OH MY BOSS

OH MY BOSS
RENCANA



Entah bagaimana ceritanya, langkah kaki Justin menghantarkan pria itu menemui sahabatnya.


 


 


William yang tengah menyusun laporan keuangan tidak terlalu terkejut, dengan kedatangan seorang pria yang semakin hari wajahnya semakin angker dilihatnya.


 


 


"Kau kenapa si, mondar-mandir membuat kepalaku tampah pusing saja," semprot William.


 


 


Justin menghentikan gerakan mondar- mandirnya. Kedua tangannya bertumpu pada meja di hadapan William.


 


 


"Nikung calon pacar orang itu, boleh tidak ya?" Ungkap Justin tiba-tiba.


 


 


William menoleh, merasa ragu dengan apa yang telah keluar dari mulut sahabatnya yang angkuh itu.


 


 


"Siapa yang mau nikung siapa?" tanyanya.


 


 


"Aku ingin menikung calon pacarnya Serena!" Ucap Justin dengan sekali tarikan napas, merasa tidak percaya dengan apa yang terlontar dari mulutnya sendiri.


 


 


Namun tanggapan William tidak seperti apa yang Justin bayangkan. Pria bule itu hanya berdecak pelan, kembali fokus pada layar persegi di hadapannya.


 


 


"Kau terlalu lama menarik ulur perasaanmu sendiri, wajar jika Serena lebih memilih yang lain dari pada kamu. Perempuan itu butuh kepastian, bukan hanya kode-kode yang tidak jelas,"tutur William panjang lebar, entah malaikat apa yang merasuki dirinya sampai pria sesableng itu bisa berpikiran sewaras ini.


 


 


Justin terduduk lesu di kursi yang berada di depan meja William, pria itu mengusap wajahnya gusar.


 


 


"Aku takut tidak bisa mencintainya dengan benar, mungkin dia lebih pantas bersanding dengan orang lain, aku terlalu kaku dan tidak peka sebagai seorang lelaki." Justin merasa ingin muntah dengan kalimatnya sendiri, sejak kapan dirinya jadi melo begini. Tidak bisa dipercaya. Sungguh.


 


 


William menoleh prihatin. "Cinta itu butuh perjuangan, kalau kau mau coba."


 


 


Justin tertegun. "Terus, kenapa kau tidak memperjuangkan cintamu sendiri?"


 


 


William menoleh, menghembuskan napasnya berat. "Terlalu rumit buatku," ucapnya. "Tapi untukmu tidak. Bagaimana jika kita phk saja calon pacarnya Serena itu, siapa sih dia." William dengan semangat memberi saran. Sama persis dengan yang Justin pikirkan sebenarnya.


 


 


Justin berdecak sebal. "Kau gila," umpatnya. "Apa aku terlihat serendah itu?"


 


 


William mulai serius, lalu duduk di atas mejanya, menghadap Justin. "Baru calon pacar kan? Serena belum bilang iya jika boleh kutebak."


 


 


Justin mengangguk, sahabat bule lokalnya ini memang titisan dewa Amor, sangat mengerti dengan cinta dan segala ***** bengek perasaan wanita. Dia jagonya.


 


 


"Jangankan calon pacar, sudah jadi calon istri pun bisa ditikung, ada pepatah bilang, kalo jodoh tidak kemana, nanti pasti akan bertemu di pelaminan, tapi ada dua kemungkinan, kau jadi mempelai pria atau tamu undangan," tutur William panjang lebar. "Kau pilih sendiri mau jadi yang mana," kemudian melontarkan pertanyaan.


 


 


Pepatah ala William memang tidak ada duanya, bikin pusing kepala. Justin berdecak, merasa tidak penting menjawab pertanyaan sahabatnya itu.


 


 


 


 


"Bagus! Aku akan membantumu menjadi seorang laki-laki yang lebih peka terhadap perasaan seorang wanita." William mengepalkan tangannya, semangatnya menyaingi pejuang empat lima.


 


 


Justin hanya bisa pasrah, selain berdoa pada yang kuasa agar kewarasannya ini tidak terkontaminasi oleh kegilaan William.


 


 


***


 


 


Setelah mengumpulkan berkas yang selesai difotokopi, Nena segera kembali dan memasuki ruang kerjanya, dan terkejut mendapati orang lain ada di sana.


 


 


"Bunda Mona kok di sini?" Tanya Nena bingung pada rekan kerja yang ia kenal hampir tiga tahun lebih.


 


 


"Lah, kamu belum dikasih tahu yah? Kamu udah di angkat jadi personal assistant Pak Presedir, selamet ya, Na."


 


 


Butuh beberapa detik untuk Nena bisa mencerna kalimat yang terlontar dari rekan kerjanya itu. Sebelum akhirnya dia mengambil setumpuk berkas laporan untuk diberikan pada William yang mungkin akan menjadi yang terakhir.


 


 


Nena meletakan setumpuk berkas yang ia bawa ke meja William saat tiba di ruangan besar bosnya itu. Pria bule itu mendongak, selepas tragedi mabuknya William yang berujung menelpon gadis itu. William yakin dia telah memuntahkan seluruh perasaan cintanya pada Nena, meski gadis berparas bak boneka barby itu menyangkal dan mengatakan bahwa suara William tidak jelas karena terlalu bising oleh hingar bingar musik. Hanya itu saja katanya, dan pria bermata hazel itu tidak percaya. Bahkan sampai sekarangpun, William masih tampak sangat canggung.


 


 


"Kamu dendam ya sama aku? Sampe aku didepak gini jadi sekretaris kamu? Aku salah apa coba?" tanya Nena yang membuat William kelabakan. Hal ini tentu di luar dugaannya, dia pikir Nena akan senang karena diangkat menjadi PA untuk Justin.


 


 


"Nggak ada yang depak kamu, Na. Bukannya kamu harusnya seneng diangkat jadi PA nya Justin."


 


 


"Aku nggak ngerti apa-apa soal personal assistant, Will. Tolong bilangin ke dia, aku nggak bakal bisa jadi PA yang dapat di andalkan."


 


 


"Kenapa harus aku yang bilang? Dan lagi, dia memilih kamu itu pastia dia tahu kamu punya potensi, bukan karena semata-mata karena Naksir." Sindir William, melirikkan kornea matanya pada sofa beludru di sudut sana.


 


 


Justin membalas tatapan pria bule itu, kemudian kembali fokus pada ponselnya. Sebenarnya merasa tersindir. Dan sepertinya Nena belum menyadari bahwa ada Justin di sudut ruangan besar William.


 


 


"Tolong bilangin ke dia, Will. Aku takut ngecewain dia karena nggak becus."


 


 


"Kenapa nggak kamu bilang aja sendiri?"


 


 


"Mana gue berani. Dia kan-"


 


 


"Khm!" Justin berdehem, menyadarkan gadis itu, bahwa ada orang lain selain mereka.


 


 


"Astagfirulloh!!" Pekik Nena saat menoleh ke sumber suara dan mendapati atasannya itu tengah duduk santai di pojokan sana.


 


 


Mamvus gue!!