OH MY BOSS

OH MY BOSS
KESAL



Kali ini Nena harus kembali kecewa, bahkan baru pendaftaran lewat online saja sudah ditolak, dia bingung, apa memang ingin ikut casting sesulit ini, padahal ia sudah mengirimkan data diri lengkap dan foto paling cantik lewat kamera ponsel paling pintar sekalipun. Salahnya dimana.


 


 


Justin yang tampak sibuk bergelut dengan tumpukan berkas di atas meja kerja kamarnya, jadi menoleh mendengar erangan frustrasi dari sang istri. Pria itu beranjak berdiri dan menghampiri Nena yang terduduk di atas ranjang menenggelamkan kepalanya di atas lutut.


 


 


Justin menyentuh kepala Nena dengan sedikit membungkuk, "kenapa?" Tanyanya.


 


 


Nena mengangkat kepala, airmatanya luruh, justin tertegun beberapa saat. "Mas, pendaftaran casting aku ditolak lagi," curhatnya pada sang suami.


 


 


Justin mendudukan dirinya di sebelah sang istri, dan tanpa diduga Nena menubruknya dan sesenggukan dipelukannya, dia jadi tidak tega, dan bingung harus bagaimana menghiburnya. Akhirnya ia putuskan untuk diam saja dan mengusap-usap rambut kepala sang istri dengan penuh kasih sayang.


 


 


Nena mendongak, menatap suaminya penuh arti, "Mas, kamu kan ceo, masa nggak bisa bantuin aku?" Tanyanya yang entah kenapa membuat Justin gelagapan.


 


 


"Nggak sportif dong, kalo kamu masuk lewat aku, lagian kenapa sih kamu pengen banget jadi bintang iklan, kalo kamu mau uang nggak harus sesulit itu, Sayangku." Justin menyentuh pipi Nena, menghapus jejak airmata di sana.


 


 


"Bukan karena uang, Mas. Jadi bintang iklan itu keinginan aku sejak lama." Nena berucap sembari menarik-narik lengan baju sang suami, membuat Justin menghela napas, kemudian duduk bersila di hadapan Nena.


 


 


"Dengerin ya, di luar sana banyak orang melakukan hal yang sama kaya kamu itu demi uang, dan kamu yang cuma iseng ini, apa bukan nggak adil buat mereka kalo nantinya kamu yang dapet." Justin menasihati.


 


 


Nena menunduk sekilas, kemudian mendongak lagi, "itumah tergantung kemampuan mereka lah, Mas. Mereka nggak dapet itu kan bukan karena orang-orang yang iseng kaya aku, siapa tahu emang nggak berbakat." Nena membela diri.


 


 


"Lagian cape, Na. Syuting emang nggak capek?" Ucap Justin, "diatur-atur sama orang, suruh gini- suruh gitu. Aku si, nggak mau."


 


 


"Aku udah biasa, kok, diatur-atur. Ya kamu mah dari lahir udah punya jiwa bos, mana mau diatur-atur," ucap Nena yang entah kenapa membuat Justin sesaat terdiam.


 


 


"Mendingan kamu jadi skrestaris aku lagi." Tawar Justin yang seketika membuat Nena mencebik. Nena sudah pernah membahas tentang kenapa dia tidak mau menjadi sekretaris suaminya itu, tapi menjadi pengangguran juga bukan pilihan yang bagus.


 


 


"Iklan doang, Mas. Aku juga nggak mau lah kalo main film, apalagi sinetron kejar tayang. Cuma iklan, Mas," ucap Nena, fokus pada wajah suaminya yang terlihat tidak suka sekali jika dia menjadi model, "aneh deh, Mas. Kenapa yah, aku daftar online ditolak terus, apa harus samperin ke kantornya aja ya?"


 


 


"Ngapain? Kan kamu udah ditolak." Jawab Justin spontan.


 


 


"Biasa aja si, ngomong ditolaknya, nyakitin gitu."


 


 


Justin merapatkan bibir, "maksudnya nggak diterima gitu," ralatnya.


 


 


Nena berdecak, " sama aja."


 


 


***


 


 


Seperti biasa, siang ini Nena menemui suaminya di kantor yang dulu juga sempat ia menjadi karyawan biasa di sana. Namun sebelum sampai ke ruangan besar sang suami, wanita itu menyempatkan ke kamar mandi karyawan di lantai bawah, karena sudah tidak bisa menahan kandung kemih yang sepertinya mengancamnya untuk kencing di celana.


 


 


Di balik ruangan kamar mandi yang sempit itu, sayup-sayup Nena mendengar tawa cekikikan dan obrolan beberapa wanita yang semakin lama semakin mendekat, mereka ternyata tengah membicarakan sang suami yang kemudian membuat Nena mengurungkan niatnya untuk keluar, padahal acara buang air kecilnya sudah selesai.


 


 


"Gila, Pak, Justin makin kesini, makin macho aja," ucap salah satu suara yang agak cempreng dalam pendengar Nena, mendengar itu Nena tersenyum.


 


 


"Beruntung banget, Yah Bu Serena." Terdengar lagi suara yang sepertinya orangnya masih muda. Masih aman.


 


 


"Dia itu dulu juga karyawan biasa kaya kita, dia cantik sih, makanya bisa gaet big bos, gue juga kalo cantiknya kaya dia bisa gaet Pak William." Nah, suara judes yang ini mulai membuat Nena kesal sendiri.


 


 


"Eh, lo kan karyawan lama, ya. Tau dong sejarahnya."


 


 


"Tau banget gue. Si Serena itu dulunya simpenan Pak Handoyo, ampe dilabrak ama bininya gitu."


 


 


Buset, Nena membatin.


 


 


"Masa, sih."


 


 


"Iya, beneran sumpah gue nggak boong."


 


 


Bawa-bawa sumpah, lagi.


 


 


"Terus dia ngerayu Pak William pas diangkat jadi sekretarisnya, nggak lama diangkat lagi jadi asisten pribadinya Pak Justin, gila peletnya kenceng banget si, gue rasa."


 


 


Astagfirullah


 


 


"Tapi katanya dulu dia sempet mau nikah kan sama Pak Bimo. Ya ampuun yang deketin dia ganteng semua ih, ngiri banget gue."


 


 


"Iya, tapi gagal. Yaiyalah disuruh milih Pak Bimo sama Pak Justin yang big bos itu, ya mending Pak Justin kemana-mana."


 


 


Tawa mereka kemudian menggema, membuat Nena tidak tahan untuk berlama-lama terus  mendengar ocehan yang membuat dirinya terus mengumpat dalam hati. Wanita itu keluar dari kamar mandi, kemudian berdehem.


 


 


Ketiga wanita yang salah satunya Nena kenal muka, karena sepertinya sudah lama bekerja di kantor suaminya ini menunduk ketakutan.


 


 


"Bu, Serena, maaf Bu, kami nggak tahu ada ibu di sini," ucap si pemilik suara cempreng.


 


 


Terus, kalo tau mau apa? Batin Nena.


 


 


"Iya, Bu. Kami minta maaf," Tambah wanita yang masih mengenakan seragam hitam putih.


 


 


"Tolong jangan pecat kami, Bu." pemilik suara judes yang sering ia lihat di lobby sebagai penerima telepon, ikut mengutarakan penyesalannya.


 


 


 


 


"Saya nggak marah sama kalian," ucap Nena yang membuat ketiga wanita di hadapannya itu mendongak takjub, "karena kalian itu nggak benar-benar tahu tentang saya, dan saya juga nggak kenal sama kalian." Nena berkata tenang, namun cukup tajam hingga membuat ke tiga wanita di hadapannya itu menjengit ketakutan. Dan saat Nena hendak melangkah, ia kembali menoleh dan berkata. "Asal kalian tahu, saya bukan selingkuhan Pak Handoyo."


 


 


"Maaf kan kami, Bu," seru ke tiga wanita itu denga mulai menitikkan air mata.


 


 


Nena kembali melangkah, namun berhenti lagi dan menoleh, "saya juga nggak pake pelet."


 


 


"Maaf, Bu." Mereka kembali berseru, dan entah kenapa sepertinya Nena gemas sekali, ingin memuntahkan semua sumpah serapah di dalam hatinya, tapi masih ia tahan dengan sekuat tenaga.


 


 


"Saya kasih tau ya," ucap Nena tenang. "Nyisir, nyinyir, sama nyindir itu punya satu persamaan," diam sejenak, "sama-sama butuh kaca," tambahnya dan kemudian benar-benar melangkah pergi.


 


 


***


 


 


Justin tengah memeriksa berkas-berkas penting yang harus ia tanda tangani. Indira dengan sabar menunggu, memperhatikan kalau sekiranya ada yang kurang, kali ini gadis itu berdiri di seberang meja, tidak lagi di sebelahnya.


 


 


Dan saat kemudian terdengar pintu terbuka, dan tertutup dengan sedikit kasar setelahnya, Indira terlonjak kaget, menoleh pada bosnya itu seolah berkata, cepetan, dong Pak. Ibu Bos angker banget mukanya.


 


 


Justin yang mengerti kemudian menyuruhnya untuk keluar, biar nanti sekalian lewat ia taruh berkas-berkasnya di meja gadis itu.


 


 


Justin beranjak dari kursi putar, menghampiri sang istri yang duduk di sofa dengan raut wajah yang amat kesal. "Kamu kenapa si? Mukanya kaya pengen nyangkul kepala orang gitu?" Tanyanya sembari mendudukan diri di sebelah Nena, sepenuhnya menghadap pada wanita itu.


 


 


Mendengar pertanyaan meledek dari sang suami, Nena memukul lengan pria di sampingnya itu dengan gemas. "Aku kesel banget, Mas," ucapnya, kemudian wanita cantik itu menceritakan apa yang ia dengar di kamar mandi tadi dengan menggebu-gebu, dan membuat Justin malah tertawa. "Kok kamu ketawa si?" Nena bertambah kesal.


 


 


"Ya abis mau gimana, emang pelet kamu kenceng banget si, aku aja sampe lemah," jawabnya ngasal.


 


 


"Mas!" Nena kembali memukul sang suami, kali ini di bahunya, membuat Justin curiga, lama-lama pukulan istri tercintanya itu akan berpindah ke kepala jika ia nekat menggodanya lagi.


 


 


"Iya, udah diemin aja, namanya juga gosip ya pasti nggak bener, kalo bener ya berarti fakta namanya."


 


 


"Dulu aku juga karyawan biasa, tapi nggak serendah itu sampe ngomongin atasan di kamar mandi," ucap Nena, seingatnya sih tidak pernah tapi nggak tau juga.


 


 


"Ya kamu kan beda, makanya aku suka," ucap Justin dengan tersenyum menggoda.


 


 


Namun istrinya itu malah melengos. "Nggak mempan," ucapnya, namun tak ayal tersenyum juga, hingga kata " pecat, Mas," keluar dari mulutnya reflek membuat justin tergelak tidak percaya.


 


 


"Nggak segampang itu lah, sayang, mecat orang cuma gara-gara kamu nggak suka."


 


 


Nena mengerutkan dahi, "tapi dulu kamu pas baru masuk kantor main pecat-pecat aja, Bu Amira aja cuman gara-gara ngomongin kamu langsung dipecat," ucapnya menuntut penjelasan.


 


 


Justin mengusap mulutnya, menghilangkan senyum di sana, "oh, ibu itu, dia kerjanya nggak bener, aku ada buktinya kok, dan pas aku tunjukin ke dia juga dia ngaku salah."


 


 


Nena menatap suaminya takjub, "terus orang-orang yang kamu pecatin berikutnya juga salah?" Tanyanya, mengenang seberapa banyak dulu karyawan yang di phk oleh pria yang kini menjadi suaminya itu.


 


 


Justin mengangguk, "aku punya bukti, dan aku cuma tunjukin ke mereka yg bersalah, kenapa terkesan mereka itu dipecat tanpa alasan, biar mereka itu gampang cari kerja di luar sana," tutur Justin. Nena tidak menyangka ternyata suaminya sebijaksana itu.


 


 


"Kirain aku dulu kamu main pecat-pecat aja karena nggak suka."


 


 


Justin tertawa. "Memangnya aku orang gila," ucapnya.


 


 


"Emang sih, dulu aku pikirnya kamu tuh gila, Mas," ucap Nena polos.


 


 


Justin mengusap wajah sang istri dengan telapak tangannya gemas, "nggak usah dijelasin gitu juga kali, cantik molek," ucapnya.


 


 


 


 


***iklan***


 


 


Netizen; ngapa senyum-senyum sendiri thor, obatnya abis ya?"


 


 


Author; akutuh seneng tau baca-baca komentar kalian yang lucu-lucu itu, jadi semangat kan akunya.


 


 


Netizen; kalo seneng mah, balesin apa thor satu-satu.


 


 


Author; nggak sempet lah Junaedi, markonah, tapi pasti aku like kok komentarnya.


 


 


Netizen; mau tanya thor, kenapa Nena nggak bunting-bunting ya, apa Bang Entin kurang tokcer jangan-jangan.


 


 


Author: gue kasi bocoran ya, kehamilan Nena itu nanti pas menuju ending, jadi kalo mau tau si Nena kembaran gue itu kapan buntingnya, ya nanti kalo udah mau tamat.


 


 


Netizen; tapi gue punya dugaan sendiri thor kenapa Nena kaga bunting-bunting.


 


 


Author; ngapa?


 


 


Netizen; author si adegan ena-enanya dipotong mulu, jadi kan kagak jelas itu mereka ngapain, jadi apa kaga tuh mereka bikin anaknya, sapa tau ketiduran mereka thor.


 


 


Author; terserah elu lah, terseraaah. Bayangin aja sendiri. Terus bangunin tuh mereka yang ketiduran suruh lanjutin ena-enanya. Sebahagia otak lu ajalah pada.


 


 


Netizen; Dih author galaknya.


 


 


Author; bodo amat.