
Justin tampak gusar duduk di kursi tunggu rumah sakit, Nena dan ibunya sudah pulang beberapa menit yang lalu karena hari mulai larut dan sang papa belum juga membaik, jantungnya cukup parah dan harus mendapatkan penanganan yang tepat, dokter yang juga kenalan papanya menyarankan pengobatan di luar Negri untuk memulihkan kondisi Mr Juan yang sangat memperihatinkan, Justin hanya bisa menyerahkan keputusan apapun pada dokter sahabat papanya asalkan itu yang terbaik.
Justin sudah cukup kalut dengan kenyataan yang ia dapati hari ini. Ditambah lagi mendapatkan kabar dari detektif suruhannya bahwa yang menyabotase rem mobilnya adalah calon ibu tirinya sendiri. Hal itu membuatnya begitu marah, sumpah serapah tak ayal keluar dari mulutnya.
"Ayah anda sudah mengetahui hal itu kemarin malam, dan kesehatannya saat itu mulai memburuk," ucap Hendrik pengacara papa Justin.
Justin tidak punya pilihan lain, dia merasa seharian ini begitu banyak kejutan. "Jatuhkan dia dengan hukuman seberat-beratnya," titah Justin pada sang pengacara, yang langsung mendapat anggukan dari beliau.
"Lalu bagaimana dengan Nona Karin?" Tanyanya yang membuat Justin menolehkan kepala, tangannya terulur memijit keningnya yang mulai pusing.
"Biar saya yang urus anak itu."
***
Keesokan harinya Justin menemui Karin di rumahnya, anak itu tampak lesu saat membukakan pintunya untuk Justin.
"Lemes banget, belum makan?" Justin menundukkan kepalanya mensejajari wajah kusut Karin. Gadis itu menggeleng. Justin memamerkan tentengan di tangannya, yang membuat Karin tersenyum walaupun lemah.
"Are you ok?" Tanya Justin memiringkan kepala, bocah di sampingnya itu meletakan remot dengan tergesa kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya naik turun, Justin tahu anak itu tengah menangis.
Justin hendak mengusap punggung gadis itu dengan tangannya, namun ia urungkan. "Dunia kamu belum berhenti hanya karena ibu kamu tidak ada di sini," tutur Justin dengan begitu hati-hati, namun tanggapan gadis yang usianya belum genap empat belas tahun itu sama sekali tidak terpikirkan oleh pria itu.
"Maafin mami Karin ya, Bang. Mami emang pantes dapetin semua itu," ucapnya disela isak yang membuat suaranya tersendat-sendat. Justin jadi bingung bagaimana menanggapinya, dalam bayangannya bocah di hadapannya itu mungkin akan marah-marah karena Justin telah tega memenjarakan wanita yang ia panggil mami itu.
"Abang butuh karyawan nggak di kantor, Karin bisa ngepel, Bang. Bikin kopi juga enak. Nggak papa jadi OB juga, yang penting Karin bisa sekolah," tawarnya yang sontak membuat Justin merasa terenyuh. Pria itu mengulurkan tangannya mengacak rambut sebahu bocah itu yang sama sekali tidak mengelak.
"Tidak usah dipikirkan, kamu sekolah saja yang benar. Abang yang tanggung," ucapnya yang membuat Karin terbelalak.
"Kita bahkan batal jadi calon sodara, Bang?"
Justin tersenyum. "Tidak harus ada ikatan saudara untuk menolong sesama kan? Yang penting ikhlas," ujarnya yang sontak membuat abg tanggung itu menghambur ke pelukan Justin dan berkali-kali mengucapkan terimakasih.