itulah sebabnya tidak banyak yang tahu. Saat itu Arya dan kekasihnya memang akan mengadakan pesta pernikahan di Belanda. Tapi untuk apa dia ingin menemui Pelangi? Apa sebelumnya mereka pernah bertemu?"


"Kemarin kami bertemu dengannya untuk membahas masalah investasi. Aku rasa Arya menyukai Pelangi sejak di pertemuan itu, karena saat itu Pelangi sedang menjadi asisten Gilang, bukan istri," ujar Toni, menjelaskan.


"Sial. Kalau begitu aku akan pulang dan menanyai Pelangi." Andrew bangkit berdiri dan segera melangkah menuju pintu keluar.


"Ya, tolong pastikan apa yang terjadi, karena aku tidak bisa langsung bertanya pada Pelangi. Aku akan mendampingi Gilang untuk mengadakan pertemuan beberapa menit lagi. Oh, ya, lakukan dengan hati-hati. Jangan sampai Delia salah paham."


"Oke, akan kucaritahu apa yang terjadi secepatnya."


Bersambung.