
Arya berdiri di tengah ruang keluarga kediaman Farhan Andreas. Ia terlihat sangat frustrasi dan berusaha keras agar dapat mengendalikan emosinya. Hal yang sangat jarang dilakukan oleh Arya, mengingat pria itu adalah pribadi yang egois.
Di hadapannya terlihat Anneth yang sedang menangis sesegukan. Kedua tangannya memegang pisau buah yang ia ambil dari atas meja makan saat dilihatnya Arya memasuki rumah.
Farhan sendiri sejak tadi tidak bergerak dari posisi duduknya di ruang keluarga, pria itu memang memiliki kebiasaan membaca surat kabar sembari menunggu sarapan disiapkan. Sedangkan Toni dan Andrew berdiri dwngan siaga di samping Anneth, menahan tangan wanita itu agar tidak melukai siapa pun, meskipun ia tidak keberatan jika pisau yang Anneth pegang mendarat di dada atau perut Arya.
"Aku mohon, Anneth, kita harus bicara. Aku ingin bicara baik-baik padamu. Kedatanganku ke sini bukan untuk membuat keributan. Aku mohon percayalah padaku." Arya memohon, ia maju selangkah demi selangkah menghampiri Anneth. Namun, setiap Arya bergerak, Anneth langsung mengacungkan pisaunya untuk menakut-nakuti Arya agar Arya tidak meneruskan langkah.
Pelangi yang baru saja tiba di ruang keluarga segera menghampiri Anneth dan menghentikan gerakan wanita itu.
"Neth, apa yang kamu lakukan? Benda ini berbahaya, bagaimana kalau kamu terluka," ujar Pelangi, sembari merebut pisau dari tangan Anneth dan memberikan pisau itu pada Toni.
"Kembalikan padaku, Pelangi, kembalikan! Aku sedang berusaha untuk mengusir pria gila itu. Jangan halangi aku." Anneth berteriak.
Pelangi kemudian mengikuti arah pandang Anneth, dan ia mendapati Arya yang tengah menatap dirinya dan Anneth. Sejak tiba di ruang keluarga, Pelangi memang telah menyadari kehadiran Arya. Awalnya ia terkejut karena setelah pengamanan yang ia lakukan untuk melindungi dan menyembunyikan Anneth, keberadaan wanita itu tetap saja diketahui oleh Arya. Namun, Pelangi merasa bahwa kedatangan Arya kali ini memang tidak bermaksud untuk membuat keributan seperti yang pria itu katakan beberapa saat lalu. Jika saja Arya ingin membuat gaduh dan memaksa Anneth agar bersedia untuk ikut dengannya, pria itu pasti akan menbawa rombongan, setidaknya pengawal untuk menghadapi Andrew dan Toni, atau sekuriti yang ada di rumah Farhan.
Pelangi menyentuh pundak Anneth dan meminta agar wanita itu bersikap lebih tenang. "Tarik napas dan embusakan perlahan, Anneth. Jangan panik. Ada kami di sini, mana mungkin Arya bertindak macam-macam."
Anneth terlihat lebih tenang begitu mendengar apa yang Pelangi ucapkan. Ia bahkan berhenti menangis, hanya isakan yang sesekali terdengar dari bibir wanita itu yang kini wajahnya terlihat pucat dan ketakutan.
Pelangi menuntun Anneth berjalan menuju sofa dan mendudukan Anneth di sana.
"Jika kedatanganmu bermaksud untuk bicara dengannya secara baik-baik, duduklah di sana dan jangan banyak tingkah. Jika kudapati gelagat yang mencurigakan darimu, akan kuhabisi kamu saat itu juga. Paham?!" Andrew menarik kerah kemeja yang Arya kenakan, kemudian meninju wajah Arya, dan mendorong tubuh Arya ke arah sofa yang terdapat di tengah ruangan.
Arya berusaha menahan tubuhnya agar tidak terjatuh saat Andrew mendorong tubuhnya dengan keras. Melihat cara Andrew menyambut tamu yang tak diundang. Toni hanya menggelengkan kepala.
"Apa? Aku tidak salah, 'kan? Dia itu makhluk bedebah yang memang layak menerima perlakuan seperti itu," ujar andrew, saat dilihatnya Toni menatapnya dengan kesal. "Untung saja aku tidak mengikat tubuhnya di jemuran yang ada di lantai atas."
"Ya, kamu memang tidak salah. Hanya saja kedatangannya ke sini untuk berbicara dengan Anneth, setidaknya beri dia kesempatan sebelum kamu menghajarnya," ujar Toni.
"Ah, persetan dengan itu semua." Andrew kemudian melangkah menuju jejeran sofa lainnya yang terdapat di seberang ruangan, lalu ia duduk di sana sembari terus menatap ke arah Pelangi dan Anneth yang sekarang duduk berhadapan dengan Arya.
Farhan yang duduk di sebelah Andrew segera mencubit pinggang putranya itu dengan keras. "Jangan suka ikut campur dengan urusan orang lain. Biarkan saja mereka bicara dan ayo kita sarapan." Farhan bangkit berdiri dan melangkah menuju ruang makan, meninggalkan Andrew yang masih sibuk mengusap pinggangnya yang terasa berdenyut karena cubitan Farhan.
"Ayah ini, bagaimana ayah bisa makan padahal situasi di rumah sedang tegang begini," teriak Andrew.
"Makanan itu penting, Ndrew, apalagi kalau kamu bercita-cita untuk menjadi seorang petinju. Bukankah kamu hobi sekali melayangkan tinju ke sana-kemari. " Farhan balas berteriak.
Mendengar perkataan Toni, Andrew segera mengedarkan pandangan dan benar saja, ia melihat Delia sedang berdiri di dekat lemari hias yang menjadi pembatas antara ruang keluarga dan lorong menuju ruang makan. Wanita itu sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit Andrew artikan. Andrew tidak tahu apakah Delia marah atau tidak padanya, tetapi satu hal yang Andrew tahu dan hal itu membuatnya merasa menyesal setengah mati--tatapan Delia begitu sedih dan sakit hati.
Andrew segera bangkit dari duduknya, lalu melangkah menuju ruang makan, dan tidak lama kemudian Delia menyusul.
Sekarang ruang keluarga telah kosong. Hanya tinggal Pelangi, Anneth, dan Arya yang ada di ruangan itu. Pelangi yang merasa tidak memiliki urusan dengan Arya pun merasa canggung. Ia seperti berada di tengah-tengah sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
"Aku tidak tahu apakah aku harus meninggalkan kalian berdua agar kalian bebas untuk bicara atau aku harus tetap di sini saja?" ujar Pelangi pada Anneth dan Arya.
Anneth segera menggeleng dan ia memegangi pengelangan tangan Pelangi dengan kuat agar wanita itu tidak meninggalkannya.
"Tetaplah di sini, Pelangi, bisa-bisa dia membunuhku kalau kamu juga pergi," pinta Anneth.
Pelangi mengangguk. "Baiklah. Jika itu yang kamu inginkan, aku akan tetap di sini."
Anneth menghela napas lega, lalu ia beralih menatap Arya yang sejak tadi hanya diam bagai patung. "Apa ada sesuatu yang penting hingga kamu datang jauh-jauh mencariku?" tanya Anneth.
Arya menegakan duduknya, lalu berkata, "Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin bertanya padamu, Anneth. Apa aku terlihat seperti seorang penjahat yang datang untuk menyakitimu? Kenapa kamu terlihat begitu takut dan bersikap begitu bermusuhan padaku?"
Anneth tersenyum miring. "Memangnya apa yang kamu harapkan dariku, hah? Menyambut kedatanganmu dengan suka cita, begitu? Apa kamu lupa bahwa terakhir kali kita bertemu, kamu memang seorang penjahat. Kamu menyakiti hatiku dan menginjak harga diriku saat itu. Apa kamu tidak ingin kuanggap sebagai penjahat setelah semua yang kamu lakukan padaku? Di mana otakmu?!" Anneth mengatakan semua itu dengan suara yang bergetar, dan air matanya kembali menetes tanpa bisa ia kendalikan.
Arya menunduk, wajahnya terlihat memerah, tetapi ia tidak terlihat marah sama sekali. Justru sebaliknya, Arya terlihat malu, dan hal itu membuat Pelangi dan Anneth sedikit bingung.
"Maafkan aku. Aku menyesal sekali karena telah membuatmu sangat menderita malam itu. Kamu tidak tahu betapa sulitnya aku mencari keberadaanmu sejak malam itu agar aku dapat meminta maaf langsung padamu," ujar Arya, dengan suara yang begitu lirih.
Pelangi dan Anneth saling melempar tatapan aneh. Bagi keduanya, Arya yang terlihat kali ini sangat jauh berbeda dengan Arya yang mereka kenal.
"Aku ingin bertanggung jawab, Neth. Aku ingin mempertanggungjawabkan perbuatanku malam itu. Aku ingin menikahimu."
(VISUAL ARYA)
Bersambung.